Project Wanara

Project Wanara
Chapter 45. Rama Ghuntara (Last Part) - Persaingan


__ADS_3

Pelatihan khusus hari pertama telah membawa perubahan besar dalam peningkatan kemampuan Rama. Kini Rama dapat mengeluarkan hampir setengah dari seluruh kekuatan yang dia miliki. Sayangnya Rama diminta untuk merahasiakan hal tersebut dari anggota tim lainnya.


Begitu juga dengan pelatihan hari kedua. Banyak hal baru yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Mengingat kenangan masa lalu ternyata sangat berguna untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ternyata benar kata orang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Sepahit apapun pengalaman yang pernah terjadi, pasti terdapat hikmah dan pelajaran didalamnya.


Hari pun berganti dan Rama siap untuk melakukan pelatihan di area pertama.


“Selamat datang Rama….” Julia menyambut Rama yang memasuki ruangan pelatihan.


“Halo Julia….” Sahut Rama membalas sambutan Julia.


“Apa yang terjadi di antara mereka?” Pikir Darma terkejut dengan kalimat yang diucapkan Julia.


“Hey, apa aku melewatkan sesuatu?” Tanya Darma kepada Julia dan Rama.


“Apa hubungan kalian memang sudah sedekat ini?” Sambung Darma.


Julia dan Rama terlihat salah tingkah saat mendengar pertanyaan itu. Tidak ada satupun dari mereka yang memberi jawaban.


“Sudahlah tidak perlu dijawab. Aku juga pernah muda.” Ujar Darma ketus.


“Bukan begitu Pak Darma. Sepertinya anda salah sangka.” Rama berusaha memberi penjelasan.


“Tidak perlu berkelit. Julia sudah seperti adik ku sendiri. Jaga dia baik-baik.” Ucap Darma.


“Bukan begitu Pak Darma….” Sahut Rama gelagapan.


“Julia, bantu jelaskan dong.” Pinta Rama kepada Julia.


“Apa yang harus ku jelaskan?” Tanya Julia yang membuat Rama semakin salah tingkah.


“Tentu saja kesalahpahaman ini?” Teriak Rama.


“Memangnya ada yang salah ya?” Ledek Julia sambil tertawa kecil.


“Sudahlah, ayo kita mulai pelatihan ini.” Ujar Darma tegas.


“Baiklah….” Jawab Rama lirih sambil tertunduk malu.


“Rama, selama pelatihan khusus berlangsung, kamu boleh menggunakan kekuatan sampai dengan batas maksimal energi yang dapat kamu kendalikan. Dengan kemampuan yang kamu miliki saat ini, aku yakin kamu bisa menyelesaikan latihan dengan mudah dan cepat.” Ujar Julia.


“Tentu saja. Akan kutunjukkan seluruh kemampuanku kepadamu, Julia.” Jawab Rama dengan senyum bangga diwajahnya.


“Ehm….” Darma mendeham.


“Ayo mulai….” Ucap Rama salah tingkah diikuti dengan tawa kecil Julia.


Pelatihan pun dimulai. Rama berlari cepat menuju tiga buah boneka kayu yang ada disana. Saat sedang fokus berlari, mesin lontar melakukan banyak serangan sekaligus. Serangan yang sangat cepat dan kuat. Namun semua serangan yang dilontarkan dapat dihalau dan dihindari dengan sangat mudah. Serangan-serangan itu tidak menghentikan langkah Rama dan dia dengan cepat memasuki area pergerakan boneka kayu.


Saat memasuki area boneka kayu, ketiga boneka kayu yang sedari tadi tidak bergerak sama sekali, tiba-tiba menyerang Rama secara bersamaan. Rama dengan sigap menghindari semua serangan itu dan melakukan serangan balik menggunakan cakar-cakarnya.


Rama melakukan serangan dengan sangat cepat dan kuat. Hanya dengan satu serangan saja, seluruh boneka kayu itu telah terpotong menjadi beberapa bagian kecil dan tidak lagi dapat bergerak. Serangan Rama membuat boneka kayu kehilangan kemampuan untuk menggabungkan diri dan pelatihan pun berakhir.


Darma terbelalak sedangkan Julia tersenyum bangga.


“Bagaimana?” Tanya Rama kepada Julia dan Darma dengan senyum lebarnya.


“Kamu luar biasa hebat, Rama.” Jawab Julia. Sedangkan Darma tidak dapat berkata-kata.


“Kekuatan dan kecepatan yang kamu tunjukkan memang sangat hebat, tapi Dirga masih jauh lebih cepat.” Sambung Julia.


“Dirga? Kenapa Julia malah membicarakan dia di saat seperti ini?” Pikir Rama dengan wajah masam.


“Seberapa jauh perbedaan kecepatan kita?” Tanya Rama.


“Sangat jauh. Dirga bisa bergerak dengan sangat cepat hingga terlihat seperti menghilang.” Jawab Rama.


“Maksudmu seperti ini?” Ujar Rama sambil bergerak dengan sangat cepat melebihi kecepatan yang tadi dia tunjukkan. Rama terlihat menghilang dari tempatnya berdiri, dan muncul tepat di depan pintu ruang pelatihan


Julia sangat terkejut saat Rama memperlihatkan kecepatannya kali ini. Kecepatan yang nyaris sama dengan kemampuan yang dimiliki Dirga. Sedangkan Darma tidak hanya terkejut, mulutnya terbuka lebar dan matanya terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dia saksikan.


“Bagaimana?” Rama kembali bertanya dengan senyum lebar.


“Hebat sekali, Rama.” Teriak Julia kegirangan.


“Apa aku sudah secepat Dirga?” Rama kembali melontarkan pertanyaan.


“Dirga memang sedikit lebih cepat, tapi kecepatanmu itu nyaris menyamai kecepatan Dirga.” Jawab Julia.


“Akan ku coba lagi.” Ujar Rama.


“Tidak perlu, Rama. Aku mengenal kamu lebih dari siapapun.” Jawab Julia. Jawaban yang membuat wajah Rama kembali berubah merah karena malu.

__ADS_1


“Ehm….” Darma kembali mendeham.


“Pelatihan berakhir, kamu bisa meninggalkan ruang pelatihan dan melanjutkan latihan secara mandiri.” Ujar Darma.


“Terima kasih, Pak Darma, Julia.” Ucap Rama sambil meninggalkan ruang pelatihan area pertama.


Rama memiliki waktu luang yang sangat banyak karena berhasil menyelesaikan pelatihan dengan sangat cepat. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dia miliki dan memutuskan untuk melakukan latihan mandiri di lapangan belakang mansion.


Setibanya di lapangan pelatihan, Rama melihat Dirga sedang melakukan latihan pernapasan. Rama pun mendekati Dirga secara perlahan karena khawatir akan mengganggu konsentrasi Dirga.


Dirga merasa ada sesuatu yang sedang mengendap-endap di belakangnya. Dia tidak berpikir kalau itu adalah Rama karena seluruh anggota selain dia sedang berada di ruang pelatihan. Dia malah berpikir kalau itu adalah binatang buas.


Dirga mengeluarkan kerambitnya, menghilang dari tempatnya dan muncul tepat dihadapan Rama. Dirga tidak menyangka kalau itu adalah Rama dan telah terlanjur melakukan serangan menggunakan kerambitnya itu. Dirga segera menghilangkan kerambit ditangannya dan menghentikan serangan. Tapi siapa sangka, Rama yang mengira Dirga akan melanjutkan serangan pun bergerak dengan cepat dan menghilang dari pandangan Dirga. Rama muncul tepat dibelakangnya.


“Apa yang terjadi?” Pikir Dirga yang sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


“Hey Dirga, kamu punya masalah apa sih? Tiba-tiba saja melakukan serangan seperti itu. Membuatku kaget saja.” Ucap Rama di belakang Dirga.


“Bagaimana kamu bisa melakukan itu?” Tanya Dirga dingin.


“Apa maksudnya?” Tanya Rama kebingungan.


“Bagaimana kamu bisa bergerak begitu cepat seperti tadi?” Dirga mempertegas pertanyaannya.


Rama tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan Dirga. Tanpa disadarinya, baru saja Rama menggunakan kekuatan untuk bergerak dengan sangat cepat. Kecepatan yang menyerupai Dirga.


“Eh, bergerak cepat bagaimana maksudmu?” Tanya Rama dengan sedikit kikuk.


“Kamu memang sangat polos, Rama. Kebohongan mu itu terlihat sangat jelas.”  Ujar Dirga dingin. Sedangkan Rama tidak dapat membantah pernyataan itu.


“Sudahlah tidak perlu ditutupi lagi. Aku sudah lihat sendiri seberapa cepat kamu bisa bergerak.” Sambung Dirga.


“Kenapa kamu ada disini, Dirga?” Tanya Rama berbasa-basi.


“Jangan pura-pura bodoh, apa kamu lupa kapsul virtual sedang rusak.” Jawab Dirga ketus.


“Kenapa dia bertingkah seperti ini?” Pikir Rama kebingungan.


Raut kebingungan terlihat jelas diwajah Rama. Dirga merasa bersalah dan berusaha memperbaiki keadaan.


“Maafkan aku, aku hanya sedikit kelelahan karena kurang tidur. Kamu sendiri kenapa ada di sini?”


“Tidak mungkin.” Ujar Dirga sambil melihat jam ditangannya.


“Ini bahkan belum 15 menit sejak latihan dimulai.” Sambungnya.


“Ya sudah kalau tidak percaya.” Sahut Rama.


“Kenapa bisa begini? Apa memang Rama sekuat itu? Tidak, akan ku selesaikan latihan di area itu dengan lebih cepat.” Pikir Dirga dengan semangat menggebu-gebu.


“Mumpung kita ada disini, bagaimana kalau kita berlatih bersama-sama?” Tanya Rama.


“Maksudmu?”


“Kita adakan latih tanding. Bagaimana?”


“Sepertinya tidak bisa, aku masih harus bersiap-siap untuk latihan khusus besok.” Tolak Dirga.


“Kita latihan sendiri-sendiri saja.” Sambungnya.


“Kamu takut ya?” Ledek Rama.


“Apa menurutmu aku adalah seorang pengecut?” Jawab Dirga dingin sambil mengeluarkan kerambitnya.


“Tidak, aku hanya bercanda kok.” Ujar Rama yang salah tingkah dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Dirga.


“Ya sudah, kita latihan sendiri-sendiri saja.” Sambung Rama.


Pada akhirnya Rama dan Dirga berlatih sendiri-sendiri. Akan tetapi mereka melakukan latihan yang sama yaitu latihan peningkatan stamina dan daya tahan fisik.


Saat sore menjelang, Dirga pergi meninggalkan Rama untuk memeriksakan kondisi tubuhnya di ruang medis. Disana Dirga bertemu dengan Galih yang juga sedang memeriksakan kondisi tangannya.


Setelah perbincangan singkat, Dirga dan Galih memutuskan untuk melakukan latih tanding di lapangan belakang mansion. Setibanya di lapangan, Galih melihat Rama yang sedang berlatih seorang diri.


“Hey Rama….” Sapa Galih.


“Halo Galih….” Sahut Rama.


“Kenapa tanganmu itu?” Tanya Rama.


“Hanya masalah kecil saja.” Jawab Galih.

__ADS_1


“Oh ya Rama, kamu mau ikut berlatih bersama kami tidak? Tadi Dirga mengajak ku latih tanding.” Tanya Galih diikuti dengan Dirga yang nampak kikuk.


“Latih tanding?” Ujar Rama lirih.


“Sialan kau Dirga, tadi kamu bilang mau latihan sendiri-sendiri saja…!” Teriak Rama.


Dirga tidak menjawab teriakan Rama dan malah menjadi salah tingkah.


Galih yang mulai sedikit mengerti dengan situasi yang terjadi pun berusaha menengahi keduanya.


“Tenanglah dulu. Awalnya Dirga tidak memiliki niat untuk berlatih tanding denganku, Rama. Tapi karena mendengar keluhan ku tentang betapa sulitnya pelatihan khusus ini, Dirga menawarkan diri untuk membantuku.”


“Jadi memang ini adalah sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.” Sambung Galih.


“Oh begitu, ternyata aku salah sangka. Maafkan aku Galih, Dirga.” Ujar Rama dengan menundukkan kepalanya.


“Ternyata orang ini jauh lebih polos dibanding yang kuduga.” Pikir Galih.


Kemudian Galih dan Dirga melakukan latih tanding, sedangkan Rama tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan kemampuan mereka berdua. Sebelum memulai latih tanding, Dirga menggunakan kemampuan regenerasi selnya untuk menyembuhkan tangan Galih yang sedang terluka.


“Apa yang mereka lakukan?” Tanya Rama kebingungan.


Tidak lama kemudian Dirga mengeluarkan kerambit dan memotong perban penyangga tangan Galih. Mulanya Rama terkejut tapi akhirnya dia terpukau karena tangan Galih dapat digunakan kembali seperti sedia kala.


“Hebat, Dirga juga menguasai teknik penyembuhan?” Ujar Rama lirih.


Rama terus menyaksikan pertarungan antara Galih dan Dirga. Rama bisa melihat dengan baik kemana arah Dirga berlari. Tapi Galih terlihat kesulitan untuk mengikuti pergerakan Dirga. Rama tidak menyangka kalau ternyata diantara keduanya terdapat perbedaan kemampuan yang begitu besar. Galih seperti seorang murid yang sedang berlatih bersama gurunya.


Latih tanding pun berakhir. Galih dan Dirga meninggalkan lapangan pelatihan. Tanpa Dirga sadari, tiba-tiba Rama telah muncul dibelakangnya.


“Kamu hebat sekali Dirga, lain kali kita harus melakukan latih tanding seperti tadi.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Rama kembali menghilang.


Dirga terbelalak. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Rama. Kejadian itu membuatnya kembali teringat dengan mimpi buruknya tadi malam. Dirga berdiri mematung dan tubuhnya gemetar ketakutan.


“Kamu kenapa Dirga, ayo istirahat.” Teriak Galih yang ternyata sudah berjalan cukup jauh meninggalkan Dirga yang masih berdiri mematung. Dirga pun segera berlari mendekati Galih seakan tidak pernah terjadi sesuatu sama sekali.


“Rama kemana ya? Sepertinya tadi dia masih ada disini.” Tanya Galih.


“Entahlah.” Jawab Dirga singkat.


Di sisi lain…


“Gila, Dirga hebat sekali. Semoga Dirga tertantang dengan kalimat yang ku ucapkan tadi. Aku sudah tidak sabar untuk latih tanding dengannya. Lagi pula dia juga sudah tahu kecepatanku ini, kan? Sepertinya tidak masalah kalau hanya menunjukkan kepada Dirga saja.” Ujar Rama dengan sangat antusias sambil terus berjalan menuju kamarnya.


Keesokan harinya, Rama melakukan latihan khusus di area kedua. Lagi-lagi dia dapat menyelesaikan latihan khusus itu dengan sangat mudah. Tapi kali ini Julia dan Darma sama sekali tidak terkejut. Mereka justru dikejutkan dengan pelatihan di area pertama dimana Dirga mampu menyelesaikan latihan lebih cepat dibandingkan dengan Rama.


Begitu juga dengan latihan di area ketiga hari berikutnya. Rama kembali menyelesaikan latihan dengan cepat dan mudah. Tanpa disangka, Rama mampu mengeluarkan energi petir yang dapat melindungi dirinya dari setiap serangan yang dilakukan oleh mesin lontar. Pelatihan berakhir dan Rama pun meninggalkan ruangan tersebut.


Saat Rama sedang berjalan pergi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengarkan percakapan antara Dirga dan Julia. Rama berusaha menghilangkan hawa keberadaannya.


“Sebenarnya siapa kamu?” Tanya Julia.


“Sudah ku duga, ternyata kamu memang masih mencurigaiku.” Jawab Dirga.


“Jawab saja pertanyaan tadi.” Ucap Julia.


“Apa alasan dari kecurigaan mu itu? Kenapa kamu mencurigai ku dan tidak kepada Rama yang justru dipenuhi dengan energi iblis yang mengerikan?” Tanya Dirga.


“Energi iblis?” Rama tersentak dan teringat dengan residual energi yang ditinggalkannya saat menjalankan latihan di area kelima.


“Kamu harus tahu satu hal. Aku tidak akan pernah mengkhianati dan melukai orang-orang yang seharusnya ku lindungi, walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri.” Ucap Dirga.


“Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, aku pergi dulu.” Sambungnya.


Rama mendengar langkah kaki Dirga yang pergi meninggalkan Julia. Namun tiba-tiba saja langkah itu terhenti.


“Raka…” Ucap Dirga singkat.


“Sudah kuduga, ternyata kamu mengenal dia. Walaupun kamu mencurigaiku, tapi mata mu itu justru menunjukkan tatapan kerinduan. Sepertinya hubunganmu dengan Raka cukup dekat.”


“Aku memang terlihat seperti Raka. Tapi aku bukan dia. Aku adalah orang yang akan membalas kematiannya.”


Lalu Rama mendengar Dirga melanjutkan langkahnya.


“Tatapan kerinduan? Siapa itu Raka?” Pikir Rama penasaran.


Setelah itu Rama memberanikan diri untuk melihat Julia. Betapa terkejutnya Rama saat melihat Julia sedang menyeka air matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2