Project Wanara

Project Wanara
Chapter 82. Dominasi


__ADS_3

“Selamat datang, Rama, pewaris darah Sang Raja Jinn.” Ujar Azazil masih dengan seringainya yang mengerikan.


Tanpa berbasa-basi, Rama mengeluarkan pancaran energi untuk memberi tekanan kepada Azazil. Namun Azazil pun tidak tinggal diam dan memancarkan energi yang tak kalah hebatnya.


Bersamaan dengan keluarnya pancaran energi itu, Rama mengalirkan sebagian energi miliknya kepada Dirga untuk membantu percepatan proses pemulihan diri. Dirga menyadari hal itu dan memanfaatkan energi milik Rama untuk segera memulihkan kondisi tubunya. Setelah tubuhnya terasa lebih baik, Dirga berupaya untuk menjauh dari area pertarungan agar tidak menjadi beban bagi Rama.


Energi milik Rama dan Azazil memiliki warna yang sama, yakni hitam pekat. Hanya saja energi milik Rama diselimuti kilatan petir ungu yang menyambar sedangkan energi milik Azazil diselimuti percikan api merah yang menyala.


Kedua energi itu berbenturan dan menghasilkan tekanan yang sangat dahsyat. Di saat yang sama, Dirga yang masih berusaha menjauh pun terdiam sejenak dan terbelalak menyaksikan dua kekuatan besar itu saling beradu.


Perlahan tapi pasti, pancaran energi milik Rama berhasil memberi tekanan lebih besar dan melemahkan energi milik Azazil. Sekilas terlihat kalau kekuatan Rama lebih unggul. Kekuatannya itu terus membesar hingga membuat Azazil hampir kehilangan kendali.


“Enyahlah…!” Teriak Rama sambil memperkuat energi yang dia keluarkan hingga hampir menghantam Azazil. Akan tetapi, dominasi energi milik Rama tiba-tiba saja terhenti sesaat sebelum menyentuh tubuh Azazil.


“Apa yang terjadi?” Pikir Rama. Azazil pun tersenyum. Senyuman yang seketika membuat bulu kuduk Rama berdiri.


“Enyahlah?” Tanya Azazil sambil berjalan masuk ke dalam pancaran energi hitam milik Rama dengan begitu tenang.


Berada di dekat pancaran energi itu saja dapat membuat orang-orang disekitarnya mati tak berdaya, tapi Azazil dapat bertahan bahkan masuk ke dalam pancaran energi itu dengan sangat mudah. Rama pun terkejut dengan apa yang dia lihat.


Di tengah keterkejutannya itu, Rama menyambar Azazil dengan kekuatan petir yang sangat besar. Sambaran petir itu menghasilkan ledakan yang begitu dahsyat. Tapi Azazil masih terus berjalan dengan sangat tenang. Serangan itu tidak memberi dampak apapun kepadanya.


“Sial.” Umpat Rama. Dengan sedikit panik, Rama pun kembali menghujani Azazil dengan sambaran petir yang bertubi-tubi.


Alih-alih menghentikan langkah Azazil, apa yang sedang Rama saksikan saat ini justru membuatnya terbelalak tak percaya. Azazil menyerap semua petir yang Rama keluarkan dan memanfaatkan energi itu untuk memperkuat dirinya sendiri. Beberapa bagian tubuhnya pun mengalami perubahan.


Sayap-sayap berbulu hitamnya kini diselimuti api yang berpijar, kedua tanduknya semakin panjang dan melengkung begitu tajam, stigma di dahinya pun berpendar semakin terang, dan kilatan lidah api memenuhi sekujur tubuhnya.


“Apa yang terjadi? Serangan yang ku lakukan malah membuatnya semakin kuat.” Pikir Rama sambil berusaha menenangkan diri.


“Ternyata kamu tidak hanya mewarisi kekuatan Asoka, tapi juga kebodohannya.” Ujar Azazil mencemooh Rama.


“Kurang Aja…!” Belum sempat Rama menyelesaikan ucapannya, Azazil tiba-tiba muncul dan melayangkan  pukulan keras ke bagian perut Rama hingga membuat tubuhnya terpental dan terkapar.

__ADS_1


Tapi dengan cepat Rama kembali berdiri untuk menghindari dan mengantisipasi serangan-serangan berikutnya. Serangan tadi memang tidak sempat dia hindari, tapi untungnya Rama masih sempat memperkuat beberapa bagian tubuhnya dan meminimalisir dampak yang dia terima.


Rama masih berdiri di tempat dan belum melakukan serangan balasan. Dia sedang memperhatikan kondisi sekitar, terutama keberadaan Dirga. Dia khawatir kalau serangannya malah akan memberi dampak buruk bagi Dirga. Tapi syukurlah Dirga telah cukup jauh dari area pertarungan. Setidaknya kini dia bisa lebih fokus dan leluasa dalam mengeluarkan seluruh kemampuannya.


“Naif sekali. Melindungi diri sendiri saja tidak mampu, tapi kamu berlagak seperti pahlawan kesiangan.” Ucap Azazil yang menyadari galagat Rama.


“Makhluk sepertimu tidak akan pernah mengerti.” Sahut Rama dengan sangat berani.


Rama nampak bingung dengan ekpresi yang diperlihatkan Azazil. Mulanya dia berusaha memprovokasi, namun alih-alih terprovokasi, Azazil malah menunjukkan senyumnya.


Rama pun tak ambil pusing. Dia mengeluarkan cakar energi dan bergerak cepat menyerang Azazil. Rama mencoba serangan fisik karena petirnya tidak berguna dihadapan Azazil.


Kecepatan serangan Rama telah jauh melampaui kecepatan Dirga. Tapi berkat kemampuan spesial di mata Dirga, Dirga masih dapat melihat arah gerakan yang Rama lakukan.


Di lain sisi, Azazil pun bersiap melakukan serangan fisik yang sama dan bergerak cepat menerjang Rama. Seolah dia ingin menunjukkan perbedaan kekuatan diantara mereka berdua.


Benar saja, Dirga kembali dibuat tercengang. Bahkan dengan kemampuan matanya, Dirga sama sekali tidak dapat melihat pergerakan Azazil.


Tanpa Rama sadari, saat dia sedang berlari, Azazil telah menyambutnya dan kembali melayangkan pukulan keras yang kini menghantam wajah dan menghujamkannya ke tanah.


Rama berada pada posisi sulit dan hanya bisa bertahan dari semua serangan itu tanpa memberi balasan sedikitpun.


Dirga tahu persis bagaimana posisi Rama saat ini. Maka dari itu, dia ingin sekali membantu Rama, sekecil apapun bantuan itu.


Kemudian Dirga mengeluarkan dua buah kerambit, memperkuat energi di bagian matanya, dan melempar dua kerambit itu ke arah Azazil. Dia tahu serangannya tidak akan berhasil, tapi dia berharap setidaknya apa yang dia lakukan dapat memberi Rama sedikit peluang.


Sayangnya, apa yang dilakukan Dirga tidak berguna sama sekali. Kerambitnya terpental begitu saja saat menyentuh energi yang terpancar dari tubuh Azazil. Azazil tidak terganggu sedikitpun dan terus menyerang Rama tanpa henti hingga akhirnya Rama pun tidak lagi dapat bertahan.


Azazil melayangkan pukulan terakhir yang membuat Rama kembali menghujam ke tanah. Rama terkapar dan tidak lagi dapat berdiri. Dengan pandangan mata yang kabur, Rama berusaha mengeluarkan sisa energinya untuk bertahan.


“Aku tidak menyangka masih bisa hidup setelah berhadapan dengan monster sepertinya. Apa lagi yang bisa ku lakukan untuk membantu Rama?” Pikir Dirga dengan mata terbelalak.


Saat Rama sedang terkapar, Azazil mencengkram erat kepala Rama dan berusaha menyerap energi yang Rama miliki. Perlahan tubuh Rama kembali mengeluarkan stigmanya. Rama pun berteriak kesakitan tanpa bisa memberi perlawanan sedikitpun.

__ADS_1


Semakin banyak energi yang dia serap, kekuatannya pun berlipat ganda. Azazil tertawa terbahak-bahak saat mendapatkan energi sebesar itu.


Namun pada akhirnya tawanya itu terhenti. Raut wajahnya menyiratkan ekspresi rasa sakit yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Azazil pun melepaskan cengkraman tangannya dan bergerak mundur menjauhi Rama.


“Bangsat kau, Asoka…!” Hardik Azazil.


“Apa yang terjadi?”  Pikir Rama yang sedang terengah-engah akibat rasa sakit yang dia rasakan.


Tidak lama kemudian, Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo datang untuk membantu Rama. Mereka amat sangat terkejut saat melihat wujud Azazil saat ini dan Rama yang terkapar tak berdaya.


Mereka melihat area sekitar untuk mencari keberadaan Eyang Merapi, tapi yang mereka lihat hanyalah Azazil, Rama dan Dirga yang berada di kejauhan.


“Kenapa bisa begini? Kemana tua bangka itu?” tanya Mbah Purwo.


“Jangan pikirkan itu. Sekarang pikirkanlah cara melawan Azazil. Kondisi Rama terlihat mengkhawatirkan, dan kekuatan kita bertiga tidak akan cukup untuk menghadapi Azazil dengan wujudnya saat ini.” ujar Kanjeng Ratu Kidul.


“Aku akan mengalihkan perhatian Azazil dan kalian selamatkan Rama.” Ucap Wentira.


“Aku akan membantumu. Kanjeng Ratu, selamatkan Rama.” Sahut Mbah Purwo.


“Baik.” Jawab Kanjeng Ratu Kidul.


Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo berlari menuju tempat Azazil berdiri dan bersama-sama melakukan serangan yang memiliki daya hancur luar biasa besar.


“Lama tidak bertemu.” Ucap Azazil yang masih berdiri tegak bahkan setelah menerima serangan kuat milik Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo.


Tak lama kemudian Kanjeng Ratu Kidul mengeluarkan kekuatannya berupa gelombang air yang sangat besar dan ikut menyerang Azazil setelah membawa Rama ke tempat Dirga berada.


“Rupanya kamu masih seperti anak-anak yang senang bermain air.” Pungkas Azazil.


“Jangan banyak bicara, hadapi kami.” Sahut Kanjeng Ratu.


Pertarungan antara Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo menghadapi sosok Sang Raja Iblis pun tak terelakkan. Tiga petinggi bangsa Jinn itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi makhluk yang sedang mereka hadapi saat ini bahkan memiliki kekuatan yang tidak dapat mereka gapai.

__ADS_1


***


__ADS_2