
Dirga Prayuda telah berusia 29 tahun saat bergabung bersama Project Wanara. Usianya saat ini hanya lebih tua 1 tahun dibandingkan dengan Julia dan hanya terpaut 2 tahun dibandingkan dengan Rama dan Galih. Usia yang masih sangat produktif untuk dapat mengembangkan potensi diri.
Dirga adalah salah satu anggota yang paling sedikit berbicara, nampak sangat dingin dan tenang. Kecerdasan terpancar dari raut wajahnya, ketegasan terlihat jelas dari tatapan tajamnya.
Dirga sangat gemar membaca, terutama cerita novel dengan genre fiksi. Dia juga tidak pernah tertinggal informasi seputar perkembangan dunia politik, sosial, ekonomi, budaya dan teknologi. Karena kegemarannya itu, Dirga cenderung sulit bersosialisasi. Kesehariannya lebih banyak dihabiskan dengan membaca. Bisa dibilang kalau Dirga adalah seorang kutu buku.
Namun berbeda dengan kutu buku lain yang sering kali diasosiasikan dengan kaca mata tebal, kemeja rapi dan wajah yang kurang berkarakter, penampilan Dirga justru sangat bertolak belakang. Badan yang tegap, wajah yang tampan, pakaian yang modis dan tidak ada kacamata tebal terpasang di wajahnya. Penampilan Dirga benar-benar membantah stigma ‘culun’ yang melekat pada orang-orang yang senang membaca. Wanita manapun pasti terpikat dengan wajah tampan dan karakter dingin yang dimiliki oleh Dirga.
Ketiga pria yang tergabung bersama Project Wanara memang memiliki paras di atas rata-rata. Andai saja Rama, Galih dan Dirga membuat sebuah boyband, maka popularitas mereka mungkin dapat bersaing dengan boyband dari negeri gingseng yang hingga saat ini masih mendominasi industri entertainment dunia.
Dirga memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan intuisi bertarung. Sejauh ini, teknik Dirga dalam pertarungan satu lawan satu adalah yang terbaik. Hal itu karena kemampuan mata yang dimilikinya.
Matanya dapat melihat lintasan gerak lawan. Pergerakan lawan juga seakan menjadi lambat jika Dirga menggunakan kemampuan tersebut. Terlebih lagi matanya itu dapat membuat prediksi dan memberikan opsi serangan disertai dengan persentase keberhasilannya. Kemampuan dengan potensi yang sangat mengerikan.
Mempertimbangkan kemampuannya itu, Julia melihat ada beberapa aspek yang perlu dikembangkan oleh Dirga yaitu kemampuannya dalam melawan banyak musuh sekaligus dan bertahan. Aspek yang terlihat paling lemah adalah pertahanan. Maka dari itu Julia menempatkan Dirga di area ketiga pada hari pertama pelatihan khusus ini.
Dirga menyadari hal tersebut, namun dia sama sekali tidak gentar dengan apa yang akan dihadapinya, bahkan dia sangat percaya diri dapat menyelesaikan pelatihan ini dengan baik.
Pelatihan hari pertama bagi Dirga akan segera dimulai. Dia memasuki area ketiga dan langsung menempati posisi dimana dia akan menerima seluruh serangan yang dilancarkan oleh mesin lontar. Tidak lama berselang, pelatihan dimulai dan serangan mulai berdatangan.
Serangan pertama adalah sebuah pisau belati yang datang dengan cepat, tepat ke arah Dirga berdiri. Sama dengan apa yang dilakukan oleh Ayu pertama kali, Dirga bereaksi dengan menghindari serangan tersebut. Serangan berikutnya adalah sebuah panah tajam yang juga melesat cepat, tepat ke arah Dirga berdiri. Lagi-lagi Dirga menghindari serangan tersebut. Hal itu terus dilakukan Dirga hingga tiba-tiba mesin lontar berhenti melakukan serangan dan terdengar suara Darma dari balik pengeras suara.
“Dirga, ini area untuk melatih pertahanan, bukan melatih refleks untuk menghindari serangan. Berhenti menghindar dan terima semua serangan yang dilontarkan.” Ujar Darma dengan cukup tegas.
“Baik Pak Darma.” Jawab Dirga dengan lugas.
“Bagus, pelatihan akan kita lanjutkan. Bersiap-siaplah.” Ucap Darma diikuti dengan anggukan kepala Dirga.
Setelah itu Dirga mengeluarkan dua buah kerambit di tangannya, dan tidak lama kemudian mesin lontar kembali melakukan serangan. Kali ini Dirga tidak lagi menghindar, dia menghalau serangan itu menggunakan kerambit yang dipegangnya. Serangan demi serangan dapat dihentikan dengan sangat baik. Setelah berhasil menghalau beberapa serangan, mesin lontar kembali berhenti dan suara Darma kembali terdengar.
“Hey Dirga, kami tahu kalau kamu bisa menghalau semua serangan yang datang, tapi tidak bisakah kamu hanya diam dan menciptakan sesuatu yang dapat dipakai untuk bertahan dari setiap serangan. Kami ingin meningkatkan kemampuan bertahan mu. Jadi berhenti menghalau setiap serangan.” Tegas Darma.
“Maaf Pak Darma, apa yang saya lakukan bukankah bagian dari pertahanan diri?” Dirga memberikan pertanyaan untuk menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Darma.
“Betul, tapi kami ingin agar kamu mengembangkan satu kemampuan khusus yang dapat digunakan untuk bertahan.” Sahut Darma.
“Maaf Pak Darma, saya tidak ingin membantah, tapi jika kemampuan saya ini sudah cukup untuk bertahan dari setiap serangan yang diberikan, kenapa saya harus mengembangkan kemampuan lain?” Dirga kembali memberikan pendapatnya.
Darma terkejut mendengar pernyataan Dirga dan hendak membalas kata-kata itu. Hanya saja niatnya dihentikan oleh Julia.
“Biarkan saja, Darma.” Ujar Julia
“Kenapa?” Tanya Darma penasaran dengan sikap yang ditunjukkan Julia.
__ADS_1
“Dirga terlihat cukup keras kepala. Jika perdebatan ini terus dilanjutkan, maka kalian akan menemukan kebuntuan. Sekalipun akhirnya dia terpaksa harus mengikuti permintaan kita, maka itu akan menjadi beban baginya. Hal itu akan berdampak buruk pada perkembangannya.” Julia menyampaikan pendapatnya.
“Tapi jika tidak begitu, justru dia tidak akan berkembang. Dia pasti akan gagal, tidak hanya di pelatihan ini, tapi juga di pertarungan yang sebenarnya.” Darma memberi tanggapan.
“Berhasil atau tidak tergantung dari kemampuan yang dia miliki. Kita belum tahu pasti apa yang akan terjadi. Lagi pula bertahan memang tidak cocok dengan karakter kemampuan yang dimiliki Dirga. Baginya saat ini, serangan adalah pertahanan paling kuat.” Julia kembali menyampaikan pendapatnya.
“Dia telah membuat pilihan. Kita akan lihat, sejauh mana dia bisa bertahan.” Tambah Julia.
“Baiklah kalau begitu.” Ujar Darma.
Dirga tahu bahwa Darma dan Julia sedang berdiskusi tentang keputusan apa yang akan mereka ambil. Dia menunggu dengan sabar.
“Baiklah Dirga, kamu bisa lanjutkan pelatihan ini dengan cara bertahan yang paling nyaman untuk kamu lakukan. Jika memang kamu bisa menghalau semua serangan, maka lakukan itu.” Ujar Darma. Dirga tersenyum atas keputusan yang dibuat oleh Julia dan Darma.
“Darma, sebelum kita lanjutkan latihan ini. Tolong lakukan beberapa penyesuaian pada pola serangan mesin lontar. Jadikan Dirga sebagai target. Arahkan serangan sesuai dengan arah gerakan Dirga.” Pinta Julia.
“Kenapa?” Tanya Darma yang masih belum mengerti.
“Karena Dirga pasti akan bergerak kesana kemari untuk menghentikan semua serangan. Dia tidak hanya akan berdiri pada titik yang telah kita tentukan.” Jawab Julia.
“Baiklah aku mengerti. Aku butuh beberapa menit untuk melakukan itu.” Ujar Darma.
Kemudian Darma melakukan beberapa penyesuaian pada pengaturan mesin lontar seperti permintaan Julia. Target serangan yang mulanya adalah titik tengah ruangan atau area dimana anggota project berdiri, diganti dengan Dirga atau anggota project itu sendiri. Dengan diubahnya pengaturan mesin lontar, maka tingkat kesulitan di dalam pelatihan ini menjadi semakin tinggi.
Lima menit kemudian….
“Pengaturan selesai.” Ujar Darma.
“Baiklah, kita lanjutkan. Gunakan pengaturan ini untuk hari-hari berikutnya.” Ucap Julia.
“Baik.” Jawab Darma singkat.
“Pelatihan akan kita lanjutkan. Bersiaplah!” Ujar Darma kepada Dirga melalui pengeras suara.
Dirga kembali bersiap diri saat mendengar ucapan Darma. Pelatihan kembali dimulai dan mesin lontar pun kembali melakukan serangan.
Dirga sedikit terkejut, serangan kali ini tepat mengarah bagian kepala. Tapi refleks nya masih jauh lebih cepat sehingga serangan itu dapat dengan mudah dia hentikan.
Satu jam berlalu, semua serangan dapat dihentikan dengan mudah. Perlahan intensitas serangan pun meningkat. Kecepatan serang menjadi semakin tinggi. Dirga berusaha mengimbangi kecepatan itu. Semakin cepat serangan yang datang, semakin cepat pula Dirga bergerak. Dirga belum menemukan kesulitan yang dapat
membuatnya kewalahan.
Tidak lama kemudian, jumlah serangan meningkat. Serangan datang dari banyak sisi secara bersamaan.
__ADS_1
Sesuai perkiraan Julia, Dirga bergerak kesana kemari untuk menghindari dan menghalau semua serangan. Dia bergerak ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, melompat dan berputar dengan sangat lincah. Semua serangan berhasil dia hentikan.
“Luar biasa….” Gumam Darma.
“Dia memang sangat cepat dan tangguh. Sejauh ini dia dapat menghalau semua serangan dengan sangat baik. Tapi apakah stamina nya dapat mengimbangi kecepatan yang dia miliki?” Tanya Julia kepada Darma yang nampak kagum dengan kemampuan Dirga.
Darma pun terdiam dan menyetujui perkataan Julia. Walaupun kemampuan Dirga sangat hebat, tapi stamina yang dimilikinya memang tidak sebaik Rama dan Galih.
“Akan lebih baik jika dia menciptakan manipulasi energi baru yang khusus digunakan untuk bertahan. Tapi ini adalah keputusan yang dia buat sendiri. Kita akan lihat bagaimana caranya mengatasi masalah ini.” Ucap Julia.
Benar saja, setelah terus menerus bergerak dan menghalau semua serangan, napas Dirga mulai tersengal. Tapi dia masih terus bergerak dengan kecepatan yang konstan. Jika dia menurunkan kecepatan, maka bisa saja nyawanya terancam karena daya tahan tubuhnya tidak lebih kuat dibandingkan dengan daya hancur masing-masing serangan.
Arghhh…. Dirga menjerit. Dia mendapatkan luka pertamanya karena gagal menghalau dan menghindari salah satu serangan yang datang. Luka itu hanyalah sebuah goresan kecil, tapi hal tersebut menandakan bahwa kecepatan dan konsentrasi Dirga mulai menurun.
Syut… Syut… Syut…
Beberapa serangan yang gagal dia hentikan kembali membuat goresan-goresan kecil di tubuhnya. Tidak ada luka fatal yang mengancam nyawanya karena dia masih sempat menghindari serangan-serangan itu, walaupun tidak sempurna.
Kecepatan dan jumlah serangan kembali meningkat. Daya hancur serangan pun semakin besar. Melihat perubahan yang terjadi, Dirga mulai menggunakan kemampuan matanya. Sedari tadi rupanya Dirga belum menggunakan kemampuan mata itu sebab dia ingin melatih refleks tubuhnya dan menghemat energi yang dia miliki.
Kini Dirga mampu melihat lintasan gerak semua serangan. Pergerakan semua benda terlihat melambat di matanya. Beberapa opsi serangan yang muncul pun sangat membantu Dirga dalam membuat keputusan. Sehingga pergerakannya menjadi sangat efektif dan efisien. Walaupun Dirga masih mendapat banyak luka di sekujur tubuhnya, tapi dia berhasil menghalau banyak serangan dan menghindari beberapa serangan fatal.
Di mata Dirga semua serangan terlihat melambat, tapi di mata Julia dan Darma, gerakan Dirga lah yang menjadi semakin cepat. Darma kembali berdecak kagum dengan apa yang dia saksikan.
Menjelang makan siang, intensitas serangan lagi-lagi meningkat. Kecepatan semakin tinggi, jumlah semakin banyak dan daya hancur semakin besar. Dirga yang sudah sangat kelelahan tidak mampu lagi menghalau semua serangan.
Arrghhhh….
Teriakan Dirga semakin keras bersamaan dengan semakin banyaknya serangan yang gagal dia hentikan. Dirga mendapatkan beberapa luka serius dan harus mengalami perawatan lanjutan.
Teeeet….
“Pelatihan dihentikan. Waktunya beristirahat.” Ujar Darma.
Huh… huh… huh…
Napas Dirga tersengal. Dia tidak lagi terlihat bugar. Tubuhnya kini dipenuhi dengan banyak luka terbuka.
***
__ADS_1