Project Wanara

Project Wanara
Chapter 60. Dasamuka VS Brahma (Last Part) - Diskualifikasi


__ADS_3

Indra naik ke atas arena pertandingan dan berdiri tepat di hadapan Yudis. Pertandingan kedua Project Dasamuka melawan Project Brahma akan segera dimulai. Untuk sementara Project Dasamuka masih unggul satu poin atas kemenangan Davin.


“Bisa-bisanya aku harus ikut bertarung melawan project lemah seperti kalian.” Indra mulai memprovokasi.


“Kurang ajar!” Teriak Yudis.


“Tidak perlu menggonggong begitu. Berisik sekali.” Sambung Indra.


“Bangsat…!” Yudis maju dan melayangkan pukulan keras ke wajah Indra. Tapi pukulannya itu dapat dihentikan hanya dengan satu tangan saja.


“Apa yang kalian lakukan? Pertandingan belum dimulai!” Teriak Anggun.


“Maaf nona, sepertinya orang ini terlalu bersemangat.” Jawab Indra dengan senyum picik.


“Berdiri ditempat kalian masing-masing. Kita akan segera mulai.” Ujar Anggun.


“Apa kalian siap?”


“Mulai…!”


Yudis melakukan manipulasi energi dan menciptakan sebuah tombak panjang yang memiliki ujung tajam dan dengan cepat menghujamkan tombak itu ke arah Indra.


Indra berhasil menghindari serangan cepat itu. Tapi Yudis belum selesai, dia sangat lihat menggunakan tombaknya dan melakukan beberapa serangan dari berbagai sisi dengan kecepatan tinggi. Hanya saja Indra mampu menghindari semua serangan yang dilakukan Yudis.


Sambil menghindari serangan yang Yudis lakukan, Indra mengeluarkan bola energi dari tangan kanannya dan melemparkan bola itu. Serangan Indra berhasil menghantam tubuh Yudis yang sedang fokus menyerang dan menghempaskannya.


Indra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengangkat tangan kanan dengan ibu jari dan telunjuk terbuka lalu kemudian membidik tepat ke arah Yudis berdiri seakan hendak menembakkan pistol.


Tiba-tiba saja energi berkumpul di jari telunjuknya dan melontarkan bola energi kecil seperti peluru dengan kepadatan dan kecepatan yang sangat tinggi. Serangan itu melukai kaki kiri Yudis dan darah pun mengalir deras.


“Argghhhh….” Yudis berteriak kesakitan.


“Sial, jadi ini sebabnya Davin meminta ku untuk memperkuat pertahanan.” Ujar Yudis.


“Jadi itu yang dikatakannya. Dia benar, seharusnya kamu memperkuat pertahananmu. Tapi sayangnya kamu hanya binatang bodoh yang tidak mengerti bahasa manusia.”


Indra kembali menembakkan peluru-peluru energinya tanpa henti. Yudis memutar tombaknya dengan sangat cepat untuk menghalau semua peluru yang datang. Kali ini Yudis berhasil menghalau semua serangan yang dilakukan oleh Indra.


Yudis pun tidak tinggal diam, dia menebaskan tombaknya sehingga menghasilkan energi besar yang menyerang Indra. Indra sempat terkejut tapi masih berhasil menghindari serangan tersebut.


“Bukan kamu saja yang bisa melakukan serangan jarak jauh.” Ujar Yudis.


“Argghhhh….” Tiba-tiba Yudis berteriak dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


“Apa yang terjadi?” Pikir Yudis.


“Apa itu sakit?” Tanya Indra sambil tertawa terbahak-bahak.


“Peluruku itu tidak bukan energi biasa. Aku telah memanipulasinya sehingga dapat menyerap ke dalam tubuh dan melakukan kerusakan dari dalam.”


“Kurang ajar…!” Yudis kembali menebaskan tombaknya dan melakukan serangan yang sama. Tapi lagi-lagi dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.


“Sia-sia saja, semakin banyak kamu mengeluarkan energi, kerusakan yang kamu terima akan semakin besar. Lebih baik kamu diam dan menunggu kematianmu dengan tenang. Tapi sepertinya tidak seru kalau pertandingan ini berakhir begitu saja, kan?”


“Indra, jangan berlebihan…!” Teriak Davin dari luar arena. Tapi Indra menghiraukan teriakan itu dan semakin menikmati pertandingan yang sedang dia lakukan. Senyum mengerikan pun tampak jelas diwajahnya.


“Nona Anggun, hentikan pertandingan ini.” Pinta Davin kepada Anggun.

__ADS_1


“Tidak bisa, kedua petarung belum menyerah dan masih dapat melanjutkan pertandingan.”


“Nyawa Yudis dalam bahaya…!” Teriak Davin.


“Kehilangan nyawa adalah konsekuensi dalam kompetisi ini.”


“Apa maksudmu…?!”


“Kompetisi ini cukup sederhana, siapa yang kuat, dialah yang bertahan.”


“Apa-apaan itu…?!”


“Kamu bisa diam tidak?! Pengkhianat!” Ujar Lisa dingin sambil mengeluarkan pancaran energi yang begitu besar.


Davin tersentak dan terdiam. Seluruh anggota project bingung dengan tingkah laku Davin. Anggota Project Brahma sendiri belum menyadari bahaya yang ada di depan mata. Mereka masih beranggapan bahwa Yudis pasti mampu mengatasi masalah itu dan membalikkan keadaan. Sayangnya anggapan itu sepenuhnya salah.


Di atas arena, Yudis masih jatuh berlutut sambil memegang dadanya yang terasa panas. Sedangkan Indra masih menunjukkan senyum mengerikan.


Tidak lama kemudian Yudis bangkit dan berdiri. Seluruh anggota Project Brahma bersorak sorai memberi semangat kepada Yudis. Hanya saja Yudis menunjukkan gelagat yang tidak wajar. Kepalanya tertunduk, tangan dan kakinya seperti lemas dan tidak bertenaga.


“Berikan perintah Anda tuan.” Ujar Yudis.


Julia tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Yudis.


“Ada apa Julia?” Tanya Darma.


Julia tiba-tiba saja berlari mendekati Caraka dan Vanti yang merupakan penanggung jawab Project Dasamuka. Dia menarik kerah baju Caraka dengan wajah merah padam.


“Apa yang sebenarnya kamu ajarkan?” Tanya Julia dengan mata penuh amarah.


“Julia, ada apa denganmu?” Tanya Vanti yang berusaha melerai.


“Jawab saja pertanyaanku.”


Caraka tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya membalas tatapan tajam Julia dengan senyuman mengerikan.


“Bangsat…!” Teriak Julia sambil melempar Caraka yang membuatnya terhempas.


“Nona Anggun, tolong hentikan pertandingan ini.” Julia meminta hal serupa.


“Tidak bisa.” Sedangkan Anggun tetap teguh dengan jawabannya.


“Kalau begitu, aku yang akan turun tangan.”


“Lakukan saja jika kamu ingin Project Wanara didiskualifikasi dari kompetisi ini.”


“Terlambat….!” Indra tertawa terbahak-bahak.


“Berikan perintah Anda tuan.” Ujar Yudis.


“Keluar dari arena dan serang seluruh anggota tim mu. Kembali ke arena sebelum 10 detik berakhir dan lakukan serangan lagi. Lakukan hal itu secara terus menerus hingga seluruh anggota tim mu mati.”


“Dengan senang hati tuan.”


Tiba-tiba Yudis berlari menghampiri anggota timnya dan melakukan serangan secara membabi buta. Anggota Tim lain berusaha untuk menghalau serangan itu hanya saja kekuatan yang ditunjukkan oleh Yudis berada diluar batas nalar mereka. Yudis berpuluh-puluh kali lipat menjadi lebih kuat. Bahkan Aswin dan Aruna sebagai penanggung jawab Project pun tidak berkutik melawan Yudis.


Kurang dari 10 detik, seluruh anggota tim Project Brahma telah terkapar di tanah. Tersisa Aruna yang masih berdiri namun mengalami luka yang sangat serius. Yudis kembali ke atas arena pertandingan.

__ADS_1


“Semuanya, lindungi Project Brahma…!” Teriak Julia.


“Jika ada yang berani ikut campur, maka kalian akan mengalami nasib yang sama.” Ujar Indra dingin.


Ucapan Indra bukan hanya omong kosong belaka. Semua orang menyadari tekanan yang diberikan dan memahami kesungguhan dari ucapan tersebut sehingga tidak satupun dari mereka berani bergerak.


“Sepertinya hanya kita yang tersisa.” Ujar Rama.


“Ayo kita lindungi Brahma.” Sambut Dirga.


“Tentu saja.” Sahut Yuna dan Ayu.


Darma dan Julia tersenyum bangga melihat keberanian anggota projectnya.


Meskipun mereka tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tapi mereka sangat percaya kepada Julia. Jika Julia sudah meminta sesuatu seperti itu, artinya mereka memang harus melakukannya. Rama, Yuna, Galih, Ayu dan Dirga bergerak serempak ke tempat Project Brahma dan bersiap melakukan pertarungan untuk melindungi mereka


“Pertandingan berakhir. Yudis melakukan pelanggaran dengan bertarung diluar arena. Project Brahma didiskualifikasi.” Ujar Anggun.


Julia, Darma, Rama, Dirga, Galih, Yuna, Ayu dan seluruh anggota project terkejut dengan keputusan yang dibuat.


“Apa-apaan itu?” Teriak Rama.


“Apa kamu buta, jelas-jelas Yudis dipengaruhi Indra. Kenapa Brahma yang didiskualifikasi?” Sambungnya.


“Meskipun begitu, penyerangan dilakukan oleh Yudis, bukan Indra. Sesuai aturan, anggota tim yang bertarung diluar arena pertandingan akan mendapatkan konsekuensi. Dan Konsekuensi dalam kompetisi ini adalah diskualifikasi project.”


“Itu tidak adil.” Teriak Ayu.


“Biar aku yang urus masalah ini.” Ujar Julia.


“Anggun, selama ini aku bersikap hormat kepadamu. Tapi kamu sudah keterlaluan. Panggilkan para pandawa dan biarkan mereka yang membuat keputusan.” Pinta Julia.


“Mereka telah sepenuhnya memberiku kewenangan untuk mengatur jalannya kompetisi ini.”


“Panggilkan mereka sekarang.” Ujar Julia dingin sambil mengeluarkan energi mengerikan yang sangat luar biasa. Energi itu memenuhi seisi ruangan dan membuat semua orang merinding ketakutan. Bahkan Indra dan Lisa yang sedari tadi berdiri dengan angkuhnya pun dibuat berlutut karena tidak kuasa menahan besarnya energi yang dikeluarkan. Energi itu mirip dengan energi yang dikeluarkan oleh Yasa, hanya saja terasa jauh lebih lebih kuat.


“Saya minta maaf Nona Julia. Mereka tidak disini. Pagi-pagi sekali mereka telah pergi karena ada sesuatu yang harus dikerjakan.” Ujar Anggun terbata-bata menahan energi yang begitu besar.


“Apa keputusan mu tidak akan berubah?”


“Maafkan saya, nona. Saya tidak berani mengubah keputusan. Aturan ini dibuat oleh Para Pandawa. Tapi sepertinya tidak lama lagi mereka akan kembali.”


“Sial…” Ujar Julia kesal dan menghilangkan pancaran energi yang dia buat.


Julia pun kembali ke tempat yang disediakan bagi Project Wanara dan berpapasan dengan Caraka.


“Sepertinya kamu tahu sesuatu. Kuperingatkan untuk tidak terlibat terlalu jauh.” Ujar Caraka pelan.


Kata-kata itu membuat Julia murka dan mengeluarkan Dandelion merah mudanya untuk menghabisi Caraka. Namun tiba-tiba saja muncul petir yang menyambar Caraka dengan sangat hebat. Petir itu datang dari langit-langit ruang. Untung saja Caraka mampu bertahan karena telah bersiap diri untuk menerima serangan Julia, tapi siapa sangka ada orang lain yang menyerangnya.


“Siapa yang berani menyerangku?!” Teriak Caraka.


Semua orang membisu. Para anggota Project Wanara tahu bahwa petir tadi adalah perbuatan Rama. Hanya saja mereka memilih diam agar tidak didiskualifikasi dari kompetisi. Julia melihat Rama dan memberi senyuman. Rama paham bahwa senyuman itu merupakan ucapan terima kasih Julia karena telah mencegahnya menyerang Caraka secara terang-terangan.


 


***

__ADS_1


__ADS_2