
Ayah dan ibu mendengarkan dengan seksama rencana yang Yuna sampaikan. Mereka juga terkejut saat mengetahui fakta keterlibatan anak kolega bisnis mereka dalam kematian Alia. Keterkejutan itu berubah menjadi amarah yang tak lagi bisa dibendung.
“Kebetulan sekali besok mereka akan mengadakan rapat evaluasi dan penyampaian progres pekerjaan proyek kepada para investor. Mereka semua harus bertanggung jawab atas kematian Alia.” Ujar ayah dengan wajah merah padam.
Keesokan harinya, rencana tahap dua dan tiga dijalankan bersamaan. Yuna bertanggung jawab terhadap keberhasilan rencana tahap dua di sekolah, dan ayah menjalankan rencana tahap tiga di luar sekolah. Dua anak panah beracun lepas dari busurnya di hari yang sama.
Rapat dengan para investor sedang berlangsung dan berjalan dengan baik sejak awal pelaksanaan. Pemilik proyek yang juga orang tua dari ketiga penggawa Viper menyampaikan evaluasi dan progres pekerjaan dengan sangat percaya diri.
“Proyek ini telah terlaksana 75% tanpa hambatan sedikitpun. Kami mohon dukungan penuh dari para investor yang hadir di sini. Presentasi saya akhiri. Terima kasih.” Ujar pimpinan rapat yang diikuti dengan tepuk tangan para investor yang hadir.
“Diantara kami, siapa investor terbesar proyek ini?” Tanya ayah Yuna yang seketika membuat suasana rapat berubah.
“Tentu saja anda pak. Kenapa anda menanyakan hal itu?” Tanya pimpinan rapat penasaran.
“Apa yang akan terjadi jika aku menarik semua dana yang telah ku investasikan?” Ayah Yuna kembali melontarkan pertanyaan.
“Apa maksud anda pak? Tolong jangan bercanda.” Jawab pimpinan rapat dengan senyum masam.
“Mulai detik ini. Saya keluar dari proyek ini.” Kalimat tersebut sontak membuat seluruh peserta rapat terkejut.
“Tolong jangan bercanda pak. Apa yang salah? Proyek ini berjalan dengan sangat baik.” Ujar pimpinan rapat dengan sangat panik.
“Apa saya terlihat sedang bercanda?” Jawab ayah Yuna dingin.
“Tolong jangan main-main pak. Jika proyek ini berhenti, perusahaan kami akan hancur.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.” Ujar Ayah Yuna sambil beranjak pergi dari ruangan rapat.
Pimpinan rapat nampak kesal dan menggebrak meja sambil menghardik ayah Yuna.
“Kurang ajar. Jangan main-main dengan kami. Kalau anda memang mau pergi, silahkan pergi! Orang-orang disini akan siap menggantikan posisi anda!”
“Saya peringatkan kepada seluruh investor. Jika ada yang berani mendanai proyek ini, perusahaan kalian juga akan mengalami nasib serupa.” Ujar Ayah Yuna.
Semua orang terkejut dan tidak berani membantah kata-kata yang diutarakan oleh Ayah Yuna. Tanpa dikomandoi, semua investor bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan tersebut. Ketiga pimpinan proyek menjadi sangat panik. Mereka berusaha mengejar dan meminta penjelasan Ayah Yuna sambil memohon untuk terus melanjutkan proyek ini.
“Aku minta maaf pak, tadi aku terbawa emosi. Tolong pikirkan lagi keputusan anda ini pak. Jika proyek dihentikan, perusahaan ini akan hancur. Kami punya keluarga pak. Tolong bantu kami.”
“Sejujurnya aku kagum dengan cara kalian menjalankan proyek ini. Tapi sayangnya kalian gagal dalam mendidik anak.” Ucap Ayah Yuna.
“Apa maksud anda pak, saya tidak mengerti.”
“Tanyakan saja kepada anak-anak kalian. Albert, Galuh dan Damar.”
“Apa anda kenal anak-anak kami? Apa yang telah mereka lakukan?”
“Mereka bertanggung jawab atas kematian putri ku. Setelah mengetahui ini, apa kalian masih tidak punya malu untuk terus memohon? Kalian harus menanggung akibat dari kelalaian kalian dalam mendidik anak.”
Para pimpinan proyek terbelalak dan tidak lagi mampu berkata-kata. Apa yang disampaikan ayah Yuna juga membuat investor lain terkejut dan semakin yakin untuk menarik kembali dana yang telah mereka investasikan. Ayah Yuna dan seluruh investor pun melangkah pergi meninggalkan ruang rapat.
Keesokan harinya….
“Yuna, sudah dapat info tentang rencana tahap ketiga?” Tanya Siska.
“Rencana tahap tiga berjalan dengan baik. Perusahaan miliki keluarga Albert, Galuh dan Damar Viper telah hancur. Sebentar lagi kehidupan mereka pun akan hancur.” Jawab Yuna.
“Hebat….” Sahut Siska.
Di siang harinya, Roni kembali mengajak Yuna dan geng Black Rose untuk berdiskusi perihal keberlangsungan geng Viper.
“Kemarin kami berempat telah membersihkan semua sampah. Para pengkhianat itu telah kami habisi. Sepertinya Viper harus berganti kulit dan mencari anggota-anggota baru yang lebih loyal dibandingkan sampah-sampah itu.” Ujar Roni membuka pembicaraan.
“Lantas apa rencana mu selanjutnya?” Tanya Yuna.
“Sepertinya Viper harus berganti kulit dan mencari anggota baru yang lebih loyal dibandingkan sampah-sampah itu.”
__ADS_1
“Dengan isu yang saat ini berkembang, ku rasa itu hal sangat sulit. Aku tidak bisa membantu mu lebih jauh. Viper telah hancur.” Ujar Yuna. Roni tertunduk lesu mendengar perkataan tersebut.
“Omong-omomg, dimana Albert, Galuh dan Damar?” Tanya Yuna.
“Entahlah, hari ini batang hidung mereka bertiga tidak terlihat sama sekali.” Jawab Roni.
“Loh, bukannya itu mereka?” Ujar Siska yang melihat Albert, Galih dan Damar berjalan menuju kantor kepala sekolah dengan wajah penuh luka. Bersama mereka, ada dua orang berpakaian kasual dengan jaket kulit hitam.
“Woy, sini kalian.” Teriak Roni kepada mereka bertiga.
Albert, Galih dan Damar melihat Roni. Mereka seperti meminta ijin kepada dua orang tadi dan mendekati Roni dengan wajah kesal. Tanpa banyak berkata-kata, Damar melayangkan pukulan keras ke wajah Roni hingga jatuh tersungkur.
“Brengsek, katamu masalah ini bisa kamu selesaikan. Bukannya selesai, tapi malah bertambah besar. Karena ulah mu, perusahaan orang tua kami bangkrut dan keluarga kami hancur berantakan. Kami bertiga habis dihajar oleh ayah-ayah kami.” Ujar Damar.
“Apa maksud mu?!” Teriak Roni.
“Kami minta maaf Yuna, kami bersalah. Kami telah cukup menderita di sekolah dan kini kehidupan keluarga kami pun berantakan. Tolong jangan bawa kami ke jalur hukum.” Rengek Galuh kepada Yuna yang sedang duduk sambil melipat kaki dan tangan dengan senyum sinis diwajahnya.
“Aku mohon Yuna.” Albert juga membuka suara.
“Berlutut.” Ujar Yuna dingin. Albert, Galuh dan Damar segera mematuhi perintah Yuna dan berlutut dihadapannya. Kejadian itu disaksikan oleh banyak siswa yang terlihat sedang berbisik-bisik membicarakan sesuatu.
“Merangkak dan menggonggong dengan lidah menjulur.” Ujar Yuna.
“Tapi Yuna….” Teriak Galuh tidak terima.
Buak…. Siska menendang kepala Galuh dengan sekuat tenaganya.
“Lakukan perintahnya.” Ucap Siska.
Dengan sangat terpaksa, mereka bertiga melakukan apa yang Yuna perintahkan. Wajah mereka berubah merah karena malu. Perlahan semakin banyak siswa yang datang dan berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu. Wajah para siswa terlihat sangat puas. Ada yang ikut mencemooh bahkan beberapa orang meludahi mereka. Saat itu harga diri Albert, Galuh dan Damar hancur. Meski begitu, mereka hanya bisa melakukan apa yang Yuna minta dan berharap agar kasus ini tidak berlanjut ke jalur hukum. Mereka merangkak, menggonggong dan menjulurkan lidahnya seperti anjing.
“Apa yang terjadi?!” Teriak Roni kepada Yuna.
“Sebentar lagi giliran kamu.” Jawab Yuna dengan tatapan tajam penuh kebencian. Tatapan itu membuat Roni sadar dengan apa yang sedang terjadi.
“Bangsat! Siapa itu?!” Roni menoleh dan melihat orang-orang yang dulu berjuang bersama Alia pun berkumpul untuk membalaskan dendam.
“Berani-beraninya kalian?! Apa kalian sudah bosan sekolah disini dan kehilangan masa depan?” Teriak Roni.
“Dasar tidak tahu diri, apa kamu tidak lihat kondisi kantor orang tua mu itu? Ayah dan anak sama bangsatnya!” Ujar Siska.
Roni segera melihat ke arah kantor ayahnya. Matanya terbelalak saat melihat ada banyak sekali polisi disana. Dia juga melihat ayahnya dan kepala sekolah diseret keluar kantor dengan borgol di tangan.
“Kurang ajar kau Yuna!” Teriak Roni ketakutan.
“Lakukan seperti apa yang mereka lakukan saat ini.” Ujar Yuna sambil menunjuk Albert, Galuh dan Damar.
Cuih… Roni meludahi Yuna dan berusaha untuk kabur. Tapi usahanya itu sia-sia.
Para siswa yang berkumpul disana tidak membiarkan Roni pergi. Bahkan mereka mulai bertindak anarkis untuk membalaskan dendam mereka sendiri. Beberapa orang memukuli Roni, menendang dan juga meludahinya. Kerusuhan itu dilihat oleh beberapa polisi dan berusaha melerai.
“Apa kamu sudah selesai, Yuna?” Ujar salah satu polisi.
“Urusan kami disini selesai. Bawa anjing-anjing ini pergi dari sini.” Ujar Yuna yang tak kuasa menahan air matanya.
“Yuna, bukankah kamu berjanji untuk tidak akan membawa ke jalur hukum?!” Teriak Galuh.
“Kapan aku bilang begitu?” Sahut Yuna dingin.
“Ayahku adalah orang yang sangat hebat dan berkuasa. Semua hal ini hanyalah masalah kecil baginya. Setelah masalah ini selesai, kamu akan ku buat menderita.” Ujar Roni.
“Dasar bodoh. Kamu sama sekali tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Apa ayah mu itu lebih berkuasa dibandingkan ayahku yang mendapat dukungan dari Kertarajasa Group?”
“Kertarajasa Group?” Ucap Roni lirih dengan mata terbelalak. Kesombongannya itu seketika sirna dan berubah menjadi rengekan ketakutan.
__ADS_1
“Aku mohon maaf Yuna. Aku bersalah. Tolong maafkan aku.” Rengek Roni.
“Apa permintaan maaf mu itu dapat mengembalikan Alia?” Ujar Yuna.
“Bawa mereka pergi, Pak. Aku sangat muak melihat wajah mereka.” Pinta Yuna kepada para petugas polisi.
Polisi-polisi itu pun membawa Roni, Albert, Galuh dan Damar pergi dengan memasang borgol di tangan mereka. Roni tak henti-hentinya meminta maaf kepada Yuna. Tapi teriakannya sama sekali tidak terdengar karena tertutupi oleh suara cemoohan para siswa kepadanya.
“Sepertinya tahap terakhir akan segera dimulai ya?.” Tanya Siska.
“Tentu saja.” Jawab Yuna.
“Mereka akan mendekam di penjara remaja. Tidak sulit untuk membuat tahanan lain mengerjakan apa yang kita minta. Tidak sulit juga untuk membuat sipir tahanan tutup mata atas segala sesuatu yang terjadi kepada mereka. Orang-orang biadab itu akan merasakan neraka dunia.”
Geng Viper telah hancur. Roni, Albert, Galuh dan Damar telah mendapatkan hukuman atas perbuatan yang telah mereka lakukan.
Sejak saat itu Yuna perlahan memperbaiki diri, Black Rose pun dibubarkan. Ibu yang semula hendak mengusirnya pun pada akhirnya terenyuh dengan ketulusan hati Yuna untuk berubah dan mengurungkan niatnya.
Yuna kembali seperti dulu, namun tidak dengan senyum dan keceriaannya. Pada dasarnya Yuna juga gadis yang sangat cerdas. Hanya dengan sedikit usaha, Yuna berhasil meraih posisi pertama disekolahnya dan lulus dengan predikat murid terbaik.
-
-
-
Kilas balik itu membuat Yuna mengalirkan air matanya tanpa henti. Lubang di hatinya masih terbuka, perasaan bersalah masih menghantuinya.
Tiba-tiba saja cahaya terang yang menyilaukan mata kembali muncul. Tidak lama kemudian Yuna telah berada di sebuah padang rumput yang begitu indah. Yuna merasa bingung, dia tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya. Lalu terdengar suara seseorang memanggilnya dari belakang. Suara yang sangat dia kenal. Suara seseorang yang sangat dia rindukan. Itu adalah suara kakaknya yang telah tiada, Alia.
Yuna terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Yuna berlari cepat menghampiri Alia dan memeluknya dengan sangat erat. Yuna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Alia.
“Aku minta maaf Alia. Aku sungguh minta maaf.”
“Sejak awal aku sudah memaafkanmu Yuna. Jangan menangis lagi. Hapus air matamu itu. Kini aku telah berada di tempat yang indah. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Ujar Alia.
Yuna tidak memberi jawaban sedikitpun. Dia terus memeluk Alia dengan sangat erat, seakan tidak ingin kehilangan lagi pelukan itu.
“Aku tahu penderitaanmu selama ini Yuna. Kamu terus merasa bersalah atas apa yang dulu pernah kamu lakukan. Beban itu memang sangat berat bagimu. Tapi kamu harus bisa merelakan apa yang telah terjadi.”
“Aku sangat menyesal, Alia.” Ujar Yuna.
“Jika kamu memang menyesal, tunjukkan penyesalan itu kepadaku.”
“Apa yang bisa ku lakukan untukmu?” Tanya Yuna.
“Berjanjilah untuk selalu tersenyum. Bangkitlah Yuna. Berjuanglah untuk orang-orang yang kamu cintai, untuk orang-orang yang juga mencintaimu.”
“Aku berjanji, Alia. Aku berjanji kepadamu.” Ujar Yuna.
“Terima kasih Yuna. Aku akan selalu menyayangimu.”
Perlahan Alia yang sedang dipeluk Yuna pun menghilang. Yuna kembali menangis kencang.
“Akan ku tepati janjiku kepadamu, Alia.” Ujar Yuna lirih.
Tidak lama kemudian sebuah notifikasi sistem muncul tepat dihadapan mata Yuna.
[Apa anda ingin melanjutkan pelatihan?]
[Ya / Tidak]
“Aku ingin beristirahat.”
“Tidak”
__ADS_1
Setelah itu Yuna pun terbangun dari tidurnya dengan air mata yang masih membasahi pipi. Yuna keluar dari kapsul yang telah terbuka lalu pergi meninggalkan ruangan pelatihan tanpa memberikan sepatah katapun kepada Darma dan Julia.
***