
Pada hari itu, setelah seluruh anggota tim Project Wanara selesai menyantap sarapan pagi, mereka bergegas menuju ruang pertemuan. Itu adalah ruang khusus yang terletak di basement gedung dan hanya digunakan untuk berdiskusi dan memahami potensi masing-masing anggota.
Ruang pertemuan itu nampak seperti ruang perkuliahan pada umumnya yang memiliki podium cukup besar dengan meja bertingkat yang cukup luas untuk menampung banyak orang. Hari itu adalah kali pertama Rama memasuki Ruang Pertemuan Pandawa Group, namun tidak bagi anggota project lainnya.
“Silahkan pilih tempat duduk yang paling tuan dan nona sukai. Saya perlu menjelaskan ulang tentang uji coba tahap berikutnya kepada Tuan Rama agar Project Wanara bisa kembali melangkah dan mengejar ketertinggalan dari tim Project lain.” Julia mengawali penjelasan.
“Ketertinggalan?” pikir Rama dengan sedikit bingung.
“Seperti yang sudah rekan-rekan ketahui, seluruh tamu undangan kecuali Tuan Rama telah melalui tahap ini. Ini adalah tahap uji potensi dimana kami telah melakukan pemindaian terhadap potensi masing-masing tamu undangan untuk kemudian kami buatkan daftar peringkat.” Jelas Julia.
“Secara keseluruhan terdapat 30 tamu undangan yang akan ditempatkan kedalam enam Project berbeda berdasarkan peringkat yang telah ditetapkan. Peringkat yang lebih tinggi tentu akan ditempatkan kedalam project yang lebih diprioritaskan. Dengan kata lain, anggota tim Project Wanara adalah tamu undangan yang memiliki peringkat lebih rendah dibandingkan dengan anggota project lainnya.”
“29 tamu undangan yang telah menjalani uji potensi telah mendapatkan tempat di project yang tepat. Masing-masing 5 orang di setiap project kecuali Project Wanara yang baru memiliki 4 anggota tim. Tim project lain telah terlebih dahulu pergi ke tempat pelatihan untuk meningkatkan potensi mereka. Karena anggota Project Wanara belum lengkap, maka kami diberikan waktu 1 minggu untuk menunggu anggota terakhir. Jika dalam jangka waktu 1 minggu anggota terakhir belum muncul, maka dengan sangat terpaksa Project Wanara hanya akan dijalankan dengan 4 anggota saja. Tuan Rama, anda adalah anggota tim ke lima Project Wanara dan syukurlah anda datang di waktu yang sangat tepat.”
“Karena sistem peringkat telah ditetapkan sebelumnya, maka berapa pun nilai potensi yang anda dapatkan, anda akan tetap menjadi bagian dari Project Wanara.” Julia menjelaskan dengan detail dan lengkap agar Rama bisa memahami dengan baik.
“Maaf Julia, jika potensi yang dimiliki oleh anggota Project Wanara lebih rendah dibanding project lain, apa itu artinya anggota Project Wanara adalah orang-orang yang tidak lebih baik dibandingkan yang lainya?” tanya Rama kepada Julia.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi dingin. Rama merasakan aura kebencian yang besar. Seluruh mata tertuju kepada Rama sebab merasa direndahkan dengan pertanyaan yang Rama lontarkan.
“Lagi-lagi sepertinya aku membuat kesalahan…” pikir Rama tertunduk tanpa berani melihat anggota tim lainnya.
“Aku mohon maaf kalau pertanyaan ku tadi membuat kalian tersinggung…” Rama berusaha memperbaiki keadaan.
Perlahan suasana kembali terasa lebih baik…
“Pemikiran Tuan Rama tidaklah salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat…” jawab Julia
“Ini adalah tahap untuk mengetahui nilai potensi para tamu undangan, namun potensi bisa kita kembangkan dengan beberapa metode. Maka dari itu kami kelompokkan para tamu undangan berdasarkan potensinya, agar kami bisa memberikan metode yang tepat untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki.” Julia melanjutkan jawabannya.
“Sepertinya aku mulai mengerti…” pikir Rama.
Setelah itu, Julia berbalik dan berjalan ke belakang, melakukan pemindaian retina mata dan sidik jari, lalu menekan beberapa digit angka dari sebuah alat yang menempel dibagian belakang tembok podium. Seketika itu, lantai podium terbuka dan keluar sebuah alat yang terlihat sangat canggih dari bawah podium. Alat itu berbentuk kapsul besar yang dapat dimasuki oleh 1 orang.
“Alat apa itu…?” tanya Rama dengan terkejut dan terpukau.
“Ini adalah Saktih, alat berbentuk kapsul yang digunakan untuk memindai potensi yang dimiliki penggunanya. Cara kerja Saktih cukup sederhana, Tuan Rama hanya perlu masuk ke dalam kapsul dan saya akan memulai proses uji potensi. Alat ini akan melakukan pemindaian tubuh secara menyeluruh dan beresonansi dengan partikel Cincin Onyx didalam tubuh Tuan Rama. Saat itu, sistem akan melakukan pengolahan data dan memprediksi nilai potensi yang Tuan Rama milik.” Julia menjelaskan cara kerja alat dengan spesifik.
“Nilai potensi terdiri dari 6 tingkat yaitu…
Tingkat 1, Dasa dengan nilai potensi 1 - 10
Tingkat 2, Sata dengan nilai potensi 11 - 100
Tingkat 3, Sahasra dengan nilai potensi 101 - 1.000
Tingkat 4, Ayuta dengan nilai potensi 1.001 - 10.000
Tingkat 5, Laksa dengan nilai potensi 10.001 - 100.000
Tingkat 6, Prayuta dengan nilai potensi 100.001 - 1.000.000
Sebetulnya ada tingkat ke tujuh, tapi karena tingkat itu hampir mustahil dicapai, maka kami tidak pernah menganggap tingkat itu ada.” Julia lanjut memberi penjelasan.
“Tamu undangan di project lain berada pada tingkat Sahasra, mereka adalah orang-orang dengan potensi luar biasa. Sedangkan anggota Project Wanara yang telah mencapai tingkat Sahasra hanyalah Nona Yuna saja. Selebihnya berada pada Level Sata” ujar Julia.
“Saya secara pribadi merasa terkejut dengan apa yang terjadi saat Tuan Rama menggunakan Cincin Onyx kemarin. Itu adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan saya merasa bahwa anda adalah orang yang spesial Tuan Rama. Saya yakin anda memiliki nilai potensi yang sangat tinggi.” Puji Julia kepada Rama.
__ADS_1
Pujian Julia membuat Rama besar kepala dan hal itu dapat dilihat dengan mudah dari ekspresi wajah yang ditunjukkan Rama. Disisi lain, seluruh anggota tim lain merasa terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Julia.
“Sudah kuduga kakak Rama adalah orang yang hebat…” ujar Ayu dengan polosnya.
“Sepertinya aku memang orang yang hebat… Ha ha ha…” pikir Rama dengan besar kepala.
“Apa kau tidak salah Julia? Apa orang ini memang memiliki potensi sehebat itu?” tanya dirga dengan tenang, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa Dirga sangat terkejut saat itu.
“Saya pun tidak tahu Tuan Dirga, itu hanya prediksi saja. Akan lebih baik jika kita segera buktikan seberapa besar potensi yang dimiliki Tuan Rama….” Jawab Julia.
“Silahkan Tuan Rama masuk kedalam kapsul, kita akan segera mulai proses uji potensi untuk Tuan Rama.” Julia mempersilahkan dengan sopan.
Rama berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kapsul dengan membusungkan dada. Senyum bangga terukir jelas diwajah Rama. Rama pun masuk kedalam kapsul dan Julia memulai uji potensi milik Rama. Beberapa detik berlalu dan kapsul masih terus melakukan pemindaian. Kapsul terbuka dan pemindaian selesai.
“Pemindaian selesai, Tuan Rama bisa keluar dari kapsul.” Ujar Julia
“Proses pengolahan data akan membutuhkan waktu 30 detik dan nilai potensi yang Tuan Rama miliki akan ditampilkan dilayar ini.” Lanjut julia sambil menunjukkan layar yang sedang melakukan hitung mundur.
Rama sangat percaya diri dengan potensi yang dia miliki. Rama tidak memperhatikan layar, dia hanya berdiri menghadap anggota tim lainnya dengan melipat tangannya di dada. Rama memejamkan mata dengan senyum bangga di wajahnya. Sedangkan anggota tim lainnya memperhatikan layar dengan seksama.
[5… 4… 3… 2… 1… Tiiiingg]
Nilai potensi ditampilkan…
“Apaaaa….??!!” Semua orang tampak terkejut dengan hasil yang ditampilkan.
“Terkejutlah kalian semua… Kagumlah dengan potensi yang ku miliki… Ha ha ha…” pikir Rama dengan percaya dirinya.
[ 10 ] Nilai yang ditampilkan oleh layar alat tersebut.
“Nilai potensi 10, tingkat Dasa…” ujar Julia.
“Ha ha ha ha….” Semua orang tertawa terbahak-bahak dengan hasil tersebut, bahkan Yuna yang terlihat sangat anggun dan pendiam bisa tertawa lepas.
“Ternyata kamu tidak sebaik yang dipikirkan… Ha ha ha…” Dirga tertawa paling kencang dibanding anggota lainnya.
“Heyyy Julia… ku pikir ada kesalahan disini…! Atau mungkin mesin itu rusak…!” teriak Rama kepada Julia dengan perasaan malu.
“Bukannya kamu bilang aku orang yang spesial Julia…” tambahnya.
“Sepertinya memang ada kesalahan di sini Tuan Rama….” Julia menanggapi perkataan Rama.
“Sudah kuduga….” Rama memotong kata-kata Julia dengan sedikit harapan.
“Maksud saya, sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi karena kejadian kemarin…” Julia melengkapi perkataannya.
“……..” Rama tidak bisa berkata-kata.
“Nilai Potensi Tuan Rama telah didapatkan, silahkan kembali duduk tuan. Kami akan cari metode terbaik bagi Tuan
Rama untuk dapat meningkatkan nilai potensi anda.” Julia mempersilahkan Rama untuk duduk kembali.
“Ini aneh, nilai potensi Rama sangat rendah, lalu sebenarnya apa yang kemarin terjadi..?” pikir Darma yang sedari tadi menyaksikan uji potensi Rama.
“Huft… Sudahlah… Tidak ada yang perlu dipikirkan” lanjut Darma dalam hatinya.
Rama kembali ke tempat duduknya dengan langkah gontai, lesu dan tanpa semangat. Belum lagi malu yang Rama rasakan. Rama melangkah tanpa berani memandang wajah rekan-rekannya.
__ADS_1
“Semangat kakak Rama….” Ayu berusaha memberi semangat kepada Rama dengan ceria. Namun hal tersebut belum cukup untuk mengembalikan semangat Rama.
Setelah Rama kembali duduk, Julia melanjutkan penjelasannya…
“Seluruh anggota tim Project Wanara telah memperoleh hasil uji potensi. Saya akan sebutkan kembali nilai masing-masing anggota…
Nilai potensi tertinggi adalah Nona Yuna yaitu 296 yang berada di tingkat Sahasra,
Diikuti oleh Tuan Dirga dengan nilai potensi 98 yang berada di tingkat Sata,
Berikutnya Tuan Galih dengan nilai potensi 95 yang juga berada di tingkat Sata,
Lalu Nona Ayu di tingkat Sata dengan nilai potensi 89,
Terakhir adalah Tuan Rama dengan nilai potensi 10 dan berada pada tingkat Dasa…” ujar Julia.
“Selisih nilai potensi Yuna dan Dirga sangat jauh, apa Yuna memang sangat hebat? Sedangkan aku hanya memiliki 10 nilai potensi….” Pikir Rama tanpa semangat dengan tetap menundukkan kepalanya.
“Nona Yuna memang yang terbaik di Project Wanara, tapi kita harus ingat bahwa nilai potensi tertinggi berada pada angka 920 yang artinya kita harus berlari kencang untuk dapat bersaing dengan tim project lainnya.” Julia menambahkan pernyataannya.
“Hah…..!!!” kata-kata Julia semakin membuat Rama terpuruk.
“Kelompok project lain telah terlebih dahulu pergi ke area pelatihan untuk meningkatkan potensi mereka. Siang ini kita akan segera menyusul.” Ujar Julia mengakhiri kegiatan uji potensi pada hari itu.
“Tetap semangat….!!” Ujar Julia.
“Yaaaaa…..” semua orang serempak menanggapi dengan penuh semangat kecuali Rama yang masih tertunduk lesu.
Julia melangkah turun dari podium digantikan oleh Darma yang melangkah naik ke podium. Seluruh anggota Project Wanara nampak bingung dengan apa yang dilakukan Darma. Sepengetahuan mereka, Darma hanyalah seorang security gedung Pandawa Group. Sempat juga terfikir oleh mereka tentang status Julia yang sebetulnya hanya staff pendaftaran Project Wanara, tapi memiliki pengetahuan dan informasi yang sangat luas tentang jalannya Project ini. Darma berdiri dengan tegap diatas podium dan mulai berbicara.
“Sepertinya kalian merasa bingung kenapa saya berdiri disini.” Darma membuka pembicaraan.
“Dengan berakhirnya tahap awal uji potensi bagi seluruh anggota tim Project Wanara, maka selanjutnya kita akan mulai melakukan pelatihan untuk meningkatkan potensi kalian, tuan dan nona.” Ujar Darma dengan senyum kecil yang tampak sedikit menyeramkan.
“Maka dari itu kami akan kembali memperkenalkan diri, saya Darma dan wanita yang tadi memberi penjelasan serta melakukan uji potensi kepada kalian adalah Julia….” tambahnya.
“Kalau itu tentu kami sudah tahu pak Darma. Tapi kenapa anda mengatakan itu pak?” tanya Galih kebingungan dan memotong kata-kata Darma.
“Tolong dengarkan…” Darma berbicara dengan dingin.
“Saya dan Julia yang sudah sangat kalian kenal, mulai detik ini akan menjadi pelatih kalian.” Darma melanjutkan kalimatnya.
“Hah…?” Semua orang terkejut dengan ucapan Darma.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Yuna dengan tenang dan anggun.
“Saya dan Julia adalah senior kalian, kami telah menjalankan hari-hari penuh penderitaan untuk meningkatkan potensi kami.” Jawab Darma.
“Saya saat ini berada pada Tingkat Laksa dengan nilai potensi 77.000” Darma kembali memberi penjelasan.
“………” Rama sangat terkejut.
“Gila….! Itu hebat sekali Pak Darma..!!” ujar Galih dengan penuh kekaguman.
“Dan Julia, dia juga berada pada Tingkat Laksa dengan nilai potensi….” Darma menghentikan kata-katanya.
“97.000” lanjutnya.
__ADS_1
“Apaaaaaa…….?!!!” Semua orang kembali dibuat terkejut. Serempak semua mata tertuju kepada Julia dengan rasa kagum. Julia melemparkan senyumnya kepada seluruh anggota tim.
***