Project Wanara

Project Wanara
Chapter 8. Mendaki


__ADS_3

[10… 9… 8… 7… 6… 5… 4… 3… 2… 1….]


“Mulai…..!”


Saat aba-aba mulai diteriakkan, tanpa disangka Julia langsung melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Julia tidak berlari, hanya berjalan saja, tapi kecepatan yang diperlihatkan jauh diatas orang-orang pada umumnya.


Seluruh anggota terkejut dan berusaha sebisa mungkin untuk mengejar Julia agar tidak kehilangan jejak. Dirga yang memang sudah mempersiapkan diri untuk bergabung dengan project ini menunjukkan kemampuannya. Tanpa disangka Dirga mampu menyamai kecepatan Julia dengan berlari. Ditempat kedua ada Galih yang juga tidak ingin kalah. Galih memang tidak secepat Dirga, namun masih lebih cepat dibandingkan anggota tim lainya. Ditempat ketiga ada Yuna, sedangkan Ayu ditempat keempat. Seperti biasa Rama berada ditempat terakhir.


“Huh… Ternyata orang itu hanya omong kosong… Nikmati roti kering malam ini…” pikir Dirga sambil melihat Rama yang berada dibelakang.


“Tapi sepertinya ada yang aneh…” Dirga tersadar bahwa ekpresi yang ditunjukkan Rama benar-benar berbeda dengan yang ditunjukkan anggota tim lainnya. Anggota tim lain berlari dengan wajah serius dan terlihat terus berusaha mengatur nafas. Sedangkan Rama terlihat sangat santai bahkan sekilas nampak senyum kecil diwajahnya.


“Ada apa dengan orang itu…?” pikir Dirga.


“Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting, aku harus terus mempertahankan kecepatan agar tidak kehilangan jejak Julia” tambahnya.


Satu jam berlalu sedangkan posisi masih belum berubah. Dirga ditempat pertama, Galih ditempat kedua, Yuna ditempat ketiga, Ayu ditempat keempat dan Rama ditempat kelima. Namun mereka tidak bisa mempertahankan kecepatan. Ditambah lagi medan semakin sulit. Awalnya jalanan cenderung landai dan masih dapat dilalui dengan berlari. Tapi sekarang mulai sedikit terjal, cukup sulit berlari di jalanan seperti ini.


Perlahan Dirga mulai memperlambat larinya, bahkan lebih seperti berjalan. Dirga kehilangan jejak Julia. Sekarang dia hanya bisa mengandalkan petunjuk-petunjuk jalan yang telah terpasang. Tanpa sadar seseorang menepuk pundak Dirga dan melaju melewatinya.


“Hey Dirga… Aku duluan ya” ucap Galih.


“Ya silahkan… tolong sisakan makanan untuk ku ya.” Dirga menanggapi.


“Tentu saja kawan.” Jawab Galih.


Galih mendahului Dirga, namun jarak diantara keduanya tidaklah terlalu jauh. Dirga berusaha untuk tidak tertinggal lebih jauh lagi. Disisi lain, Yuna dan Ayu selalu berjalan beriringan. Ya, sudah sedari tadi Yuna dan Ayu memperlambat lajunya dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama untuk saling menjaga satu sama lain. Sedangkan Rama masih terus mengekor Yuna dan Ayu.


Darma yang sedari tadi menjaga di belakang Rama merasa aneh dengan apa yang dilakukan Rama. Dimata Darma, Rama sama sekali tidak terlihat lelah. Bahkan Darma merasa bahwa Rama bisa saja menjadi yang terdepan.


“Hey Rama, kenapa kamu tidak mempercepat laju mu. Kamu terlihat masih sangat segar.” Darma mendekati Rama dan bertanya karena penasaran.


“Bukannya tidak ingin Pak, hanya saja aku merasa khawatir dengan mereka berdua. Walaupun Yuna memiliki nilai potensi yang paling tinggi, tapi mereka berdua tetaplah wanita. Daya tahan fisik mereka mungkin saja tidak sebaik pria. Ternyata dugaan ku tidaklah salah pak” jawab Rama dengan lugas.


“Apa kamu tidak percaya dengan saya Rama?” tanya Darma.


“Bukan begitu Pak Darma. Aku hanya berpikir kalau 2 lebih baik dibandingkan 1.” Jawab Rama.


Darma terdiam dan tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh Rama.


“Terserahlah jika itu mau mu…” ucap Darma dengan sedikit tersenyum.


Dua jam telah berlalu sejak pelatihan dimulai. Entah sudah seberapa jauh mereka bergerak. Namun tiba-tiba….


“Arggggghhhhh…..” Ayu berteriak kesakitan.


Darma dan Rama bergegas menghampiri Ayu setelah mendengar suara teriakan itu. Ayu terlihat sedang tergeletak ditanah dengan memegangi pergelangan kaki kanannya yang membengkak.


“Rama… Pak Darma… Tolong Ayu, tadi Ayu terjatuh dan kakinya terkilir.” Yuna berteriak saat melihat Rama dan Darma berlari mendekat.


Dengan sigap Darma melihat pergelangan kaki Ayu dan membuka kotak pertolongan pertama yang dia bawa di tasnya. Darma memberikan pertolongan pertama dengan sangat lihai sehingga pergelangan kaki Ayu terasa jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.


“Apa Ayu bisa berdiri?” tanya Darma.


Ayu mencoba berdiri dibantu oleh Yuna yang memeganginya dengan cukup erat karena khawatir Ayu akan kembali terjatuh. Ayu berhasil berdiri namun tidak dapat berjalan dengan baik. Setiap kali ayu mencoba melangkahkan kakinya, Ayu meringis kesakitan.


“Jangan paksakan diri. Untuk sementara waktu Ayu tidak boleh melangkahkan kaki terlebih dulu.” Ucap Darma.


“Perjalanan masih sangat jauh Pak…” ucap Ayu dengan sedih.

__ADS_1


“Tepat sekali, dan kita harus sampai di puncak sebelum hewan-hewan buas disekitar sini keluar dari sarangnya.” Darma mencoba menjelaskan.


“Apa disini benar banyak hewan buas Pak?” tanya Rama.


“Tentu saja banyak, kamu pikir ini dimana?” jawab Darma.


“Rama… Tolong bantu naikkan Ayu ke punggung saya. Saya akan gendong Ayu sampai ke puncak.” Pinta Darma.


“Apa anda yakin akan menggendong Ayu sampai ke puncak? Perjalanan masih sangat jauh pak.” Tanya Ayu.


“Tidak perlu khawatir, keselamatan kalian jauh lebih penting.” Jawab Darma.


“Baiiiiklaaaaah…. Kalau begitu kita akan tugas secara bergantian Pak Darma. Jika anda lelah, aku yang akan gendong Ayu. Begitupun sebaliknya, jika aku lelah, aku akan minta Pak Darma yang menggendong Ayu.” Rama memberi usulan kepada Darma.


“Maaf jadi merepotkan kak Rama…” ucap Ayu dengan air mata haru menetes di wajahnya.


“Sudahlah… jangan sungkan-sungkan. Kita ini satu tim kan?” ucap Rama berusaha menghibur Ayu.


Yuna terkesima dengan kata-kata yang diutarakan oleh Rama dan tanpa sadar Yuna terus memperhatikan Rama.


“Tidak perlu…” ucap Darma dengan tegas dan tenang.


“Saya sangat terkesan dengan kesetiakawanan mu, tapi kamu tetap harus ingat bahwa ini adalah kompetisi. Ini bukan hanya tentang siapa yang tercepat, melainkan setiap pilihan yang kamu buat akan mempengaruhi keberhasilan peningkatan potensi mu sendiri” Darma berusaha menjelaskan.


"Tapi pak..." ucapan Rama terhenti.


“Tidak perlu khawatir Rama, kamu pikir orang dengan tingkat Dasa sepertimu bisa berbuat apa?” lanjut Darma dengan sedikit meledek Rama dengan tersenyum.


“Aku juga akan membantu menjaga Ayu. Walaupun aku wanita, nilai potensi ku tetap yang terbaik diantara kita.” Yuna menambahkan kata-kata Darma.


“Huft… aku selalu kesal jika ingat hal itu….” Ujar Rama.


“Kamu bisa pergi terlebih dulu, berusahalah secepat mungkin mencapai puncak dan dapatkan tempat pertama.” Ujar Darma dengan memberi sedikit motivasi.


“Baiklah jika begitu. Aku akan menunggu kalian di puncak. Kita akan makan bersama diatas. Jangan terlalu lama, aku tidak kuat menahan lapar.” Ujar Rama kepada Ayu dan Yuna.


Ayu dan Yuna kembali mengangguk dan tersenyum. Tidak hanya mereka, Darma pun tersenyum karena ucapan Rama.


“Saya mohon maaf tidak bisa banyak membantu anda Pak Darma.” tambahnya.


“Pergilah terbih dahulu…” ucap Darma.


Rama mengangguk dan segera melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat. Hal yang baru saja terjadi semakin menambah motivasi Rama untuk dapat mencapai puncak ditempat pertama.


“Hati-hati kak Rama….” teriak Ayu melihat Rama berlari dan bergerak dengan sangat cepat.


Rama terus berlari mengikuti petunjuk yang diberikan. Tidak terasa sudah lebih dari 1 jam Rama bergerak tanpa henti. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 Sore, artinya perjalan menuju puncak semakin dekat. Tapi Rama masih belum juga bertemu dengan Galih dan Dirga.


“Apa mereka sudah sampai…” Pikir Rama.


“Ah, sepertinya tidak mungkin.” lanjutnya.


Rama semakin mempercepat langkahnya. Setapak demi setapak dilalui Rama dengan sangat cepat. Rama memang memiliki stamina dan daya tahan yang tinggi. Hal itu disebabkan karena Rama sudah lama menjadi tunawisma. Dirinya sudah ditempa oleh kerasnya kehidupan kota. Hampir setiap hari Rama harus bermain kejar-kejaran dengan petugas keamanan kota pasundan. Hampir setiap hari juga Rama menahan haus dan lapar.


“Dirga???” ujar Rama ketika melihat Dirga berada didepannya.


“Jika itu Dirga, artinya yang berada di tempat pertama adalah Galih. Tidak kusangka orang itu ternyata hebat juga.” Pikir Rama.


“Haloooo….” Ucap Rama kepada Dirga sembari tanpa ragu melewatinya.

__ADS_1


“Ramaa…?? Tidak mungkin..!!” pikir Dirga.


Rama terus melangkahkan kakinya dan dengan cepat meninggalkan Dirga dibelakang. Dirga terkejut dengan apa yang dia lihat. Saat ini Dirga sudah sangat kelelahan, wajahnya nampak pucat sekali. Tapi Dirga sama sekali tidak melihat tanda-tanda kelelahan diwajah Rama.


“Aku tidak akan kalah….!!!” Dirga berteriak untuk memotivasi dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian Rama pun melihat Galih. Berbeda dengan Dirga yang terlihat mengkhawatirkan, Galih terlihat lebih segar dan masih penuh semangat. Dari belakang Rama memanggil Galih.


“Hey Galihhh….” teriak Rama.


“Rama?” Galih berbalik dan menghentikan langkahnya sebentar saat melihat Rama memanggilnya.


“Tidak kusangka ternyata kamu hebat juga ya Rama…” ucap Galih.


“Aku hanya beruntung memiliki stamina yang banyak.. Ha ha ha…” Rama tersanjung dengan pujian Galih.


“Apa tadi kamu bertemu Dirga?” tanya Galih.


“Ya tentu saja” jawab Rama singkat.


“Syukurlah…” Galih menanggapi dengan tenang.


“Oh ya Rama, kamu masih punya sisa air minum tidak? Kalau masih ada, boleh ku minta sedikit?” tanya Galih.


“Tentu boleh….” Rama mengeluarkan air minum dari tasnya.


“Kenapa masih banyak sekali? Apa kamu tidak haus?” Galih kembali dibuat terkejut karena ternyata sisa minuman milik Rama masih sangat banyak.


“Aku sudah terbiasa…” jawab Rama singkat.


Setelah Galih meminum beberapa teguk, Rama meminta ijin kepada Galih untuk mendahului. Rama meninggalkan Galih dengan sangat cepat. Dalam beberapa detik saja, Galih sudah tidak bisa melihat Rama didepannya.


Langkah demi langkah terus diayunkan Rama hingga akhirnya Rama melihat sesuatu yang membuatnya takjub.


“Apa itu sebuah istana?” pikir Rama.


Rama mempercepat langkahnya karena merasa penasaran dengan gedung besar yang ada dihadapannya saat itu.


“Apa ini halusinasi? Apa aku tanpa sengaja masuk ke dunia lain?” pikir Rama kebingungan.


“Tidak mungkin ada gedung sebesar ini di pedalaman hutan yang bahkan cahaya matahari sulit masuk karena rimbunnya pepohonan” lanjutnya.


“Hai….”


“Whuaaaaa…. Hantuuuu….” Rama berteriak terkejut.


“Saya Julia tuan….” Ucap Julia.


“Kenapa kamu mengagetkan begitu Juliaa……” teriak Rama.


“Maaf jika anda terkejut tuan. Saya tidak bermaksud mengagetkan anda. Saya hanya sekedar menyapa anda tuan.” Julia mencoba menjelaskan.


“Ma.. Maaf Julia…” ujar Rama.


“Reaksi ku tadi sedikit berlebihan.” tambahnya dengan sedikit malu.


“Tidak masalah tuan.” Jawab Julia.


“Saya tidak menyangka melihat anda berada ditempat pertama tuan. Anda sangat hebat.” Puji Julia kepada Rama yang membuat Rama salah tingkah dan tersipu malu.

__ADS_1


“Selamat Datang di Puncak Mandalawangi….” Ucap Julia.


***


__ADS_2