
Fakta dan kebenaran tentang kematian Raka membuat Dirga sulit untuk memejamkan matanya. Dia memutuskan untuk keluar kamar dan menghirup udara segar. Saat berjalan melewati lapangan belakang mansion, Dirga melihat Rama yang sedang duduk bersila di sana. Rama terlihat sedang melakukan latihan pernapasan.
“Rama….” Sapa Dirga. Rama pun membuka mata dan menghentikan latihannya.
“Maafkan sikap ku tadi pagi. Aku memang keterlaluan.” Ujar Dirga meminta maaf.
“Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Aku yakin kamu punya alasan yang cukup kuat sampai harus bersikap seperti tadi.” Sahut Rama.
“Ku pikir kamu akan berteriak-teriak seperti biasanya? Apa kamu baik-baik saja?”
“Entahlah.” Jawab Rama singkat dan kemudian terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ada apa? Dirga kembali bertanya.
“Sepertinya tidak masalah kalau aku cerita kepadamu.” Jawab Rama dan menarik napas panjang.
“Kamu sudah melihat kecepatanku tempo hari kan? Menurutmu, siapa yang lebih cepat diantara kita berdua?” Tanya Rama.
“Aku tidak tahu pasti. Sejujurnya saat itu aku sangat terkejut karena ada orang yang bisa menyamai kecepatanku. Tapi sepertinya kecepatan kita nyaris seimbang.”
“Tepat sekali. Tapi pada saat itu aku hanya menggunakan 40% kemampuan ku saja. Sebetulnya aku bisa mencapai 45%, tapi aku menghindarinya untuk berjaga-jaga.” Ujar Rama.
“Apa kamu bercerita cuma untuk menyombangkan diri saja?” Dirga memberi tanggapan.
“Bukan begitu. Aku tidak sedang menyombongkan diri, justru aku merasa sangat bingung. Banyak hal terjadi pada pelatihan khusus kemarin yang membuatku bertanya-tanya.”
“Bertanya-tanya bagaimana maksudmu?”
“Aku bingung dengan siapa sebenarnya diriku ini? Kenapa aku memiliki kekuatan seperti ini yang bahkan tidak dapat dipindai dengan benar oleh mesin pemindai?”
“Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan mesin kapsul virtual?” Tanya Rama.
“Kelebihan muatan energi.” Jawab Dirga.
“Darimana kamu tahu itu?” Tanya Rama penasaran.
“Karena aku merasakan sendiri seberapa besar energi yang kamu pancarkan. Bahkan dari jarak yang begitu jauh. Semakin aku mendekat, semakin aku tidak dapat bertahan hanya karena besarnya energi itu. Jika aku saja tidak kuat, mana mungkin mesin itu bisa bertahan.” Jawab Dirga.
“Itulah yang membuatku bertanya-tanya.” Ucap Rama.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.” Ujar Dirga sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Kemudian Dirga memperlihatkan video terakhir yang direkam oleh Raka.
“Apa ini video saat bencana itu terjadi?”
“Tepat sekali.” Jawab Dirga
__ADS_1
“Siapa Raka?”
“Dia kakakku yang telah meninggal.”
“Hentikan videonya. Makhluk apa yang sedang terbang itu?” Tanya Rama. Dirga pun menggelengkan kepalanya.
“Asoka? Jadi Asoka adalah guru Julia dan Raka.” Ujar Rama lirih.
“Gila… Ini sangat Gila.” Sambungnya saat mengetahui Raka telah meninggal dan terjadi pertarungan sengit antara Asoka dan makhluk yang merasuki Raka.
Video pun berakhir dengan menyisakan semakin banyak pertanyaan di benak Rama.
“Apa kamu tahu kenapa aku menunjukkan video ini? Tanya Dirga. Rama pun tidak memberi jawaban dan hanya menggelengkan kepala saja.
“Pada saat itu aku ada di sana, tapi posisiku cukup jauh. Sebelum aku melihat video ini, aku mengira Asoka adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kematian Raka karena aku melihatnya langsung saat dia sedang menebas kepala Raka. Tapi hal yang ingin ku sampaikan bukan itu.”
“Lalu apa?” Tanya Rama.
“Pancaran energi yang kamu keluarkan tempo hari, mirip sekali dengan pancaran energi yang di miliki oleh Asoka.” Jawab Dirga.
“Apa kamu mau bilang kalau aku memiliki keterkaitan dengan orang yang bernama Asoka ini?” Tanya Rama.
“Tepat sekali. Tapi dari mana kamu tahu Asoka?” Tanya Dirga.
“Dia muncul di dalam mimpiku saat sedang menggunakan kapsul virtual. Itu yang juga membuatku bertanya-tanya. Aku tidak tahu siapa itu Asoka, tapi tiba-tiba dia muncul begitu saja.”
“Aku sudah mencobanya, tapi Julia masih belum memberikan jawaban. Dia hanya bilang kalau sekarang belum saatnya bagi ku untuk tahu lebih banyak.” Ujar Rama.
“Dirga, apa kamu tahu makhluk-makhluk mengerikan yang muncul di video tadi? Sepertinya dulu sosok mereka sama sekali tidak ada.” Tanya Rama.
“Ini hanya prediksi ku saja. Mereka bukannya tidak ada, tapi kita yang tidak bisa melihat mereka. Aku bahkan berpikir bahwa merekalah yang sebenarnya menyebabkan bencana itu terjadi.” Ujar Dirga.
“Ini terdengar konyol, tapi hanya ini yang bisa ku pikirkan. Apa kamu pernah mendengar cerita tentang bangsa Jinn? Bangsa yang dikisahkan telah menjadi penguasa bumi jauh sebelum kemunculan manusia. Bangsa yang selalu menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi hingga keberadaannya pun digantikan oleh kita, bangsa manusia.”
“Tentu saja. Meskipun itu hanya sebuah cerita, tapi aku meyakini keberadaan mereka yang masih hidup hingga saat ini.” Jawab Rama.
“Bagaimana jika mereka masih menaruh dendam dan berusaha untuk menghancurkan kehidupan umat manusia?”
“Aku memang meyakini keberadaan mereka, tapi Jinn dan manusia hidup di dunia yang berbeda.”
“Bagaimana jika mereka menemukan suatu cara untuk masuk ke dunia kita dan membuat kerusakan?”
“Itu konyol sekali, Dirga.”
“Sudah ku bilang, hal ini memang terdengar konyol. Tapi hanya itu jawaban yang bisa ku pikirkan saat melihat makhluk di dalam video tadi.”
“Jika memang itu yang terjadi. Maka tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan kembali dan melakukan kerusakan yang sama.” Ujar Rama.
__ADS_1
“Kamu benar, dan bisa jadi itulah alasan kita ada di sini sekarang.” Ucap Dirga yang membuat Rama tersentak.
“Apa maksudmu?”
“Dalam video tadi, sepertinya hanya Julia, Raka dan Asoka yang bisa menandingi kemampuan makhluk-makhluk aneh itu. Tapi mungkin saja ada orang lain yang juga memiliki kemampuan yang sama dan berjuang untuk menghentikan mereka.”
“Siapa yang kamu maksud itu?”
“Tentu saja Para Pandawa. Orang-orang yang berada di balik project ini.”
“Jadi maksudmu, kita sedang dipersiapkan untuk menghadapi makhluk-makhluk itu saat mereka kembali?”
“Tepat sekali, itu adalah konsekuensi dari apa yang telah kita dapatkan saat ini. Dibalik kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab yang besar pula.”
“Jika hal itu memang akan terjadi, kita harus berlatih lebih giat untuk menjadi lebih kuat.” Ucap Rama diikuti dengan anggukan kepala Dirga.
“Kita juga harus menyampaikan hal ini kepada anggota tim lain.” Sambung Rama.
“Kurasa itu keputusan yang kurang bijak. Julia pasti memiliki alasan untuk tidak memberitahukan informasi ini. Akan lebih baik jika Julia sendiri yang menyampaikannya.” Ujar Dirga.
“Aku mengerti.” Ucap Rama.
“Oh ya, Tolong rahasiakan juga kemampuanku dari anggota tim lainnya. Aku sudah berjanji kepada Julia untuk tetap merahasiakan ini.” Pinta Rama.
“Baiklah, jika begitu aku pergi dulu untuk beristirahat. Kalau kamu mau lanjut latihan, silakan saja. Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi.” Ujar Dirga.
“Apa kamu tidak penasaran siapa yang lebih kuat di antara kita?” Tanya Rama dengan wajah tengilnya.
“Lain kali saja. Lagi pula aku sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan bisa mengalahkanmu.” Ujar Dirga sambil melambaikan tangan dan melangkah masuk ke dalam mansion.
“Tapi setidaknya aku akan terus berjuang untuk bertambah kuat agar tidak merepotkanmu saat bencana itu datang lagi.” Pikir Dirga sambil terus melangkahkan kakinya dengan tegap.
***
Pojok Author.
Halo teman-teman.... Maaf banget ya kalau chapter ini ga terlalu panjang. (╯︵╰,)
Kebetulan aku lagi banyaaaaaaaaaak banget kerjaan. ╥﹏╥
Dukung terus novel ini dengan share, like dan komen ya. Setiap dukungan kalian sungguh sangat berarti. ヾ(@^▽^@)ノ
Terima kasih banyak ya.
Best Regards,
Kang Han
__ADS_1