Project Wanara

Project Wanara
Chapter 27. Windhi Ayundari (Part 4) - Perubahan Ekstrim


__ADS_3

Draaak….


Panah yang tadi menyerang pun patah dan hancur saat berbenturan dengan kubah angin. Ayu terkejut dan tidak menyangka bahwa kubah angin miliknya ternyata sangatlah kuat. Tidak hanya daya tahan, kubah angin itu juga memiliki daya hancur yang luar biasa.


Ayu tersenyum lega dan bangga karena dia merasa bahwa kubah miliknya lebih hebat dibandingkan dengan kubah milik Julia. Kubah Julia hanya berfungsi sebagai pelindung, sedangkan kubah anginnya memiliki fungsi lain yaitu menghancurkan benda apapun yang menyentuhnya.


Ayu tidak perlu lagi khawatir akan terluka oleh serangan yang datang. Semua serangan dapat dihentikan dengan sangat mudah. Kini tugas Ayu hanyalah fokus dan konsentrasi untuk terus mempertahankan kubah angin miliknya.


Serangan datang silih berganti. Tapi tidak ada satupun serangan yang mampu menembus kubah anginnya. Cukup lama Ayu mempertahankan kondisi itu.


Seiring berjalannya waktu, serangan yang datang semakin banyak. Frekuensi serangan menjadi lebih sering dan terjadi secara bersamaan. Tapi sebanyak apapun serangan itu datang, masih tidak dapat menembus pertahanan yang Ayu buat.


Menjelang akhir pelatihan, Ayu merasakan ada perbedaan kekuatan dari serangan sebelumnya. Daya hancur serangan menjadi lebih besar.


Setiap serangan yang datang kali ini mengganggu putaran kubah angin miliknya. Putaran angin yang semula sangat halus, menjadi sedikit bergelombang. Gelombang yang muncul mengakibatkan daya tahan kubah angin perlahan melemah.


Menyadari hal tersebut, Ayu berusaha meningkatkan energinya dan memperbaiki putaran kubah angin itu. Ayu berhasil mempertahankan kekuatannya. Namun hal itu membutuhkan energi dan fokus yang lebih besar.


Ayu berhasil menjaga pertahanannya hingga datang satu panah yang jauh lebih kuat dari panah dan belati lainnya serta dapat menembus kubah angin miliknya. Dia terkejut. Untung saja panah itu tidak mengenai tubuhnya.


Hal itu membuat Ayu sedikit panik dan sejenak kehilangan konsentrasi. Putaran kubah angin menjadi berantakan. Ayu pun bertindak cepat dan memperbaiki kubah angin itu. Karena merasa kubah angin tidak lagi efektif untuk melindungi dirinya, Ayu berpikir untuk memperkuat kubah angin itu dengan menambahkan bulu energi seperti yang dia lakukan pada pelatihan di area pertama. Dia berharap bulu energi dapat membantu memperkuat pertahanannya.


Tapi ternyata hal itu sia-sia. Kunci dari kubah angin Ayu adalah putarannya yang halus dengan kerapatannya yang tinggi. Kehadiran bulu-bulu energi justru mengganggu putaran dan merusak kerapatan angin itu.


Syut… Syut… Syut…


Belati dan panah tajam kembali berhasil menembus kubah angin. Salah satu serangan itu membuat goresan di kaki kanan Ayu.


Karena merasa bulu-bulu energi itu sama sekali tidak membantu dan justru membuat pertahanannya melemah, Ayu menghilangkannya dan hanya fokus untuk memperkuat kubah angin saja.


Kubah angin itu kembali berputar dengan halus. Ayu terus mempertahankan kondisi itu dengan energi yang mulai terkuras.


Beberapa serangan kembali berhasil menembus pertahanan Ayu, tapi syukurlah tidak ada satupun yang melukainya karena dia sempat menghindar. Ayu masih terus berkonsentrasi untuk menjaga pertahanan. Hingga akhirnya pelatihan pun selesai.


Walaupun di akhir pelatihan banyak serangan yang mampu menembus pertahanan miliknya, tapi perkembangan yang didapatkan Ayu pada pelatihan ini sangatlah pesat.

__ADS_1


Ayu teringat bagaimana Galih mampu melindungi dirinya sendiri, Yuna dan Rama secara bersamaan saat melawan Darma dan Julia. Pelatihan kali ini membuatnya mengerti seberapa keras usaha yang dilakukan oleh Galih kala itu.


“Pantas saja waktu itu Kak Julia memberi apresiasi lebih kepada Kak Galih. Ternyata hanya untuk melindungi diri sendiri saja sudah sangat sulit.” Pikir Ayu.


Latihan hari ketiga pun selesai. Kini Ayu dapat bernapas lega karena hanya tersisa dua hari lagi baginya untuk menyelesaikan seluruh latihan. Selama tiga hari ini energinya terkuras habis dan fisiknya dipaksa untuk terus bertahan selama latihan berlangsung.


“Syukurlah dua hari kedepan aku tidak perlu menggunakan kekuatan fisik secara berlebihan lagi. Tersisa latihan pernapasan dan pelatihan virtual.” Pikir Ayu.


Ayu beranggapan bahwa latihan pernapasan dan virtual akan lebih mudah baginya karena tidak memerlukan banyak kekuatan fisik di dalam latihan tersebut. Anggapan itu mungkin saja tepat karena Ayu belum mencobanya. Tapi sebetulnya tantangan terberat tengah menantinya.


Keesokan harinya…


Ayu akan melakukan latihan pernapasan. Dia sedikit meremehkan latihan kali ini. Namun dibalik itu semua, sebetulnya Ayu sedikit penasaran kenapa latihan pernapasan menjadi bagian dalam latihan khusus. Padahal hampir setiap hari mereka melakukan latihan ini.


Teeeet…..


“Selamat pagi dan selamat datang di area keempat.” Julia menyambut kedatangan Ayu dari balik pengeras suara.


“Selamat pagi Kak Julia.” Sahut Ayu.


“Hari ini Nona Ayu akan melakukan latihan pernapasan. Tempat ini adalah ruangan biasa, tidak ada mesin lontar yang akan melakukan serangan. Tapi selama pelatihan berlangsung akan terjadi sesuatu yang membuat Nona Ayu tidak nyaman. Berusahalah untuk terus melakukan latihan pernapasan dalam kondisi-kondisi tersebut. Jangan pernah sekalipun menghentikan latihan jika tidak ingin terluka sama sekali.” Ujar Julia memberi penjelasan.


“Silahkan Nona Ayu duduk di area yang telah kami beri tanda. Jangan pernah meninggalkan area tersebut. Lakukan latihan pernapasan hanya di tempat itu karena area itu adalah tempat paling aman di ruangan ini. Latihan akan dimulai sejak Nona Ayu menempati area tersebut.” Ujar Julia menambahkan penjelasannya.


Ayu mengangguk pertanda mengerti dengan semua penjelasan Julia. Dia pun berjalan menuju ke area yang dimaksud oleh Julia tadi. Area tersebut berada tepat di tengah ruangan. Terdapat sebuah lingkaran yang menandai area itu dan Ayu pun duduk bersila disana.


Meskipun Ayu mengerti dengan penjelasan Julia, namun dia tidak tahu alasan kenapa ada area khusus di ruangan itu dan kenapa dia tidak boleh meninggalkan area tersebut.


Tidak lama kemudian pelatihan dimulai. Ayu memejamkan mata dan melakukan latihan pernapasan seperti yang biasa dia lakukan. Hingga satu jam berlalu, tidak ada sesuatu yang terjadi sama sekali.


“Tidak terjadi apapun. Tempat ini benar-benar hanya ruangan biasa saja. Sepertinya tadi Kak Julia hanya menggertak untuk menguji ku.” Pikir Ayu.


Baru saja Ayu berpikir seperti itu, ruangan pelatihan tiba-tiba terasa sedikit menghangat. Ayu tidak berprasangka sama sekali karena dia pikir itu adalah efek dari energi yang dia keluarkan. Itu adalah hal yang wajar pikirnya kala itu.


Tapi lambat laun ruangan itu tidak lagi terasa hangat, melainkan sangat panas. Ayu merasa seperti sedang berada di dalam tempat sauna yang luas. Keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Hal itu membuat Ayu sedikit kehilangan konsentrasi. Seketika itu dada Ayu terasa sangat sesak dan seperti terbakar. Darah segar mengalir dari hidungnya.

__ADS_1


Ayu terkejut dan membuka matanya. Dia penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ayu melihat ke sekeliling ruangan sambil menyeka darah di hidungnya. Tapi itu adalah ruangan yang sama. Secara fisik tidak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja ruangan itu menjadi sangat panas. Dada Ayu juga masih terasa sangat sesak dan seperti terbakar.


Ayu pun teringat dengan apa yang dikatakan Julia. Jangan pernah sekalipun menghentikan latihan jika tidak ingin terluka sama sekali.


Ayu berusaha untuk menenangkan diri. Kemudian dia kembali memejamkan mata dan melanjutkan latihan yang sempat terhenti.


“Aku sama sekali tidak bisa konsentrasi.” Pikir Ayu.


Beberapa kali Ayu kehilangan konsentrasi dan membuat dadanya terasa semakin sesak. Ayu berusaha untuk terus bertahan. Dia menarik napas panjang untuk menjaga fokus dan memperbaiki konsentrasi nya.


Seiring berjalannya waktu, suhu ruangan semakin terasa panas. Tapi kini Ayu mulai terbiasa dan mampu beradaptasi. Kondisi tubuhnya mulai membaik. Sesak tidak lagi dia rasakan.


Sejalan dengan kondisi tubuhnya yang telah mampu beradaptasi dengan baik, ekspresi wajahnya kini menunjukkan raut yang begitu tenang dan nyaman. Suhu panas di ruangan itu tidak lagi membuatnya khawatir dan kesulitan.


Ayu berpikir bahwa dia telah berhasil menyelesaikan pelatihan kali ini. Tapi dia salah. Tidak lama sejak Ayu mampu beradaptasi dengan suhu panas ruangan itu, tiba-tiba saja suhu ruangan berubah drastis. Kali ini dia merasakan


suhu dingin yang menusuk tulang.


Perubahan suhu ruangan yang begitu mendadak dan ekstrim, membuat Ayu merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Tidak hanya sakit yang dia rasakan tapi juga Ayu merasa sedang melayang di udara, padahal pada saat itu dia sama sekali tidak melakukan manipulasi energi.


Dia penasaran dan kembali membuka mata, tapi tiba-tiba saja pandangannya memudar dan ruangan seperti sedang berputar dengan cepat. Ayu mengalami hipotensi ortostatik karena perubahan suhu ekstrim yang baru saja terjadi. Gejala yang dia alami memang tidak lama, hanya beberapa detik saja. Tapi hal itu membuat Ayu sangat tidak nyaman.


Setelah gejala hipotensi ortostatik hilang, Ayu melihat tubuhnya. Ternyata dia sama sekali tidak melayang. Ayu masih duduk bersila di lantai ruangan.


Selain hipotensi ortostatik, perubahan suhu ekstrim itu juga membuat Ayu mengalami disorientasi sehingga otak memberi respon yang salah dan membuat Ayu merasa sedang melayang di udara.


Aarggghhh…..


Ayu berteriak sangat keras karena kepalanya terasa begitu sakit seperti akan pecah. Pembuluh darah kapilernya juga menyempit dan membuat tubuhnya menjadi begitu dingin. Kini Ayu menggigil dengan hebatnya. Itu adalah respon alami tubuh untuk memberi kehangatan pada tubuhnya yang kedinginan.


Masalah yang Ayu alami tidak berhenti disitu. Bibir Ayu membiru dan kulitnya terlihat sangat pucat. Perlahan beberapa bagian tubuhnya juga mengalami sensasi mati rasa. Kini dia terserang gejala frostbite atau radang dingin.


Ayu tidak ingin hal ini terus terjadi. Dengan tubuh yang menggigil, kepala yang terasa sangat sakit dan beberapa bagian tubuh yang terserang radang dingin, Ayu tidak memiliki pilihan lain selain berusaha untuk terus melanjutkan


latihan pernapasan. Memang sangat sulit untuk melakukan latihan pernapasan pada kondisi tersebut, tapi itu adalah satu-satunya cara yang dapat dia lakukan untuk beradaptasi dan menghilangkan semua hal yang membuatnya menderita saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2