Project Wanara

Project Wanara
Chapter 52. Kematian Raka


__ADS_3

Hari itu Rama, Galih, Yuna dan Ayu berlatih bersama-sama di lapangan belakang mansion. Mereka juga memperagakan kemampuan manipulasinya masing-masing untuk dapat dipelajari oleh anggota tim lainnya. Mengenali kemampuan masing-masing anggota merupakan salah satu cara untuk memperkuat kemampuan tim secara keseluruhan.


Di sisi lain, Dirga mengurung diri di kamarnya. Dia masih merasa kesal saat mendengar nama orang yang dia anggap telah membunuh Raka, kakak kembarnya, disebut-sebut oleh Rama. Terlebih lagi ternyata Julia juga mengenal orang itu, bahkan terkesan membelanya.


Dirga memperhatikan alat penyimpanan data yang diberikan oleh Julia. Alat itu cukup kecil namun memiliki kapasitas penyimpanan yang sangat besar. Dirga sedikit penasaran dan mengeluarkan ponselnya untuk dihubungkan dengan alat penyimpanan data tersebut.


Setelah berhasil terhubung, di dalam alat tersebut hanya terdapat satu buah folder yang berisi banyak sekali video berdurasi singkat dengan penamaan judul yang tertata rapi. Dirga membuka video pertama dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Raka di dalam video tersebut. Ternyata itu adalah kumpulan video yang sengaja Raka buat untuk mendokumentasikan aktivitas kesehariannya.


[Hari Ke-1]


“Hai, ini video pertamaku. Perkenalkan, aku Raka. Aku akan mendokumentasikan seluruh aktivitas yang ku lakukan bersama orang yang paling hebat yang pernah ku temui. Sekarang aku sudah resmi menjadi muridnya loh. Kalian juga harus lihat kehebatan yang dia miliki. Kalian pasti terkejut.” Ujar Raka.


“Aku juga sudah dapat ijin dari guruku itu untuk membuat video dokumentasi ini. Apa yang akan aku pelajari di sini sungguh sesuatu yang luar biasa dan diluar akal sehat manusia. Belum banyak orang yang tahu, tapi guruku yakin bahwa suatu saat nanti kemampuan ini akan menjadi sesuatu yang dapat dipelajari oleh semua orang dan merubah kehidupan manusia. Aku merasa sangat beruntung.”


“Raka, apa kamu sudah siap?” Tanya seseorang di luar layar.


“Tentu saja guru. Aku sudah sangat siap.”


“Matikan dulu videomu itu agar kamu bisa lebih fokus. Lain kali beli tripod atau alat lain yang bisa membantumu membuat video. Jadi kamu tidak perlu repot-repot memegang ponselmu terus.”


“Baik guru.” Jawab Raka sambil mematikan kamera videonya.


[Hari Ke-2]


Huh… huh… huh… Raka terlihat tersengal dan kehabisan napas sambil berlari pelan di sebuah lapangan yang terlihat sangat luas.


“Tidak kusangka latihannya seberat ini. Dari kemarin aku sudah berlari mengelilingi lapangan beberapa puluh putaran tanpa henti. Hari ini masih juga harus berlari. Tapi tetap semangat.”


“Lari lebih cepat.” Teriak gurunya di luar layar video.


“Baik guru.” Jawab Raka masih dengan napas yang tersengal.


“Ya sudah, aku hanya mau menyampaikan hal ini. Aku tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpa membuat video. No pain no gain.” Ujar Raka dan mematikan rekaman videonya.


[Hari Ke-3]


“Ini baru hari ketiga tapi rasanya aku sudah berlatih berbulan-bulan. Hari ini aku memang tidak perlu lari lagi. Tapi diganti dengan push up, sit up, pull up dan lain-lain. Sejak lahir sampai sebesar ini, baru kali ini aku melatih tubuh secara intens seperti ini.”


“Sudah ku duga, sepertinya Raka juga ada kaitannya dengan project milik Pandawa Group. Apa dia berguru langsung dari salah satu Pandawa?” Pikir Dirga.


Dirga melihat semua video itu satu per satu. Video pertama hingga ke tiga puluh hanya berisi tentang aktivitas latihan yang monoton. Lari, push up, sit up, pull up dan lain-lain. Tapi sesuatu mulai berbeda sejak video ke-31.


[Hari Ke-31]


“Katanya, guruku akan mengenalkan seseorang.” Ujar Raka yang berbicara ke arah kamera.


“Gadis itu sangat cantik.” Ujar Raka yang kemudian mengganti mode kamera ke layar belakang ponselnya sehingga terlihat seorang wanita cantik yang perlahan mendekatinya.


Dirga terkejut melihat wanita tersebut.


“Halo, aku Julia. Kamu pasti Raka ya? Tadi aku diminta kesini untuk menemui dan membantumu berlatih.” Ujar Julia


“Jadi kamu orang yang akan dikenalkan oleh guruku. Guru kemana?”


“Tuan Asoka sedang ada keperluan.” Jawab Julia.


Perkataan Julia kembali membuat Dirga terkejut dengan mata terbelalak.


“Iblis itu adalah guru Raka dan Julia? Apa yang sebenarnya terjadi?” Pikir Dirga bingung.

__ADS_1


Hari-hari berikutnya Raka dan Julia berlatih bersama-sama. Julia mengajarkan semua hal yang dia tahu. Dalam salah satu video, diketahui bahwa sebetulnya Julia juga belum lama menjadi murid Asoka. Hanya terpaut satu bulan sebelum Raka juga dipilih untuk menjadi muridnya. Meskipun begitu, Julia adalah orang yang sangat jenius. Dia berhasil menguasai semua teknik yang diajarkan oleh Asoka dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, Julia juga mampu mengembangkan semua teknik yang dipelajarinya untuk kemudian disesuaikan dengan karakteristiknya sendiri.


[Hari ke-60]


“Kalian harus lihat ini.” Teriak Raka dengan sangat semangat. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dengan telapak menghadap ke atas yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah bola energi.


“Keren kan? Sudah ya, aku lanjut latihan lagi.” Ujar Raka dengan wajah bangga.


“Dasar bodoh. Dia butuh 60 hari hanya untuk membuat bola energi kecil itu.” Ujar Dirga sambil tersenyum kecil.


Hari ke-120 Raka berhasil membuat manipulasi energi pertamanya dan berhasil mengendalikan kemampuannya secara penuh pada hari ke-360.


[Hari ke-361]


“Hari ini aku sudah beli sebuah alat bantu yang bisa merekam semua aktivitas tanpa harus memegang ponsel lagi loh. Ini alatnya.” Ujar Raka sambil memperlihatkan pouch bag holder yang ditempatkan di bahunya sehingga ponsel bisa disimpan di sana dan terus merekam dengan sudut pandang ke arah depan.


“Kalian berdua telah menguasai manipulasi energi dengan sangat baik. Tapi ini baru permulaan, kemampuan kalian belum cukup kuat. Kalian harus terus berlatih dan mengembangkan kemampuan kalian itu.” Ujar Asoka.


Itu adalah video pertama yang memperlihatkan wajah Asoka. Itu juga pertama kalinya Dirga melihat wajah Asoka dari jarak yang sangat dekat. Ternyata Asoka memiliki wajah yang sangat tampan dan berkarisma. Matanya menyiratkan ketegasan, sedangkan senyumnya menyiratkan kelembutan. Ketampanan Asoka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Dirga, Galih dan Rama. Hanya dengan melihat wajahnya saja, Dirga yang semula sangat membenci Asoka pun perlahan mulai meragukan kebenciannya itu.


“Tidak ada lagi yang bisa ku ajarkan kepada kalian. Dan lagi, sepertinya dalam waktu dekat ini aku akan pergi jauh.” Sambung Asoka.


“Tapi sebelum pergi, aku ingin menitipkan sesuatu kepada kalian berdua. Apa yang telah ku ajarkan adalah sesuatu yang sangat hebat sekaligus berbahaya. Kalian berdua adalah pionir dan kalian punya tugas untuk meneruskan ajaranku, tapi jangan sampai memilih orang yang salah. Keberlangsungan umat manusia ada di pundak kalian.” Ujarnya.


“Apa maksud anda, tuan?” Tanya Julia.


“Kamu masih saja kaku ya Julia. Sudah berapa kali ku bilang, jangan panggil aku ‘tuan’.” Ujar Asoka.


“Anda adalah guru sekaligus orang yang sangat saya hormati.” Jawab Julia.


“Terserahlah.” Ucap Asoka.


“Jadi, apa maksud perkataan anda tadi, tuan?” Julia kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


“Saya sama sekali tidak mengerti, tuan.”


“Aku juga bingung. Apa yang sebenarnya guru maksudkan itu?”


“Aku tidak punya banyak waktu untuk memberi penjelasan. Intinya kalian mengemban amanah untuk menyebarkan ajaranku dan melindungi semua orang dengan kekuatan yang kalian miliki saat ini. Apa kalian mengerti?”


“Baik tuan. Akan ku lakukan sesuai perkataan anda.” Ujar Julia.


Perkataan yang diutarakan oleh Asoka kali ini benar-benar merubah pandangan Dirga. Dia mulai merasa kagum kepada Asoka.


Setelah perbincangan itu, Asoka tidak pernah lagi terlihat. Julia dan Raka merasa sangat kehilangan. Meskipun begitu, mereka berdua masih terus berlatih bersama-sama untuk meningkatkan kemampuan masing-masing. Sesuai permintaan Asoka, mereka juga berencana untuk mencari orang lain yang akan mereka jadikan murid.


Tanpa sadar, Dirga telah melihat hampir semua video pendek yang dibuat oleh Raka. Tersisa satu video dengan judul yang aneh. Jika video lain tersusun rapi dengan judul berurutan, video terakhir ini hanya berupa kumpulan angka.


“Apa Raka lupa mengubah judul video ini ya?” Pikir Dirga.


Dirga pun membuka dan melihat isi video tersebut. Alangkah terkejutnya Dirga menyaksikan pemandangan di dalam video itu. Api ada dimana-mana, gedung-gedung hancur berantakan dan mayat bergelimpangan.


“Apa yang kamu lakukan, Raka?” Teriak Julia yang sedang berusaha menghindari serangan-serangan yang dilakukan oleh Raka.


“Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, Julia.” Teriak Raka.


“Yang benar saja, apa maksudmu?” Tanya Julia sambil terus berusaha menghindar.


“Mati kau.” Tiba-tiba saja suara Raka berubah menjadi berat.

__ADS_1


Julia sangat terkejut mendengar suara itu dan membuatnya kehilangan konsentrasi. Pukulan keras berhasil menghantam wajah Julia dan membuatnya terhempas jauh.


Melihat Julia terhempas tidak lantas membuat Raka berhenti menyerang. Dia bergerak dengan cepat dan melakukan serangan bertubi-tubi kepada Julia dan membuatnya tergeletak tak berdaya.


“Kenapa kamu bisa sekuat ini? Siapa kamu?” Tanya Julia yang sedang sekarat.


“Tanyakan hal itu kepada Asoka di neraka.” Ujar Raka dengan suara berat yang mengerikan.


Raka terlihat akan kembali menyerang Julia yang sedang terluka parah. Namun tiba-tiba dia terpental oleh serangan yang tidak diketahui. Saat itulah Asoka kembali muncul di hadapan kedua muridnya.


“Tuan Asoka, syukurlah anda datang.” Ujar Julia terbata-bata.


“Terima kasih karena telah menepati janjimu untuk melindungi orang-orang.” Balas Asoka.


“Aku tidak menepati janji, tuan. Banyak orang yang mati dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Wajah Julia nampak berubah sedih.


“Setidaknya kamu telah berusaha.” Jawab Asoka.


“Tolong selamatkan Raka. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya.” Pinta Julia.


“Dia bukan Raka. Raka sudah mati sejak makhluk itu merasuki tubuhnya.”


“Apa?!” Julia terkejut. Air mata perlahan mengalir di wajahnya.


“Siapa makhluk yang anda maksud?” Tanya Julia sambil menahan emosinya.


“Hentikan reuni kalian. Ayo lawan aku Asoka.” Ujar Raka.


“Makhluk terkutuk.” Teriak Asoka yang dengan cepat bergerak menghampiri Raka.


Asoka dan Raka bertarung dengan sangat hebat. Mereka bergerak dengan sangat cepat. Energi yang dikeluarkan pun begitu besar. Dalam beberapa adegan video, sekilas terlihat wajah Julia yang nampak sangat terkejut dengan apa yang sedang dia saksikan. Dirga juga sekilas melihat dirinya sendiri yang ternyata juga sedang berada di tempat kejadian.


Pertarungan itu sangatlah sengit, tapi berlangsung tidak terlalu lama. Raka terpojok, serangan-serangan yang dilakukan Asoka membuatnya tak berdaya.


“Kamu telah melukai Julia, membunuh Raka dan merasuki tubuhnya. Akan ku balas semua perbuatanmu ini.” Ujar Asoka yang terlihat sangat marah.


“Apa kamu telah puas karena bisa mengalahkan ku yang hanya menggunakan tubuh lemah ini?” Ujar Raka yang kemudian tertawa dengan mengerikan.


Asoka terlihat semakin kesal. Amarahnya memuncak. Dia melakukan sebuah serangan yang mengakhiri semua kejadian itu.










Dirga mematikan ponsel. Tatapannya kosong dan tubuhnya terkulai lemas. Apa yang baru saja dia lihat benar-benar membuatnya terkejut.


“Apa yang baru saja ku lihat benar-benar berbeda dengan apa yang dulu ku lihat. Sebenarnya makhluk apa itu? Mereka merusak dan menghancurkan apapun yang ada di depan matanya. Raka juga mati karena dirasuki oleh salah satu makhluk itu. Apa makhluk yang merasuki Raka adalah pemimpin dan penyebab utama terjadinya bencana besar kala itu?” Pikir Dirga dengan keringat dingin mengalir di keningnya.

__ADS_1


Pada saat Dirga melihat video tersebut, hal yang tidak kalah mengejutkannya adalah fakta bahwa bencana yang terjadi beberapa tahun lalu disebabkan oleh serangan makhluk-makhluk tak kasat mata yang hanya dapat dilihat oleh beberapa orang saja. Dulu Dirga sama sekali tidak menyadari kedatangan makhluk-makhluk itu, tapi saat ini dia bisa melihat dengan jelas wujud mereka yang buruk rupa.


***


__ADS_2