Project Wanara

Project Wanara
Chapter 57. Pemanasan


__ADS_3

Satu hari sebelum kompetisi dimulai, Rama dan seluruh anggota Project Wanara berlatih bersama-sama di tempat pelatihan pribadi yang hanya dapat digunakan oleh Project Wanara. Tempat pelatihan itu berbentuk seperti aula yang cukup luas. Di dalamnya terdapat sebuah arena pertandingan dengan spesifikasi yang sama persis dengan arena yang akan digunakan pada kompetisi.


“Hari ini kita akan melakukan pemanasan dengan latih tanding sebelum pertandingan resmi besok. Jangan sampai ada yang terluka.” Ujar Darma.


“Pada latih tanding kali ini, Rama akan melawan Yuna. Sedangkan Dirga akan menghadapi Ayu dan Galih. Apa kalian mengerti?” Sambungnya.


“Maaf Pak, aku harus melawan Galih dan Ayu sekaligus?” Tanya Dirga.


“Kamu takut?”


“Bukan begitu pak, hanya saja ini akan sangat menyulitkan. Mereka berdua memiliki kekuatan yang sangat hebat.” Jawab Dirga.


“Kami memasangkan Galih dan Ayu karena mereka berdua memiliki kemampuan yang dapat saling melengkapi satu sama lain. Dengan begitu mereka dapat mempelajari titik lemah masing-masing dan mencari solusi untuk mengatasinya. Sedangkan kamu perlu mempertajam instingmu agar dapat melawan musuh dengan kekuatan yang sangat hebat.”


“Baiklah, aku mengerti.”


“Rama dan Nona Yuna, kalian harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang kalian miliki. Jangan sungkan dan jangan mengalah. Lakukan yang terbaik.” Ujar Julia.


“Tentu saja, Julia. Akan ku kalahkan Rama hanya dengan satu serangan saja.” Jawab Yuna.


“Jangan bermimpi.” Jawab Rama sambil tersenyum. Yuna pun membalas senyuman itu.


“Rama, mulai detik ini kamu boleh menggunakan 45% kekuatanmu.” Ujar Julia.


“45%?” Yuna terkejut.


“Apa kamu mulai ragu dapat mengalahkanku hanya dalam satu serangan?” Ucap Rama kepada Yuna.


“Kamu benar. Mungkin satu serangan tidak akan cukup.”


“Tentu saja, aku ini orang yang hebat loh. Ha ha ha.” Rama tertawa lebar.


“Aku tahu itu.” Balas Yuna dengan wajah tersipu malu.


“Ehm…” Kini Julia yang mendeham.


“Baiklah, latih tanding akan kita mulai. Rama dan Nona Yuna silakan naik ke arena.” Sambungnya.


Yuna dan Rama terlihat bersemangat. Begitu juga dengan Dirga, Galih dan Ayu yang nampak sangat antusias karena dapat menyaksikan pertarungan antara Yuna dan Rama.


Latih tanding pun dimulai. Yuna mengeluarkan pedang es dan Rama memperlihatkan cakar-cakarnya.


Yuna mengambil inisiatif serangan. Dia berlari mendekati Rama dengan sangat cepat dan langsung menebaskan pedangnya. Tapi siapa sangka Rama tiba-tiba saja menghilang dari pandangan dan muncul dibelakang Yuna.


“Hey, kamu menyerang kemana?” Tanya Rama dengan senyum tengilnya.


“Apa yang terjadi?” Pikir Yuna.


“Kenapa Kak Rama tiba-tiba menghilang?” Ayu terkejut.


“Apa kamu yang mengajarkan teknik itu?” Tanya Galih kepada Dirga.

__ADS_1


“Tidak. Aku sendiri sempat terkejut saat dia memperlihatkannya padaku.” Jawab Dirga.


“Tapi sepertinya kamu masih lebih cepat.”


“Apa kamu lupa kalau dia baru menggunakan 45% kekuatan saja?”


Galih dan Ayu tersentak. Sedangkan Julia dan Darma tersenyum bangga.


“Jangan melamun saja. Ayo serang aku.” Teriak Rama kepada Yuna.


Yuna kembali berlari dengan sangat cepat untuk menyerang Rama. Tapi lagi-lagi Rama menghilang tepat saat Yuna menebaskan pedangnya. Tanpa Yuna sadari, Rama telah berada di belakangnya dan melakukan serangan. Saat melakukan serangan, Rama menghilangkan cakarnya dan melakukan pukulan biasa. Hanya saja pukulan itu terasa penuh dengan energi dan membuat Yuna terhempas ke sisi arena. Untung saja Yuna telah melapisi seluruh tubuhnya dengan energi dan terhindar dari luka serius.


Yuna berusaha bangkit. Kemudian mengeluarkan partikel salju yang bertebaran disekeliling tubuhnya. Beberapa partikel salju berubah menjadi kristal es yang memiliki ujung runcing. Tiba-tiba saja kristal es itu melesat cepat menyerang Rama.


Rama berusaha menghindari semua serangan kristal es yang terus berdatangan tanpa henti. Hal yang lebih mengejutkan adalah munculnya ledakan saat kristal es itu membentur sebuah benda atau objek. Rama semakin terdesak. Selain harus menghindari serangan kristal es, dia juga harus mengantisipasi ledakan yang terjadi.


“Itu adalah teknik milik Julia.” Ujar Dirga lirih.


“Gila, mereka berdua sangat hebat. Rama berhasil menggunakan teknik milik Dirga, dan Yuna berhasil menggunakan sebuah teknik yang mirip sekali dengan teknik milik Julia.” Ucap Galih.


Rama masih terus berusaha menghindari setiap serangan. Namun kali ini Rama mencoba untuk melakukan serangan balasan. Dia kembali menghilang dan berlari mendekati Yuna.


Duaaaar…. Sebuah ledakan terjadi saat Rama menyentuh partikel salju yang bertebaran disekitar Yuna. Kini Rama yang terhempas hingga ke tepi arena.


“Apa itu?” Pikir Rama terkejut. Dirga, Galih dan Ayu pun sama terkejutnya.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Yuna.


“Luar biasa.” Jawab Rama sambil tersenyum bangga. Melihat Rama yang


justru memberi senyuman malah membuat Yuna tersipu malu.


“Jadi selama partikel salju itu ada, aku sama sekali tidak bisa mendekatimu ya?”


Yuna semakin tersipu malu dengan perkataan Rama. Kalimat yang baru saja Rama ucapkan memiliki arti yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang Yuna.


“Bagaimana jika semua partikel itu menghilang?” Tanya Rama yang kemudian mengeluarkan energi petirnya untuk menyambar seluruh partikel salju.


Petir bersifat panas dan salju bersifat dingin. Sambaran petir itu membuat semua partikel salju menguap tanpa membuat ledakan sama sekali.


“Apa kamu lupa kalau aku juga bisa menggunakan petir?”


Kemudian Rama mengeluarkan petir yang lebih kuat dari tangan kanannya dan melakukan serangan tepat ke arah Yuna berdiri. Yuna dengan sigap membuat


tembok es yang kokoh dan berhasil menghalau serangan itu.


“Sudah ku duga. Ternyata kamu memang memiliki kemampuan bertahan yang juga mirip dengan kemampuan milik Julia. Sepertinya kalian memiliki karakteristik energi yang sama dan Julia memutuskan untuk mengajarkan beberapa tekniknya. Apa aku salah?”


“Kamu benar sekali, Rama.” Jawab Yuna dengan tetap memberikan senyuman.


“Ternyata begitu. Yuna dan Julia memiliki karakteristik energi yang sama sehingga Yuna dapat menggunakan semua teknik yang dimiliki oleh Julia.” Ujar Dirga.

__ADS_1


“Tidak hanya karakteristik energi, sepertinya mereka juga memiliki selera yang sama dalam memilih pendamping hidup. Ha ha ha.” Ujar Galih yang kemudian tertawa terbahak-bahak.


Ucapan dan tawa Galih terdengar oleh seluruh anggota tim sehingga membuat wajah Yuna dan Julia berubah merah.


Duar…. Sebuah petir menyambar tepat di depan Galih dan membuatnya terkejut.


“Hey… Apa kamu mau membunuhku?” Teriak Galih. Rama hanya membalas teriakan itu dengan senyum lebar.


Saat Rama sedang tidak fokus pada pertandingan. Yuna mengeluarkan es yang menjalar di lantai arena pertandingan dan membekukan kaki Rama sehingga membuatnya tidak dapat bergerak.


“Kamu curang…!” Teriak Rama.


“Jangan mengalihkan pandangan.” Ucap Yuna dengan tawa kecil.


Belum sempat Rama membebaskan diri, es itu menjalar ke seluruh tubuh Rama dengan sangat cepat. Kini seluruh tubuhnya benar-benar membeku di dalam es yang sangat dingin.


“Aku menang.” Pikir Yuna.


“Jangan lengah Yuna.” Teriak Dirga.


Tiba-tiba saja terjadi ledakan dari arah Rama berdiri. Rama berhasil menghancurkan es yang membelenggunya dan mengeluarkan sambaran petir yang sangat kuat. Yuna sempat terkejut, tapi dia masih sempat membuat tembok es yang kokoh untuk menghalau petir itu. Hanya saja petir yang Rama keluarkan kali ini jauh lebih kuat dari petir yang dia keluarkan sebelumnya dan dapat menghancurkan tembok es dengan sangat mudah.


Saat tembok es itu hancur, tanpa disangka Rama telah berdiri dihadapan Yuna sambil mencengkeram lehernya dengan cakar-cakar tajam yang dapat merobek kulit.


“Aku kalah.” Ucap Yuna lirih.


“Apanya yang kalah? Kamu bisa saja menghujamkan pedang es ini dan menghabisiku.”


Rupanya Yuna masih sempat mengeluarkan pedang es dan menghunuskan pedang itu tepat ke jantung Rama.


“Kamu juga bisa mematahkan leher ini dengan mudah.”


“Tidak mungkin aku melakukan itu.”


“Apa kamu pikir aku juga bisa menghujamkan pedang ini ke jantungmu?”


“Kamu luar biasa Yuna. Tidak hanya cantik, tapi kamu juga sangat hebat dan berbakat.”


“Kamu jauh lebih hebat. Hanya dengan 45% kemampuan saja, kamu bisa melawanku sampai sejauh ini.”


“Melihat kemampuanmu itu, aku menjadi sangat yakin dapat mengalahkan semua project pada kompetisi ini.” Ujar Rama.


“Tentu saja..”


Rama dan Yuna saling melempar pujian dengan senyuman hangat. Pertandingan antara Yuna dan Rama pun berakhir imbang.


“Hey, hentikan percakapan kalian itu. Dadaku terasa sangat sesak.” Ujar Galih.


Rupanya tanpa sadar Julia mengeluarkan energi yang sangat pekat hingga membuat beberapa anggota menjadi tidak nyaman.


***

__ADS_1


__ADS_2