Project Wanara

Project Wanara
Chapter 41. Rama Ghuntara (Part 1) - Hipotesa


__ADS_3

Hari ini Rama dan anggota tim lainnya akan memulai latihan khusus yang dirancang oleh Julia dan Darma untuk meningkatkan nilai potensi seluruh anggota tim. Rama memulai latihan khusus di area keempat yaitu area untuk meningkatkan teknik pernapasan. Teknik pernapasan itu sendiri adalah kunci untuk dapat mengendalikan energi CORE yang mereka miliki.


“Selamat datang di area keempat, Tuan Rama.” Ujar Julia menyambut kedatangan Rama.


Kemudian Julia menjelaskan tata cara pelatihan di area tersebut. Tugas Rama hanyalah melakukan teknik pernapasan secara konsisten sejak pelatihan dimulai hingga dinyatakan selesai. Selama proses latihan, akan terdapat beberapa kondisi yang terasa kurang nyaman. Rama juga harus bertahan dalam kondisi-kondisi tersebut. Selama pelatihan berlangsung, Rama tidak boleh menghentikan teknik pernapasannya sama sekali karena akan memberikan dampak buruk bagi tubuhnya.


Rama yang telah memahami instruksi yang diberikan oleh Julia pun segera menempati area yang telah ditetapkan dan mengatur posisi untuk melakukan latihan pernapasan. Pelatihan pun dimulai.


Rama melakukan latihan pernapasan dengan baik. Energi yang dia miliki tersalurkan dengan sempurna ke seluruh tubuh.


Satu jam berlalu dan perubahan kondisi ruangan mulai terjadi. Perlahan suhu ruangan meningkat dan menjadi sangat panas. Rama juga merasakan perubahan suhu itu, hanya saja raut wajahnya masih terlihat sangat tenang. Tidak ada tanda-tanda kegelisahan akibat dari perubahan suhu yang terjadi. Hampir dua jam Rama berada pada kondisi seperti itu. Meskipun tubuhnya mengeluarkan keringat, tapi dia masih terlihat sangat tenang.


“Darma, tolong periksa konfigurasi alat di area keempat.” Pinta Julia.


“Memangnya kenapa, Julia?”


“Coba kamu lihat, Rama tidak mengalami masalah sedikitpun, padahal suhu ruangan tersebut seharusnya sudah menjadi sangat tinggi.” Ujar Julia.


“Benar juga. Dia terlihat sedang berlatih seperti biasa. Baiklah, coba ku periksa dulu.” Ucap Darma sambil memastikan kembali konfigurasi alat yang mereka tempatkan di area keempat.


“Alat ini berfungsi dengan baik dan tidak ada kendala sedikitpun, Julia. Konfigurasinya juga masih sesuai dengan perencanaan yang telah kamu buat.” Ucap Darma.


“Terima kasih Darma.” Ujar Julia.


“Jadi apa yang salah?” Sambungnya sambil menatap layar monitor di area keempat.


Tidak lama kemudian suhu ruangan berubah drastis. Kini ruangan tersebut menjadi sangat dingin.


Rama juga kembali merasakan perubahan suhu yang terjadi. Tubuhnya sempat menggigil tapi hanya sebentar saja dan kembali normal seperti sedia kala. Hal yang membuat Julia bingung adalah tidak adanya perubahan ekspresi sama sekali. Seakan-akan latihan ini tidak menjadi kendala bagi Rama.


Rama masih terus melakukan latihan pernapasan hingga waktu makan siang tiba.


Teeeet…. “Istirahat.” Ucap Darma.


Saat mendengar suara itu, Rama pun menghentikan latihan pernapasan dan membuka matanya. Pada saat itu juga, Rama merasakan suhu dingin yang menusuk tulang.


“Kenapa ruangan ini menjadi sangat dingin.” Pikir Rama sambil meringkuk kedinginan.


“Apa yang terjadi Rama?” Tanya Darma.


“Pak Darma, kenapa ruangan ini jadi sangat dingin? Tahu begini kan aku bisa pakai jaket tebal.” Ucap Rama.


“Apa mau ku tembakkan senjata melalui mesin lontar agar kamu bergerak dan tubuhmu menjadi hangat?” Tanya Darma dengan kelakar.


“Di ruangan ini kan tidak ada mesin lontar. Ha ha ha.” Jawab Rama sambil tertawa tengil.


Syut…. Tiba-tiba saja sebuah panah tajam melesat tepat di depan matanya.


“Woy, kalian ingin membunuhku ya?!” Teriak Rama dengan wajah konyolnya. Reaksi yang ditunjukkan Rama membuat Darma dan Julia tertawa kecil


“Apakah sudah merasa hangat, tuan?” Tanya Julia.


Rama terdiam mendengarkan kalimat yang Julia sampaikan. Rama tersipu malu dengan wajah merona.


“Ehm, apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Darma.


“Eh, tidak ada pak.” Sahut Rama masih dengan tersipu malu.


“Tuan Rama, sebentar lagi akan ada orang yang mengantarkan makanan ke tempat anda. Tapi sebelum itu ada yang perlu saya tanyakan, tuan. Apa yang anda rasakan selama pelatihan tadi?” Ucap Julia.

__ADS_1


“Apa yang aku rasakan?” Ucap Rama lirih sambil mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.


“Tadi aku hanya melakukan teknik pernapasan seperti biasa. Kemudian ruangan menjadi panas dan tidak lama kemudian berubah menjadi dingin. Sepertinya hanya itu, Julia.” Jawab Rama.


“Apa anda merasa nyaman dengan kondisi tersebut?” Tanya Julia.


“Tentu saja.” Jawab Rama dengan bangga.


“Suhu panas tadi seperti panasnya kota di siang hari. Sedangkan suhu dinginnya sepertinya Kota Pasundan di malam hari. Kalau tantangannya cuma itu sih aku sudah terbiasa. Ha ha ha.” Sambung Rama dengan tawa bangganya yang khas.


“Oh ya ada satu lagi. Saat aku membuka mata, tiba-tiba saja suhu ruangan menjadi sangat dingin. Aku sampai terkejut karena perubahan suhu yang mendadak seperti itu.”


“Baiklah aku mengerti. Anda memang hebat.” Puji Julia.


“Kalau begitu silahkan anda istirahat dulu, tuan.” Sambungnya.


“Terima kasih Julia.” Sahut Rama masih dengan senyum bangganya.


Selama waktu istirahat, Julia berusaha menganalisa situasi yang terjadi di area keempat. Darma tahu apa yang sedang Julia pikirkan. Dia pun berusaha membantu dengan memastikan kembali konfigurasi alat di area keempat. Tapi Darma tidak menemukan anomali sedikitpun. Semua alat berfungsi sebagaimana seharusnya.


“Julia, aku sudah cek ulang konfigurasi alat di area keempat. Tadi tidak ada masalah sama sekali.” Ucap Darma.


“Terima kasih Darma.”


“Apa mungkin hal ini berkaitan dengan energi alami miliknya?” Tanya Darma yang berusaha membantu Julia memecahkan masalah.


“Sepertinya begitu. Tapi aku sama sekali belum mengerti kenapa hal ini bisa terjadi.”


“Apa ini juga ada hubungannya dengan energi yang seperti black hole itu ya?” Tanya Darma.


“Black hole?”


“Tentu saja aku ingat. Tapi black….” Julia tersentak dan menghentikan ucapannya.


“Darma, coba periksa kapasitas energi Black Onyx Stone yang kita gunakan untuk area keempat.” Pinta Julia. Darma mengerti dan melakukan permintaan Julia.


Darma mengerti maksud permintaan Julia dan segera memeriksa kapasitas energi Black Onyx Stone.


“Kamu benar Julia. Energi Black Onyx Stone untuk area keempat turun drastis.” Teriak Darma.


“Berapa persen tersisa?”


“Hanya 50% saja Julia.” Jawab Darma.


“Hebat sekali. Energi sebesar itu sudah dia serap setengahnya.” Pikir Julia.


“Sebenarnya apa yang terjadi Julia?”


“Apa kamu ingat apa yang terjadi pada energi Black Onyx Stone di dalam tubuh Rama?” Tanya Julia.


“Menghilang….” Jawab Darma ragu.


“Lebih tepatnya energi itu diserap oleh CORE nya.” Tambah Julia.


Darma terdiam dan fokus mendengarkan penjelasan Julia.


“Latihan khusus ini bisa berjalan dengan baik karena adanya Black Onyx Stone di masing-masing area. Energi itulah yang membuat setiap serangan mesin lontar menjadi sangat mematikan. Energi itu juga yang membuat ruangan di area keempat memiliki perubahan suhu ekstrim.”


“Alih-alih memberi kesulitan, energi yang tersebar di area keempat justru diserap oleh Rama. Aku yakin kekuatan yang dimiliki Rama saat ini menjadi jauh lebih besar. Jika hal ini terus terjadi, aku khawatir Rama tidak lagi mampu mengendalikan kekuatannya sendiri” Ujar Julia.

__ADS_1


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Kita jalankan latihan ini seperti yang telah direncanakan, tapi aku akan memberi instruksi tambahan untuk membantu Rama mengendalikan luapan energinya.”


“Apa tidak masalah?” tanya Darma.


“Aku juga tidak tahu. Tapi sebelum melakukan itu, aku harus berkonsultasi dengan Para Pandawa. Aku akan coba telepon Pandawa kelima.” Ucap Julia.


“Kamu punya nomor telepon Pandawa Kelima?” Tanya Darma terkejut.


“Tentu saja. Apa kamu lupa kalau aku adalah anak emas mereka?” Jawab Julia sambil tersenyum.


“Hebat…!” Teriak Darma.


“Terima kasih. Aku keluar dulu ya.” Pamit Julia meninggalkan ruang pengawasan.


Julia pergi cukup jauh dari ruangan tersebut karena khawatir Darma akan mendengar percakapan nya dengan Pandawa Kelima.


“Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu?” Ujar Narwa.


“Narwa, tolong jelaskan lebih jauh tentang energi yang dapat menyerap kekuatan Black Onyx Stone. Hari ini kembali terjadi sesuatu yang membuatku terkejut. Rama tidak hanya menyerap energi Black Onyx Stone yang ada di tubuhnya, tapi dia juga menyerap energi Black Onyx Stone yang tersebar di sekitarnya.” Pinta Julia.


“Ternyata begitu ya.” Sahut Narwa.


“Begini nona, di dunia ini tidak ada satu pun yang  bisa menyerap energi Black Onyx Stone. Hal yang dapat kita lakukan hanyalah memanfaatkan energi tersebut untuk membantu pengendalian energi CORE.”


“Bagaimana dengan dunia sana?” Tanya Julia.


“Kami memiliki beberapa hipotesa. Itu yang sedang kami selidiki lebih jauh.” Jawab Narwa.


“Tolong jelaskan.”


“Apa yang akan saya jelaskan ini masih bersifat hipotesa. Jadi mohon nona tidak gegabah dalam bertindak.” Pinta Narwa.


“Aku mengerti.” Sahut Julia.


“Seperti yang tadi saya sampaikan bahwa energi Black Onyx Stone hanya bisa kita manfaatkan untuk membantu pengendalian energi CORE. Tapi di dunia sana pernah ada makhluk yang dapat menyerap seluruh energi Black Onyx Stone.”


“Tapi kini makhluk itu sudah tidak ada. Maka dari itu, tempo hari kami sangat terkejut saat mengetahui kemampuan yang Rama miliki.”


“Dari cerita itu, kami memiliki beberapa hipotesa. Pertama, Rama memang terpilih untuk mendapatkan anugrah itu. Kedua, terdapat campur tangan makhluk lain yang secara paksa memberikan kemampuan itu kepadanya. Ketiga, Rama adalah anak keturunan makhluk yang tadi telah mati. Keempat, dia adalah makhluk itu sendiri yang sebenarnya belum mati, namun menjelma menjadi sosok Rama saat ini.”


“Mengingat adanya campur tangan Ifrit dalam keikutsertaan Rama pada Project ini. Maka kita bisa eliminir hipotesa pertama. Kemudian jika kita telusuri lebih jauh, tidak ada satu pun makhluk selain ‘dia’ yang dapat menyerap energi Black Onyx Stone, maka kita bisa eliminir hipotesa kedua. Maka tersisa dua hipotesa lainnya.”


“Makhluk apa yang kamu maksud itu?” Tanya Julia.


“King of Jinn, Sang Raja Jinn, Asoka.”


“Apa?! Tuan Asoka memiliki kemampuan seperti itu?” Julia tersentak.


“Tapi Tuan Asoka mati tepat di depan mataku sendiri. Tidak mungkin Rama adalah dia.” Ucap Julia.


“Hipotesa keempat memang sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat. Segala sesuatu yang telah mati, tidak mungkin akan hidup kembali. Maka dari itu hanya tersisa satu kemungkinan.”


“Rama adalah keturunan Tuan Asoka.” Ucap Julia lirih.


“Tepat sekali, nona. Dia mewarisi darah King of Jinn.”


***

__ADS_1


__ADS_2