Project Wanara

Project Wanara
Chapter 61. Punakawan VS Wanara (Part 1) - Dirga dan Rindra


__ADS_3

Project Dasamuka memenangkan pertandingan pertama karena diskualifikasi yang diberikan kepada Project Brahma. Seluruh anggota Project Brahma mengalami luka serius sehingga harus dibawa ke ruang medis untuk perawatan intensif. Diantara anggota lainnnya, Yudis mengalami dampak paling buruk. Nyawanya hampir tidak tertolong dan kini dia terbaring tak berdaya dalam kondisi koma.


Meskipun begitu, kompetisi harus tetap dilanjutkan. Pertandingan berikutnya adalah pertarungan antara Project Anantareja dan Dewabrata. Dua project teratas setelah Project Dasamuka.


Project Anantareja terdiri dari Firza, Sela, Bima, Okta dan Yoga dengan Sukma dan Asmita sebagai penanggung jawabnya. Sedangkan Project Dewabrata memiliki anggota Bayu, Candra, Fino, Dipta dan Ganesh dengan Varen dan Dayana sebagai penanggung jawab Project.


Seluruh anggota project Anantaraja dan Dewabrata bersama dengan penanggung jawabnya pun naik ke arena pertandingan untuk mendapatkan arahan singkat seperti sebelumnya. Meskipun mereka telah mengetahui teknis pelaksanaan pertandingan, arahan tetap dilakukan sebagai bentuk formalitas.


Namun sesuatu yang tidak terduga pun terjadi. Bima, Okta dan Yoga dari Project Anantareja serta Dipta dan Ganesh dari Project Dewabrata menolak untuk mengikuti kompetisi. Alasan  penolakan yang mereka utarakan pun ternyata sama. Mereka tidak ingin menghabiskan tenaga untuk melanjutkan kompetisi, karena mereka beranggapan bahwa kemenangan sudah dapat dipastikan ada di genggaman Project Dasamuka. Terlebih lagi mereka tidak ingin menghadapi Dasamuka dan berakhir seperti Brahma.


Perseteruan antar masing-masing anggota project pun terjadi. Firza, Sela, Bayu, Candra dan Fino kecewa dengan keputusan yang diambil oleh rekannya. Sukma, Asmita, Varen dan Dayana sebagai penanggung jawab pun naik pitam kepada anggota yang menolak bertanding. Tapi Bima, Okta, Yoga, Dipta dan Ganesh tetap pada keputusannya untuk tidak bertanding. Meskipun mereka takut dengan kemarahan penanggung jawab project mereka masing-masing, tapi mereka lebih takut akan dihabisi oleh Project Dasamuka seperti halnya Brahma. Sebab siapapun yang nantinya menang pada pertandingan ini, harus menghadapi Project Dasamuka.


Pertengkaran pun tak dapat dielakkan. Masing-masing kubu saling melempar serangan sehingga kondisi arena pertandingan nampak begitu kacau. Indra, Lisa dan Caraka tersenyum lebar melihat kekacauan itu. Sedangkan Anggun berusaha menghentikan mereka.


“Berhenti…!” Teriak Anggun.


“Project Anantareja dan Dewabrata di diskualifikasi karena melanggar peraturan. Kalian sangat mengecewakan. Pandawa yang menjadi sponsor kalian pasti sangat malu jika melihat kejadian ini.” Sambungnya dingin.


Seluruh anggota Project Anantareja dan Dewabrata tertunduk lesu. Mereka turun dari arena dengan wajah malu, terutama Sukma, Asmita, Varen dan Dayana yang bertugas sebagai penangung jawab project. Rasa sedih, kesal, malu dan kecewa bercampur menjadi satu. Sekilas mereka melihat tatapan kecewa Project Punakawan dan Wanara. Tapi tatapan yang terlihat dari Caraka sebagai penanggung jawab Project Dasamuka bukanlah kecewa, melainkan tatapan yang memberi kesan meremehkan dengan senyum lebar di wajahnya.


Mereka melihat Caraka sedang mengucapkan sesuatu, tapi karena jarak yang terlampau jauh dan suara yang pelan. Mereka tidak dapat mendengar apa yang Caraka ucapkan. Tapi mereka dapat membaca gerakan bibirnya.


“Sampah.”


Seketika amarah Sukma, Asmita, Varen dan Dayana pun bergejolak dan menyerang Caraka bersama-sama.


Caraka nampak sangat tenang. Dia memberi isyarat kepada mereka untuk melihat ke sisi sebelah kanan. Mata mereka terbelalak saat melihat Bima dan Ganesh sedang berlutut di hadapan Indra dan Lisa. Mereka sangat memahami situasi tersebut. Jika Indra menyerang Bima dan Ganesh seperti saat dia menyerang Yudis, maka situasi akan menjadi semakin kacau.


Sukma, Asmita, Varen dan Dayana terpojok dan tidak dapat berbuat banyak selain menghentikan serangan yang mereka lakukan.


“Nona Anggun, Project Dasamuka melakukan serangan di luar arena pertandingan. Mereka juga seharusnya di diskualifikasi.” Ujar Rama.


Perkataan Rama mengejutkan banyak orang, sekaligus memberi harapan kepada Sukma, Asmita, Varen dan Dayana untuk dapat membalas Caraka dan Project Dasamuka.


Hanya saja jawaban yang diberikan Anggun meruntuhkan harapan mereka, “Saya tidak melihat satu pun serangan. Bima dan Ganesh berlutut dengan sendirinya.”


“Apa kamu buta?! Jelas-jelas mereka berlutut ketakutan.”


“Hal itu berbeda dengan penyerangan.”


“Sial…!” Teriak Rama.


“Sudahlah Rama. Meskipun kesal, kita tidak dapat berbuat banyak. Anggun melihat kompetisi ini hanya berdasarkan peraturan dan akal sehatnya, tidak dengan hati dan perasaan. Percuma menghadapi orang seperti itu.” Ucap Yuna menenangkan Rama.


“Caraka, Indra dan Lisa. Akan ku habisi mereka.” Ucap Rama lirih.


“Lisa adalah bagianku.” Sambut Yuna.

__ADS_1


“Dan kalian tidak perlu khawatir dengan Caraka.” Sahut Julia.


“Tapi sebelum itu, kita harus mengalahkan Punakawan.” Ujar Darma diikuti dengan anggukan kepala seluruh anggota tim Project Wanara.


Dengan diskualifikasi yang diberikan kepada Project Brahma, Anantareja dan Dewabrata, tersisa tiga project dalam kompetisi ini. Dasamuka telah mengamankan tempat di tahap final karena diskualifikasi Anantareja dan Dewabrata. Pada pertandingan final, Dasamuka akan menghadapi pemenang antara Punakawan dan Wanara.


Punakawan dan Wanara telah bersiap untuk melakukan pertarungan. Farraz dan Devi sebagai penanggung jawab Project Punakawan, menempatkan Rindra pada pertarungan pertama dilanjutkan dengan Saras, Bela, Wulan dan Tasya. Sedangkan Project Wanara akan menurunkan Dirga dilanjutkan dengan Ayu, Yuna, Galih dan Rama.


Rindra dan Dirga telah berdiri di atas arena pertandingan.


“Keluarkan kemampuan terbaikmu.” Ujar Rindra.


“Tentu saja. Aku tidak akan mengalah hanya karena melawan seorang wanita.” Jawab Driga.


“Apa kalian siap?” Tanya Anggun diikuti dengan anggukan kepala Rindra dan Dirga.


“Mulai…!”


Dirga berencana untuk melakukan serangan kejutan saat pertandingan dimulai. Tapi kali ini justru dia yang merasa terkejut. Rindra tiba-tiba saja menghilang dari pandangan dan muncul di belakang Dirga dengan pukulan yang begitu keras.


Dirga terhempas hingga hampir saja keluar arena pertandingan. Tapi pukulan itu tidak melukainya. Dirga telah cukup terlatih untuk menghadapi serangan semacam itu.


“Hebat.” Puji Dirga sambil tersenyum dan berdiri.


“Terima kasih atas pujian mu.” Ujar Rindra yang kembali muncul di belakang Dirga dan melayangkan pukulan yang jauh lebih keras. Tapi Dirga berhasil menepis pukulan itu dan bergerak mundur untuk mengambil jarak.


“Kemampuan Rindra dan Dirga memang mirip, tapi sangat berbeda. Dirga mengandalkan kecepatan yang sangat tinggi untuk memberi kesan menghilang, sedangkan Rindra benar-benar menghilang.” Jelas Julia.


“Apa maksudnya Rindra itu wanita yang sangat hebat?” Tanya Galih.


“Benar. Dia wanita yang hebat. Rindra juga memiliki tipe kemampuan seorang assassin seperti halnya Dirga.”


“Sepertinya Dirga mendapatkan lawan yang sulit.” Ujar Galih.


“Tidak juga. Bagi orang lain mungkin bertarung melawan Rindra adalah sebuah kesalahan. Tapi bagi Dirga, pertandingan ini tidak akan terlalu sulit. Dirga lebih unggul dalam banyak aspek. Untung saja kita menempatkan orang yang tepat.”


Rindra masih terus melakukan serangan dari berbagai sisi. Dia menghilang lalu muncul di titik buta Dirga. Hanya saja Dirga berhasil menepis dan menghalau semua serangan dengan mudah. Hal itu membuat Rindra sedikit frustrasi. Sejauh ini dia terlihat lebih unggul, tapi dia merasa tidak bisa mengalahkan Dirga karena dia sama sekali tidak dapat melihat celah untuk memberikan serangan telak yang mematikan. Dia merasa sedang melawan seseorang yang dapat melihat ke seluruh penjuru arah dalam waktu bersamaan.


“Keunggulan Dirga ada pada kemampuan mata, kecepatan dan instingnya. Bahkan dia bisa bertarung dengan mata tertutup tanpa mendapatkan luka sedikit pun.” Ujar Julia.


“Saat ini Dirga baru menunjukkan seberapa hebat insting yang dia miliki, tapi Rindra sudah terlihat kesulitan dalam melakukan serangan. Menurut kalian, apa yang akan terjadi jika Dirga bertarung dengan sungguh-sungguh?” Sambungnya.


“Aku mengerti.” Ujar Galih. Rama tersenyum bangga mendengar penjelasan Julia dan melihat kehebatan yang dipertontonkan oleh Dirga.


Serangan yang dilakukan Rindra mulai melemah dan tidak bertenaga. Rindra yang sedari tadi memforsir tenaganya pun mulai mengendurkan serangan. Di sisi lain, Dirga tidak terlihat lelah sama sekali. Wajahnya masih terlihat sangat segar. Pelatihan fisik yang selama ini dia lakukan pun membuahkan hasil. Kini Dirga memiliki stamina dan daya tahan yang luar biasa.


“Sudah lelah? Ingin istirahat dulu?” Tanya Dirga.

__ADS_1


“Jangan bercanda.” Jawab Rindra yang kemudian menghilang dan kembali muncul dibelakang Dirga untuk kemudian melakukan serangan.


Ketika Rindra menyerang Dirga, dia begitu terkejut saat melihat Dirga yang juga tiba-tiba menghilang dari pandangan lalu muncul di belakang Rindra dan menepuk pundaknya.


“Kamu mencari siapa?” Tanya Dirga sambil tersenyum.


Rindra yang terkejut pun kembali melakukan serangan dan lagi-lagi Dirga menghilang dari pandangannya.


“Sepertinya kejadian ini tidak asing.” Pikir Galih yang teringat latihannya bersama Dirga.


“Dulu aku pernah bertarung dengan seorang wanita yang sangat kuat. Aku bertarung mati-matian hanya karena harga diriku. Tapi setelah itu aku berpikir bahwa tidak ada gunanya melakukan pertarungan seperti itu, terlebih lagi dengan seorang wanita yang sama sekali bukan musuhku.” Ujar Dirga yang kembali muncul di belakang Rindra. Tapi Rindra tidak mendengarkan ucapan Dirga dan malah berusaha menyerangnya tanpa henti. Hanya saja apa yang dilakukan Rindra sia-sia. Dirga kembali menghilang dari pandangan.


“Menyerahlah. Kamu bukan musuhku. Aku tidak ingin melukaimu.” Ujar Dirga saat muncul di samping kiri Rindra. Lagi-lagi Rindra menyerang Dirga dan lagi-lagi Dirga menghilang dari pandangan Rinda.


Rindra mengerahkan seluruh kemampuannya dan kini dia yang menghilang, lenyap tak berjejak.


“Kemana dia? Aku sama sekali tidak merasakan hawa keberadaannya.” Pikir Dirga kebingungan.


Dirga terkejut saat Rindra tiba-tibu muncul di hadapannya dengan memegang sebuah belati kecil yang terhunus tepat ke matanya.


“Kenapa berhenti? Kamu bisa mengalahkanku dengan teknik ini. Ternyata sedari tadi kamu belum menunjukkan seluruh kemampuanmu.” Ujar Dirga.


“Ini balasan atas perbuatanmu. Juga ucapan terima kasih karena sedari tadi tidak menyerangku. Padahal kamu memiliki banyak sekali peluang untuk memenangkan pertandingan ini.” Sahut Rindra.


“Tapi ku peringatkan untuk tidak mempermainkan ku. Aku bukan wanita yang lemah.” Sambung Rindra.


“Aku tidak pernah menganggap mu lemah. Justru aku kagum dengan kemampuan yang kamu miliki.” Sahut Dirga yang tiba-tiba menghilang dan menghunuskan kerambitnya tepat di leher Rindra dari arah belakang dengan posisi yang sekilas terlihat seperti sedang merangkul.


Rindra begitu terkejut hingga tidak dapat bergerak sama sekali. Tapi entah kenapa, perkataan Dirga membuat wajahnya memerah.


“Dasar buaya…! Bisa-bisanya kamu menggoda wanita itu saat sedang bertarung.” Teriak Rama.


“Jika dia buaya, lalu kamu itu apa? Dua wanita hebat memperebutkan mu, kan?” Ujar Galih yang membuat Rama, Yuna dan Julia tertunduk malu.


“Kamu telah kehabisan tenaga. Lain kali, latihlah fisik dan stamina mu lebih keras lagi. Sayang sekali jika kemampuan hebat itu dikalahkan hanya karena kehabisan stamina.” Ucap Dirga yang kemudian memukul tengkuk Rindra dan membuatnya tak sadarkan diri.


Pertarungan pertama Project Punakawan dan Wanara berakhir dengan kemenangan Dirga dari Project Wanara.


Dirga pun turun dari arena sambil menggendong Rindra yang sedang tidak sadarkan diri. Di luar arena, anggota Project Punakawan lain bersama petugas medis pun menunggu Rindra sadar dengan perasaan was-was.


“Kalian tidak perlu khawatir. Pukulan ku tadi tidak akan melukainya. Penyebab utama dia kehilangan kesadaran adalah kehabisan stamina. Tadinya aku tidak ingin memukul Rindra, hanya saja jika tidak kulakukan, dia akan terus memaksakan diri dan justru akan berdampak buruk pada tubuhnya sendiri.” Ujar Dirga.


“Terima kasih Dirga. Kamu pria yang baik.” Ujar Devi.


Rindra yang masih berada di gendongan Dirga pun terbangun dengan wajah malu dan berteriak-teriak sambil menghunuskan belati energinya, “Turunkan aku. Berani-beraninya kamu menyentuhku.”


***

__ADS_1


__ADS_2