
Sejak bergabung bersama Project Wanara, Rama adalah satu-satunya anggota tim yang tidak bisa diprediksi. Dia memiliki nilai potensi yang sangat rendah, tapi ternyata kemampuan yang dia tunjukkan melebihi nilai potensi yang
didapatkan.
Satu hari setelah Rama mengalami ledakan energi….
Pagi-pagi buta, Julia telah terbangun dari tidurnya di ruang medis. Julia menemui Darma dan membicarakan rencana yang hendak dia lakukan.
“Darma, siang ini aku akan mengunjungi kantor Pandawa Group untuk mencari informasi lebih jauh tentang Rama. Aku penasaran dengan kekuatan yang dimilikinya.” Ujar Julia.
“Tapi bukankah Rama bergabung dengan Project ini secara tidak sengaja. Apa mungkin kita memiliki data-data kehidupannya?” Tanya Darma.
“Jika perusahaan tidak memiliki informasi apapun, aku akan berusaha menemui Para Pandawa secara langsung dan menceritakan kejadian yang baru saja kita alami. Mereka memiliki koneksi yang sangat baik, aku yakin cepat atau lambat mereka akan mendapatkan informasi yang kita butuhkan.”
“Apa kamu yakin? Mungkin kamu memang orang terbaik yang kita miliki saat ini dan Para Pandawa juga mengakui itu, tapi menemui mereka secara langsung sepertinya bukan keputusan yang bijaksana, Julia.” Tanya Darma dengan sedikit ragu.
“Aku tidak punya pilihan lain, Darma. Kita tidak bisa melanjutkan latihan ini jika kita tidak tahu siapa yang sedang kita latih.” Jawab Julia.
“Baiklah Julia. Aku akan ambil alih latihan siang ini. Aku harap kamu sudah kembali sebelum kita memulai latihan pengendalian CORE di malam hari.”
“Baiklah Darma, akan ku usahakan untuk datang sebelum senja.” Jawab Julia.
“Oh ya, aku akan kembali ke ruang medis dan berpura-pura masih tertidur di sana untuk menghindari kecurigaan.” Sambung Julia.
“Aku mengerti.” Sahut Darma.
Setelah itu Julia kembali ke ruang medis dan berbaring lagi di sana. Dia baru akan pergi menuju kantor Pandawa Group setelah Rama terbangun dari tidurnya.
Tidak berapa lama Rama pun terbangun. Mata Rama terbelalak, wajahnya tampak memerah. Saat Rama membuka mata, terlihat wajah gadis yang tidak asing lagi baginya. Wajah gadis cantik yang sedang tertidur pulas dengan sangat manis. Ya, itu adalah Julia.
“Ah sepertinya aku masih bermimpi” pikir Rama dengan kembali berusaha memejamkan matanya.
Dengan tetap memejamkan mata, Rama mencubit pipinya sendiri.
“Aahh…” jerit Rama.
“Sepertinya aku tidak bermimpi…” pikir Rama.
Perlahan Rama kembali membuka mata dan wajah cantik Julia masih ada di sana. Wajah Rama kembali memerah.
“Juliaaaaaaa…?”
Rama yang masih terkejut dengan kehadiran Julia, bergegas turun dari kasur dan segera kembali ke kamarnya sendiri.
Mengetahui Rama telah pergi meninggalkan ruang medis, Julia mulai bergerak untuk menjalankan rencananya. Dia berlari menuruni puncak menuju kaki Gunung Mandalawangi dengan sangat cepat. Helikopter yang akan membawanya ke kantor Pandawa Group telah menunggunya di sana.
Setibanya di kantor Pandawa Group, Julia meminta bantuan seseorang di bagian pusat informasi untuk mencarikan informasi tentang riwayat hidup Rama. Hanya saja informasi yang dicarinya tidak ditemukan karena memang Rama bukanlah bagian dari tamu undangan yang telah direncanakan. Kemudian Julia berusaha menemui Para Pandawa untuk menceritakan kejadian yang dia alami. Tapi menurut sekretaris Para Pandawa, mereka sedang tidak berada di tempat kala itu.
Julia tidak kehabisan akal. Dia menganalisa informasi yang dibutuhkan dan mencari sumber jawaban atas informasi tersebut secara mandiri.
“Anomali pertama adalah cincin onyx, kedua adalah kapsul saktih dan yang ketiga adalah ketidakhadiran tamu undangan yang sebenarnya.”
“Aku tahu partikel penyusun cincin onyx dan bagaimana partikel-partikel itu dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Tapi reaksi yang Rama tunjukkan adalah sesuatu yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku yakin Para Pandawa juga akan kebingungan.”
“Bagaimana dengan kapsul saktih? Sepertinya aku tahu harus mulai dari mana.” Pikir Julia.
Julia berusaha mencari dokumen cetak biru kapsul saktih. Dokumen itu memuat bagaimana kapsul saktih dirancang, bahan-bahan penyusunnya dan cara kerja alat itu secara teknis.
Julia tahu bahwa dokumen cetak biru itu bersifat rahasia dan tidak akan didapatkan dengan mudah. Untungnya seorang kenalan yang cukup dekat dengannya datang menghampiri. Julia tahu bahwa orang itu pasti bisa membantunya.
Orang itu menggunakan seragam petugas kebersihan, lengkap dengan topi, masker dan alat-alat kebersihan lain yang ada di dalam troli yang sedang dia dorong. Tapi dia bukan petugas kebersihan biasa, dia memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam membobol sebuah sistem dan men-dekripsi data-data yang ter-enkripsi.
“Dari mana saja kamu? Aku butuh bantuanmu.” Ujar Julia tanpa berbasa-basi.
“Apa yang bisa ku bantu?” Tanya orang itu.
“Tolong carikan beberapa informasi untuk ku. Pertama, cetak biru kapsul saktih. Kedua informasi undangan dan daftar peserta project.”
“Apa ada lagi?”
“Sementara itu dulu. Kalau aku butuh informasi tambahan, aku akan hubungi kamu lagi.” Jawab Julia.
“Baiklah, aku akan carikan informasi yang anda butuhkan. Tunggu saya di ruang kerja anda, nona.”
__ADS_1
“Terima kasih.” Ujar Julia.
Julia berjalan menuju ruang kerjanya, yaitu ruang pendaftaran Project Wanara. Dia menunggu di sana dengan tetap memperhatikan keadaan sekitarnya. Dia tidak ingin ada orang lain yang tahu dan curiga dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini.
Ternyata temannya itu lebih hebat dari yang dia duga. Tidak perlu waktu lama bagi Julia untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Tok… tok… tok… “Permisi Nona.” Ujar petugas kebersihan sambil mengetuk pintu ruang kerja Julia.
“Silakan masuk.” Sahut Julia.
“Maaf Nona, ini informasi yang anda butuhkan.” Ucap orang itu sambil menyerahkan dokumen yang dia dapatkan.
“Tolong jelaskan.” Pinta Julia.
“Pertama terkait dengan dokumen cetak biru kapsul saktih. Kapsul itu bekerja dengan cara melakukan pemindaian ke seluruh tubuh untuk mengetahui nilai potensi yang dimiliki.”
“Syarat penggunaan kapsul saktih adalah adanya partikel Black Onyx Stone di dalam tubuh orang yang hendak di pindai. Pada prinsipnya alat ini akan beresonansi dengan energi partikel Black Onyx Stone yang tersebar di seluruh tubuh.”
“Kalau itu aku sudah tahu. Apa ada informasi penting lainnya?” Ucap Julia.
“Hasil pindai kapsul saktih tidak akan presisi jika terjadi dua hal, yaitu jika tidak terdeteksi adanya partikel Black Onyx Stone di dalam tubuh penggunanya, atau jika ada energi lain yang menjadi penghalang saat kapsul saktih melakukan pemindaian.”
Julia tersentak dengan informasi itu.
“Benar juga. Ternyata begitu.” Pikir Julia.
“Aku juga menemukan dokumen lain yang berkaitan dengan penggunaan kapsul saktih.”
“Apa itu?” tanya Julia.
“Coba nona lihat lembar berikutnya.”
---
[Kode Pindai: 00030]
[Nama Pengguna: Rama Ghuntara]
[Ras : Tidak Terdeteksi]
[Akurasi : 0%]
[Energi Onyx : Tidak Terdeteksi]
[Sebaran Energi : Tidak Terdeteksi]
[Pusat Sebaran : Tidak Terdeteksi]
[Potensi Kemampuan : Tidak Terdeteksi]
[Bahaya! Bahaya! Bahaya!]
[Energi Berbahaya Terdeteksi!]
---
“Kenapa datanya seperti ini?!” Pikir Julia sambil terkejut.
“Sial, aku tidak sempat melihat data ini sebelumnya karena terburu-buru menuju Puncak Mandalawangi.” Sambungnya.
“Apa ada informasi tentang energi berbahaya yang dimaksud sistem ini?” Tanya Julia.
“Mohon maaf, aku tidak bisa menemukan informasi tersebut. Sepertinya kapsul saktih mengaktifkan modul perlindungan diri dan menghentikan fungsinya sesaat setelah pemindaian selesai dilakukan.”
“Ini jauh lebih rumit dari yang ku bayangkan. Bagaimana dengan informasi kedua yang ku minta?” Tanya Julia.
“Undangan ke 30 seharusnya diterima oleh anak Direktur Perusahaan Bintang Jaya. Tapi karena masalah kejiwaan, dia tidak dapat mengikuti project ini.”
“Gangguan kejiwaan?” Tanya Julia Penasaran.
“Betul nona. Orang itu mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan sekitar satu minggu sebelum batas akhir penerimaan anggota project, dan….”
Kring…. Kring…. Kring…. Kata-kata orang itu terhenti karena suara dering telepon di ruangan Julia.
__ADS_1
{Sekretaris}
Nama itu muncul di layar telepon.
“Ssst….” Julia memberi tanda kepada orang itu untuk tidak bersuara.
“Ini adalah telepon dari sekretaris Pandawa.” Sambungnya.
“Halo, ini Julia. Ada yang bisa dibantu nona?” Tanya Julia dengan sopan.
“Ternyata kamu masih di sini. Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Para Pandawa datang dan tiba-tiba saja mencarimu. Sepertinya mereka sedang sangat marah.” Ucap sekretaris dengan nada tinggi.
“Maaf nona, tenanglah dulu. Aku tidak mengerti.” Julia kembali membalas dengan ucapan yang sangat sopan.
“Huft, begini Julia. Apapun yang sedang kamu lakukan saat ini, sepertinya telah diketahui oleh Para Pandawa. Mereka meminta kamu untuk datang menghadap. Raut wajah mereka terlihat sangat kesal dan penuh amarah.”
“Walapun kamu adalah anak emasnya Pandawa, tapi kamu tetap harus memperhatikan tindak tanduk mu Julia. Kamu tahu sendiri kan apa akibatnya jika berani membuat mereka marah.”
“Sudahlah, segera datang ke sini dan temui Para Pandawa. Jangan sampai membuat mereka semakin kesal.”
“Baik, terima kasih banyak atas perhatianmu.” Jawab Julia.
“Sepertinya mereka telah mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Pergilah dulu, aku akan merapikan semua dokumen ini dan segera menemui mereka.” Ucap Julia kepada petugas kebersihan itu.
“Baik, jika begitu aku pergi dulu.”
“Terima kasih.” Ucap Julia.
Julia tiba di depan pintu ruangan Para Pandawa sekitar 10 menit setelah menerima panggilan telepon. Kedatangannya di sambut oleh sekretaris Para Pandawa dengan wajah cemas.
“Julia, kenapa kamu lama sekali sih? Para Pandawa telah menunggu mu dari tadi. Bahkan Pandawa kelima yang jarang hadir pun baru saja masuk ke dalam ruangan. Jarang sekali Lima Pandawa berkumpul seperti ini.”
“Maaf Nona, aku sangat gugup saat menerima telepon mu tadi. Aku berusaha menenangkan diri ku dulu.” Jawab Julia.
“Kalau begitu aku akan hubungi Para Pandawa.”
“Baik nona.” Jawab Julia singkat.
“Maaf tuan, Nona Julia telah hadir…. Baik tuan….” Ucap Sekretaris saat menghubungi Para Pandawa.
“Pandawa kedua meminta anda untuk masuk.” Ucap sekretaris masih dengan wajah cemas.
“Tenang saja nona. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkan ku.” Ucap Julia.
“Baiklah, silakan masuk Julia.” Ucap Sekretaris sambil membuka pintu ruangan Pandawa.
Julia memasuki ruangan tersebut dengan perlahan. Setelah Julia masuk, pintu ruangan kembali tertutup rapat.
Ruang pandawa jauh lebih luas dibandingkan dengan ruang kerja milik Julia. Ruangan itu ada di lantai paling atas gedung Pandawa Group. Tidak ada ruangan lain selain ruangan Para Pandawa di lantai itu, sehingga luas ruangan Para Pandawa meliputi luas lantai secara keseluruhan.
Ruangan itu memiliki desain yang sangat cantik. Di dalamnya terdapat banyak sekali ornamen dan karya seni bernilai jual tinggi. Fasilitas di ruangan itu sangat lengkap. Ada kamar mandi, area untuk beristirahat bahkan terdapat kebun kecil yang terawat dengan baik.
Ruangan Para Pandawa juga menyediakan tempat khusus untuk berdiskusi yang didalamnya terdapat meja besar berbentuk oval dengan enam buah kursi yang hanya boleh digunakan oleh Para Pandawa saja. Sedangkan untuk bertemu dan berdiskusi dengan mitra kerja, Gedung Pandawa Group memiliki ruang rapat khusus di lantai yang berbeda.
Hal yang paling menonjol di dalam ruangan Para Pandawa adalah area di ujung ruangan yang terlihat lebih tinggi di bandingkan area lainnya. Di area itu terdapat lima buah kursi kayu besar yang nampak mewah dan megah. Area itu adalah singgasana Para Pandawa.
Julia melihat Para Pandawa duduk di singgasananya masing-masing. Dia berjalan perlahan mendekati Para Pandawa. Saat Julia berada tepat di depan singgasana Para Pandawa, mereka berlima berdiri dan bersama-sama mendekati Julia.
-
-
-
-
-
-
-
“Selamat Datang Nona…!” Para Pandawa pun berlutut di hadapan Julia.
__ADS_1
***