Project Wanara

Project Wanara
Chapter 28. Windhi Ayundari (Last Part) - Cerita Dibalik Senyuman


__ADS_3

Ayu berusaha untuk terus mempertahankan fokus dan konsentrasinya dalam melakukan latihan pernapasan. Hanya saja, semakin keras usahanya untuk tetap fokus, semakin sulit untuk melakukannya.


Suhu dingin terus menerpa. Tubuhnya semakin sulit untuk dikendalikan. Hanya untuk melakukan pernapasan biasa saja terasa sangat menyulitkannya. Ayu kehilangan kesadaran dan jatuh terbaring di lantai.


“Darma, hentikan pelatihan area keempat!” Teriak Julia mengejutkan Darma.


Darma yang sedang tidak memperhatikan area keempat pun terkejut dengan teriakan Julia, “Apa yang terjadi?”.


“Jangan banyak tanya, hentikan saja!” Julia kembali berteriak sembari berlari meninggalkan ruang pengawasan dengan sangat cepat. Dia berlari menuju area keempat untuk menyelamatkan nyawa Ayu.


Setibanya di ruang pelatihan area keempat, Julia segera mengeluarkan kepompong energinya untuk menyelamatkan nyawa Ayu. Saat itu seluruh tubuh Ayu telah kaku dan membeku. Napasnya berat dan terasa sangat sulit. Detak jantungnya juga berantakan.


“Julia, apa Ayu baik-baik saja?” tanya Darma dari balik pengeras suara.


“Beberapa detik saja kita terlambat, nyawa Ayu tidak lagi dapat diselamatkan.” Jawab Julia.


“Apa??!!” Teriak Darma yang sangat terkejut dengan jawaban Julia.


“Saat perubahan suhu ekstrim terjadi, Ayu mendapat gejala hipotermia fase pertama. Dia mengalami hipotensi ortostatik dan disorientasi yang membuat kemampuan otaknya melemah dan gagal mengendalikan tubuhnya sendiri. Tubuhnya menggigil kedinginan dan napasnya pasti sangat cepat kala itu.” Julia memberi penjelasan.


“Forstbite atau radang dingin adalah tanda terjadinya komplikasi pada tubuh Ayu. Saat itu dia telah memasuki hipotermia fase kedua. Ku kira dia akan mampu mengatasi masalah tersebut dengan latihan pernapasan yang dia lakukan. Maka dari itu ku biarkan dia untuk melanjutkan latihan ini. Tapi ternyata aku salah, Ayu gagal menstabilkan kondisi tubuhnya dan malah memperburuk keadaan. Ayu memasuki fase ketiga hipotermia.”


“Jika saja kita terlambat, Ayu akan mengalami edema paru dan gagal jantung yang akan membuat nyawanya hilang seketika.” Julia mengakhiri penjelasannya.


Darma terdiam dan tidak dapat berkata-kata. Dia sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Julia. Darma sama sekali tidak menyangka bahwa nyawa Ayu akan terancam pada latihan kali ini.


“Tidak perlu khawatir, aku telah menggunakan kepompong energi dan kini Ayu telah melalui masa kritisnya. Kita masih harus mengawasi anggota tim lain. Jangan sampai kehilangan fokus. Hal tersebut dapat membahayakan mereka.” Ujar Julia mencoba menenangkan Darma.


“Kamu benar Julia. Maaf aku sedikit terbawa emosi. Ku serahkan Ayu pada mu. Biar aku yang mengawasi anggota tim lainnya.” Darma menanggapi Julia dan kembali mengawasi perkembangan latihan anggota tim lain.


Kemudian Julia pergi meninggalkan ruang latihan area keempat bersama kepompong energi yang melayang mengikutinya. Julia hendak membawa Ayu ke ruang medis untuk melakukan perawatan lanjutan.


Setibanya di ruang medis, Julia menghilangkan kepompong energi dan meletakkan Ayu di ranjang ruangan tersebut. Julia memasang infus untuk menstabilkan kondisi Ayu dengan dibantu oleh tim medis yang berjaga disana.


Julia mengambil kursi dan duduk di samping Ayu untuk berjaga-jaga dan memastikan agar tidak terjadi lagi sesuatu yang dapat membahayakan nyawa Ayu.


Sebenarnya kepompong energi milik Julia telah membantu Ayu melewati masa krisis dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja Julia memang tipe orang yang tidak ingin mengambil resiko jika berkaitan dengan nyawa orang lain yang tidak berdosa. Cukup lama Julia menemani Ayu. Tapi Julia tidak mengeluh sama sekali.


Kurang lebih 2 jam telah berlalu. Akhirnya Ayu pun sadarkan diri.


Ngiiiiiiinggg……

__ADS_1


Saat Ayu membuka mata, telinganya berdenging hebat, pandangannya kabur dan kepalanya terasa sakit.


“Aaghh…. Apa yang terjadi?” Tanya Ayu sambil memegang kepalanya.


“Tenanglah Nona Ayu, anda akan baik-baik saja.” Ujar Julia berusaha menenangkan Ayu.


“Apa yang terjadi Kak Julia?” Ayu kembali melontarkan pertanyaan serupa kepada Julia.


“Anda mengalami hipotermia fase tiga dan hampir saja kehilangan nyawa. Tapi anda tidak perlu khawatir, kondisi anda saat ini telah jauh lebih baik.” Julia menanggapi pertanyaan Ayu.


“Terima kasih banyak Kak. Kamu telah menyelamatkan nyawaku.” Ujar Ayu.


“Tidak perlu sungkan, Nona. Ini sudah menjadi kewajiban saya.” Ucap


Julia.


“Aku pikir latihan kali ini akan sangat mudah. Aku tidak mempersiapkan diri dengan baik dan akhirnya malah jadi menyusahkanmu, Kak Julia.” Ayu tertunduk sedih.


“Sudahlah tidak perlu dipikirkan.” Julia memberi tanggapan dengan senyum indah di wajahnya.


“Jadi, latihan kali ini aku gagal ya?” tanya Ayu dengan masih tertunduk sedih.


“Anda tidak gagal, Nona. Anda hanya belum berhasil menyelesaikan pelatihan ini sampai akhir.” Ujar Julia.


“Hari ini mungkin aku gagal, tapi latihan besok aku pasti akan berhasil.” Ucap Ayu dengan optimis.


“Saya mohon maaf. Sepertinya besok anda juga tidak dapat melanjutkan latihan. Anda masih harus beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh anda, Nona.” Julia menyampaikan kalimatnya dengan hati-hati.


Ayu tersentak dan tidak terima dengan pernyataan yang disampaikan oleh Julia. Dia merasa sanggup untuk melanjutkan pelatihan.


“Kenapa Kak?!” Sentak Ayu.


“Sekarang aku memang terlihat menyedihkan. Tapi dengan istirahat sebentar saja aku pasti sudah cukup siap untuk melanjutkan pelatihan!” Ayu melanjutkan kata-katanya.


“Saya mohon maaf, Nona. Kondisi anda belum stabil. Setidaknya anda masih butuh istirahat penuh sehari lagi untuk memulihkan tubuh anda saat ini.” Ujar Julia.


Ayu mencabut jarum infus di tangannya dan berteriak-teriak, “Kalau begitu keluarkan kekuatanmu. Sembuhkan dan pulihkan aku dengan kekuatanmu itu, Kak Julia.”


Julia menarik napas panjang dan memberi penjelasan kepada Ayu.


“Anda terlalu bergantung dengan kekuatan penyembuhan ku. ‘Tenang saja, ada Julia yang akan menyembuhkan ku’. Pasti itu yang anda pikirkan. Apa aku salah, Nona?”

__ADS_1


“Mungkin anda tidak menyadarinya, tapi itu adalah salah satu faktor yang membuat anda tidak dapat menyelesaikan latihan kali ini dan juga membuat anda tidak dapat mengikuti latihan besok.”


Seketika Ayu terdiam.


“Anda tidak bisa terus menerus mengandalkan orang lain, Nona. Ada suatu masa dimana anda harus berjuang seorang diri. Project ini tidak hanya melatih potensi dan mengajarkan cara untuk menjadi lebih kuat secara fisik. Tapi kita juga melatih kedewasaan berpikir kalian. Itu adalah yang paling penting.”


“Kekuatan luar biasa yang kalian miliki jika tidak diimbangi dengan kedewasaan berpikir, maka akan menjadi senjata yang paling mengerikan di dunia ini. Orang-orang yang menghancurkan dunia ini adalah orang-orang pintar dengan potensi yang hebat. Tapi mereka tidak memiliki kedewasaan berpikir. Ego, ***** dan keserakahan mengendalikan diri mereka. Kami tidak ingin kalian menjadi seperti mereka. Kami ingin menciptakan orang-orang yang dapat melindungi dunia, setidaknya melindungi orang-orang terdekat kalian.”


“Maafkan aku Kak Julia.” Ayu pun meminta maaf dan menanggapi perkataan Julia. Dia juga menceritakan tentang masa lalunya. Hal yang membuat dia menjadi seperti ini.


“Kedua orang tua ku adalah orang yang sangat protektif. Sejak kecil aku tidak bisa hidup dengan bebas. Segala sesuatunya selalu mereka atur. Mereka khawatir aku akan terluka jika tidak mengikuti aturan yang mereka buat. Awalnya aku menerima dan mengikuti semua aturan mereka. Hingga suatu ketika aku merasa bahwa mereka sudah sangat berlebihan dan keterlaluan.”


“Saat itu aku masih sekolah dasar dan ingin sekali bermain bersama teman-temanku. Aku disekolahkan di tempat yang sangat elit dan ternama. Sama sekali tidak ada waktu bagiku untuk bermain di sekolah. Sepulang sekolah juga aku hanya diberi waktu kurang lebih 1 jam untuk bermain di luar rumah, itu pun hanya di sekitar rumah saja. Selebihnya aku hanya boleh bermain di dalam rumah. Memang mereka menyediakan banyak sekali fasilitas permainan untukku, tapi jelas itu berbeda. Sehingga aku memanfaatkan waktu yang kumiliki dan mengajak teman-temanku untuk bermain.”


“Saat sedang asik bermain, tanpa sengaja aku terjatuh dan lutut ku berdarah. Itu adalah kesalahanku karena tidak berhati-hati. Aku pun diantar pulang ke rumah oleh salah satu temanku. Tapi siapa sangka kedua orang tua ku


murka saat melihat kondisi ku. Mereka menganggap bahwa luka yang ku dapatkan karena kesalahan temanku itu. Padahal jelas itu kesalahanku sendiri, temanku justru sudah berbaik hati membantu dan mengantar ku pulang.”


“Kemudian kedua orang tuaku menghardik dan mencaci temanku itu. Tidak berhenti disitu, mereka juga memukul dan menamparnya beberapa kali. Aku menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Aku mencoba menghentikan perlakuan kedua orang tua ku itu. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Temanku jatuh dan pingsan dengan banyak luka memar di tubuhnya.”


“Lalu beberapa orang penjaga datang dan membawa temanku pergi. Sepertinya mereka membawa pulang temanku itu. Tidak lama berselang orang tua temanku itu datang ke rumah kami dan menangis meraung-raung. Mereka bilang anaknya telah meninggal dunia akibat dari perlakuan yang dia terima. Tapi kedua orang ku sama sekali tidak peduli. Mereka memanggil penjaga untuk mengusirnya.”


“Kedua orang tuaku adalah orang yang terpandang dan kaya raya. Tidak ada yang berani melawan kehendak mereka. Pihak kepolisian yang mengusut kasus tersebut pun menghentikan penyelidikan dan membuat pernyataan bahwa temanku itu terluka dan meninggal karena tabrak lari. Kedua orang tua temanku tidak dapat berbuat banyak, mereka hanya mampu menangis dan berteriak meminta keadilan. Tapi keadilan tidak pernah berpihak pada orang kecil. Tidak ada satu pun yang peduli dengan teriakan dan tangisan mereka. Hingga akhirnya sang ibu menjadi gila karena frustrasi dan sang ayah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.”


“Kejadian itu benar-benar membuatku terpukul. Aku juga merasa bersalah atas kematian temanku itu.”


“Setelah hal itu terjadi, aku tidak lagi bersekolah di tempatku sebelumnya. Aku belajar dari rumah. Orang tuaku mendatangkan guru-guru terbaik untuk meningkatkan kemampuan akademis ku.”


“Sejak saat itu aku tidak lagi memiliki satupun teman. Selain karena kedua orang tuaku yang tidak membiarkan ku meninggalkan rumah tanpa ijin mereka, hingga saat ini aku juga masih belum bisa melupakan kematian temanku itu. Hal tersebut membuatku takut untuk mencari teman baru.”


“Namun suatu hari aku mendapatkan undangan untuk ikut serta dalam Project ini. Saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Tapi aku mengerti satu hal, penyelenggara Project ini adalah orang-orang yang memiliki kuasa lebih besar dibandingkan dengan kedua orang tuaku dan membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain memberiku ijin.”


“Project ini adalah awal mula kehidupan ku yang baru. Di sini aku memiliki banyak teman yang sangat peduli padaku. Saat kaki ku terluka di pendakian menuju Puncak Mandalawangi, Kak Rama terlihat sangat peduli dengan


keadaan ku. Kak Yuna juga selalu menemani ku kala itu dan Pak Darma dengan sekuat tenaga menggendong ku hingga mencapai puncak.” Ayu berusaha keras untuk tidak menangis.


“Saat pertarungan manipulasi energi, Kak Galih yang sejak awal ternyata telah menguasainya dengan baik, tidak melakukan serangan apapun kepadaku. Dia khawatir aku akan terluka jika dia menyerang ku. Dia juga sangat peduli dengan perkembangan yang aku alami.”


“Terutama kamu Kak Julia. Entah sudah berapa kali kamu menolong ku. Saat kaki ku terluka, saat aku gagal menjaga pertahanan dan saat aku hampir kehilangan nyawa seperti sekarang. Kamu selalu ada untuk membantu ku, agar aku dapat terus berjuang dan menjadi lebih kuat.”


“Aku tidak ingin menyerah, Kak Julia. Aku ingin melanjutkan latihan ku untuk menjadi lebih kuat. Aku ingin memiliki kekuatan yang lebih besar untuk dapat melindungi teman-temanku.” Air mata Ayu kini tidak lagi dapat terbendung.

__ADS_1


Begitu pun dengan Julia yang sedari tadi mendengarkan cerita Ayu. Air matanya ikut mengalir. Julia ikut merasakan kesedihan dan penderitaan yang selama ini telah Ayu alami. Namun Julia segera menyeka air matanya itu dan memeluk erat Ayu untuk membantu meringankan beban yang sedang Ayu rasakan.


***


__ADS_2