Project Wanara

Project Wanara
Chapter 70. Dunia Lain


__ADS_3

Suara mendenging masih terdengar jelas di telinga. Rama membuka mata dan mengernyitkan alis saat melihat pemandangan yang sangat asing baginya.


“Dimana ini? Bukankah seharusnya aku masih di tempat pertandingan?”


Rama berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Langkah demi langkah diayunkan hingga akhirnya terhenti. Rama melihat sesuatu yang sepertinya tidak asing. Dia berusaha mengingat-ingat dan kemudian tersentak. Pemandangan yang ada dihadapannya saat ini adalah pemandangan yang pernah dia lihat dimimpinya.


Mimpi saat pertama kali Rama melihat sosok Asoka.


“Apa jangan-jangan ini adalah dunianya para Jinn?”


Wush… Wush… Wush… Tiba-tiba angin berhembus kencang dan terdengar suara memekik yang cukup keras.


Rama terkejut dan berusaha menyembunyikan diri. Rupanya suara pekikan tadi berasal dari sejenis hewan seperti burung yang sangat besar dengan kuku dan paruh yang tajam serta terbang di atas kepala Rama. Tidak lama kemudian burung itu pun turun dan berjalan dengan kedua kakinya.


Rama semakin terkejut. Ternyata burung tadi dapat berdiri dan memiliki tubuh seperti manusia. Hanya saja dia memiliki kedua sayap, paruh dan kuku tajam, serta sekujur tubuh yang diselimuti bulu seperti burung.


“Area aman.” Ujar burung itu.


“Bagus. Ayo kita kembali.” Jawab makhluk yang juga bertubuh seperti manusia, namun memiliki kepala mirip banteng dengan tanduknya yang panjang.


“Sial, apa mereka yang disebut siluman? Aku harus segera pergi dari sini.” Rama berusaha menghindari kedua Jinn itu dan pergi secepat mungkin. Tapi sialnya, tanpa sengaja langkah Rama mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh manusia burung tadi. Tanpa dia sadari, manusia burung itu kini ada dihadapannya.


Manusia burung itu sangat tinggi dan besar. Tinggi tubuhnya dua kali lipat tinggi tubuh Rama. Lalu Rama mendongakkan kepala dan melihat wajah manusia burung yang sedang menatapnya tajam.


“Tunjukkan stigma mu?” Manusia burung pun bertanya kepada Rama.


Rama terdiam karena bingung. Dia sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan manusia burung itu.


“Hey, apa kamu tuli?” Teriak manusia berkepala banteng yang datang mendekati Rama.


“Apa itu stigma?” Tanya Rama kebingungan.


“Jangan bercanda…!” Manusia berkepala banteng kembali berteriak-teriak.


“Jika kamu menolak, aku akan menggunakan cara kasar.” Ujar manusia burung yang kemudian mencengkeram kepala Rama dengan sangat keras dan mengalirkan energi yang cukup besar.


Argghhhh….. Rama berteriak dengan sangat kencang. Luka bakar yang dulu sempat muncul saat Rama menggunakan Cincin Onyx pun perlahan kembali terlihat. Luka bakar itu menjalar ke seluruh tubuh Rama dan membentuk sebuah pola. Hingga akhirnya muncul pola baru di bagian dahi Rama. Pola itu membuat manusia burung terkejut dan menghentikan tindakkannya.


“Tolong hukum kami atas kelancangan ini, Tuan.” Ucap manusia burung dengan sangat sopan sambil berlutut dihadapan Rama.

__ADS_1


Manusia banteng yang juga terkejut bergegas menghampiri manusia burung dan ikut berlutut dihadapan Rama.


“Apa yang terjadi?” Rama semakin bingung. Tapi Rama berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk memahami situasi.


“Kalian berdua berdirilah.” Ujar Rama dengan nada suara rendah untuk memberi kesan berwibawa.


“Kami tidak layak berdiri dihadapan Anda, Tuan. Tolong hukum kami atas kelancangan yang telah kami perbuat tadi.” Ujar manusia banteng.


“Kenapa aku harus memberi hukuman. Bukankah kalian hanya menjalankan tugas?” Rama berusaha menggali informasi.


“Terima kasih atas kerendahan hati Anda.” Ucap manusia burung.


“Sudahlah. Siapa nama kalian?”


“Saya Prawa.” Jawab manusia burung.


“dan saya Raksa” Lanjut manusia banteng.


“Prawa dan Raksa silakan berdiri. Saya akan melanjutkan perjalanan.” Ujar Rama sambil membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Prawa dan Raksa. Rama terlihat tergesa-gesa dan ingin segera kembali ke tempat asalnya.


“Tunggu tuan. Siapa sebenarnya Anda?” Tanya Prawa.


“Eh…?” Rama terdiam dan kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Lancang sekali. Apa menurut kalian keturunan Azazil bisa mati semudah itu?” Ujar Rama meninggikan suara.


“Bangsat, berani sekali kamu masuk ke wilayah ini.” Ucapan Raksa berubah kasar dan kembali berteriak-teriak.


Buaakk… Prawa menyerang Rama tanpa berbicara sepatah kata pun. Lalu Raksa pun bergerak dan ikut melakukan serangan.


“Maaf…. Tadi aku asal bicara saja.” Teriak Rama sambil terus bertahan dari serangan-serangan yang dilakukan Prawa dan Raksa.


Mereka terus menyerang Rama dan tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Prawa berusaha merobek tubuh Rama menggunakan kuku tajamnya. Sedangkan Raksa mengeluarkan palu gada yang dapat menghancurkan batu besar hanya dengan satu ayunan saja.


Rama yang sedari tadi bertahan pun tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan cakar dan energi petirnya.


Pertarungan sengit pun terjadi. Rama mengayunkan tangan dan menciptakan lengkungan energi yang sangat tajam dari cakar-cakarnya itu. Hanya saja Raksa memiliki tubuh yang sangat kuat sehingga dapat menghentikan serangan Rama dengan mudah. Disaat yang bersamaan, Prawa kembali melakukan serangan. Syukurlah Rama masih sempat menghindari serangan Prawa. Namun sialnya, Palu Gada Raksa menghantam tubuh Rama dengan telak dan menghempaskannya.


Tulang-tulang Rama terasa remuk saat Palu Gada itu menghantam tubuhnya. Tapi aneh, rasa sakit yang dirasakan oleh Rama pun hilang dengan cepat. Bahkan dia merasa kalau tubuhnya kini kembali pada kondisi terbaik.

__ADS_1


Tanpa berpanjang lebar, Rama mengeluarkan kekuatan petirnya untuk menyambar Prawa dan Raksa. Sambaran petir itu begitu kuat hingga membuat Prawa dan Raksa langsung jatuh terkapar.


“Gila, apa sebelumnya kekuatanku memang sebesar ini?” Pikir Rama kebingungan.


Serangan Rama tadi memberi dampak yang sangat buruk bagi Prawa dan Raksa, tapi mereka masih dapat menjaga kesadarannya. Kemudian Rama pun berjalan mendekat untuk melihat kondisi mereka berdua.


“Keturunan raja iblis memang luar biasa. Tapi sampai kapan pun, kami tidak akan sudi mengakui mu sebagai bagian dari bangsa kami. Hanya tuan Asoka yang layak mendapat penghormatan kami.” Ujar Prawa lirih.


“Jadi ini wilayahnya Asoka?” Tanya Rama.


“Makhluk terkutuk! Berhenti mempermainkan kami!” Teriak Raksa.


“Jawab saja pertanyaanku…!” Ujar Rama dingin sambil mengeluarkan sepasang sayap hitam dan memancarkan energi gelap yang dapat mendestruksi energi lawan. Tanpa sadar sepasang tanduk hitam legam pun muncul di kepala Rama.


Prawa dan Raksa terbelalak. Sosok itu membuat mereka terkejut. Sekilas mereka seperti melihat wujud Asoka.


“Tuan Asoka….” Ucap Prawa lirih.


“Aku bukan Asoka.”


Prawa dan Raksa saling membantu satu sama lain untuk dapat berdiri tegak.


“Lalu, apa kamu memang keturunan Azazil?” Tanya Prawa.


“Aku minta maaf. Tadi aku benar-benar asal bicara dan membuat kalian salah paham.”


“Apa maksudmu?” Tanya Raksa.


“Aku bukan anak keturunan Azazil.”


“Wujud dan kekuatan itu adalah milik Tuan Asoka. Apa Anda adalah anak keturunannya?” Tanya Prawa.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi Sebenarnya aku bukan bagian dari bangsa kalian. Aku adalah manusia.”


“Apa?!” Prawa dan Raksa kembali dibuat terkejut.


“Jika Anda adalah manusia dan memiliki kekuatan yang mirip dengan Tuan Asoka, jangan-jangan Anda adalah Tuan Rama?” Prawa kembali melontarkan pertanyaan.


“Dari mana kalian tahu namaku?” Kini Rama yang dibuat terkejut.

__ADS_1


“Salam hormat dan selamat datang di dunia kami.” Prawa dan Raksa kembali berlutut di hadapan Rama.


***


__ADS_2