Project Wanara

Project Wanara
Chapter 36. Dirga Prayuda (Part 3) - Kemunculan Energi Gelap


__ADS_3

Walaupun metode pertahanan yang ditunjukkan Dirga sedikit berbeda dengan anggota tim lain, dia berhasil menyelesaikan latihan hari pertama dengan sangat baik. Bagi Dirga, menyerang adalah bentuk pertahanan terbaiknya.


Keesokan harinya….


Dirga sangat antusias untuk melakukan latihan pernapasan. Dia telah memahami bagaimana konsep pengembangan teknik pernapasan dasar. Latihan di area keempat adalah kesempatan terbaik baginya untuk meningkatkan kemampuannya saat ini.


Dirga memasuki ruangan pelatihan area keempat dengan semangat. Sebelum pelatihan dimulai, Julia menjelaskan tata cara pelaksanaan latihan di area ini. Dirga pun memahami semua penjelasan dengan baik dan segera menempati area yang telah ditetapkan. Dia duduk bersila di area tersebut, memejamkan mata, dan memulai latihan pernapasan.


Dirga tidak hanya dapat memicu proses regenerasi sel menggunakan teknik pernapasannya, tapi kini dia juga mampu mengendalikan proses tersebut, walaupun teknik pengendaliannya masih sangat lemah.


Dirga mendapatkan banyak luka pada pelatihan hari pertama. Tim medis memang telah melakukan perawatan untuk mengobati luka-luka itu, tapi proses penyembuhan luka tidaklah sebentar. Ini adalah kesempatan bagi Dirga untuk meningkatkan kemampuannya dalam melakukan regenerasi sel dan menyembuhkan luka-luka itu menggunakan kemampuannya sendiri.


Dirga merasa sangat nyaman tiap kali melakukan latihan pernapasan. Setiap tarikan napasnya mengalirkan energi ke seluruh tubuh. Setiap hembusan napasnya membuat hati menjadi lebih tenang. Terlebih lagi, dia dapat memperbaiki kerusakan sel-sel tubuh menggunakan teknik pernapasan itu.


Dirga masih terus menikmati latihan pernapasan hingga tiba waktunya suhu ruangan berubah. Perlahan suhu ruangan meningkat dan menjadi sangat panas.


Dirga dapat mengatasi perubahan suhu itu dengan sangat baik. Walaupun tubuhnya tetap dipenuhi dengan peluh, tapi dia mampu mengendalikan keseimbangan energi pada tubuhnya dengan mudah. Saat kondisi tubuh telah stabil dan dapat beradaptasi dengan baik sehingga suhu panas tidak lagi menjadi kendala, Dirga kembali berlatih untuk meningkatkan kemampuan regenerasi sel.


Beberapa waktu kemudian, suhu ruangan berubah drastis dan menjadi sangat dingin dalam waktu singkat. Dirga cukup terkejut dengan perubahan yang terjadi, tapi dia dapat mengatasinya dengan sangat cepat sehingga kini tubuhnya pun dapat kembali beradaptasi dengan suhu di ruangan tersebut. Dirga tidak menyia-nyiakan sedikit waktu pun. Dia kembali melatih kemampuan regenerasi sel nya. Pelatihan yang dilakukan Dirga saat ini sangatlah efisien. Perubahan suhu ekstrim yang terjadi sama sekali tidak menyulitkan nya bahkan hingga sesi pertama latihan pernapasan berakhir dan tiba waktunya beristirahat.


Dirga memanfaatkan 30 menit waktu istirahatnya untuk melanjutkan latihan pernapasan dan 30 menit sisanya untuk makan dan beristirahat. Baginya waktu adalah pedang. Jika dapat dimanfaatkan dengan baik, pedang dapat menjadi senjata yang mematikan. Jika pengguna pedang tidak memiliki keterampilan yang baik, maka pedang yang dia pegang justru dapat melukai dirinya sendiri. Begitu juga dengan waktu. Setiap manusia diberikan waktu yang sama. 60 detik dalam setiap menitnya. 60 menit dalam setiap jamnya. 24 jam setiap harinya. Baik buruknya kualitas seseorang, tergantung dari bagaimana mereka memanfaatkan waktu yang mereka miliki.


Setelah waktu istirahat berakhir, Dirga kembali menempati posisi dan segera memulai latihan pernapasan.


Perubahan suhu pada sesi kedua akan terjadi lebih cepat, yaitu setiap 30 menit sekali. Dimulai dari suhu dingin yang berubah menjadi panas. Hal itu terjadi sebanyak tiga siklus, sehingga normalnya pelatihan sesi kedua hanya akan dilakukan selama tiga jam saja. Tapi durasi waktu tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anggota tim.


Selama tiga jam latihan pernapasan, Dirga sama sekali tidak mengalami kesulitan. Setiap kali suhu ruangan berubah, Dirga dapat beradaptasi dengan cepat. Dia bahkan tidak menganggap perubahan suhu itu sebagai kendala dan lebih fokus kepada melakukan peningkatan kemampuan regenerasi sel yang dia miliki saat ini. Pelatihan pun berakhir tepat pukul 15.00 atau jam tiga sore.


Teeeet….


Pengeras suara berbunyi yang artinya pelatihan telah berakhir. Tapi tidak ada ucapan selamat atau kata-kata penutup sedikit pun dari Darma dan Julia. Hal itu membuat Dirga sedikit ragu, apakah pelatihan benar-benar telah berakhir. Tapi keraguan nya itu terjawab saat suhu ruangan kembali normal dan pintu ruangan pelatihan terbuka dengan sendirinya.


“Sepertinya pelatihan memang sudah berakhir.” Pikir Dirga sambil beranjak dari duduknya.


Tapi Dirga mencoba bertanya kepada Darma untuk memastikan hal tersebut.


“Pak Darma, apakah pelatihan telah berakhir? Kalau memang sudah berakhir, apa aku masih boleh melanjutkan pelatihan dengan perubahan suhu seperti tadi. Perubahan suhu itu sangat membantu peningkatan kemampuan ku, Pak” Tanya Dirga.


Tapi sayangnya, sama sekali tidak ada tanggapan, baik dari Darma maupun Julia.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang salah.” Pikir Dirga.


Walaupun tidak ada konfirmasi dari Darma dan Julia terkait dengan hasil latihan hari ini, tapi Dirga tahu kalau dia telah berhasil menyelesaikan pelatihan dengan baik.


Meskipun tidak mendapatkan apresiasi, Dirga sama sekali tidak merasa kecewa. Baginya peningkatan kemampuan diri jauh lebih penting dibandingkan dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Semakin sering kita mendengarkan pendapat orang lain terhadap diri kita sendiri, maka kita akan semakin sulit untuk berkembang. Sesekali mungkin memang kita perlu meminta pendapat orang lain, tapi bukan berarti kita harus menerima semua pendapat. Kita lebih memahami karakter dan kemampuan yang kita miliki dibandingkan dengan orang lain. Semua pendapat yang kita terima perlu disaring terlebih dahulu, pendapat mana yang bersifat membangun, dan pendapat mana yang mungkin malah menjerumuskan kita. Prinsip itu selalu dipegang teguh oleh Dirga.


Tepat saat Dirga melangkahkan kakinya keluar pintu ruang pelatihan, tubuhnya kaku, merinding dan bergetar hebat. Rasa takut yang teramat sangat menyelimuti tubuhnya. Dia merasakan energi gelap yang sangat luar biasa.


Kemudian Dirga menarik napas panjang, menggunakan teknik pernapasan, dan menyalurkan energi CORE yang dia miliki ke seluruh tubuh untuk dapat bertahan didalam pancaran energi yang mengerikan itu.


“Ini gila, apa yang terjadi?” Tanya Dirga yang masih merasakan kengerian energi tersebut, bahkan setelah Dirga menyelimuti tubuhnya sendiri menggunakan seluruh energi CORE yang dia miliki.


Pancaran energi itu membuat Dirga sangat penasaran. Dia berusaha mencari sumber munculnya pancaran energi tersebut. Perlahan dia berusaha untuk melangkahkan kakinya menuju sumber energi.


“Sial, hanya untuk berjalan saja rasanya sangat sulit.” Pikir Dirga.


Walaupun sangat sulit, rasa penasaran Dirga yang memuncak membuatnya harus memaksakan diri untuk berjalan dan mencari sumber kemunculan energi mengerikan itu. Langkah demi langkah terus dia ayun kan hingga tiba di satu titik dimana dia tidak bisa lagi melangkah maju disebabkan karena adanya kumparan energi yang sangat pekat. Dirga tidak memiliki cukup kemampuan untuk menembus kumparan energi tersebut.


“Payah, aku hanya bisa berjalan sampai sini saja.” Umpat Dirga kepada dirinya sendiri.


Dirga memang tidak bisa melangkah lebih jauh. Tapi dia dapat memprediksi arah kedatangan energi mengerikan itu. Kini dia berada di lorong yang memiliki persimpangan di ujung jalannya. Arah kiri persimpangan adalah jalan menuju area pelatihan kelima dan arah kanan persimpangan akan membawanya ke sebuah tempat yang belum dijelaskan oleh Julia dan Darma.


“Sejauh ini Julia memang banyak sekali memberi kejutan, tapi seharusnya saat ini dia dan Pak Darma sedang sibuk mengawasi pelatihan khusus yang masih berlangsung. Saat ini dia tidak akan memiliki waktu untuk membuat sesuatu yang mengerikan seperti ini.”


“Sibuk?” Dirga tersentak.


“Jika memang mereka sedang memperhatikan latihan khusus seluruh anggota tim, kenapa mereka tidak menanggapi selesainya pelatihan yang ku lakukan? Dan sepertinya akan sulit untuk membuat sesuatu yang mengerikan seperti ini saat pelatihan sedang berlangsung. Kalaupun ada sesuatu yang sedang mereka kerjakan secara rahasia, pasti akan dilakukan di waktu-waktu senggang dan tidak sedang bersama kami, baik langsung maupun tidak langsung.”


“Itu artinya hanya tersisa satu kemungkinan saja. Ada sesuatu dengan Rama. Energi mengerikan ini mungkin saja dikeluarkan olehnya.”


“Jika benar begitu, aku harus lebih waspada kepadanya. Dia mungkin lebih merepotkan dibandingkan Julia.” Pikir Dirga dengan menunjukkan raut wajah serius.


Tidak berapa lama kemudian, pancaran energi itu perlahan memudar dan menghilang. Saat pancaran energi menghilang, Dirga segera menghentikan aliran energi nya dan jatuh berlutut di lantai. Napasnya tersengal, keringat bercucuran dari kening nya, Dirga merasa sangat kelelahan.


“Sial… Energi ku terkuras habis hanya untuk bertahan di dalam pancaran energi yang mengerikan itu.” Ucap Dirga sambil tersengal. Kemudian Dirga kembali mengambil napas panjang dan berusaha untuk berdiri.


Dirga masih penasaran dengan energi mengerikan tadi. Setelah berhasil berdiri, Dirga berjalan perlahan dan tertatih-tatih menuju area kelima. Dia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi kepada Rama. Sesampainya di persimpangan, Dirga terkejut karena bertemu dengan Julia dan Rama yang sedang berjalan pergi meninggalkan area kelima.


“Tuan Dirga, apa yang anda lakukan?” Tanya Julia saat melihat Dirga.

__ADS_1


“Saat aku selesai latihan, aku merasakan energi besar yang sangat mengerikan. Aku sedang mencari sumber energi tersebut.” Dirga menjawab pertanyaan Julia dengan tenang sambil memperhatikan Rama yang sedang merangkul Julia karena kondisi tubuhnya yang lemah.


“Asik sekali ya Rama, kami sedang berlatih dan kamu malah rangkul-rangkulan dengan Julia.” Ucap Dirga dengan dingin.


“Hey Dirga… Jangan asal bicara!” Teriak Rama kepada Dirga dengan wajah yang merona karena malu.


“Sudahlah tidak perlu malu. Aku akan merahasiakan ini.” Ucap Dirga.


“Kurang ajar kau Dirga… Uhuk Uhuk…” Teriak Rama sambil terbatuk-batuk yang membuat Julia tersenyum kepadanya. Senyuman Julia membuat Rama salah tingkah.


“Aku benci adegan romansa seperti ini.” Ucap Dirga.


“Oh ya, aku bukannya tidak ingin membantu mu Rama, tapi aku tahu kamu lebih senang jika di rangkul oleh Julia, kan?” Ucap Dirga sambil mengedipkan matanya dan berbalik arah untuk pergi meninggalkan Julia dan Rama. Kata-kata itu membuat Rama semakin salah tingkah.


“Tunggu Tuan Dirga.” Ucap Julia.


Kalimat itu membuat Dirga terkejut dan segera menghentikan langkahnya. Detak jantungnya berdegup cepat, namun Dirga berusaha untuk terlihat tetap tenang.


“Selamat telah menyelesaikan pelatihan dengan baik. Tadi aku dan Pak Darma melihat bagaimana anda menghadapi tantangan di latihan pernapasan. Anda hebat, tuan.” Puji Julia kepada Dirga.


“Terima kasih Julia.” Ucap Dirga dengan tersenyum.


“Oh ya tuan, sepertinya besok anda tidak bisa melakukan pelatihan di area kelima. Ada beberapa kendala teknis pada mesin kapsul virtual. Maka dari itu, anda bisa melakukan latihan secara mandiri.” Ujar Julia kepada Dirga.


“Baiklah aku mengerti, Julia. Kalau begitu aku pergi dulu. Hey Rama, jangan macam-macam dengan Julia.” Ujar Dirga.


“Kamu pikir aku pria seperti apa?” Sahut Rama masih dengan wajah merona yang diikuti dengan senyuman Dirga dan Julia.


Dirga meninggalkan mereka berdua dengan hati tenang. Tapi hal tersebut kembali membuat kecurigaan Julia semakin menguat. Julia merasa ada sesuatu yang aneh dengan tingkah laku Dirga.


“Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.” Ucap Julia dengan lirih.


“Apa maksud mu?” Tanya Rama yang mendengar perkataan Julia.


“Eh, tidak ada maksud apapun kok. Mari kita pergi tuan.” Julia kembali memberi tanggapan sambil tersenyum manis.


Dirga pergi dengan sejuta pertanyaan. Julia pergi dengan sejuta kecurigaan. Sedangkan Rama pergi dengan sejuta kebahagiaan.


***

__ADS_1


__ADS_2