Project Wanara

Project Wanara
Chapter 24. Windhi Ayundari (Part 1) - Mesin Lontar dan Boneka Kayu


__ADS_3

Hari berikutnya, pelatihan khusus hari pertama bagi seluruh anggota tim project wanara pun dimulai. Pelatihan akan dilakukan selama 5 hari di 5 area berbeda.


Seperti yang telah ditetapkan pada hari sebelumnya, pelatihan khusus akan diawali dengan Ayu melatih serangan jarak dekat, Galih melatih serangan jarak jauh, Dirga pertahanan, Rama pernapasan dan Yuna masuk ke dunia virtual.


Seluruh anggota tim telah berkumpul di aula untuk bersama-sama menuju ke area pelatihan masing-masing.


Julia membuka pelatihan khusus hari pertama, “Selamat pagi tuan dan nona. Sekarang kita akan menuju tempat pelatihan. Kalian akan berlatih sesuai dengan aturan yang kemarin telah saya jelaskan.”


“Saya harap tuan dan nona telah mempelajari hasil pertarungan kemarin dan dapat memperbaiki kekurangan yang tuan dan nona miliki di pelatihan khusus ini.”


“Selama pelatihan berlangsung, saya dan Pak Dirga akan berada di ruang pengawasan sehingga kami dapat memantau perkembangan kalian dengan lebih baik. Tuan dan nona juga tidak perlu khawatir, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami akan segera datang untuk membantu tuan dan nona.” Julia mengakhiri penjelasan.


“Apa tuan dan nona sudah siap?” tanya Julia dengan ramah.


“Siaaaap!!!” Semua orang menjawab dengan serempak


Kemudian mereka semua bersama-sama berjalan menuju tempat pelatihan. Ayu, Yuna, Galih dan Rama telah berada di area pelatihannya masing-masing. Tidak begitu dengan Dirga.


Saat diperjalanan, Julia dan Darma meminta Dirga mengikuti mereka.


“Ada apa ya Pak Darma, Julia?” Tanya Dirga penasaran.


“Maaf Tuan Dirga, saya harus mengkonfirmasi ini sebelum anda memulai pelatihan khusus.” Ujar Julia.


Dirga semakin dibuat penasaran dengan perkataan Julia. Dia tidak sabar dengan apa yang sebenarnya ingin Julia sampaikan.


“Dua hari lalu, saat anda bertarung dengan Nona Yuna, apa anda benar-benar ingin membunuhnya?” Julia pun melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak terduga oleh Dirga.


Dirga tersentak, namun dia menanggapi pertanyaan Julia dengan sangat tenang.


“Tentu saja tidak. Aku memang mengeluarkan seluruh kemampuan yang ku miliki untuk mengalahkan Yuna. Disaat-saat terakhir serangan yang ku lakukan, aku berniat untuk menghentikan pergerakkan, menempatkan kerambit tepat di depan mata Yuna dan mengalahkannya dengan telak.”


“Hanya saja kekuatan tersembunyi Yuna menggagalkan semua rencana yang telah ku perhitungkan dengan baik. Meskipun hari itu aku mendapatkan kemenangan, tetap saja aku yang justru kalah telak.”


“Pertarungan dengan Yuna dua hari lalu dan dengan Pak Darma kemarin membuatku tersadar bahwa akan selalu ada celah kekeliruan di setiap perhitungan yang dirasa telah sempurna.”


Julia tidak melihat adanya kebohongan di kedua mata Dirga. Dia pun tersenyum saat mendengar jawaban yang diberikan.


“Baiklah, jika memang seperti itu. Kami mohon maaf karena harus mempertanyakan hal ini sebab sejak kemarin pertanyaan ini telah mengganggu kami berdua.” Ujar Julia.


“Tuan dapat memulai pelatihan khusus hari ini.” Tambahnya.


“Terima kasih Julia, Pak Darma.” Dirga mengucapkan terima kasih dan berjalan pergi menuju area pelatihan.


“Apa memang harus seperti itu?” Tanya Darma kepada Julia.


Ternyata saat Julia memberikan pertanyaan, tanpa Dirga sadari, Julia telah mengeluarkan Duri Energi yang tepat diarahkan ke bagian belakang kepala Dirga. Jika saja Dirga memberikan jawaban yang salah. Maka Duri itu akan segera menghancurkan kepala Dirga tanpa tersisa.


“Tidak ada tempat untuk pengkhianatan di project ini.” Julia menjawab pertanyaan Darma dan pergi meninggalkannya.


Julia menunjukkan wajah datar cenderung seperti menahan amarah. Sedangkan Dirga yang sedang berjalan menuju area pelatihan menunjukkan senyum mengerikan diwajahnya.


__ADS_1









Di area pelatihan pertama, Ayu sedang berusaha keras menghindari serangan-serangan dari mesin lontar. Ayu memang cukup cekatan. Dengan kemampuan yang dia miliki, Ayu dapat menghindari semua serangan dengan mudah. Tapi menghindar saja tidak cukup. Ayu harus mengalahkan tiga buah boneka kayu yang ada di tempat itu.


“Kemarin Julia bilang aku harus mengalahkan boneka-boneka itu kan? Tapi kenapa mereka sama sekali tidak bergerak?” Pikir Ayu bertanya-tanya.


“Kalau begitu coba ku serang langsung saja.”


Ayu membentangkan sayapnya dan melesat maju untuk menyerang tiga buah boneka kayu yang ada di hadapannya.


Syut… Arggghhh….


Ayu menjerit kesakitan. Tanpa diduga serangan mesin lontar menjadi jauh lebih cepat dan terjadi secara bersamaan dari berbagai sisi. Ayu memang tidak terluka karena dia telah memperkuat tubuhnya menggunakan energi CORE, namun tetap saja pisau-pisau tajam yang melesat cepat dan mengenai tubuhnya itu membuat Ayu merasa kesakitan.


Ayu bergerak mundur dan memperlebar jarak antara dirinya dengan boneka kayu dihadapannya. Serangan mesin lontar pun kembali melambat.


Ayu menyadari hal tersebut, “Ku kira ini akan mudah. Tapi hanya untuk mendekati boneka-boneka itu saja sepertinya akan sangat sulit.”


“Apa yang harus ku lakukan?” Pikir Ayu.


Ayu kembali merentangkan kedua sayapnya dan bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Dengan kecepatan itu, Ayu juga membuat gerakan memutar. Ayu ingin melihat respon atau reaksi yang diberikan oleh mesin lontar.


Walaupun Ayu sudah membuat pergerakan yang sangat cepat, namun mesin lontar itu tidak memberikan reaksi seperti sebelumnya. Akhirnya Ayu pun mengerti bahwa mesin-mesin lontar itu akan semakin agresif hanya saat dia


mencoba menyerang boneka-boneka kayu.


“Aku mengerti. Aku hanya perlu meningkatkan kewaspadaan saat sedang melakukan serangan.” Pikir Ayu.


Ayu kembali bergerak cepat dan melesat ke arah dimana boneka-boneka kayu berdiri. Kali ini fokus Ayu tidaklah tertuju pada boneka kayu melainkan ke area sekitarnya agar dapat mengantisipasi serangan mesin lontar.


Benar saja, mesin-mesin lontar itu melakukan serangan dengan sangat agresif dan bertubi-tubi. Tapi karena Ayu telah mengantisipasi kondisi tersebut, dia dapat menghindari setiap serangan yang diberikan. Walaupun dengan


susah payah.


Ayu kembali mundur dan menjauhi boneka kayu.


“Ini sangat sulit. Andai saja aku diperbolehkan menggunakan serangan jarak jauh. Menghancurkan ketiga boneka itu adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan” Pikir Ayu.


Ayu tidak ingin menunda terlalu lama. Dia kembali melesat cepat ke arah boneka kayu itu. Lambat laun dia mulai terbiasa dengan pola-pola serangan yang dilayangkan oleh mesin lontar.


Kali ini Ayu berhasil menghindari semua serangan mesin lontar dan berada semakin dekat dengan tiga boneka kayu itu. Ayu mempersiapkan pukulan yang penuh dengan energi. Namun tiba-tiba ketiga boneka kayu itu bergerak dengan sangat cepat dan melakukan serangan dari tiga sisi secara bersamaan. Depan, kiri dan kanan.

__ADS_1


Ayu terperangah dengan pergerakan boneka-boneka kayu itu dan tidak dapat menghindari semua serangan yang diberikan. Pukulan telak mengenai wajah manis Ayu. Tendangan keras juga menghantam paha kiri nya. Sedangkan boneka kayu di posisi tengah melayangkan pukulan keras ke bagian perutnya. Pukulan itu membuat Ayu terpental jauh kebelakang.


Ayu terjatuh dan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Darah itu bukanlah indikasi adanya luka dalam, melainkan akibat dari pukulan yang diterima Ayu di bagian wajahnya.


Masing-masing boneka hanya memberikannya satu serangan saja. Tapi rasanya benar-benar menyakitkan.


“Apa-apaan itu tadi. Menghindari serangan mesin lontar saja sudah sangat sulit. Ternyata mengalahkan boneka-boneka kayu itu jauh lebih sulit.” Pikir Ayu sambil berusaha berdiri.


Lagi-lagi Ayu melesat dengan sangat cepat menuju arah boneka kayu sambil terus menghindari setiap serangan mesin lontar. Ayu sama sekali tidak terlihat kecewa dengan kegagalan yang baru saja dia alami. Justru Ayu nampak lebih bersemangat.


Sekali lagi Ayu harus berhadapan dengan ketiga boneka kayu itu. Kali ini dia berhasil menghindari serangan cepat yang dilakukan oleh para boneka kayu. Ayu juga berhasil mengimbangi pergerakan mereka.


Baaak… Buuuk… Baaak… Buuuk…


Ayu dan para boneka kayu saling serang secara bergantian. Terlihat sekali bahwa Ayu tidak mahir dalam pertarungan jarak dekat. Semakin lama mereka bertarung, posisi Ayu semakin tidak diuntungkan. Selain kalah jumlah. Ayu juga kalah dalam hal strategi dan keragaman bentuk serangan. Selama pertarungan berlangsung, beberapa kali Ayu mendapatkan pukulan telak, tapi tidak satupun serangan Ayu yang dengan tepat mengenai boneka-boneka kayu itu. Namun Ayu tidak menyerah, Ayu masih terus memberikan perlawanan.


Pertarungan masih terus berlangsung. Ayu mencoba melakukan pukulan keras. Tapi setiap pukulannya berhasil dihindari bahkan dihentikan. Disisi lain, saat Ayu berhasil menghentikan satu serangan, masih ada dua serangan lain yang gagal dia hentikan. Situasi itu membuat Ayu sedikit frustrasi. Ditambah lagi staminanya perlahan habis terkuras.


Ayu memutuskan untuk mengambil napas dan keluar dari situasi itu. Dia mundur dan menjauhi para boneka kayu.


Boneka-boneka kayu itu juga menghentikan serangan mereka. Namun tanpa Ayu sadari mesin-mesin lontar kembali menyerang dengan agresif.


Ayu yang sudah sangat kelelahan karena melawan ketiga boneka kayu, kini tidak mampu lagi menghindari semua serangan mesin lontar.


Dia dengan cepat melebarkan sayap dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan sayap-sayap itu. Ayu baru menyadari bahwa sayapnya juga dapat digunakan sebagai pelindung. Walaupun serangan mesin lontar sangat cepat, tapi tidak cukup kuat untuk menembus kedua sayap milik Ayu.


Tidak lama kemudian mesin lontar menghentikan serangannya. Ayu sedikit merasa lega.


Dengan memanfaatkan situasi itu, Ayu berusaha bergerak semakin jauh dari posisi boneka kayu berdiri. Tak lama berselang mesin lontar kembali melakukan serangan tapi intensitas serangan yang diberikan terasa semakin rendah.


“Aku mengerti!” Teriak Ayu.


Ayu akhirnya menyadari semua pola yang didesain pada pelatihan itu.


Pertama, semakin agresif serangan yang dilakukannya, semakin agresif pula mesin lontar melakukan serangan.


Kedua, semakin jauh posisi dia dengan para boneka kayu, intensitas serangan mesin lontar semakin rendah.


Ketiga, mesin lontar dan boneka kayu memiliki areanya masing-masing. Saat Ayu berada di area boneka kayu, tidak satu pun mesin lontar memberikan serangan. Begitu pun saat Ayu berada di area mesin lontar, maka para boneka kayu akan berhenti bergerak.


Keempat, mesin lontar tidak akan melakukan serangan secara terus menerus, akan ada sedikit jeda waktu dimana mesin lontar tidak melakukan serangan sama sekali.


Terakhir, walaupun sangat cepat, serangan mesin lontar tidak dapat menembus pertahanan dari energi yang telah dimanipulasi.


“Sepertinya aku dapat memanfaatkan pola-pola tersebut.” Pikir Ayu dengan bersemangat. Namun semangatnya itu tidak didukung dengan kondisi tubuhnya saat ini. Ayu sudah sangat kelelahan. Dia butuh waktu sejenak untuk beristirahat.


Teeeeeeet….. Terdengar suara nyaring yang sangat keras.


Tidak lama kemudian suara Darma terdengar dari pengeras suara yang juga ditempatkan disetiap area pelatihan. “Pelatihan dihentikan!”


Ayu terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


***

__ADS_1


__ADS_2