
Malam itu Dirga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia mengalami mimpi buruk yang begitu mengerikan. Mimpi itu berawal dari munculnya energi gelap yang sangat pekat. Perlahan energi itu memenuhi ruangan. Dirga yang sedang melakukan latihan pernapasan seakan tercekik oleh kekuatan energi gelap itu.
Dirga berusaha bertahan menggunakan teknik pernapasan yang dia miliki. Dirga juga telah menyelimuti seluruh tubuhnya menggunakan energi CORE, tapi apa yang dia lakukan sama sekali tidak memperbaiki keadaan. Napasnya semakin berat dan sakit yang sangat menyiksa dirasakannya. Dia sama sekali tidak berdaya.
Saat Dirga mulai menyerah dengan keadaannya saat ini, tiba-tiba saja semua energi itu mulai memudar dan bergerak pada satu titik. Dibalik energi yang memudar, muncul bayangan seseorang. Seiring dengan pudarnya energi tersebut, bayangan orang itu terlihat semakin jelas. Hingga akhirnya seluruh energi menghilang dan muncul sosok yang tidak asing lagi baginya.
“Rama?” Ujar Dirga lirih.
Rama muncul dari balik energi yang hilang. Sosok Rama saat itu tidak seperti Rama yang selama ini dia kenal. Rama yang memiliki wajah polos dan ceria, kini terlihat memancarkan aura gelap dengan senyum yang mengerikan.
Nalurinya mengatakan bahwa sosok Rama yang ada dihadapannya saat ini sangatlah berbahaya. Seketika itu juga, Dirga segera mengeluarkan kerambit, menggunakan kekuatan mata dan bergerak dengan cepat untuk menyerang Rama. Dirga menggunakan seluruh kemampuan yang dia miliki. Saking cepatnya pergerakan yang dilakukan Dirga, dia terlihat seperti menghilang dan tiba-tiba muncul dihadapan Rama untuk melakukan serangan fatal ke arah mata menggunakan kerambit yang dia pegang.
Sesaat sebelum kerambitnya menyentuh Rama, tiba-tiba saja Rama menghilang dari hadapannya. Hal itu membuat Dirga sangat terkejut dan kebingungan. Dia berusaha mencari keberadaan Rama, tapi sia-sia. Rama hilang bak ditelan bumi.
Dirga bernapas lega dengan hilangnya Rama. Namun siapa sangka hal mengerikan kembali terjadi. Seseorang mencengkeram pundak kanannya dan memberi tekanan dengan kekuatan yang luar biasa hingga memaksanya untuk berlutut. Dirga yang terkejut segera menoleh ke arah kanan. Matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar ketakutan. Sosok Rama kembali muncul dengan energi gelap yang sangat pekat dan senyum seringai yang mengerikan.
Dirga mengeluarkan seluruh energi yang dia miliki dan berusaha untuk melarikan diri dari tempat itu. Dengan tubuh gemetar, Dirga berusaha untuk bangkit. Namun tekanan yang Rama berikan di pundaknya terasa sangat berat. Dirga kembali dibuat tidak berdaya.
Aaarrrgghhhhh……
Tiba-tiba Dirga berteriak sangat keras. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Perlahan energi miliknya mengalir keluar tubuh melalui tangan Rama yang sedang mencengkeram pundaknya. Rama seperti sedang mengambil seluruh energi yang dia miliki saat ini. Dirga berusaha keras untuk menghentikan hal tersebut. Dia menyerang tangan yang mencengkeram pundaknya itu menggunakan kerambit. Tapi Rama sama sekali tidak bergeming. Bahkan serangan yang Dirga lakukan tidak memberi luka sedikit pun.
Tubuh Dirga semakin lemah. Kerambit yang dipegangnya pun telah menghilang. Di tengah keputusasaan itu, Rama melepaskan cengkeraman tangannya dan membuat Dirga tersungkur di lantai.
Dirga masih sadarkan diri. Matanya masih terbuka, tapi tubuhnya tidak lagi memiliki energi. Dirga melihat Rama melangkah pergi meninggalkannya seorang diri. Energi gelap Rama terlihat semakin besar dan pekat. Lalu Dirga melihat Rama berhenti melangkah dan menolehkan kepala. Tiba-tiba saja sosok Rama berubah. Rama terlihat seperti iblis dengan dua tanduk panjang di kepala. Sosok itu melihatnya dengan mata tajam, memberikan senyuman yang sangat mengerikan dan menghilang begitu saja dari hadapannya. Sesaat sebelum sosok itu menghilang, dari punggungnya keluar sepasang sayap hitam yang terbentang lebar.
Dirga merasakan takut yang luar biasa. Tanpa disadari air matanya mengalir, tidak lama kemudian kedua matanya pun tertutup.
Seketika itu juga Dirga terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Air mata mengalir di wajahnya. Kedua matanya terlihat dipenuhi dengan rasa takut. Sosok mengerikan di mimpinya tadi masih terbayang dengan sangat jelas di pikirannya.
Dirga tidak ingin larut dalam ketakutan. Dia beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya yang terlihat sangat pucat.
“Mimpi tadi terasa sangat nyata.” Pikir Dirga sambil melihat cermin yang tiba-tiba saja memantulkan wajah iblis yang tadi dia lihat di mimpinya.
Dirga terkejut dan jatuh tersungkur.
“Sial, pengaruh mimpi tadi lebih buruk dari yang ku bayangkan.” Ujar Dirga lirih dengan napas tersengal.
-
-
-
Sejak terbangun dari mimpi buruknya, Dirga tidak lagi tidur dan langsung melakukan latihan pernapasan untuk meningkatkan kemampuan regenerasi sel yang dia miliki. Setelah itu dia melakukan latihan untuk meningkatkan kecepatannya.
Stamina dan daya tahan fisik yang dimiliki Dirga tidak sebaik anggota tim lain. Maka dari itu Dirga juga melakukan latihan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan fisiknya. Bahkan hampir sebagian besar latihan yang dilakukannya berkaitan dengan peningkatan stamina dan daya tahan fisik.
Sepanjang hari, bayangan sosok iblis di mimpinya terus menghantui pikirannya. Tapi Dirga sadar bahwa sosok itu hanyalah bagian dari bunga tidur. Bayangan sosok iblis itu bahkan membuatnya termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan menjadi lebih baik.
Besok Dirga akan melakukan latihan di area pertama. Dia memutuskan untuk menuju ruang medis untuk memeriksakan kondisinya. Sekujur tubuhnya masih dipenuhi dengan luka, tapi latihan pernapasan yang dia lakukan telah berdampak besar pada penyembuhan luka-luka tersebut.
Saat diruang medis, Dirga bertemu dengan Galih. Galih nampak sangat penasaran dengan latihan virtual yang akan dia hadapi esok hari. Galih bertanya kepada Dirga tentang penyebab rusaknya kapsul virtual.
Pertanyaan Galih membuatnya teringat dengan Julia dan Rama serta kembali mendatangkan bayangan iblis mengerikan yang muncul di mimpinya. Dirga merasa harus merahasiakan hal tersebut. Dirga tidak ingin membuat Galih semakin penasaran dan menjadi tidak fokus dengan pelatihan khusus yang akan Galih hadapi. Menurut Dirga, cepat atau lambat Galih akan mengetahui apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang di dalam ruang medis, Dirga dan Galih pergi keluar untuk melanjutkan latihan masing-masing. Namun Dirga berinisiatif untuk melakukan latihan bersama-sama.
“Galih, bagaimana kalau kita melakukan latih tanding? Selain mempersiapkan diri untuk latihan khusus hari berikutnya, kita juga bisa menilai perkembangan kekuatan masing-masing.” Tanya Dirga.
“Itu ide yang bagus, tapi sayangnya tangan kanan ku belum bisa digunakan. Jadi sepertinya akan sulit untuk melakukan latih tanding.” Jawab Galih.
“Aku akan coba melakukan sesuatu. Ayo kita ke lapangan belakang.” Ujar Dirga.
“Melakukan apa?” Tanya Galih penasaran.
“Sudahlah, ikut saja dulu.” Sahut Dirga.
Kemudian Galih dan Dirga berjalan bersama-sama menuju lapangan pelatihan di belakang mansion Project Wanara. Sesampainya di lapangan, Dirga mencoba melakukan sesuatu yang baru saja dia pelajari.
Dirga meminta Galih untuk berdiri di depannya. Dia meletakkan telapak tangannya ke pundak Galih dan mengalirkan energi CORE ke dalamnya. Ternyata Dirga berusaha untuk menyembuhkan tangan Galih.
“Waw, kamu bisa melakukan teknik penyembuhan seperti Julia?” Tanya Galih terpukau.
“Aku tidak tahu apakah teknik ini bisa disebut sebagai teknik penyembuhan, karena prinsip dasar teknik yang aku gunakan sedikit berbeda dengan teknik yang Julia miliki.” Dirga terus mengalirkan energi nya sambil memberi penjelasan.
“Manipulasi energi milik Julia memang sepenuhnya dibuat untuk menyembuhkan berbagai jenis luka, baik fisik maupun non fisik. Sedangkan teknik yang ku gunakan hanya mempercepat proses regenerasi sel saja. Aku juga tidak tahu apakah teknik ini akan berhasil untuk orang lain. Baru pertama kali ini aku mencobanya.”
“Itu saja sudah sangat keren!” Ucap Galih dengan mata berbinar-binar.
“Oh ya, kamu sudah berhasil menyelesaikan latihan di area ke empat kan? Jika begitu sekarang pejamkan mata, gunakan teknik pernapasan dan pusatkan konsentrasi ke bagian tanganmu yang terluka. Kamu akan merasakan energi lain yang sedang merangsang percepatan regenerasi sel. Jika kamu merasakannya, alirkan energi
CORE milikmu untuk memperkuat intensitas energi yang ku alirkan. Kita akan lakukan ini terus menerus hingga kondisi tanganmu menjadi lebih baik dan dapat digunakan kembali.” Dirga memberi arahan sambil terus mengalirkan energi nya.
“Aku mengerti.” Jawab Galih.
Galih dan Dirga melakukan hal tersebut selama kurang lebih satu jam.
“Sekarang lepas perban yang melilit di lehermu itu.” Tambahnya.
Galih tidak sabar untuk melepaskan perban itu. Namun dia mengalami sedikit kesulitan. Dirga berusaha membantu. Dia mengeluarkan kerambit dan merobek perban itu tanpa basa basi.
“Woy, kamu hampir memotong tangan ku!” Teriak Galih yang tanpa sadar juga menunjuk-nunjuk Dirga menggunakan tangan kanannya. Dirga tersenyum, dan Galih tersentak saat menyadari tangan kanannya telah sembuh dan dapat dia gerakan dengan leluasa.
Teknik regenerasi sel milik Dirga yang diperkuat dengan energi CORE milik Galih bekerja dengan sangat baik untuk memulihkan kondisi tangan Galih.
“Sepertinya kamu telah siap untuk latih tanding.” Ucap Dirga.
“Tentu saja.” Sahut Galih dengan semangat.
Galih segera mengeluarkan baju zirah nya, diikuti dengan Dirga yang mengeluarkan kedua kerambit nya.
“Galih, sebelum kita mulai, ada sesuatu yang harus ku pastikan untuk menghindari luka fatal di latih tanding ini.” Ucap Dirga.
“Apa itu?” tanya Galih penasaran.
“Baju zirah mu itu menutupi seluruh bagian tubuh kecuali kepala. Apa itu tidak masalah?” tanya Dirga.
“Tentu saja. Pada prinsipnya baju zirah ini adalah visualisasi energi yang ku buat, meskipun tidak tertutupi zirah, energi yang mengalir di bagian kepala sama kuatnya dengan baju zirah ini. Kamu tidak perlu khawatir. Serangan-serangan mu tidak akan bisa menembus baju zirah ku.” Jawab Galih dengan sangat percaya diri.
“oh ya, aku juga ingin menunjukkan sesuatu.” Ucap Galih.
__ADS_1
Galih mengeluarkan Pedang Rapier di tangan kanan dan tameng pelindung di tangan kiri.
“Bagaimana? Keren kan?” tanya Galih.
“Pedang Rapier itu memang keren, tapi buat apa kamu keluarkan tameng. Kata mu baju zirah itu sangat kuat? Apa itu hanya omong kosong saja? Tameng itu hanya akan membatasi pergerakanmu, Galih.” Jawab Dirga dengan sedikit gurauan.
“Kita lihat saja.” Sahut Galih singkat dan segera mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Belum sempat Galih menggerakkan tubuhnya, Dirga menghilang dari pandangan dan tiba-tiba muncul di hadapannya. Dirga melakukan serangan cepat dan kuat. Galih sama sekali tidak dapat mengikuti gerakan yang dibuat oleh Dirga.
Kerambit Dirga menyerang tepat ke arah jantung Galih. Tapi Zirah Galih memiliki daya tahan yang kuat sehingga kerambit Dirga tidak membuatnya terluka. Hal yang membuat Galih terkejut adalah daya dorong yang diberikan oleh serangan Dirga. Daya dorong nya terasa sangat kuat sehingga membuat Galih terpental jauh ke belakang.
“Kekuatan yang hebat. Tapi percuma saja jika kamu tidak dapat menembus baju zirah ini.” Ucap Galih dengan gegabah.
“Apa kamu yakin?” Tanya Dirga.
“Apa maksudnya?” Pikir Galih.
Kemudian Galih melihat baju zirah nya. Galih sangat terkejut saat melihat adanya retakan di baju zirah itu. Retakan yang dibuat oleh serangan kerambit miliki Dirga.
“Tidak mungkin.” Ujar Galih.
“Apa kamu sudah menyerah?” Tanya Dirga.
“Kamu sama sekali tidak bisa mengikuti pergerakan yang ku buat. Akan sangat mudah bagi ku untuk melakukan serangan di tempat yang sama. Apa kamu yakin masih bisa bertahan?” Ucap Dirga sambil tersenyum.
Galih terdiam karena ucapan Dirga. Apa yang dikatakan Dirga sepenuhnya tepat. Galih tidak memiliki kesempatan untuk menang dalam pertarungan ini.
“Hey, jangan cuma diam. Menyerah atau kita lanjutkan?” Tanya Dirga.
“Tentu saja lanjut.” Sahut Galih.
“Itu yang ku harapkan. Aku tidak pernah memiliki teman yang lemah, maka dari itu, jadilah kuat.” Ujar Dirga sambil kembali melakukan serangan cepat.
Lagi-lagi Galih tidak dapat melihat arah gerakan Dirga. Di matanya, Dirga tiba-tiba saja menghilang entah kemana.
“Hey, kamu melihat kemana?” Ujar Dirga yang muncul di belakang Galih sambil menepuk pundaknya. Galih terkejut dan tanpa sengaja menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh. Tapi lagi-lagi Dirga menghilang. Kumparan energi yang tercipta dari tebasan pedang Galih, menghancurkan pepohonan yang ada di sana.
Kini Dirga muncul tepat disamping Galih sambil melihat pepohonan yang hancur.
“Kekuatan yang hebat.” Ucap Dirga saat itu.
Kini Galih mengayunkan pedangnya ke arah Dirga dengan sengaja dan berharap dapat menghentikan pergerakan nya. Tapi sesaat sebelum kumparan energi itu menyentuh Dirga, dia kembali hilang dari pandangan.
“Jika terus begini, kamu tidak akan bisa berbuat banyak.” Ucap Dirga yang kini muncul di sisi kiri Galih.
Galih sedikit frustrasi dengan kondisi ini. Dia menebaskan pedangnya ke semua sisi secara acak.
“Berhenti bermain-main.” Ucap Dirga yang sedang menyaksikan Galih melakukan tindakan konyol dari atas pohon.
“Sial…!” Teriak Galih sambil mengayunkan pedangnya ke arah Dirga yang dengan cepat menghilang lagi dari pandangannya.
“Aku seperti sedang bertarung dengan hantu. Dia bisa melihat ku, tapi aku sama sekali tidak mampu melihat pergerakannya.” Pikir Galih.
“Kami bergabung dengan project ini di waktu yang bersamaan. Menjalankan semua proses pendaftaran bersama-sama. Melakukan uji potensi di saat yang sama. Bahkan menjalani pelatihan di waktu dan tempat yang sama. Sejauh ini aku merasa telah mengalami banyak perkembangan. Tapi aku tidak menyangka, ternyata jurang kemampuan kita masih sebesar ini.”
__ADS_1
“Apa yang harus ku lakukan?”
***