Project Wanara

Project Wanara
Chapter 84. Air Mata


__ADS_3

Pertarungan antara Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo menghadapi sosok Sang Raja Iblis pun tak terelakkan. Tiga petinggi bangsa Jinn itu memang memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi makhluk yang sedang mereka hadapi saat ini bahkan memiliki kekuatan yang tidak dapat mereka gapai.


Berulang kali Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo melayangkan serangan-serangan mematikan yang mereka miliki, namun Azazil tetap mampu menghalau dan menghindari semua serangan itu.


Pertempuran terlihat berjalan satu pihak. Serangan hanya dilakukan oleh pihak Para Jinn Pendamping. Sedangkan Azazil, Sang Raja Iblis, hanya terlihat bertahan dan menghindar saja.


Meskipun begitu, justru Para Jinn Pendamping yang terlihat sedang tertekan. Azazil sendiri malah terlihat sangat menikmati pertarungan itu.


Pada akhirnya Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo pun mengabungkan energi mereka untuk menciptakan serangan yang jauh lebih mematikan.


Sebuah aurora berukuran besar menyelimuti area pertarungan. Bersamaan dengan munculnya aurora itu, medan elektromagnetik dan nilai gaya gravitasi disekitarnya pun meningkat drastis.


Peningkatan nilai gaya gravitasi membuat Azazil mengalami kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya. Peningkatan medan elektromagnetik menimbulkan rasa sakit yang luar biasa di bagian kepala dan membuat konsentrasi Azazil menurun. Aurora yang tercipta memang sangat indah dipandang mata, tapi justru Aurora itulah yang memberi dampak paling berbahaya karena dapat merusak aliran energi seseorang secara permanen.


Kini Azazil terlihat kesulitan dan menderita dalam menghadapi serangan gabungan yang dilakukan oleh Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo.


“Aghhh… Ampuni Aku.” Teriak Azazil dengan sangat keras.


Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo merasa sedang di atas angin dan bersiap untuk melakukan serangan lain agar tidak kehilangan momentum.


Namun tiba-tiba teriakan Azazil terhenti. Dia memandang tajam ke arah para petinggi bangsa Jinn itu. Senyum kecil diperlihatkan oleh Azazil.


“Kata-kata tadi sangat ingin kalian dengar kan?” Ucap Azazil dengan senyum kecil yang perlahan menjadi sangat lebar.


Kanjeng Ratu Kidul, Wentira dan Mbah Purwo sangat terkejut dan tidak menyangka kalau bahkan serangan gabungan yang mereka lancarkan tidak berpengaruh pada kekuatan absolut yang dimiliki oleh Sang Raja Iblis, Azazil.


Azazil dengan cepat menghampiri mereka bertiga dan melakukan serangan balasan. Kini serangan sepihak kembali terjadi. Hanya saja pihak penyerang dan pihak yang bertahan berubah. Kini Azazil yang justru mengendalikan jalannya pertarungan.


Kanjeng Ratu Kidul, Wentira dan Mbah Purwo merasa sangat tertekan. Gerakan Azazil sangatlah cepat hingga mereka tidak memiliki peluang sedikitpun untuk memberikan serangan balasan. Pada akhirnya Azazil melakukan sebuah serangan yang justru memukul mundur mereka bertiga sekaligus sehingga terdapat jarak diantara kedua belah pihak.


“Kesempatan.” Ucap Kanjeng Ratu Kidul kepada Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo.


Namun Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo tidak memberi tanggapan. Mata keduanya terbelalak pada satu titik yang sama.


Kanjeng Ratu Kidul pun menoleh ke arah yang sama dan alangkah terkejutnya dia saat melihat sebuah bola matahari besar berada di tangan kanan Azazil.


Malam yang gelap tiba-tiba terasa seperti siang hari yang panas. Teriknya bola matahari itu terasa akan melelehkan sekujur tubuh mereka.

__ADS_1


“Sebesar inilah perbedaan kemampuan kita.” Ucap Azazil sambil menyeringai dan kemudian melempar bola matahari besar itu ke arah Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo.


“Semuanya bertahan…!” Teriak Mbah Purwo dengan sangat keras agar dapat juga terdengar oleh Rama dan Dirga yang ada dikejauhan.


Dengan cepat Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira, Mbah Purwo dan Rama mengeluarkan teknik bertahan masing-masing untuk melindungi diri dari hantaman bola matahari. Tapi sayangnya Dirga yang memang tidak memiliki teknik bertahan khusus pun hanya dapat pasrah menghadapi takdirnya.


Tapi Rama tampak mengerti dengan kekurangan yang Dirga miliki dan segera melebarkan pelindung petirnya agar juga dapat memberi perlindungan kepada Dirga.


Disaat yang sama, tiba-tiba terbersit keraguan dipikiran Rama. Apakah pelindungnya itu mampu bertahan dari kuatnya bola matahari yang diciptakan Azazil. Jika mereka gagal bertahan, maka ajal akan menjemput kehidupan mereka. Andaikan memang mereka mampu bertahan, bola matahari itu tetap akan memberi dampak yang sangat mengerikan untuk seluruh kehidupan disekitar area pertarungan.


Tanpa berpikir panjang, Rama mengeluarkan 100% dari sisa energi yang dia miliki. Bukan untuk berlindung, tapi untuk menghalau bola matahari itu.


Seketika, tepat di depan bola matahari itu, muncul sebuah lubang berwarna hitam dengan jumlah energi yang cukup besar. Dari dalam lubang terlihat kumparan petir yang menyambar hingga keluar lubang. Ukuran lubang itu sendiri tidak terlalu besar, namun saat bertabrakan dengan boa matahari, perlahan lubang itu bertambah besar dan melahap bola matahari yang dilempar oleh Azazil.


Memang tidak semua partikel bola matahari berhasil terlahap oleh lubang hitam yang diciptakan oleh Rama. Sisa-sisa partikel bola matahari tetap mengantam Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo. Bahkan pancaran energi yang dikeluarkan oleh sisa partikel bola matahari pun masih terasa sangat mengerikan bagi Dirga dan Rama.


Tapi berkat munculnya lubang itu, mereka semua berhasil bertahan dari serangan Azazil yang sangat mematikan.


Setelah berhasil bertahan, Rama tiba-tiba terjatuh dan kehilangan kesadarannya. Bersamaan dengan jatuhnya Rama, lubang hitam itu pun tiba-tiba menghilang. Kondisi malam yang semula gelap, berubah menjadi terang dan kembali gelap seperti sedia kala. Hanya bulan yang tidak berhenti memancarkan cahayanya untuk menerangi malam


“Tuan Asoka.” Gumam Kanjeng Ratu Kidul.


“Anak itu mampu mengeluarkan lubang hitam seperti halnya Tuan Asoka.” Mbah Purwo pun ikut bergumam.


“Tentu saja, dia adalah pewaris Tuan Asoka. Jangan lengah, ini kesempatan kita untuk menyerang Azazil. Energinya pasti terkuras cukup banyak karena mengeluarkan serangan sebesar tadi.” Ucap Datutinggi Wentira kepada Kanjeng Ratu Kidul dan Mbah Purwo.


Di sisi lain, Azazil pun nampak sangat terkejut dengan munculnya lubang hitam tadi. Dia tahu kalau Rama mewarisi darah Asoka, tapi dia tidak menyangka kalau Rama mampu mengeluarkan energi sebesar itu dengan kondisinya saat ini.


Kanjeng Ratu Kidul, Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan segera bersiap melakukan serangan gabungan. Tapi belum sempat mereka menyerang, tiba-tiba muncul portal dimensi tepat di belakang Azazil dan dari dalam portal dimensi itu muncul seorang manusia.


Orang yang muncul dari portal dimensi itu ternyata adalah Indra yang datang dengan membawa Gapura di tangannya.


Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira, Mbah Purwo dan Dirga sudah cukup terkejut dengan kedatangan Indra. Keterkejutan mereka pun semakin bertambah dengan adanya Gapura yang sedang Indra pegang.


Seketika terlintas dipikiran mereka tentang kondisi dan keberadaan Julia yang diberi tanggung jawab oleh Asoka untuk melindungi benda tersebut. Pada saat itu, mereka sangat yakin kalau Julia sudah meninggal dunia dan sangat terpukul dengan kenyataan itu.


“Kami berhasil mendapatkannya, Tuan.” Ucap Indra kepada Azazil dengan begitu hormat.

__ADS_1


“Kerja bagus, kamu datang di saat yang sangat tepat. Aku tidak punya banyak waktu dan energi tersisa untuk terus berada di sini.” Balas Azazil.


“Terima kasih, Tuan.” Ujar Indra dengan membungkukkan badannya dan tersenyum bangga.


Kemudian Indra menyerahkan dua buah Gapura kepada Azazil agar dapat memanggil seluruh pasukan Iblis untuk menghancurkan bumi tempat manusia tinggal.


Belum sempat Gapura diserahkan kepada Azazil, tiba-tiba Eyang merapi muncul dan menghancurkan Gapura itu menggunakan keris api yang dia pegang. Gapura terbelah menjadi dua bagian tepat di depan mata Azazil.


Hal itu membuat Azazil murka dan langsung mengantam tubuh Eyang Merapi dengan pukulan api maha dahsyat. Eyang Merapi yang juga mampu memanifestasikan api menggunakan energinya pun berusaha keras untuk bertahan. Tapi nahas, pukulan Azazil jauh lebih kuat dan seketika membunuh Eyang Merapi. Tubuh Eyang Merapi hancur dan berubah menjadi debu.


“Tidak…!” Teriak Kanjeng Ratu Kidul, Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira secara bersamaan. Sedangkan Dirga hanya bisa terbelalak tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tanpa disadari, air mata mengalir dari kedua mata besarnya.


Tanpa berpikir panjang, Kanjeng Ratu Kidul, Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira langsung melayangkan serangan kepada Azazil menggunakan seluruh kekuatan mereka yang tersisa. Tapi sayangnya, belum sempat serangan mereka menghantam Azazil, Indra dan Azazil tiba-tiba pergi dan menghilang dari pandangan mata mereka.


Serangan Azazil kepada Eyang Merapi tadi menghabiskan seluruh sisa energi yang dia miliki sehingga tidak memungkinkan lagi baginya untuk bertarung melawan para petinggi bangsa Jinn. Itulah sebabnya Azazil memilih untuk pergi dan kembali ke dunianya dengan menyisakan kerusakan yang besar.


Dirga jatuh berlutut dengan perasaan yang sangat terpukul. Di depan matanya, Rama terbaring tak berdaya. Bahkan dia tidak mampu memastikan apakah Rama masih hidup. Kenyataan tentang Julia yang sudah mati, meskipun hal itu masih berupa persepsinya sendiri. Juga kematian Eyang Merapi, Jinn Pendampingnya, tepat di depan matanya sendiri.


Meskipun belum lama Dirga bertemu dengan Eyang Merapi, tapi ikatan batin antara keduanya sudah terjalin cukup erat. Tentu kematian Eyang Merapi menyisakan luka mendalam di hati Dirga. Apalagi jika Julia dan Rama mengalami hal yang sama. Entah seberapa menyakitkannya kenyataan itu bagi Dirga.


“Jangan berkecil hati, kematian Eyang Merapi tidaklah sia-sia. Fakta bahwa dia mati setelah menghancurkan Gapura yang telah direbut pihak Azazil adalah bukti keteguhan hatinya untuk meneruskan harapan Asoka dalam melindungi umat manusia.” Ucap Mbah Purwo.


“Kamu juga tidak perlu khawatir dengan Rama dan Julia. Meskipun dalam kondisi yang mengkhawatirkan, Rama belum mati dan kita juga belum bisa mengkonfirmasi kematian Julia.” Tambah Kanjeng Ratu Kidul.


“Bersiaplah. Kami akan membawamu dan Rama pergi ke Kerajaan Wentira. Fasilitas medis di sana jauh melampaui teknologi medis di duniamu.” Ujar Datutinggi Wentira.


Dirga tidak memberikan tanggapan. Dia terlihat masih sangat terpukul dengan apa yang baru saja terjadi dihadapannya.


“Teman-temanmu juga sudah menunggumu di sana.” Sambung Datutinggi Wentira untuk berusaha mengembalikan harapan Dirga.


Tanpa di duga, Dirga yang terkenal dingin dan tenang dalam menyikapi situasi dan kondisi yang ada, kini terlihat kembali meteskan air mata dengan pandangan yang kosong.


Karena Rama sangat membutuhkan perawatan dan kondisi mereka bertiga tidak lagi memungkinkan bahkan


hanya untuk melakukan pertolongan pertama. Tanpa mengkonfirmasi persetujuan Dirga, mereka langsung membawa Dirga dan Rama menuju Kerajaan Wentira untuk mendapatkan perawatan intensif di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2