
Tiiiit… tiiit… tiiiit…
Terdengar suara peringatan yang muncul dari Intelligent System kapsul virtual. Itu adalah tanda terjadinya kendala.
[Peringatan! Kelebihan muatan energi!]
“Apa yang terjadi?” Tanya Darma.
[Bahaya! Bahaya! Bahaya!]
“Rama?” Pikir Julia sambil bergegas melihat layar monitor CCTV.
[Mengaktifkan sistem pengendalian muatan energi]
“Darma, periksa tanda-tanda vital Rama!” Teriak Julia dengan sangat panik. Julia melihat tubuh Rama mengalami kejang-kejang. Darma segera memeriksa layar monitor yang menampilkan tanda-tanda vital tubuh Rama.
[Muatan energi tidak terkendali!]
“Semua indikator sangat kacau…!” Teriak Darma.
“Detak jantung, denyut nadi dan napasnya sangat cepat! Ini bahaya, Julia.”
[Sistem mengaktifkan modul perlindungan diri]
[Mematikan sistem dalam 3… 2… 1…]
[Bahaya! Bahaya! Bahaya!]
[Sistem gagal mengaktifkan modul perlindungan diri]
“Matikan sistem secara paksa!” Teriak Julia panik saat melihat kondisi Rama bertambah buruk diikuti dengan Darma yang segera mencabut paksa power supply kapsul virtual.
[Sistem mengalami kerusakan]
[Mengaktifkan modul Power Backup]
“Apa yang terjadi, Darma?”
“Gawat, ada kesalahan sistem. Energi cadangan diaktifkan.” Jawab Darma.
[Muatan energi tidak terkendali]
[Sistem mengaktifkan modul penghancuran diri dalam 30… 29… 28…]
“Dimana letak energi cadangan itu?” Teriak Julia.
“Di bagian belakang mesin kapsul virtual.” Jawab Darma.
“Kamu tetap disini, aku akan cabut energi cadangan itu.” Ucap Julia sambil berlari kencang menuju ruang pelatihan area kelima.
[27…]
[26…]
Julia berlari tanpa henti. Jika dia tidak segera mencabut cadangan energi, kapsul virtual akan menghancurkan diri bersama dengan Rama yang ada didalamnya.
[25…]
Julia telah mencapai lorong menuju ruang pelatihan khusus, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Energi Rama terasa dalam jarak sejauh ini?” Julia terkejut saat merasakan energi gelap terpancar di tempat itu.
[25…]
“Aku tidak punya banyak waktu…!” Pikir Julia sambil terus berlari.
“Sial, energi ini semakin pekat dan membuat dadaku sesak.”
[24…]
[23…]
[22…]
[21…]
[20…]
“Darma, di mana letak cadangan energi itu?” Teriak Julia setibanya di ruang pelatihan area kelima.
[19…]
[18…]
“Lihat di tembok bagian belakang kapsul itu. Disana ada panel listrik sumber energi cadangan.”
[17…]
[16…]
“Panel ini terkunci…!” Teriak Julia.
[15…]
[14…]
__ADS_1
[13…]
“Di panel itu ada area kecil yang bisa digeser. Didalamnya ada tombol untuk memasukkan kata sandi.”
[12…]
[11…]
[10…]
“Ketemu! Apa kata sandinya?”
[9…]
[8…]
“63498265……”
[7…]
“Terbuka….!”
[6…]
“Tekan tuas merah ke bawah dan cabut kabel warna biru.”
[5…]
“Tidak ada kabel biru…! Hanya ada hijau dan jingga…!”
[4…]
“Sial, seharusnya berwarna biru…!”
[3…]
“Ku cabut saja semua…!”
[2…]
[1…]
“Sial….!”
[Shutting Down!]
Julia berhasil mencabut sumber energi cadangan mesin kapsul virtual di detik-detik terakhir sebelum mesin itu menghancurkan diri.
Setelah itu Julia bergegas melihat kondisi Rama yang nampaknya mulai membaik. Rama tidak lagi mengalami kejang-kejang. Energi gelap masih terpancar dari tubuh Rama, tapi perlahan mulai pudar.
“Bagaimana dengan kondisi vital Rama saat ini?” Tanya Julia.
“Apa kata mu?!” Teriak Julia yang menjadi semakin khawatir.
“Tenanglah Julia. Mesin virtual kan mati, bagaimana bisa kita melihat tanda-tanda vitalnya.” Jawab Darma.
“Kalau begitu bicaralah yang benar…!” Teriak Julia.
“Maaf.”
“Sudahlah, sekarang kita buka kapsul ini dan lihat kondisi Rama.” Ujar Julia.
Julia membuka pintu kapsul virtual secara paksa. Saat kapsul terbuka, pancaran energi yang dikeluarkan oleh Rama terasa semakin pekat. Tapi perlahan energi itu memudar dan akhirnya menghilang diikuti dengan Rama yang membuka matanya.
“Sekarang aku melihat wajah cantik Julia.” Ucap Rama lirih. Dia mengira masih ada di alam mimpi.
“Apa anda baik-baik saja, tuan?” Tanya Julia khawatir.
“Julia memang seperti malaikat. Andai saja aku bertemu dengannya sedari dulu dan bukan dengan wanita pengkhianat itu.” Ujar Rama.
Kata-kata yang diucapkan Rama sontak membuat Julia malu dengan wajah merah.
“Hey Rama, jangan asal bicara!” Ujar Darma dari balik pengeras suara.
Rama terkejut dan sadar kalau dia sudah tidak lagi ada di alam mimpi. Rama teringat dengan apa yang baru saja dia ucapkan dan kini wajahnya yang berubah merah karena malu.
“Julia, kamu tidak dengar apa yang tadi ku ucapkan kan?” Tanya Rama kikuk dengan wajah merah.
“Aku tidak mendengar apapun, tuan” Jawab Julia dengan tersenyum manis.
“Syukurlah…” Ucap Rama. Dia berusaha untuk bangun, tapi tubuhnya terasa sangat lemah.
“Biar ku bantu, tuan.” Ujar Julia sambil membantu Rama bangun dan berdiri.
Setelah bangun, Rama berusaha untuk berjalan, tapi malah terjatuh karena tidak kuat menopang bobot tubuhnya sendiri. Julia dengan sigap membantu Rama berdiri dan merangkulkan tangan Rama di pundaknya. Hal itu membuat Rama semakin salah tingkah.
"Ada apa, tuan?" Tanya Julia bingung dengan tingkah laku Rama.
"Eh, bukan apa-apa, Julia." Jawab Rama yang masih terlihat salah tingkah
"Ehm, maaf mengganggu kalian berdua. Ada sesuatu yang perlu ku sampaikan." Ucap Darma.
“Ternyata kerusakan mesin kapsul virtual jauh lebih parah dibandingkan yang ku duga. Sepertinya anggota tim lain tidak akan bisa menggunakan kapsul ini.” Sambung Darma.
“Aku mengerti.” Jawab Julia singkat.
__ADS_1
"Apa itu ulah ku?" Tanya Rama.
"Tidak tuan, hanya terjadi sebuah kesalahan sistem."
"Syukurlah...."
Rama dan Julia pun berjalan keluar ruang pelatihan area kelima.
“Oh ya tuan, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan.”
“Apa itu, Julia?”
“Siapa yang lebih cantik, aku atau wanita yang tadi tuan sebutkan?” Tanya Julia tersipu malu.
“Ternyata kamu mendengarnya…!” Teriak Rama dengan wajah merah.
Tiba-tiba saja Rama tersentak….
“Energi gelap apa ini?” Tanya Rama lirih dengan wajah serius.
“Ini energi anda sendiri, tuan?
“Apa? Tidak mungkin. Aku tidak punya energi seperti ini.” Ucap Rama.
“Ini adalah energi yang tanpa sadar anda keluarkan saat sedang menggunakan kapsul virtual. Tapi ini hanyalah sisa-sisa energi yang tertinggal, kami menyebutnya sebagai residual energi. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi energi ini akan hilang dengan sendirinya.”
“Energi sebesar ini hanyalah sisa energi yang tertinggal?” Pikir Rama dengan sedikit terkejut.
Rama tidak terlalu ambil pusing dengan keberadaan residual energi itu. Mereka berdua terus berjalan menyusuri lorong untuk meninggalkan area pelatihan.
Di persimpangan jalan, mereka tanpa sengaja bertemu dengan Dirga yang sedang memegang dua buah kerambit di tangannya. Dirga terkejut saat melihat Julia dan Rama. Dia segera menghilangkan kerambit di tangannya itu.
“Tuan Dirga, apa yang anda lakukan?” Tanya Julia saat melihat Dirga.
“Saat aku selesai latihan, aku merasakan energi besar yang sangat mengerikan. Aku sedang mencari sumber energi tersebut.” Dirga menjawab pertanyaan Julia dengan tenang sambil memperhatikan Rama yang sedang merangkul Julia karena kondisi tubuhnya yang lemah.
“Asik sekali ya Rama, kami sedang berlatih dan kamu malah rangkul-rangkulan dengan Julia.” Ucap Dirga dengan dingin.
“Hey Dirga… Jangan asal bicara!” Teriak Rama kepada Dirga dengan wajah yang merona karena malu.
“Sudahlah tidak perlu malu. Aku akan merahasiakan ini.” Ucap Dirga.
“Kurang ajar kau Dirga… Uhuk Uhuk…” Teriak Rama sambil terbatuk-batuk yang membuat Julia tersenyum kepadanya. Senyuman Julia membuat Rama salah tingkah.
“Aku benci adegan romansa seperti ini.” Ucap Dirga.
“Oh ya, aku bukannya tidak ingin membantu mu Rama, tapi aku tahu kamu lebih senang jika di rangkul oleh Julia, kan?” Ucap Dirga sambil mengedipkan matanya dan berbalik arah untuk pergi meninggalkan Julia dan Rama. Kata-kata itu membuat Rama semakin salah tingkah.
“Tunggu Tuan Dirga.” Ucap Julia.
Kalimat itu membuat Dirga terkejut dan segera menghentikan langkahnya. Detak jantungnya berdegup cepat, namun Dirga berusaha untuk terlihat tetap tenang.
“Selamat telah menyelesaikan pelatihan dengan baik. Tadi aku dan Pak Darma melihat bagaimana anda menghadapi tantangan di latihan pernapasan. Anda hebat, tuan.” Puji Julia kepada Dirga.
“Terima kasih Julia.” Ucap Dirga dengan tersenyum.
“Oh ya tuan, sepertinya besok anda tidak bisa melakukan pelatihan di area kelima. Ada beberapa kendala teknis pada mesin kapsul virtual. Maka dari itu, anda bisa melakukan latihan secara mandiri.” Ujar Julia kepada Dirga.
“Baiklah aku mengerti, Julia. Kalau begitu aku pergi dulu. Hey Rama, jangan macam-macam dengan Julia.” Ujar Dirga.
“Kamu pikir aku pria seperti apa?” Sahut Rama masih dengan wajah merona yang diikuti dengan senyuman Dirga dan Julia.
Dirga meninggalkan mereka berdua dengan hati tenang. Tapi hal tersebut kembali membuat kecurigaan Julia semakin menguat. Julia merasa ada sesuatu yang aneh dengan tingkah laku Dirga.
“Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.” Ucap Julia dengan lirih.
“Apa maksud mu?” Tanya Rama yang mendengar perkataan Julia.
“Eh, tidak ada maksud apapun kok. Mari kita pergi tuan.” Julia kembali memberi tanggapan sambil tersenyum manis.
Di sepanjang perjalanan, Julia dan Rama tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Rama merasa kurang nyaman dan berusaha membuka pembicaraan.
“Julia, maaf merepotkan mu seperti ini.”
“Tidak masalah.”
Rama terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Julia. Tiba-tiba saja Julia menjadi sangat dingin. Matanya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
“Ada apa ya? Sepertinya ada sesuatu antara Julia dan Dirga.” Pikir Rama.
“Julia, kalau kamu punya masalah, jangan sungkan bicarakan saja. Kamu selalu ada untuk membantu ku dan anggota tim lainnya. Aku juga akan selalu siap untuk membantu mu.” Ujar Rama.
“Masalah ini terlalu rumit, tuan.”
“Masalah ini terlihat rumit karena kamu menghadapinya seorang diri. Jangan letakkan semua beban di pundak mu sendiri, Julia.” Ucap Rama dengan tersenyum lebar kepada Julia. Kata-kata itu membuat Julia merasa lebih baik dan kembali menunjukkan senyum manisnya.
“Terima kasih, tuan.”
“Kita mulai dari hal yang kecil.” Ucap Rama.
“Apa maksud anda, tuan?” Tanya Rama kebingungan.
“Jangan pernah lagi panggil aku ‘tuan’. Panggil saja aku ‘Rama’.” Ucap Rama masih dengan senyum lebarnya.
“Jangan pernah panggil aku ‘kak’. Panggil saja aku ‘Raka’.” Bayangan Raka muncul di benak Julia.
__ADS_1
Julia tersenyum senang dan membalas kata-kata Rama, “Terima kasih Rama.”.
***