Project Wanara

Project Wanara
Chapter 80. Serangan Para Iblis


__ADS_3

Duar…. Sebuah ledakan besar terjadi di salah satu sisi mansion Project Dasamuka hingga mengejutkan semua orang termasuk juga anggota tim Project Wanara yang segera keluar dari kamar masing-masing untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


Duar…. Ledakan kembali terjadi. Suara ledakan ini bahkan jauh lebih keras dibandingkan ledakan pertama. Dari celah jendela terlihat api sedang berkobar dengan begitu besar. Yuna, Galih dan Ayu segera menghampiri sumber ledakan.


Duar…. Lagi-lagi ledakan kembali terjadi. Yuna, Galih dan Ayu bertemu di lorong mansion dan mempercepat lajunya. Setibanya mereka ditempat kejadian, mata mereka terbelalak saat melihat kumpulan Jinn yang sedang bertarung melawan seluruh anggota Project yang tersisa. Sedangkan sebagian besar dari anggota Project lainnya telah terkapar tak bernyawa. Mereka juga sadar bahwa Jinn-jinn yang melakukan penyerangan adalah sekumpulan iblis pasukan Azazil.


Tanpa menunggu aba-aba, mereka bertiga membantu anggota Project yang tersisa untuk menghadapi sekumpulan Iblis itu. Yuna, Galih dan Ayu mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka miliki.


Kekuatan Yuna, Galih dan Ayu telah berkembang dengan sangat pesat sejak mereka berhasil menguasai teknik fusi. Daya hancur masing-masing serangan yang mereka lancarkan pun meningkat drastis. Tapi sayangnya jumlah iblis yang datang sangatlah banyak, terlebih lagi masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang luar biasa hebat.


Mereka bertiga memang mampu mengungguli kekuatan para Iblis yang datang dan berhasil membunuh banyak Iblis, akan tetapi perbedaan jumlah diantara mereka membuat pertarungan menjadi sangat tidak adil. Yuna, Galih dan Ayu terus menurus berada di bawah tekanan. Hingga tanpa mereka sadari, tidak tersisa satu anggota Project pun selain mereka bertiga.


Mereka terlihat sangat kesal dan terpukul, tapi tidak ada waktu untuk meratapi itu semua. Sedikit saja mereka lengah, kematian telah siap menyambut mereka bertiga. Peluh dan darah mengalir di tubuh mereka. Energi terkuras dan kemampuan mereka mulai menurun. Sedangkan Para Iblis jahat itu terus melakukan serangan tanpa henti.


Di tengah tekanan yang memuncak, Ayu mempertanyakan keberadaan Dirga, Julia dan Para Pandawa yang hingga detik ini tidak terlihat batang hidungnya. Sedari awal Yuna telah menyadari keanehan itu hingga dia memiliki sebuah kesimpulan dimana mungkin saja saat ini Dirga, Julia dan Para Pandawa sedang menghadapi Iblis yang jauh lebih kuat dibandingkan Iblis yang sedang mereka hadapi.


Mendengar pernyataan Yuna, hati Galih dan Ayu mulai goyah. Mereka mulai ragu tentang kemungkinan mereka menang melawan sekumpulan Iblis jahat yang sangat kuat itu. Sebenarnya Yuna pun merasakan hal yang sama, hanya saja Yuna tidak ingin tenggelam dalam perasaan itu dan memilih untuk terus berjuang hingga ajal menjemputnya.


Di tengah perasaan yang berkecamuk, Galih teringat pada Para Jinn Pendamping dan berniat meminta bantuan mereka. Yuna dan Ayu setuju dengan pernyataan Galih karena tentu saja kehadiran Jinn Pendamping dapat membalik keadaan mereka saat ini.


Galih meminta Ayu untuk memanggil Datutinggi Wentira dan dirinya akan berupaya untuk melindungi Ayu saat proses pemanggilan berlangsung. Sedangkan Yuna bertugas untuk terus menghabisi sebanyak mungkin Iblis yang tersisa.


Ayu memejamkan mata, memusatkan konsentrasi dan memanggil nama Datutinggi Wentira. Tapi sayangnya Wentira tak kunjung datang. Seharusnya cara itu berhasil karena memang begitulah cara yang Yuna lakukan saat memanggil Kanjeng Ratu Kidul. Tapi entah kenapa Datutinggi Wentira tidak memberi tanggapan sama sekali.


Melihat kondisi itu, Yuna dan Ayu bertukar posisi. Ayu akan bertanggung jawab menghabisi sebanyak mungkin Iblis yang tersisa, sedangkan Yuna akan mencoba memanggil Kanjeng Ratu Kidul. Tapi lagi-lagi cara serupa tidak berhasil. Sama halnya dengan Datutinggi Wentira, Kanjeng Ratu Kidul pun tak kunjung datang.


“Sial, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Ujar Ayu panik dan kebingungan.

__ADS_1


“Terus berjuang. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini.” Sahut


Galih.


“Kak Yuna, apa kamu tidak bisa menggunakan energi beast?”


“Jangan gegabah, alih-alih membantu, energi beast malah akan menyulitkan kita.” Galih memberi tanggapan.


Di tengah kebingungan yang memuncak, Galih teringat dengan Rama. Jika saja Rama ada di sini, mungkin mereka masih memiliki peluang untuk menang. Tapi keberadaannya saja tidak diketahui, apalagi meminta bantuannya.


Namun Yuna berpikir sebaliknya, mungkin saja dia bisa memanggil Rama. Pemikiran itu muncul karena dia meyakini ada sesuatu di dalam dirinya yang mungkin terhubung langsung dengan Rama. Yuna mulai menyadari itu saat dia melihat sosok Rama yang sedang dalam penderitaan, diikat pada tiang besar dan dibakar menggunakan api hitam yang sangat panas.


Meskipun Julia beranggapan bahwa gambaran itu hanyalah ilusi, tapi Yuna sangat yakin bahwa energi beast di dalam dirinya berkaitan erat dengan Rama sebab karakteristik energi beast itu sudah sangat familiar baginya, karakteristik energi yang sangat mirip dengan karakteristik energi milik Rama hanya saja jauh lebih buas dan tak terkendali.


Galih dan Ayu sudah terlihat sangat lelah. Energi mereka terkuras habis dan tidak lagi dapat mengimbangi kekuatan para Iblis. Di sisi lain, para Iblis justru terlihat semakin beringas dan kuat.


“Apa yang ku lakukan. Tentu saja tidak berhasil.” Pikir Yuna sedikit kecewa karena ternyata apa yang dia pikirkan sebelumnya ternyata tidaklah benar.


Situasi menjadi semakin sulit. Galih dan Ayu sudah tidak lagi dapat bertarung. Bahkan kondisi mereka terlihat sangat mengkhawatirkan. Terkapar di tanah dengan banyak luka terbuka disekujur tubuhnya.


Kondisi Yuna pun tidak jauh berbeda. Meskipun dia masih dapat berdiri, tapi tenaganya habis tak bersisa. Terlebih lagi luka-luka yang dia derita membuat kondisinya semakin parah.


Tanpa Yuna sadari, matanya berkaca-kaca. Dia tahu kalau mungkin ini adalah detik-detik terakhir yang dia miliki.


“Jangan sedih Yuna. Kita telah berjuang. Aku sangat bangga pada mu, juga Ayu. Aku sangat senang bisa bertemu dan bertarung bersama kalian.” Ucap Galih dengan senyum bangga menghiasi wajahnya.


Kalimat itu membuat Ayu dan Yuna tersentuh. Air mata Ayu pun mengalir. Bukan karena sedih, melainkan karena bahagia telah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Yuna dan Galih. Orang-orang hebat yang mewarnai hari-harinya yang semula hampa dan penuh kekangan.

__ADS_1


“Aku sangat bersyukur dapat bertemu dan menjadi rekan kalian.” Ucap Ayu diikuti senyum bahagia.


“Jangan menyerah, jika memang kita harus mati di sini. Kita akan mati setelah membunuh sebanyak mungkin Iblis jahat itu.” Ujar Yuna dengan mata berbinar. Meskipun kondisi tubuh mereka sudah sangat mengkhawatirkan, tapi ternyata semangat mereka masih belum padam.


Para Iblis kembali menyerang. Yuna, Galih dan Ayu telah kembali berdiri dan bersiap untuk mengeluarkan seluruh energi yang tersisa di dalam tubuh mereka. Namun tiba-tiba langit terbelah. Seseorang terlihat keluar dari celah langit itu, menghujam keras ke tanah dan mengeluarkan pancaran energi yang sangat kuat hingga menghempaskan sebagian besar Iblis yang tersisa.


Sosok itu berdiri tegap di hadapan Yuna, Galih dan Ayu dengan menampakkan punggung lebarnya. Dari punggungnya itu keluar sepasang sayap hitam yang membentang luas. Meskipun wajahnya tidak terlihat, Yuna, Galih dan Ayu sangat mengenal perawakan orang itu.


“Akhirnya kamu datang juga, Rama.” Ucap Yuna yang tidak lagi dapat membendung air matanya. Begitu juga dengan Ayu dan Galih yang merasa sedikit lega.


“Aku kembali. Terima kasih telah menungguku, Yuna. Kalian beristirahatlah, sisanya biar kami yang urus.” Rama menolehkan wajahnya dan tersenyum kepada Yuna.


“Kami?”


Seketika itu juga Kanjeng Ratu Kidul, Datutinggi Wentira dan Mbah Purwo datang. Mereka berdiri di samping Rama dan telah siap bertarung. Yuna, Galih dan Ayu merasa semakin tenang dengan hadirnya Jinn Pendamping mereka.


Tanpa berpanjang lebar, Rama bersama Para Jinn Pendamping menyerang pasukan Iblis yang tersisa. Yuna, Galih dan Ayu begitu terpukau dengan kekuatan yang diperlihatkan Rama dan Jinn Pendamping. Hanya dalam sekejap mata, semua Iblis pun musnah.


Kemudian Para Jinn Pendamping menghampiri Yuna, Galih dan Ayu untuk membantu memulihkan kondisi mereka.


“Tugas kita belum selesai, aku akan menyusul Eyang Merapi. Setelah kalian memulihkan kondisi Yuna, Galih dan Ayu, segera bantu kami.” Ucap Rama.


“Berhati-hatilah, jangan mati sampai kami datang.” Ucap Kanjeng Ratu.


“Tentu saja.” Sahut Rama dengan senyum lebar di wajahnya yang kemudian menghilang dari pandangan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2