Project Wanara

Project Wanara
Chapter 17. Penguatan, Perubahan, Penyebaran


__ADS_3

Energi milik Rama meluap dan membentuk sebuah siluet cakar di jari-jari tangannya. Dia pun menyerang Julia dari jauh menggunakan cakar-cakar tersebut hingga membuat energi gelap keluar dan membentuk kumpulan sabit dengan ketajaman yang luar biasa. Tidak hanya sangat tajam, sabit itu juga mengeluarkan energi lain seperti petir yang berwarna ungu.


“Mati kau….!” Teriak Rama.


Sabit-sabit tersebut bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Julia. Julia hanya berdiri terdiam dengan wajah tersenyum. Julia tidak berusaha untuk menghindar sama sekali. Sesaat sebelum sabit menyentuh Julia, tiba-tiba saja sabit-sabit tersebut lenyap tanpa jejak.


Rama terkejut dan tanpa ragu kembali melancarkan serangan serupa kepada Julia. Namun lagi-lagi sesaat sebelum serangannya mengenai Julia, energi sabitnya menghilang tak bersisa.


“Apa hanya ini yang bisa anda lakukan?” tanya Julia sambil menyeringai.


Rama mengerahkan energinya ke bagian kaki dan seketika dia bergerak dengan cepat menghampiri Julia untuk memberikan serangan langsung menggunakan cakarnya.


Bak… Bak…. Duk… Dar…


Serangan demi serangan dilancarkan begitu cepat. Rama tidak seperti seorang pemula yang baru saja membangkitkan kekuatannya, melainkan sudah seperti seorang profesional yang begitu mahir. Kecepatan Rama bahkan sangat sulit untuk diikuti oleh Dirga, Galih dan Ayu.


Tidak hanya itu yang membuat mereka menelan ludah. Julia yang sedari tadi diserang oleh Rama, sama sekali tidak terluka. Tidak ada satupun serangan Rama yang berhasil menyentuh ujung rambut Julia.


Syut…. Julia mundur beberapa langkah dengan sangat cepat dan melancarkan serangan balasan. Tanpa disadari, kumpulan duri tajam telah mengelilingi Rama. Rama pun terdiam dan menghentikan gerakannya.


“Sial….!” Pikir Rama.


Rama mengerahkan kekuatannya dan bergerak kesana kemari tidak menentu untuk dapat keluar dari situasi saat ini. Namun duri tersebut tetap dapat mengikuti pergerakan Rama. Rama kembali mengalirkan energinya ke bagian kaki untuk memperkuat dan mempercepat langkahnya. Baru saja Rama hendak melangkahkan kaki, akar belenggu seperti yang digunakan untuk menyerang Darma keluar dari tanah untuk mengikat tangan dan kakinya. Rama tidak bisa bergerak sama sekali.


Tidak lama kemudian, Rama melihat kumpulan duri yang sedari tadi hanya bergerak mengikutinya, kini dengan cepat melesat ke arahnya. Rama terus berusaha melepaskan diri. Tapi segala upaya yang dia lakukan tidak membuahkan hasil apapun. Hingga akhirnya Rama terdiam pasrah. Rama melihat duri tepat didepan matanya dan tiba-tiba….


Sring… Sring…. Sring….


Duri-duri tersebut menghilang dan berubah menjadi partikel-partikel kecil yang bertebaran begitu indah.


“…..” Rama tercengang.


Setelah itu, akar merah muda yang membelenggu tangan dan kakinya pun perlahan menghilang hingga membuat Rama kembali dapat bergerak bebas.


“Bangsat…. Apa maksudnya ini Julia?” tanya Rama dengan tatapan dingin.


Pletak….


“Sopanlah sedikit.” Darma tiba-tiba datang dan menjitak kepala Rama.


“Kenapa aku yang dipukul? Dia yang menyerang kita duluan pak..!!” teriak Rama sambil menunjuk Julia.


“Eh… Pak Darma sudah bebas juga?” tanya Rama saat menyadari hal tersebut.


“Kamu pikir akar-akar itu bisa mengalahkan ku?!” jawab Darma dengan sedikit ragu.


“Mau dicoba lagi?” Julia menghampiri dengan senyuman di wajahnya.


Julia tidak lagi menampakkan ekspresi yang menakutkan seperti sebelumnya. Senyum Julia kembali seperti semula.


“Ehmmm…. Tidak perlu." ucap Darma singkat.


“Hey…. Apa yang sebenarnya terjadi?!” Teriak Rama.


“Saya sungguh minta maaf tuan Rama. Tadi kami sengaja melakukan itu agar kami dapat membangkitkan kemampuan tuan Rama yang sebenarnya.” Ujar Julia.


“Kami sempat ragu dengan metode ini, tapi ini merupakan metode paling cepat yang dapat kami lakukan” tambahnya.


“Saya dan Pak Darma minta maaf untuk apa yang telah terjadi.” Julia kembali meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.


“Kamu tidak hanya menyerang ku, tapi juga Yuna. Sekarang lepaskan Yuna…!” ucap Rama.


“Aku baik-baik saja Rama. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku” ucap Yuna yang juga tiba-tiba menghampiri.


“Eh…..” Rama kembali terkejut.


“Apa Yuna juga bagian dari rencana kalian?” tanya Rama.


“Tidak, Yuna tidak tahu apapun.” Ucap Darma.


“Sepertinya Yuna sangat peduli pada mu Rama. Tanpa pikir panjang dia langsung ikut menyerang Julia.” tambahnya.


Hal tersebut membuat wajah Yuna memerah karena malu.

__ADS_1


“Tadi Yuna sempat terluka, tapi kepompong merah muda milik Julia telah menyembuhkan Yuna dengan cepat. Kepompong itu tidak hanya menyembuhkan Yuna, tapi juga melindunginya saat kalian sedang bertarung.” Ucap Darma.


“Aku tahu Julia sangat hebat, tapi aku tidak tahu kalau Julia sekuat itu. Dia membuat belenggu untuk menghentikan pergerakan ku. Membuat kepompong untuk mengobati dan melindungi Yuna serta disaat yang bersamaan dia bertarung melawan kamu yang memiliki energi mengerikan seperti tadi.” ujar Darma.


Rama masih belum berkata sepatah katapun. Beberapa menit yang lalu Rama masih sangat mengagumi sosok Julia, lalu kemudian kekaguman itu berubah menjadi kebencian. Tapi ternyata kebencian itu sengaja diciptakan untuk membangkitkan kekuatan tersembunyi miliknya. Semua itu terjadi begitu cepat, Rama masih bingung harus


bersikap seperti apa.


Tidak hanya Rama, anggota tim lain juga masih belum dapat berkata banyak. Situasi saat ini membuat mereka hanya bisa terdiam.


“Berterimakasihlah kepada Julia. Berkat dia, kamu bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi mu dengan tetap melindungi keselamatan anggota tim lain” Ucap Darma seakan memahami isi hati Rama.


Rama menghampiri Julia dan berdiri dihadapannya. Rama menatap tajam mata Julia.


“Aku masih tidak mengerti kenapa wajah psikopat tadi dapat ditunjukkannya. Apa benar itu hanya sandiwara belaka?” ujar Rama dalam hatinya.


“Tapi wajah yang ditampakkan Julia saat ini benar-benar indah.” pikirnya.


“Julia, aku juga minta maaf telah salah sangka padamu. Terima kasih Julia.” Ucap Rama sambil menundukkan kepalanya.


Cling cling cling….


Partikel-partikel berwarna merah muda menyelimuti tubuh Rama. Partikel itu berkumpul pada bagian tubuh Rama yang mengalami luka dan menyembuhkan luka-luka tersebut dengan mudah.


“Apa ini?” tanya Rama.


“Itu adalah permintaan maaf saya karena telah membuat Tuan Rama terluka” ucap Julia.


“Hebat… semua luka ku sembuh. Kamu hebat sekali Julia. Terima kasih.” ucap Rama dengan bahagia.


“Julia memang wanita yang hebat. Dia sangat mahir dalam pertarungan, memiliki pertahanan yang kuat dan juga bisa melakukan teknik-teknik penyembuhan tingkat atas seperti kepompong dan serbuk sari penyembuh tadi.” ucap Darma.


“Kalian sangat beruntung mendapatkan Julia sebagai pelatih kalian.” tambahnya.


“Ayo kita berkumpul di bawah pohon besar itu. Kita akan lanjutkan pelatihan disana.” Pinta Darma sambil menunjuk sebuah pohon besar di area tersebut.


“Duduk dan tenangkan diri kalian. Aku yakin kalian masih sangat terkejut dan terguncang karena kejadian barusan.” Darma memulai penjelasan.


“Pertarungan yang baru saja terjadi antara Rama dan Julia, telah memperlihatkan kemampuan CORE yang sesungguhnya. Kemampuan ini sangat mengerikan dan mengagumkan disaat yang bersamaan.” Ucap Darma.


“Aku juga… Tubuh ku bergetar hebat karena rasa takut.” tambah Galih yang diikuti anggukan


kepala Ayu.


“Itu adalah hal yang wajar. Kalian baru saja memahami konsep dasar pengendalian CORE sehingga tubuh kalian masih belum terbiasa menerima paparan energi yang sangat kuat.” Darma berusaha untuk tetap menjaga mental anggota tim nya.


“Tapi Kak Rama dapat mengatasi itu, bahkan bisa melancarkan beberapa serangan kuat kepada


Julia.” ujar Ayu tertunduk lesu.


“Rama adalah pengecualian, apa kalian lupa kalau sedari awal Rama adalah orang yang aneh.” Darma berusaha mencairkan suasana.


“Apa-apaan itu….!” Teriak Rama tidak terima.


“Kak Rama memang aneh kok… Ha ha ha.” ucap Ayu sambil tertawa. Dirga, Galih dan Yuna tersenyum kecil. Begitupun dengan Rama.


“Kami sengaja membuat skenario seperti tadi agar dapat membantu Rama membangkitkan kekuatannya yang tersembunyi.” Darma kembali menjelaskan.


“Dari pertarungan tadi kita tahu bahwa ada banyak cara yang dapat digunakan untuk memanipulasi energi CORE.”


“Manipulasi energi terbagi menjadi tiga bagian yakni penguatan, perubahan dan penyebaran. Kalian dapat melakukan ketiganya. Namun secara natural, kalian memiliki kecenderungan untuk lebih unggul di salah satu bagian.”


“Dari pertarungan tadi, apa yang dimaksud dengan penguatan adalah apa yang dilakukan oleh Rama untuk bergerak dengan cepat. Dia memperkuat salah satu bagian tubuhnya untuk melakukan itu.”


“Perubahan adalah hal yang paling banyak ditunjukkan dalam pertarungan tadi. Dandelion merah muda, belenggu akar, kepompong pelindung dan serbuk sari penyembuh, rantai pengendali serta cakar milik Rama merupakan hasil dari perubahan CORE.”


“Apa kalian tahu apa yang membedakan rantai milik ku, cakar milik Rama dan Dandelion milik Julia?” tanya Darma.


“Rantai Pak Darma berwarna hijau, cakarku berwarna hitam dan Dendalion Julia berwarna merah muda” Jawab Rama.


Darma mengambil batu kerikil kecil dan melamparnya ke arah Rama.


“Kenapa Pak…?” protes Rama.

__ADS_1


“Jawaban kamu tidaklah salah. Tapi bukan itu yang aku maksud.” Jawab Darma.


“Jarak…..” ujar Yuna yang baru mengerti saat melihat Darma melemparkan batu kerikil kepada Rama.


“Apa maksudnya?” tanya Darma.


“Rantai milik Pak Darma dan Cakar milik Rama secara langsung bersentuhan dengan tubuh kalian


masing-masing. Sedangkan Dendalion milik Julia terbang bebas.” ujar Yuna.


“Benar juga….” Pikir Rama.


“Tepat sekali….! Apa yang ditunjukkan oleh Julia tadi adalah gabungan dari pembentukan dan penyebaran. Dengan penyebaran, kalian bisa mengendalikan energi bahkan tanpa harus menyentuhnya secara langsung.” Ucap Darma.


“Hal tersebut membuatnya dapat melakukan serangan jarak jauh dengan jangkauan yang sangat luas.” Tambahnya.


“Sekarang kita akan berlatih untuk dapat melakukan ketiga hal tersebut.” Ucap Darma dengan tegas diikuti dengan seluruh anggota tim yang memperhatikan dengan seksama.


“Kita akan melakukan latih tanding satu lawan satu. Yuna akan bertarung melawan Dirga sedangkan Galih akan melawan Ayu” Tambahnya.


“Aku melawan siapa Pak?” tanya Rama


“Apa kamu belum puas bermain dengan Julia?” Darma balik bertanya.


“……..” Rama sejenak terdiam.


“Kenapa kata-kata Pak Darma selalu saja ambigu sih?!” tanya Rama diikuti gelak tawa anggota tim lainnya


“Rama…. Sekarang coba ceritakan bagaimana cara kamu membuat energi dan cakar seperti tadi” pinta Darma.


“Eh, kalau ditanya begitu…. Tadi aku hanya merasa emosi dan ingin sekali mencabik-cabik wajah psikopat Julia” jawab Rama dengan sedikit ragu-ragu.


“hah? Kak Rama jahat sekali…..” ucap Ayu.


“Aku kecewa…” Yuna juga ikut berkomentar.


“Tidak… tidak… bukan begitu… Aku benar-benar emosi melihat Julia menjatuhkan mu Yuna.” Rama berusaha menjelaskan.


Tanpa sadar ucapan Rama membuat Yuna tertunduk dengan wajah tersipu malu.


“Ehmmm…” Julia mendeham.


“Aku minta maaf Julia…” Rama merasa bersalah dan kembali meminta maaf sambil menundukkan kepalanya kepada Julia berkali-kali.


Julia hanya tersenyum melihat tingkah laku Rama.


“Tidak perlu merasa bersalah tuan Rama.” ucap Julia.


“Baiklah, kalian sudah tahu bagaimana cara Rama membuat cakar di tangannya. Hal serupa dapat kalian lakukan. Didalam pertarungan nanti, dengan sendirinya kalian akan mengerti bagaimana menggunakan energi kalian.” Ujar Darma.


“Tuan dan nona dapat bertarung sekuat tenaga. Jangan takut terluka karena kami akan selalu siap untuk melindungi kalian. Namun jangan sampai hal ini justru membuat tuan dan nona menjadi gegabah.” Julia memberi penjelasan tambahan.


“Tepat sekali….!” Sahut Darma.


“Pertarungan pertama antara Yuna dan Dirga akan segera kita mulai. Pertarungan dimulai saat aku beri aba-aba dan berakhir saat salah satu menyerah atau tidak lagi dapat bertarung. Tunjukkan kemampuan terbaik kalian.” Ujar Darma.


Yuna dan Dirga berjalan menuju lapangan dengan perasaan ragu dan sedikit khawatir. Kemudian mereka berdiri berhadapan untuk menunggu aba-aba pertarungan dimulai. Galih dan Ayu menyaksikan dengan perasaan gugup.


“Berdasarkan nilai potensi, Yuna sepertinya akan diunggulkan. Namun daya tahan tubuh Dirga jauh lebih baik dibandingkan Yuna. Bisa jadi Dirga akan memanfaatkan itu” pikir Galih.


“Kalian siap…?!” teriak Darma diikuti dengan anggukan kepala Yuna dan Dirga.


“Mulai….!”


Buaaaaak!


.


.


.


.

__ADS_1


Yuna tergelatak di tanah.


***


__ADS_2