
Hipotesa tentang Rama yang mewarisi darah dan kemampuan King of Jinn cukup membuat Julia khawatir. Julia belum bisa memastikan apakah Rama akan menjadi teman atau justru lawannya.
“Bukankah Ifrit juga mengincarnya? Kita harus ceritakan fakta ini kepada Rama sebelum dia terhasut oleh makhluk terkutuk itu. Saat ini Rama seperti sebuah kertas kosong. Jika kita tidak menuliskan fakta-fakta yang sebenarnya, maka makhluk lain akan mengambil kesempatan untuk menulis cerita versi mereka sendiri. Jika itu terjadi, kekuatan yang Rama miliki dapat menghancurkan umat manusia.” Ucap Julia.
“Tenanglah, nona. Kita tidak boleh gegabah. Rama tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang akan kita ceritakan. Lagi pula kita juga belum terlalu yakin. Jadi yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mengamati dan melindunginya dari jauh.” Narwa memberikan pendapatnya.
“Tapi kita memang tetap harus mewaspadai pergerakan Ifrit. Aku sangat khawatir dengan kemampuan Ifrit dalam menyuntikkan energi kepada makhluk lain agar tunduk dan patuh kepadanya dan para sekutunya saja. Kemampuan yang membuat banyak makhluk mengingkari Sang Maha Pencipta.”
“Aku mengerti, Narwa.” Ucap Julia.
Pembicaraan antara Julia dan Narwa pun berakhir. Julia kembali ke ruang pengawasan.
“Apa kamu mendapatkan informasi?” Tanya Darma.
“Tidak, bahkan menjadi semakin rumit.” Jawab Julia.
“Lalu bagaimana?”
“Kita lanjutkan sesuai rencana. Aku akan memberi instruksi tambahan kepada Rama.”
“Aku mengerti.” Ucap Darma.
Waktu istirahat pun berakhir, Rama telah kembali bersiap di posisinya untuk melakukan latihan pernapasan.
“Tuan Rama, sebelum kita lanjutkan, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Hal ini adalah informasi yang hanya boleh diketahui oleh anda saja, tuan. Saya harap anda tidak membicarakan hal ini dengan anggota tim lain.” Ucap Julia membuka penjelasan.
“Apa itu?” Tanya Rama penasaran.
“Hey, apa kamu mengerti?!” Teriak Darma.
“Iya iya pak, aku mengerti. Aku akan rahasiakan dari anggota tim lain.” Sahut Rama.
“Bagus.” Ujar Darma.
“Saat anda melanjutkan latihan, lakukan teknik pernapasan sesuai instruksi yang akan saya berikan.” Ujar Julia melanjutkan penjelasannya.
“Rasakan setiap energi yang ada di sekitar anda. Energi itu berupa partikel kecil yang memenuhi seluruh ruangan. Anda tidak akan bisa melihatnya, tapi berusahalah untuk merasakannya.”
“Setelah anda merasakannya, bayangkan seluruh partikel itu masuk kedalam tubuh anda, tuan. Alirkan seluruh partikel itu ke bagian inti CORE.”
“Bayangkan juga seluruh partikel itu menyelimuti inti CORE anda. Anggap partikel itu sebagai cangkang telur yang melindungi telur itu sendiri. Telur itu adalah CORE anda. Jangan biarkan cangkang itu pecah dan membuat energi CORE anda meluap tak terkendali.”
“Teruslah melakukan latihan pernapasan hingga anda mulai terbiasa dengan kehadiran partikel energi itu. Setelah mulai terbiasa, serap partikel energi itu ke dalam inti CORE anda. Jadikan partikel energi itu sebagai bagian dari energi anda sendiri.” Ujar Julia mengakhiri penjelasan.
“Kenapa aku harus melakukan itu?” Pikir Rama.
“Baiklah, Julia.” Sahut Rama.
“Bersiaplah, kita akan lanjutkan latihan ini.” Ucap Darma.
“Aku siap…!” Sahut Rama.
Pelatihan berlanjut dan Rama pun melakukan teknik pernapasan sesuai instruksi yang diberikan kepadanya. Rama berusaha merasakan partikel energi yang tersebar di seluruh penjuru ruangan pelatihan. Tapi dia tidak bisa merasakan energi apapun selain energi miliknya sendiri.
Tidak lama kemudian Rama merasakan suhu ruangan berubah menjadi dingin. Saat itu terjadi, Rama merasakan kedatangan ribuan partikel energi dari setiap sudut ruangan.
“Apa ini yang dimaksud Julia tadi?” Pikir Rama.
Rama memang tidak mengetahui secara pasti bentuk dan warna partikel tersebut, tapi didalam benaknya, partikel itu berwarna kekuningan seperti kumpulan kunang-kunang yang sedang terbang.
Kemudian Rama melihat seluruh partikel energi itu masuk secara perlahan ke dalam tubuhnya, mengalir kedalam aliran darahnya dan berkumpul di area sekitar inti CORE nya. Setelah berkumpul, partikel-partikel itu langsung
terserap ke dalam CORE. Rama terkejut karena semakin banyak partikel yang terserap, dia semakin merasa kesulitan dalam mengendalikan energinya sendiri. Kini Rama pun mengerti alasan Julia memintanya untuk menjaga dan mempertahankan partikel-partikel itu di sekitar inti CORE. Jika semakin banyak partikel energi yang terserap, sedangkan kondisi Rama masih belum siap, dikhawatirkan kejadian tempo hari akan kembali terulang.
Setelah memahami hal tersebut, Rama berusaha untuk menjaga aliran partikel energi yang masuk kedalam tubuhnya. Dia berusaha keras agar partikel energi yang menyelimuti CORE nya tidak terserap kedalam CORE itu sendiri. Mulanya hal itu bukanlah sesuatu yang sulit, tapi semakin banyak energi yang berkumpul, semakin sulit bagi Rama untuk mempertahankan kondisi tersebut. Rama mulai merasakan sakit di bagian ulu hati. Rasa sakit itu tersirat jelas di wajahnya.
Julia yang mengetahui hal tersebut, meminta Darma untuk melihat dan memantau kapasitas energi Black Onyx Stone di area keempat.
“Darma, berapa banyak sisa kapasitas energi Black Onyx Stone?”
“Saat ini tersisa 40% dan masih terus berkurang.” Ujar Darma.
“Kecepatan penyerapan ini masih dalam batas yang mampu dikendalikan oleh Rama.” Pikir Julia.
“Sepertinya tidak Julia.” Teriak Darma.
“Kenapa?” Tanya Julia penasaran.
“39….”
“38….”
“37….”
“36….”
“35….”
“34….”
“Apa yang terjadi?” Ucap Julia dengan sedikit panik.
“33….”
“32….”
“31….”
“30….”
“Argggghhhh…..” Rama menjerit kesakitan.
__ADS_1
Julia dan Darma sangat terkejut mendengar teriakan itu.
“Darma, hentikan mesin itu!” Teriak Julia.
“Aku sudah mencobanya, distribusi energi sudah ku hentikan, tapi partikel energi masih terus berhamburan.”
“Tidak mungkin…!” Ucap Julia.
“Lihat saja sendiri…!” Balas Darma.
“29….”
“28….”
“27….”
“26….”
“25….”
Julia sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Julia jangan diam saja. Ayo kita kesana dan kendalikan luapan energi itu.” Teriak Darma.
“Kondisi ini berbeda, jika kita menghentikan proses ini, Rama akan mati.”
“Apa maksud mu?”
“Luapan energi yang dulu kita kendalikan adalah murni luapan energi CORE nya. Tapi kini didalam tubuh Rama sedang berkumpul ribuan partikel energi Black Onyx Stone. Jika kita menggunakan cara yang sama, kekuatan energi CORE nya mungkin saja bisa kita kendalikan, tapi bagaimana dengan energi Black Onyx Stone?”
“Rama masih bisa bertahan sejauh ini karena kekuatan CORE nya itu, jika kita lemahkan kekuatan CORE nya, apa kamu bisa mengendalikan energi Black Onyx Stone di dalam tubuhnya?”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?!” Darma masih berteriak-teriak karena panik.
“Aku percaya kepadanya….” Jawab Julia.
“Jika memang dia benar anak Tuan Asoka, dia pasti bisa menghadapinya.” Pikir Julia dengan cemas.
“Jawaban macam apa itu…!” Teriak Darma.
“Jangan berisik…! Perhatikan saja penurunan kapasitas energinya…!” Julia membalas teriakan Darma.
Darma nampak sangat kesal, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.
“24….”
“23….”
“22….”
“21….”
“20….”
“Rama masih berjuang untuk mengendalikan penyerapan energi itu.” Pikir Julia.
“19….”
“18….”
“17….”
“16….”
“15….”
“Arggggghhhh…..” Rama berteriak semakin kencang.
“Tato?” Ucap Julia lirih saat melihat kemunculan bekas luka bakar berwarna kemerahan seperti tato di beberapa bagian tubuh Rama.
“14….”
“13….”
“12….”
“11….”
“10….”
Bekas luka bakar kembali menjalar ke seluruh tubuh Rama dan bergerak ke bagian kepalanya. Teriakan juga tak henti-hentinya keluar dari mulut Rama.
“9….”
“8….”
“7….”
“6….”
“5….”
Pancaran energi yang dahsyat mulai keluar dari tubuh Rama. Pancaran energi itu berdampak pada fungsi CCTV di ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu terdapat empat buah CCTV dari sudut pandang yang berbeda-beda. Julia mencoba melihat semua channel, tapi tidak ada satu pun yang berfungsi. Kini Julia dan Darma tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruang itu.
“4….”
“3….”
“2….”
“1….”
__ADS_1
“0….”
{Energi Black Onyx Stone tidak terdeteksi.}
{Sistem akan mematikan fungsi secara otomatis dalam 3… 2… 1…}
“Energi Black Onyx Stone habis.” Ucap Darma dengan dingin.
“Aku sama sekali tidak mengerti. Kamu tahu hal ini akan terjadi tapi malah memutuskan untuk melanjutkan rencanamu itu. Aku kecewa padamu, Julia.” Ucap Darma sambil melihat air mata Julia menetes.
“Kamu ingin tetap menangis di sini atau ikut aku melihat kondisi Rama?” Tanya Darma sambil berjalan pergi meninggalkan ruang pengawasan.
Julia pun merasa sangat khawatir dengan keadaan Rama. Dia menyeka air matanya itu dan mengikuti Darma menuju tempat Rama.
Sesaat setelah Julia dan Darma pergi meninggalkan ruang pengawasan. Seluruh CCTV di area keempat kembali berfungsi dengan baik. Wajah Rama kembali terlihat di layar monitor. Tapi Rama terlihat berbeda. Aura gelap menyelimuti tubuhnya, matanya terlihat sangat tajam dan dia juga menunjukkan senyum seringai yang sangat mengerikan sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Julia dan Darma yang telah tiba di ruang pelatihan area keempat dan melihat Rama tak sadarkan diri pun bergegas menghampiri untuk memastikan keadaan Rama.
Darma dengan cekatan memastikan kondisi fisiologis Rama. Rama masih bernapas, tapi terasa sangat pelan. Denyut nadi masih terasa, namun sangat lambat. Detak jantung masih terdengar, hanya saja iramanya berantakan.
“Syukurlah Rama masih dapat bertahan.” Pikir Darma.
“Hey Julia, jangan hanya diam saja. Lakukan teknik penyembuhan.” Teriak Darma kepada Julia yang hanya berdiri mematung melihat kondisi Rama. Teriakan itu menyadarkan Julia yang dengan cepat mengeluarkan kepompong energi untuk memulihkan kondisi Rama. Kini Julia merasa lebih tenang.
Pada dasarnya energi CORE milik Rama memiliki kemampuan penyembuhan. Dibantu dengan teknik penyembuhan yang dilakukan Julia, kondisi Rama pun pulih dengan sangat cepat. Mengetahui hal itu, Julia menghentikan tekniknya dan menunggu Rama sadarkan diri.
“Kenapa kamu berhenti.” Ujar Darma yang tidak mengetahui hal tersebut.
“Rama sudah pulih. Kita hanya perlu menunggu dia sadarkan diri.” Jawab Julia.
“Tidak mungkin. Dengan kondisinya saat ini, Rama tidak akan pulih dengan cepat bahkan kalau kamu membantunya dengan teknik penyembuhanmu itu.” Ucap Darma.
Julia tidak menanggapi perkataan Darma dan hal itu membuat Darma semakin kesal.
“Hey Juli….!” Teriakan Darma terhenti.
“Apa yang terjadi?” Tanya Rama yang baru saja sadarkan diri sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
“Tidak mungkin.” Pikir Darma.
“Anda berhasil menyelesaikan pelatihan ini dengan baik, tuan. Tidak hanya itu, energi yang anda miliki meningkat pesat. Cobalah rasakan energi tersebut dan keluarkan bola energi. Tapi ingat, tetap batasi energi yang anda keluarkan sebanyak 10% saja.” Pinta Julia.
“Apa kamu tidak salah? Dia baru saja sadarkan diri dan kamu memintanya melakukan itu.” Bisik Darma masih dengan perasaan kesal. Lagi-lagi Julia tidak memberi tanggapan.
“Sial….” Pikir Darma.
Rama pun melakukan instruksi yang Julia berikan. Dia mengeluarkan bola energi menggunakan 10% energi yang dia miliki.
“Luar biasa Julia. Energi ini terasa sangat berbeda. Rasanya begitu padat dan penuh tekanan.” Ucap Rama.
“Sekarang gunakan 15% kemampuan mu.” Pinta Julia.
“Hey…!” Teriak Darma kepada Julia.
“Aku bisa mengendalikannya, Julia.” Teriak Rama dengan antusias.
“Naikkan 20%. Jika kamu masih sanggup, anggukan kepalamu. Jika tidak sanggup, jangan dipaksakan dan hentikan segera.” Ucap Julia diikuti dengan anggukan kepala Rama.
“25%”
“30%”
“35%”
“40%”
Julia dan Darma terkejut. Energi yang dikeluarkan Rama terasa sangat kuat.
“Apa kamu masih sanggup?” Tanya Julia yang masih diikuti dengan anggukan kepala Rama.
“45%”
“50%”
“Arghh….” Rama menjerit.
Julia dengan cekatan mengeluarkan akar pengendali dan berusaha mengendalikan luapan energi yang terjadi.
“Rama, turunkan energi yang kamu keluarkan sampai sekitar 45% saja.” Ujar Julia.
“Terima kasih, Julia.” Ucap Rama yang mulai bisa mengendalikan lagi energinya.
“Selamat tuan, kini anda dapat menggunakan hampir setengah dari kemampuan yang anda miliki. Pencapaian yang luar biasa.” Puji Julia.
“Sekarang keluarkan energi CORE itu dan pancarkan ke area sekitarmu.” Sambungnya.
“Baiklah, akan ku coba.” Jawab Rama.
Rama kembali mengikuti instruksi Julia. Dia mengeluarkan energinya dan memancarkan energi tersebut ke area disekitarnya. Tiba-tiba saja Darma menjerit kesakitan sambil memegangi dadanya.
“Arghh…. Kekuatan macam apa ini?” Teriak Darma. Dia berusaha bertahan dari pancaran energi yang dikeluarkan oleh Rama. Darma juga mengeluarkan pancaran energi dan menyelimuti tubuhnya menggunakan energi tersebut. Kini Darma mulai merasa lebih nyaman.
“Kekuatan yang sangat dahsyat.” Pikir Darma yang masih tersengal-sengal dan mengeluarkan keringat dingin.
“Hebat sekali, tuan. Sekarang hentikan pancaran energi tersebut dan hancurkan kubah pelindungku menggunakan kekuatanmu saat ini.” Ucap Julia sambil membuat kubah pelindung. Dia dan Darma berada didalam kubah pelindung itu.
Rama mengeluarkan cakarnya dan melakukan satu serangan untuk menghancurkan kubah pelindung itu.
Duaaaar…. Kubah pelindung hancur seketika.
“Gila….” Teriak Darma dengan mata terbelalak.
__ADS_1
***