Project Wanara

Project Wanara
Chapter 54. Kompetisi Antar Project


__ADS_3

Hari pun berganti dan seluruh anggota project, termasuk juga Dirga, kembali melakukan aktivitas pelatihan seperti biasa di lapangan belakang mansion. Dirga yang telah mengetahui kebenaran di balik kematian Raka pun menghampiri Julia dan meminta maaf atas sikap dan kesalahpahaman yang terjadi.


“Julia, aku minta maaf. Aku telah mengetahui semuanya.” Ujar Dirga sambil mengembalikan alat penyimpanan data yang kemarin diberikan oleh Julia.


Julia pun tersenyum dan menerima permintaan maaf itu dengan senang hati.


“Apa anda telah melihat semua isi video itu?” Tanya Julia.


“Sudah Julia, tidak kulewatkan satu pun.” Jawab Dirga.


“Apa tidak ada yang membuat anda penasaran?


“Ada banyak sekali pertanyaan. Tapi aku yakin satu hal, jika memang sudah saatnya untuk kami tahu, kamu pasti akan menjelaskan semuanya. Tugasku saat ini hanya untuk berlatih dan bertambah kuat.” Jawab Dirga diikuti dengan senyum bangga di wajah Julia.


Ditengah-tengah sesi latihan, Julia dan Darma mengumpulkan semua anggota untuk melihat perkembangan nilai potensi setelah pelatihan khusus dilakukan. Rama, Galih, Dirga, Yuna dan Ayu menyampaikan nilai potensinya masing-masing melalui jam tangan pemindai.


“Sebutkan nilai potensi kalian masing-masing agar kita tahu perkembangan yang telah kalian capai.” Ujar Darma.


“Nilai potensi ku tidak berubah pak. Sepertinya alat ini rusak.” Ujar Rama.


“Tidak perlu terlalu kecewa.” Sahut Darma yang mengetahui bahwa alat itu memang tidak berguna jika dipakai oleh Rama.


“Nilai potensi ku 748.” Ujar Ayu


“Bagus. Kamu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.”


“Kalau aku 859.” Ucap Galih.


“Hebat. Kemampuanmu memang telah banyak sekali meningkat, Galih. Bagaimana dengan Dirga?”


“Aku 907, Pak.” Jawab Dirga.


“Kamu hampir masuk ke tingkat Ayuta. Berjuanglah lebih banyak, kamu akan merasakan perubahan yang cukup besar saat memasuki tingkat Ayuta. Terakhir, Yuna.”


“Nilai potensi ku 1.235, Pak.” Sahut Yuna.


“Luar biasa. Kamu orang pertama yang berhasil mencapai tingkat Ayuta.” Ucap Darma dengan semangat.


“Kak Yuna, kamu hebat sekali.” Puji Ayu.


“Sejak awal memang Yuna adalah orang yang sangat hebat. Aku bangga menjadi temanmu, Yuna.” Galih pun ikut memberi pujian.


Yuna tersenyum lebar kepada Ayu dan Galih sebagai bentuk terima kasihnya atas pujian yang dia terima. Matanya sekilas melirik ke arah Rama yang nampak murung. Yuna memahami kondisi Rama saat ini. Sepertinya Rama sedikit kecewa dengan hasil yang dia dapatkan.


“Rama, jangan murung begitu. Kalau kamu butuh teman untuk berlatih, panggil saja aku. Aku akan selalu siap membantumu.” Ujar Yuna dengan memberi senyuman indah.


“Terima kasih Yuna.” Jawab Rama singkat.


“Tentu saja aku juga akan ikut membantu. Sudah seharusnya orang yang kuat membantu yang lemah kan?” Ujar Galih.


“Kurang ajar kau Galih!” Teriak Rama.


“Itu baru Rama yang ku kenal.” Sambung Galih diikuti dengan tawa seluruh anggota tim lainnya.


Kata-kata yang diucapkan oleh Yuna dan Galih mengembalikan semangat Rama. Suasana pun kembali penuh dengan keceriaan.

__ADS_1


“Peningkatan yang tuan dan nona dapatkan sungguh luar biasa. Saya ucapkan selamat kepada kalian semua terutama kepada Nona Yuna yang telah berhasil mencapai tahap Ayuta.” Ujar Julia.


“Ada satu hal yang perlu saya sampaikan kepada tuan dan nona. Saya telah menerima pesan dari sekretaris Pandawa. Tiga bulan lagi akan diadakan kompetisi antar Project untuk mengetahui progres seluruh anggota project yang dilakukan oleh Pandawa Group. Kompetisi akan dilaksanakan di Puncak Gunung Cikuray, atau tempat pelatihan Project Dasamuka.”


“Jadi kita akan bertanding dengan orang-orang kuat itu?” Tanya Galih tertunduk lesu.


“Apa kamu takut?” Tanya Dirga menanggapi perkataan Galih.


Galih pun terdiam dan tidak memberi tanggapan.


“Aku mengerti kekhawatiran anda, tuan. Tapi percayalah dengan kemampuan yang kalian miliki.” Ujar Julia.


“Tapi mereka orang-orang yang sangat hebat dengan nilai potensi yang sangat besar, Julia. Jurang kemampuan kita dan mereka terlampau dalam.” Sahut Galih.


“Apa anda yakin?” Tanya Julia.


“Tentu saja. Terlebih lagi kompetisi akan dilakukan di tempat latihan Project Dasamuka. Project terbaik diantara seluruh project yang dijalankan Pandawa Group. Kita tidak memiliki kesempatan untuk menang.”


“Aku kecewa.” Ujar Dirga dingin.


“Aku hanya bersikap rasional.” Sahut Galih.


“Itu bukan rasional, tapi pengecut.” Tanggap Dirga.


“Jangan asal bicara…!” Teriak Galih.


“Apa kamu mau melawanku?” Jawab Dirga dingin dengan tatapan tajam. Galih tersentak dan tidak memberi tanggapan sama sekali sebab dia tahu tidak mungkin bisa mengalahkan Dirga.


“Dasar bodoh. Kenapa kalian malah bertengkar…!” Teriak Rama.


“Mau tidak mau, suka tidak suka, itu sudah menjadi keputusan Pandawa Group. Hal yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berlatih dengan lebih giat dan menunjukkan kemampuan terbaik yang kita miliki. Mungkin saja saat ini mereka lebih kuat, tapi tiga bulan lagi kita akan ada di atas mereka.” Ucap Rama.


“Rama benar. Mereka mungkin orang yang kuat, tapi tidaklah mustahil untuk mengalahkan mereka.” Ujar Julia.


“Terlebih lagi, apa tuan dan nona benar-benar yakin kalau mereka memang sekuat itu?” Tanya Julia.


“Apa maksudmu, Julia?” Tanya Yuna.


“Orang yang jenius tidak akan mendapatkan kejeniusannya jika tidak di asah dan dilatih dengan baik. Begitupun sebaliknya, orang yang bodoh dan lemah akan menjadi sangat pintar dan kuat jika terus berjuang untuk melatih kemampuan yang dia miliki.”


“Hal yang menjadi kunci kesuksesan kita bukanlah besar kecilnya nilai potensi yang kita miliki, melainkan bagaimana cara kita mengasah potensi itu.” Ujar Julia.


“Kamu benar, Julia.” Ujar Galih.


“Aku minta maaf karena terlihat seperti pengecut. Mulai sekarang kita harus berjuang lebih keras untuk menjadi yang terbaik pada kompetisi tersebut.” Sambungnya.


“Tentu saja.” Sahut Dirga.


“Ayo berjuang….!” Tiba-tiba saja Rama berteriak dan mengejutkan semua orang. Akan tetapi, tanpa mereka sadari, teriakan itu juga memicu semangat mereka yang sempat menurun.


Sejak saat itu, Rama, Galih, Dirga, Ayu dan Yuna berlatih dengan lebih giat. Melatih kemampuan fisik, teknik pernapasan, aliran dan manipulasi energi secara konsisten. Kadang mereka berlatih seorang diri, kadang bersama-sama dan saling berbagi. Adakalanya rasa lelah dan jenuh datang menghampiri, tapi akan selalu ada teman yang hadir dan memberi motivasi.


Satu bulan berlalu dan mereka telah sepenuhnya bersatu. Dua bulan terlewati dengan fokus pada satu visi. Tiga bulan kemudian, hari yang ditunggu pun datang membawa tantangan. Tantangan yang tidak hanya menguji kemampuan individu, tapi juga menguji ikatan yang telah terjalin dan berpadu.


Hari ini seluruh anggota project wanara, termasuk juga Julia dan Darma, akan berangkat menuju puncak cikuray. Mereka telah berkumpul di depan gerbang mansion dan membawa  seluruh perlengkapan yang mereka butuhkan.

__ADS_1


“Apa kalian semua sudah siap. Kita akan berlari menuju kaki Gunung Mandalawangi. Helikopter telah menunggu kita di sana.” Ujar Darma.


“Julia akan berada di depan untuk memandu kalian agar tidak tersesat. Aku akan berlari paling belakang untuk berjaga-jaga. Dengan kemampuan yang kalian miliki saat ini, aku yakin perjalanan kali ini akan sangat mudah.” Sambungnya.


“Jangan sampai tertinggal ya.” Ucap Julia yang kemudian berlari dengan cepat menuruni Puncak Gunung Mandalawangi.


Seluruh anggota tim bergerak mengikuti Julia. Tidak ada satu anggota pun yang tertinggal. Mereka semua dapat mengikuti setiap langkah yang Julia lakukan.


Satu jam kemudian, mereka telah tiba di kaki Gunung Mandalawangi dan menaiki helikopter yang telah menunggu mereka di sana. Jika dulu mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal, kini mereka menghabiskan waktu dengan berbincang dan bersenda gurau.


“Dulu kita butuh waktu berjam-jam hanya untuk mencapai puncak. Tapi sekarang kita hanya butuh waktu satu jam saja. Terlebih lagi, aku tidak merasa lelah sedikit pun.” Ujar Galih.


“Iya betul sekali, Kak Galih. Kita telah banyak sekali berubah.” Sahut Ayu.


“Apa kamu ingat waktu dulu kaki mu terkilir? Kamu meringis dan manangis kesakitan, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa dan malah menyusahkan karena terlalu lelah. Untunglah ada Rama dan Pak Darma yang membantu kita.” Ujar Yuna sambil tersenyum lebar.


“Jangan ungkit-ungkit itu lagi, kak. Aku jadi malu. Saat itu kehadiran kita hanya menjadi beban.” Ujar Ayu sedikit tersipu.


“Tapi kalian memang sangat berbeda. Ayu menjadi lebih dewasa. Sedangkan Yuna yang dulu sangat dingin dan jarang tersenyum pun kini menjadi wanita yang sangat ramah dan lembut.” Ujar Rama.


“Bukankah senyumnya itu cantik?” Tanya Julia.


“Tentu saja dia sangat cantik.” Ujar Rama yang tanpa sadar menanggapi perkataan Julia.


“Eh, tidak Julia, maksudku bukan begitu.” Sambung Rama yang salah tingkah.


“Jadi aku tidak cantik?” Tanya Yuna.


“Eh, bukan Yuna. Aku tidak bermaksud begitu.” Rama semakin dibuat salah tingkah. Tiba-tiba saja semua orang tertawa lebar. Sedangkan Rama hanya tertunduk malu.


“Kak Dirga, diantara kita semua, kakak yang paling tertutup dan jarang berbicara. Kakak selalu saja membaca disetiap kesempatan. Apa Kak Dirga tidak bosan?” Tanya Ayu.


“Hus…” Galih memberi isyarat agar Ayu tidak berbicara seperti itu.


Tanpa diduga Dirga menanggapi perkataan Ayu, “Aku bukannya tidak ingin bicara, sebenarnya aku juga suka bicara, tapi kalau sudah berkumpul seperti ini, kadang aku bingung apa yang harus dibicarakan. Bahkan kadang aku tidak punya topik pembicaraan sama sekali dan malah jadi canggung. Itulah kenapa aku selalu membawa buku ini.”.


“Sepertinya Kak Dirga harus banyak belajar dari Kak Rama yang selalu banyak bicara sampai-sampai membuat orang lain kesal.” Ucap Ayu.


“Hey…” Teriak Rama. Lagi-lagi semua orang tertawa lebar. Suasana kala itu begitu hangat hingga tanpa terasa mereka pun hampir tiba di Puncak Gunung Cikuray.


“Sebentar lagi kita tiba. Persiapkan barang-barang kalian dan jangan sampai ada yang tertinggal.” Ujar Darma.


“Sebagai pemanasan, bagaimana kalau kita lomba adu cepat menuju puncak seperti dulu?” Tanya Rama.


“Sepertinya itu tidak perlu, Rama. Kita tidak akan turun di kaki gunung, melainkan langsung di mansion Project Dasamuka. Kebetulan mereka punya beberapa helipad.” Ujar Julia.


“Helipad? Kenapa di mansion kita tidak ada?” Teriak Rama.


“Itu hanya Helipad. Bukan sesuatu yang istimewa.” Ujar Julia.


“Tapi kan….”


“Kita sampai di Mansion Project Dasamuka.” Ujar Darma yang memotong ucapan Rama.


Alangkah terkejutnya mereka saat melihat sebuah mansion dengan ukuran beberapa kali lipat lebih besar dibandingkan dengan mansion milik mereka.

__ADS_1


“Ini sih bukan mansion, tapi istana.” Ujar Rama lirih.


***


__ADS_2