
“Selamat Datang di Puncak Mandalawangi….” Ucap Julia.
Gedung besar yang sebelumnya Rama lihat rupanya adalah mansion untuk pelatihan Project Wanara. Julia yang sudah tiba terlebih dahulu, menunggu kedatangan orang pertama yang mencapai puncak. Ternyata orang itu adalah Rama.
Julia tidak menduga hal tersebut sebelumnya karena potensi Rama yang hanya pada tingkat Dasa. Namun hal itu tidak lah terlalu mengejutkan bagi Julia. Pada dasarnya nilai potensi yang ditunjukkan merupakan kombinasi dari berbagai macam aspek. Bisa saja Rama lemah di aspek lain tapi sangat baik dalam hal stamina dan daya tahan tubuh.
Julia menyambut dan mengajak Rama untuk masuk kedalam mansion lalu berjalan langsung ke dalam ruang makan. Didalam perjalanan ke ruang makan, Julia menjelaskan area-area yang mereka lewati. Mansion itu memiliki gerbang dan pagar yang tinggi dan nampak kokoh. Ketika melewati gerbang, terhampar kebun yang sangat luas dan tertata rapih dengan desain yang elegan. Setelah melewati kebun, mereka tiba di pintu utama mansion Project Wanara dan masuk kedalam.
“Waw, ruang tamu mansion ini besar sekali…” pikir Rama saat masuk kedalam
“Kita akan langsung masuk ke ruang makan yang berada disana.” Julia menunjuk sebuah pintu yang berada di sisi kanan ruang tamu.
“Anda dapat beristirahat dan makan disana sambil menunggu seluruh anggota lainnya tiba. Jika anda telah selesai makan, anda dapat menunggu diruang tamu. Ruang tamu itu juga akan menjadi ruangan berkumpul untuk seluruh anggota tim.” Julia menjelaskan dengan baik layaknya seorang tour guide.
Rama pernah sempat kagum dengan gedung kantor Pandawa group. Tapi apa yang saat ini Rama lihat jauh lebih mengagumkan. Rama berjalan mengikuti Julia menuju ruang makan sambil menunggu anggota tim lainnya tiba. Pada saat Rama duduk di meja makan, seketika itu pula datang banyak pelayan yang dengan sigap menyajikan berbagai macam jenis makanan mewah yang nampak sangat lezat. Rama diperlakukan layaknya seorang raja.
Saat itu tepat jam setengah 6 sore. Satu jam kemudian Galih tiba di puncak mandalawangi yang diikuti dengan Dirga 30 menit setelahnya. Mereka berdua pun mendapatkan sambutan dari Julia dan duduk di ruang tunggu dengan disajikan roti kering dan secangkir teh hangat.
“Sial… roti kering ini keras sekali.” Ucap Dirga saat mencoba memakan roti kering yang disajikan.
“Ha ha ha… Sepertinya kamu sangat lapar ya Dirga. Roti sekeras itu saja bisa habis kamu makan. Aku bahkan tidak bisa memakannya sedikitpun.” Ucap Galih dengan kelakar.
“Aku tetap harus makan untuk mengembalikan stamina.” Dirga menanggapi dengan tenang.
“Menurutmu bagaimana dengan Rama” tanya Galih membuka pembicaraan.
“Mungkin sekarang dia sedang tertidur kekenyangan didalam sana.” Dirga menanggapi dengan kesal karena kalah dari Rama. Tidak hanya kalah, bahkan Rama dapat mencapai posisi pertama.
“Tapi mungkin memang dia layak mendapatkannya….” Lanjutnya.
“Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu sebijak ini” tanya Galih terkejut.
“Aku adalah orang yang sportif dan adil. Jika kalah, aku akan mengakui kekalahan itu.” Ucap Dirga.
Galih mengangguk tersenyum mendengar perkataan temannya. Awalnya Galih berpikir bahwa Dirga adalah orang yang angkuh dan sombong. Orang yang hanya melihat orang lain dari status sosialnya saja. Tapi apa yang dipikirkannya ternyata salah.
Satu jam setelah kedatangan Dirga atau tepat pukul 8 malam, Yuna dan Ayu tiba di tempat pelatihan. Dirga dan Galih terkejut saat melihat Ayu berada di punggung Darma.
“Apa yang terjadi?” tanya Dirga.
“Tadi ayu terjatuh dan kakinya terkilir. Maka dari itu Pak Darma menggendong Ayu.” Yuna berusaha menjelaskan kejadian yang terjadi.
“Ditambah lagi, beberapa kali kami harus istirahat cukup lama karena aku kelelahan dan kehabisan napas.” Yuna menambahkan dengan tertunduk lesu.
“Sudahlah, yang terpenting kita semua sudah tiba dengan selamat.” Ujar Darma.
“Baiklah… Karena semua anggota tim telah tiba, saya akan panggil tuan Rama agar bisa bergabung disini.” Ucap Julia.
Tok Tok Tok…. Julia mengetuk pintu ruang makan.
__ADS_1
“Tuan Rama, seluruh anggota tim telah tiba.” Julia memanggil Rama.
Rama pun membuka pintu ruang makan dan berteriak-teriak…
“Hey kalian kenapa lama sekali..???!!!” teriak Rama dengan kesal.
“Ayu, Yuna… Apa kalian baik-baik saja? Aku sangat khawatir menunggu kalian..!!”
“……..” semua orang terdiam.
“Apa kalian juga tidak lapar? Apa kalian tidak tahu dari tadi perutku keroncongan dan tersiksa melihat makanan yang terus menggoda untuk dimakan..!!” Rama melanjutkan ucapannya.
“Apa maksudmu Rama?” tanya Dirga.
“Jangan banyak tanya dan lihatlah sendiri. Ayo masuk…!!” ujar Rama.
Semua orang terkejut saat masuk ke ruang makan. Disana terdapat meja besar berisikan banyak sekali makanan yang terlihat sangat lezat. Tidak satupun dari makanan itu seperti sudah tersentuh.
“Ayo kita makan bersama-sama. Aku tidak mungkin bisa makan ketika temanku sedang kelaparan.” Ujar Rama.
Ayu, Yuna, Galih termasuk juga Dirga terharu dengan apa yang dilakukan oleh Rama. Bukan karena makanannya, tapi karena kepeduliannya. Bahkan Julia dan Darma pun tidak menyangka hal tersebut.
“Rama….” Dirga memanggil Rama.
“Aku minta maaf atas kejadian sebelumnya…. Aku…” Dirga belum menyelesaikan kata-katanya.
“Sudahlah… tidak usah dipikirkan. Ayo makan.” Rama memotong kata-kata Dirga.
“Permisi tuan dan nona, kami akan memberikan kalian waktu untuk makan bersama. Kami juga harus makan dulu. Setelah makan, kami akan tunggu tuan dan nona di ruang tamu.” Ucap Julia.
“Kenapa kita tidak makan bersama?” tanya Rama kepada Julia dan Darma.
“Aku rasa makanan ini lebih dari cukup untuk kita semua. Dan lagi kita masih punya kursi kosong disini. Lagi pula kita ini satu tim kan?” Rama melanjutkan kata-katanya.
“Aku setuju.” Ucap Dirga menyetujui perkataan Rama.
“Ayo makan bersama-sama Julia, Pak Rama….” ucap Ayu senang diikuti dengan Yuna dan Galih yang mengangguk setuju.
Julia dan Darma tersenyum pertanda menyetujui perkataan Rama dan turut serta makan bersama di satu meja.
“Ayoooo Makan….!!!” Teriak Rama sambil menyantap makanan dan diikuti anggota tim lainnya.
Seluruh anggota tim Project Wanara termasuk Julia dan Darma makan malam bersama-sama dalam satu meja dengan lahapnya. Secara fisik, mereka merasa sudah sangat lelah. Namun secara mental, mereka merasa sangat senang.
Tidak perlu menunggu lama untuk mereka menghabiskan hidangan yang tersaji di meja.
“Baiklah, karena kita semua sudah berkumpul disini, saya akan melakukan evaluasi singkat tentang kegiatan kita hari ini.” Darma membuka pembicaraan.
Rama, Dirga, Galih, Yuna dan Ayu mengalihkan pandangannya kepada Darma dengan sangat serius.
__ADS_1
“Tidak perlu terlalu tegang, santai saja…” ujar Darma.
“Hari ini saya yakin kalau kalian sudah mulai mengerti bahwa besar kecilnya nilai potensi seseorang, tidak menjamin kalau orang itu lebih baik dibandingkan yang lainnya” Darma mulai menjelaskan.
“Nilai potensi itu sendiri sebetulnya merupakan akumulasi nilai dari berbagai macam aspek potensi yang kalian miliki. Sekilas kita bisa tahu bahwa Rama yang berhasil mencapai puncak ditempat pertama memiliki keunggulan di kekuatan, stamina dan daya tahan tubuh…”
“Stamina dan daya tubuh Galih juga cukup baik untuk berada di tempat kedua. Namun Dirga, Ayu terutama Yuna memiliki stamina dan daya tahan tubuh yang buruk”
“Untuk itu lah kita disini. Kita akan lakukan beberapa percobaan dan pelatihan secara intensif untuk meningkatkan aspek potensi yang kurang dan mengoptimalkan aspek potensi yang lebih unggul.”
Dirga, Ayu dan Yuna tertunduk lesu…
Suasana hening…
Braaaaak……. Tiba-tiba Darma menggebrak meja makan dan membuat semua orang terkejut.
“Kemana semangat kalian tadi..??!!” Darma berbicara dengan dingin dan tegas.
Pandangan seluruh anggota tim kembali tertuju kepada Darma dengan serius…
“Besok kita akan lanjutkan pelatihannya. Sekarang mungkin kalian lemah, tapi aku percaya pada kalian..!!” Darma menutup pembicaraan.
Satu kalimat sederhana yang dilontarkan oleh Darma kembali membangkitkan motivasi anggota tim.
Tiba-tiba diruangan tersebut tercium bau yang tidak sedap.
“Bau apa ini?” tanya Dirga sambil menutup hidungnya
“………..” seluruh anggota melihat satu sama lain untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“He he he…. Ma… Maaf ya…. Karena makan banyak dan terlalu cepat, perut ku tiba-tiba sakit” Galih berbicara dengan malu-malu sembari memegangi perutnya.
Suasana kembali hening….
“Duuuuuuuttt….. Ppppssssssttttt…..” tiba-tiba saja keluar suara dari arah Galih.
“Kurang ajaaaarrr… Jorok sekali kamu Galiiihhhh….” Teriak Rama.
“Kita di ruang makan, kamu pikir ini toilet…… Hah….!!!” Lanjut Rama.
“Ma… maaaf… ini diluar kendali” ujar Galih malu-malu.
“Pppppppssssssttttt……”
“Galiiiiiiihhhhh………!!!!!” teriak Rama.
“Ha ha ha….”
Semua orang tertawa melihat tingkah laku Galih dan Rama.
__ADS_1
Makan malam itu terasa sangat hangat. Tanpa mereka sadari itu adalah awal mula terbentuknya sebuah tim yang kuat.
***