Project Wanara

Project Wanara
Chapter 25. Windhi Ayundari (Part 2) - Pusaran


__ADS_3

Teeeeeeet….. Terdengar suara nyaring yang sangat keras.


Tidak lama kemudian suara Darma terdengar dari pengeras suara yang juga ditempatkan disetiap area pelatihan. “Pelatihan dihentikan!”


Ayu terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


“Waktunya kalian istirahat makan siang. Silahkan tunggu di area pelatihan masing-masing. Beberapa pelayan akan mengantarkan makan siang untuk kalian.” Ujar Darma


“Oalah, ku kira ada apa.” Pikir Ayu.


“Eh, berarti aku sudah berlatih cukup lama. Pantas lelah sekali rasanya.” Ayu tersentak karena ternyata dia sudah berlatih cukup lama. Waktu memang terasa sangat cepat, apalagi dengan intensitas latihan seperti yang sedang Ayu lakukan saat ini.


Tak lama berselang, para pelayan datang untuk mengantarkan makanan. Ayu tanpa basa-basi langsung menyantap makanan yang dihidangkan. Setelah itu Ayu mengistirahatkan tubuhnya dan melakukan pernapasan dasar untuk memulihkan energi CORE nya.


Kurang lebih 1 jam waktu yang diberikan untuk makan siang dan beristirahat.


Teeeeet….. Suara nyaring kembali terdengar.


“Pelatihan khusus akan kembali kita mulai. Ku harap kalian telah cukup beristirahat. Persiapkan diri kalian.” Ujar Darma dari balik pengeras suara.


“Baiklah, aku siap. Walaupun waktu istirahat yang diberikan tidak lama, tapi ini sudah lebih dari cukup.” Pikir Ayu dalam hatinya.


Syut… Syut…


Mesin lontar kembali melakukan serangan. Kali ini Ayu tidak berusaha menghindar. Melainkan menepis semua serangan mesin lontar menggunakan sayap-sayapnya.


Ayu berjalan perlahan menuju ke arah boneka kayu dengan senyum bangga di wajahnya. Serangan-serangan mesin lontar semakin agresif setiap kali Ayu melangkahkan kakinya. Tapi dia kini dapat dengan mudah menghalau semua serangan itu.


“Terbang dan berusaha menghindari semua serangan itu hanya akan menghabiskan banyak tenaga. Menepisnya jauh lebih mudah. Kenapa tidak ku lakukan ini dari tadi.” Ujar Ayu masih dengan menunjukkan wajah bangganya.


Ayu terus melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil terus menepis serangan-serangan dari mesin lontar. Hingga akhirnya Ayu masuk ke area milik boneka kayu. Seketika serangan mesin lontar pun berhenti.


“Ternyata benar dugaan ku. Sekarang aku hanya perlu fokus menghancurkan boneka-boneka kayu menyeramkan itu.”


Bersamaan dengan berhentinya serangan mesin lontar, boneka kayu bergerak dengan cepat dan melakukan serangan secara bersama-sama.


Adegan saling serang kembali di tunjukkan oleh Ayu dan para boneka kayu. Ayu yang telah beristirahat dan memiliki cukup banyak stamina, kini dapat mengimbangi setiap serangan yang diberikan.


Setiap pukulan yang diterimanya, di balas dengan pukulan yang jauh lebih keras. Setiap tendangan yang diterimanya, dibalas dengan tendangan yang jauh lebih bertenaga. Ayu juga berhasil memanfaatkan sayapnya dengan baik untuk melindunginya dari serangan-serangan yang mematikan. Tapi pukulan dan tendangan keras yang telah Ayu lakukan sama sekali tidak membuat boneka kayu itu melemah. Bahkan tidak terlihat sedikitpun adanya kerusakan.


Pertarungan sengit masih terus terjadi. Di sela-sela pertarungan, Ayu berusaha memikirkan cara untuk mengalahkan ketiga boneka kayu itu.


“Pukulan dan tendangan yang telah diperkuat energi tidak mampu melukai mereka. Lalu bagaimana cara mengalahkannya.”


Kemudian terlintas dipikiran Ayu tentang pertarungan terakhirnya melawan Julia dan Darma. Saat itu Ayu berhasil menciptakan pusaran angin dan mengkombinasikannya dengan bulu sayap yang dia miliki untuk menciptakan satu


serangan yang mematikan.


“Pusaran Angin?” pikir Ayu

__ADS_1


“Baiklah akan ku coba.” Ujar Ayu sambil menciptakan pusaran Angin menggunakan energi yang dia miliki.


Berbeda dengan sebelumnya, saat ini Ayu membuat angin yang berputar hanya di area tangannya. Angin itu terus berputar semakin cepat dan menjadikan kedua tangan Ayu sebagai poros putarannya.


Semakin lama putaran angin menjadi semakin cepat dan menciptakan sudut runcing tepat di ujung tangan Ayu. Kini kedua tangan Ayu layaknya sebuah bor yang siap melubangi apapun yang disentuhnya.


“Waw ini hebat.” Teriak Ayu kegirangan.


Dengan kekuatan barunya, Ayu berhasil memberikan beberapa luka pada tubuh boneka kayu. Luka yang dimaksud seperti sebuah retakan kecil yang tersebar di setiap sisi boneka.


Ayu terus berusaha menghindari dan menghalau semua serangan yang dilayangkan kepadanya. Saat memiliki kesempatan, Ayu melakukan serangan balasan yang mematikan.


Ayu tidak ambil pusing dengan retakan kecil yang dihasilkan dari pukulannya. Setidaknya itu jauh lebih baik dibandingkan dengan serangan sebelumnya yang tidak menghasilkan apapun.


Pertarungan sengit masih terus berlangsung cukup lama. Ayu telah menghabiskan banyak energi.


“Aku tidak bisa berlama-lama.” Pikir Ayu.


Kemudian Ayu melakukan percobaan manipulasi energi lain. Dia mencoba untuk mengkombinasikan kekuatan angin di tangannya dengan bulu-bulu sayap tajam yang dia miliki. Seperti pada pertarungan sebelumnya.


Kini pusaran angin yang berputar cepat dengan ujung yang tajam itu telah dilapisi degan bulu-bulu energi. Benar saja, selain membuat putaran menjadi semakin cepat, kekuatan itu terlihat lebih kokoh dan mematikan.


Ayu mencoba melakukan pukulan menggunakan kekuatan barunya. Pukulan yang dia lakukan  tepat mengenai lengan boneka kayu yang berada di sebelah kiri.


Daaaar….


Lengan boneka kayu itu seketika patah dan terlepas diikuti dengan senyum Ayu yang nampak merekah.


Para boneka kayu kembali melakukan serangan secara bertubi-tubi. Ayu dapat dengan mudah menghindari dan menghentikan semua serangan yang mereka lakukan. Ayu menggunakan sayapnya sebagai pelindung dan kedua tangannya sebagai tameng sekaligus senjata yang mematikan.


Daaar… Daaar… Daaar…


Tiap pukulan yang Ayu lakukan menimbulkan suara yang sangat keras. Tidak satupun pukulan itu dapat dihentikan oleh Para Boneka Kayu. Semua serangan dilakukannya dengan telak. Tapi sepertinya para boneka kayu itu juga menjadi lebih kuat.


“Apa yang terjadi? Sebelumnya aku bisa menghancurkan satu tangan hanya dengan satu pukulan. Kenapa sekarang pertahanan boneka itu menjadi sangat kuat?” Ayu penasaran dengan apa yang terjadi.


Kretak… Kretak… Kretak…


Ketiga boneka kayu itu membuat gerakan yang sangat aneh. Ketiganya saling mendekat satu sama lain. Beberapa bagian tubuh mereka terlepas. Kemudian kembali tersambung dan bersatu sehingga kini dihadapan Ayu tidak lagi berdiri tiga buah boneka kayu, melainkan sebuah boneka kayu berukuran besar yang terlihat sangat kuat dan menakutkan. Boneka kayu itu juga memegang sebuah pedang panjang yang menghunus tepat kearah dimana Ayu berdiri.


Ayu terbelalak dengan apa yang sedang dia saksikan. Ayu berdiri mematung seakan tidak percaya.


Buaaaak….


Tanpa disangka boneka kayu itu dengan cepat bergerak dan melayangkan serangan mematikan menggunakan pedangnya. Ayu berhasil melindungi dirinya menggunakan sayap yang dia miliki, tapi sayangnya sayap-sayap Ayu tidak cukup kuat. Ayu pun kembali terpental jauh ke belakang meninggalkan area boneka kayu.


Saat Ayu sedang tidak berdaya, mesin lontar melakukan serangan dengan sangat agresif. Ayu kembali terbelalak dengan serangan itu.


Dia tidak tinggal diam. Dengan bersusah payah Ayu melindungi tubuhnya menggunakan sayap dan memutar tubuhnya dengan sangat cepat. Apa yang dilakukannya itu ternyata mampu melindungi dirinya dari luka fatal yang bisa saja membuatnya mati saat itu juga.

__ADS_1


Huh… Huh… Huh…


Ayu tersengal kehabisan napas. Dia berusaha menopang tubuhnya agar tetap bisa berdiri. Ayu kembali berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Serangan mesin lontar menjadi semakin agresif dan boneka kayu berubah bentuk menjadi sangat kuat dan mengerikan dengan tubuh yang besar dan pedang tajam yang siap


menghujam. Terlebih lagi energi Ayu kembali habis terkuras.


“Energi yang ku miliki tinggal sedikit. Kalau aku tidak bisa mengalahkan boneka kayu itu dengan segera, habis lah aku.” Pikir Ayu.


“Akan ku pertaruhkan semua energi yang tersisa untuk satu serangan ini.” Tambahnya.


Ayu berniat untuk melakukan satu serangan mematikan. Dia melakukannya sebab hanya itu pilihan yang paling masuk akal baginya saat ini. Jika dia terus menghemat energi untuk serangan-serangan kecil, maka lambat laun energinya akan habis. Ayu juga yakin kalau serangan-serangan kecil tidak akan berarti banyak dalam pertarungan itu.


Angin besar tiba-tiba saja muncul, berputar cepat tepat disekitar Ayu berdiri. Putaran angin terus bertambah cepat. Kemudian Ayu menambahkan bulu energi di putaran angin itu. Sama seperti pertarungan tim kemarin.


Ayu membentangkan sayapnya lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kedua sayap itu. Tak lama kemudian Ayu terangkat ke udara bahkan tanpa dia mengepakkan kedua sayapnya.


Pusaran angin yang dikombinasikan dengan bulu sayap itu membuat ujung runcing yang mengarah tepat ke boneka kayu. Ayu melayang tepat di belakang area yang meruncing. Kini tubuh Ayu yang menjadi pusat pusaran angin itu.


Syuuuut….


Ayu terbang melesat dengan sangat cepat menyerang boneka kayu. Tubuhnya dilindungi dengan pusaran angin sehingga tidak ada satu pun serangan dari mesin lontar yang mampu menghentikannya.


Kini tinggal satu hal yang harus dilakukan Ayu, yaitu menghancurkan boneka kayu menyeramkan itu.


Pusaran angin Ayu dan pedang tajam milik boneka kayu saling beradu. Sekilas nampak bahwa mereka berdua memiliki kekuatan yang sama. Tapi tidak seperti itu. Boneka kayu memiliki kekuatan yang lebih besar. Bahkan pusaran angin yang telah dikombinasikan dengan bulu tajam miliknya tidak mampu mengalahkan kekuatan pedang milik boneka kayu.


Sring….


Pusaran angin Ayu hancur. Namun siapa sangka kalau Ayu telah memperhitungkan hal tersebut. Rupanya dibalik perlindungan pusaran angin tadi, Ayu juga membuat putaran cepat dengan sayap yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Saat pusaran angin hancur, Ayu segera mengepakkan sayapnya dengan terus memutar tubuhnya dan mengeluarkan bor angin dari kedua tangannya.


Putaran tubuh Ayu yang sangat cepat, di tambah bor angin di kedua tangannya, menghasilkan sebuah serangan dengan daya hancur yang sangat mematikan. Boneka kayu itu segera mengantisipasi dengan melakukan tebasan pedang secara vertikal. Namun kali ini kekuatan miliki Ayu jauh lebih besar.


Draaak….


Pedang kayu itu patah dan hancur berkeping-keping karena efek putaran yang diterimanya. Lalu Ayu bergerak menembus tubuh boneka kayu itu dengan sangat cepat. Diakhiri dengan menghancurkan kepala boneka kayu itu. Sama halnya dengan pedang kayu tadi, boneka kayu itu juga hancur berkeping-keping akibat dari putaran yang Ayu lakukan.


Huh… Huh… Huh….


“Berhasil…!” ucap Ayu sembari tersengal.


Ayu merasa sangat lelah. Dia seperti akan kehilangan kesadaran. Tapi Ayu berjuang untuk tetap sadar. Dia masih ingin merasakan euforia kemenangan yang didapatkannya.


Teeeeet….. Suara nyaring kembali terdengar.


“Selamat Nona Ayu berhasil menyelesaikan pelatihan khusus di area pertama. Mengingat kondisi Nona Ayu yang nampak kurang baik, Nona bisa menuju ke ruang medis bersama pelayan yang kami siapkan untuk menjaga area pelatihan pertama. Di ruang medis juga telah kami siapkan beberapa petugas medis untuk membantu memulihkan kondisi nona saat ini.” Ujar Julia.


“Sejak kapan orang-orang ini datang? Bahkan sampai ada petugas medis.” tanya Ayu.

__ADS_1


“Huft… Aku lebih memilih disembuhkan oleh Julia ketimbang harus ke ruang medis.” Ujar Ayu yang kemudian berjalan menuju ruang medis.


***


__ADS_2