Project Wanara

Project Wanara
Chapter 77. Rasuk


__ADS_3

Waktu yang dimiliki oleh Para Jinn Pendamping tidaklah banyak sehingga mereka berusaha mengajarkan metode Rasuk dengan cara yang paling mudah dipahami yaitu menggunakannya secara langsung kepada anggota Project Wanara.


Julia meminta Yuna, Dirga, Galih dan Ayu untuk duduk senyaman mungkin agar dapat merasakan bagaimana cara memanfaatkan teknik fusi untuk melakukan metode Rasuk.


Setelah itu Para Jinn Pendamping menghampiri masing-masing anggota yang telah bersiap diri untuk kemudian menunjukkan metode Rasuk kepada mereka.


Masing-masing Jinn Pendamping memiliki kekuatan yang maha dahsyat. Pengendalian teknik fusi mereka jauh di atas kemampuan anggota Project Wanara, sehingga Para Jinn Pendamping perlu menekan energi mereka sekuat mungkin agar tidak membahayakan nyawa anggota Project Wanara.


Kemudian Para Jinn pendamping mengalirkan energi fusi ke dalam tubuh masing-masing anggota project. Kejang-kejang adalah respons yang pertama kali ditunjukkan, lalu masing-masing anggota mengeluarkan energi fusi yang secara alami menghalau masuknya energi fusi milik Para Jinn Pendamping.


“Ijinkan energi fusi para pendamping untuk masuk ke dalam tubuh kalian.” Pinta Julia.


Mendengar perkataan Julia, anggota tim Project Wanara berupaya untuk mengendalikan energi fusi masing-masing agar energi fusi milik Para Jinn Pendamping dapat leluasa memasuki tubuh mereka.


Tak lama berselang, Galih dan Ayu membuka mata. Hanya saja tatapan mata mereka nampak kosong tanpa jiwa. Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira berhasil mengendalikan tubuh Galih dan Ayu.


“Galih, Ayu, rasakan bagaimana energi fusi Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira menguasai tubuh kalian. Rasakan bagaimana energi itu bergerak dan mendominasi energi milik kalian. Setelah proses ini berhasil, Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira bahkan dapat mengendalikan energi kalian dengan bebas.” Ujar Julia.


Tiba-tiba Ayu mengeluarkan sepasang sayapnya dan terbang mengitari ruangan. Hanya saja pergerakan Ayu nampak sangat berbeda, terutama kecepatan yang dia tunjukkan. Ayu bergerak dengan sangat cepat hingga menciptakan gelombang angin yang sangat besar.


Begitu juga dengan Galih yang tiba-tiba mengeluarkan zirah energi dan pedang Rapiernya. Galih mengayunkan pedangnya ke arah Ayu yang sedang terbang. Kumparan energi yang dihasilkan dari tebasan pedang Galih jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Tapi alangkah terkejutnya Darma saat melihat Ayu dapat menghempaskan kumparan energi itu hanya dengan gerakan tangan sederhana.


Hal yang gila kembali terjadi. Galih mengeluarkan tameng energi, tapi tidak dia gunakan untuk berlindung, melainkan menjadi tumpuan dan tempatnya berpijak. Lalu tameng energi itu terbang dan membawa Galih mendekati Ayu. Saat mereka telah berhadap-hadapan, pertempuran jarak dekat terjadi. Pertarungan itu


terjadi dengan sangat cepat. Benturan-benturan fisik antara keduanya menghasilkan suara dentuman besar dan luapan energi yang begitu hebat.


“Gila….” Teriak Darma sambil berusaha melindungi diri dari luapan energi yang terjadi.


Setelah itu Galih dan Ayu kembali turun dan menghilangkan pengendalian energi yang baru saja mereka lakukan. Lalu keduanya terjatuh dengan keadaan lemas.


“Hebat, tadi itu hebat sekali.” Ujar Ayu antusias.


“Benar, aku tidak menyangka bisa melakukan pertarungan seperti tadi.” Sahut Galih.


“Apa kalian dapat merasakan bagaimana Mbah Purwo dan Datutinggi Wentira mengendalikan energi kalian?” Tanya Julia.


“Ya Julia, aku tahu persis bagaimana cara mereka melakukannya. Teknik fusi yang masuk ke dalam tubuhku mengelilingi pusat energi dan mengendalikannya dari sana.” Jawab Galih diikuti anggukan kepala Ayu.


“Dalam proses pengendalian tadi, tubuh kalian sepenuhnya diambil alih oleh Para Pendamping yang justru dapat memanfaatkan energi milik kalian dengan lebih baik. Kalian perlu banyak berlatih agar dapat melakukan sesuatu seperti tadi. Baik metode Rasuk, maupun peningkatan kemampuan diri.”


“Aku mengerti Nona Julia.” Teriak Ayu bersemangat.

__ADS_1


“Terima kasih Datutinggi Wentira.” Lanjut Ayu kepada Jinn Pendampingnya.


“Tidak perlu sungkan, panggil saja aku Wentira.” Balas Wentira.


“Terima kasih banyak Wentira.” Ayu kembali mengucapkan terima kasih dan kini sambil menundukkan kepala untuk menunjukkan rasa hormatnya.


Tidak hanya Ayu, Galih pun melakukan hal serupa kepada Mbah Purwo yang bersedia menjadi Jinn Pendampingnya. Berbeda dengan Wentira yang terlihat lebih santai, Mbah Purwo nampak sangat tegas dan berwibawa.


“Angkat kepalamu. Mulai detik ini, aku adalah pendampingmu. Kamu harus bekerja keras, aku tidak suka melihat orang berleha-leha.” Ujar Mbah Purwo.


“Baik Mbah.” Sahut Galih.


“Aku bukan Mbah mu. Panggil aku guru.” Ucap Mbah Purwo


“Baik Guru.” Ucap Galih sambil melebarkan senyumnya.


Di sisi lain, Kanjeng Ratu Kidul dan Eyang Merapi masih berusaha mengambil alih tubuh Yuna dan Dirga, namun keduanya terlihat belum membuahkan hasil.


“Ada apa Kanjeng Ratu, Eyang Merapi?” Tanya Julia.


“Meskipun Yuna mengijinkanku untuk mengendalikan tubuhnya, tapi pusat energi milikinya secara konsisten mengeluarkan energi pelindung dan membuatku kesulitan mengendalikan tubuhnya.”


“Energi pelindung?”


“Aku tidak mengerti, apa maksudnya ditanamkan?”


“Seseorang di belakang Yuna pasti sangatlah hebat dan berusaha untuk selalu melindunginya. Orang itu juga yang menanamkan energi pelindung miliknya kepada Yuna. Proses ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki level kemampuan setingkat Para Pandawa dan kami, Para Pemimpin Kerajaan.”


“Apa penghalang itu tidak dapat ditembus?”


“Tentu saja bisa, tapi aku khawatir hal itu dapat membahayakan nyawanya. Aku yakin orang yang menanamkan pelindung itu memiliki alasan yang cukup kuat. Bisa saja energi pelindung digunakan untuk menjaga Yuna dari serangan pihak lain, atau mungkin justru untuk melindungi dirinya dari ganasnya energi milik Yuna sendiri.”


“Apa maksudnya?”


“Saat aku memasukkan energi fusi ku, aku merasakan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Kekuatan itu terasa begitu dingin dan menusuk. Saat aku mencoba membuka energi pelindung itu, kekuatan dingin itu memberontak dan berupaya menerobos energi pelindung dari dalam. Maka dari itu aku segera menghentikan proses pembukaan energi pelindung dan berupaya menutupnya kembali dengan menanamkan sedikit energi milik ku.”


“Kekuatan hebat seperti apa?”


“Menurut dugaan ku, itu adalah energi salah satu beast dari alam Jinn.”


“Apa?” Julia begitu terkejut mendengar jawaban Kanjeng Ratu Kidul. Tidak hanya Julia, ternyata Para Pandawa dan Jinn Pendamping pun terlihat sangat terkejut. Sedangkan Darma, Ayu dan Galih sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Julia dan Kanjeng Ratu Kidul.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan Dirga?” Tanya Julia kepada Eyang Merapi.


“Teknik Rasuk sepenuhnya berhasil dilakukan kepada Dirga. Tapi dia tidak ingin aku mengendalikan tubuhnya. Dia hanya meminta untuk ditunjukkan bagaimana cara mengendalikan energi orang lain. Hanya dengan sedikit penjelasan saja dia telah sepenuhnya mengerti apa yang harus dia lakukan. Aku bangga menjadi pendamping anak cerdas seperti dia.” Ucap Eyang Merapi dengan sangat lugas.


“Hey bangunlah, jangan pura-pura tidak dengar.” Pinta Eyang Merapi.


“Maaf eyang, aku masih berusaha merasakan energi Eyang yang tersisa di dalam tubuhku. Kekuatan Eyang Merapi sangat luar biasa, sisa energi ini mirip sekali dengan sisa energi milik Asoka.”


“Anak kurang ajar! Beraninya kamu menyebut nama Tuan Asoka tanpa penghormatan sedikitpun.”  Teriak Eyang


Merapi.


“Maafkan aku Eyang. Aku terbiasa menyebut nama Asoka seperti itu.”


Pletak…. Eyang Merapi menjitak kepala Dirga cukup keras.


“Panggil dia Tuan Asoka.” Eyang Merapi kembali berteriak-teriak. Namun teriakan Eyang Merapi justru membuat Dirga tertawa terbahak-bahak.


“Anak sialan. Kenapa kamu malah tertawa?”


“Tingkah laku Eyang mengingatkanku kepada temanku, Rama, yang sangat berisik.” Jawab Dirga.


“Sepertinya sikap berisiknya itu juga diturunkan langsung oleh gurunya.” Kanjeng Ratu Kidul ikut berbicara.


“Jangan bicara sembarangan tentang guruku!” Teriak Eyang Merapi.


“Kalau boleh tahu, siapa guru Eyang Merapi?” Tanya Dirga.


“Tentu saja King of Jinn, Tuan Asoka.” Jawab Kanjeng Ratu Kidul.


“Rupanya sikap konyol Rama dan Eyang Merapi bersumber dari orang yang sama.” Dirga kembali tertawa terbahak-bahak.


“Kurang ajar!” Eyang merapi kembali berteriak-teriak.


Setelah itu, tingkah laku Dirga membuat Eyang Merapi sangat terkejut. Dirga berlutut dengan satu kaki untuk memberi hormat kepadanya.


“Mohon bimbingannya. Sebuah kehormatan dapat menjadi murid Eyang Merapi yang merupakan penerus keilmuan Tuan Asoka yang juga memiliki hubungan darah dengan temanku, Rama.” Ucap Dirga lantang.


“Meskipun Tuan Asoka adalah guruku, dia juga teman baikku. Hubungan kami mungkin mirip dengan hubunganmu dengan Rama. Berjuanglah, aku yakin kamu, Rama dan semua temanmu akan menjadi orang yang sangat hebat.”


Semua orang tersenyum. Hati mereka bergejolak penuh dengan semangat. Eyang Merapi memang mirip sekali dengan Rama. Meskipun memiliki tingkah laku konyol dan cenderung berisik, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan kehangatan.

__ADS_1


***


__ADS_2