Project Wanara

Project Wanara
Chapter 79. Rekan?


__ADS_3

Semua orang kembali dikejutkan dengan teriakan Yuna. Rasa terkejut pun berubah menjadi penasaran karena nama Rama lah yang diteriakkan. Namun Julia berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu dan berupaya untuk menenangkan Yuna yang terlihat sangat kacau. Wajah Yuna menunjukkan raut kesedihan yang mendalam.


Air mata mengalir perlahan dari mata besarnya yang terbelalak.


“Tenanglah Yuna. Coba ceritakan apa yang kamu lihat. Tapi jangan dipaksakan. Jika memang terasa sulit, kamu bisa ceritakan di lain waktu.”


“Aku melihat Rama. Dia butuh pertolongan kita. Seseorang mengikatnya di sebuah tiang besar yang terbuat dari kobaran api hitam yang sangat panas. Rama menjerit dan meronta-ronta.” Isak Yuna.


“Tenanglah Yuna. Apa yang kamu lihat tidaklah nyata. Hal itu adalah ilusi yang muncul akibat dari ketakutan di dalam hatimu sendiri. Sejak Rama pergi, sepertinya kamu terus menerus khawatir dengan kondisi dan keadaannya hingga membuat hati mu lemah. Celah itulah yang dimanfaatkan energi beast untuk menghancurkan jiwamu.”


“Tapi semua itu terasa sangat nyata.”


“Percayalah padaku. Rama baik-baik saja. Bahkan mungkin kondisinya jauh lebih baik dibanding sebelumnya.” Ucap Julia seraya memberi pelukan hangat kepada Yuna.


Waktu terus berputar dan hari pun mulai senja. Rasa lelah semakin terasa seiring bertambahnya angka-angka pada jam tangan yang mereka kenakan.


“Kita masih punya tugas yang harus diselesaikan esok hari. Kita akan membantu anggota tim project lain agar dapat mengusai teknik fusi dengan baik. Dirga, Galih dan Ayu telah menguasai metode Rasuk dan aku yakin tidak akan ada kendala yang berarti. Tapi Yuna sedikit berbeda. Karena Kanjeng Ratu tidak berhasil melakukan metode Rasuk kepadanya, aku khawatir Yuna tidak dapat ikut serta. Jadi besok aku percayakan seluruh prosesnya hanya pada Dirga, Galih dan Ayu.”


“Tidak Julia.” Yuna memberi tanggapan.


“Aku sepenuhnya paham bagaimana metode Rasuk bekerja. Tidak hanya itu, aku juga tahu cara kerja energi pelindung yang ditanamkan di dalam tubuhku untuk menjaga stabilitas energi beast yang tidak terkendali.” Sambung Yuna.


“Apa kamu yakin?”


“Tentu saja. Meskipun Kanjeng Ratu tidak berhasil menunjukkan cara kerja metode Rasuk secara langsung, tapi aku paham bahwa apa yang hendak Kanjeng Ratu lakukan adalah mengalirkan energi Fusi miliknya dan menyelaraskan energi tersebut dengan pusat energi targetnya. Dengan begitu, energi Fusi miliknya dapat mengambil alih setiap aktivitas energi milik target. Begitulah metode Rasuk bekerja.”


“Tepat sekali. Tapi bagaimana cara energi Fusi dapat mengambil alih aktivitas energi orang lain?”


“Aku menyadari sesuatu saat menelaah keberadaan energi pelindung di dalam tubuhku. Pada dasarnya energi pelindung itu memiliki dua entitas energi yang berbeda, positif dan negatif. Dengan kata lain, energi pelindung itu


sendiri adalah energi fusi yang ditanamkan untuk memberi batasan.”


“Lalu?”


“Aku hanya perlu melebur energi Fusi dan menyelimuti pusat energi dengan energi Fusi yang telah ku lebur. Setelah itu aku akan memiliki kendali penuh atas setiap aktivitas energi orang lain.”


“Kak Yuna memang hebat.” Teriak Ayu bersemangat. Julia, Dirga dan Galih pun tersenyum kagum.


Memperhatikan situasi yang terjadi, Julia pun mengubah rencananya. Kini Yuna kembali dilibatkan dalam proses pelatihan teknik Fusi bagi anggota tim project lain.

__ADS_1


Setelah Julia menyampaikan hal tersebut, Dirga pun teringat dengan Darma.


“Pak Darma, bukankah alasan Pak Darma tidak mau melakukan metode Rasuk hanya karena metode itu diajarkan langsung oleh bangsa Jinn? Bagaimana jika salah satu dari kami mencoba metode Rasuk kepada Pak Darma sehingga Pak Darma pun dapat memahami esensi dari penggunaan metode ini?” Tanya Dirga.


“Aku setuju.” Sahut Yuna.


“Aku menolak.” Tagas Darma dan membuat semua orang bingung.


“Kenapa?” Tanya Julia.


“Selain diajarkan oleh bangsa Jinn, metode itu sendiri adalah salah satu kemampuan jahat yang sering mereka lakukan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah dosa. Aku sama sekali tidak tertarik menguasai metode itu.” Jawab Darma dengan sangat tegas.


“Pisau adalah sebuah alat. Saat pisau digunakan untuk melukai seseorang, maka pisau itu tetap hanya sebuah alat. Kesalahan ada pada perilaku penggunanya. Jadi tidak ada pisau yang jahat, yang ada hanyalah orang-orang


kejam yang menyalahgunakan fungsi sebuah alat untuk kepentingannya sendiri.” Sahut Dirga dingin. Darma pun terdiam dan suasana menjadi sangat hening.


“Jadi apa keputusanmu?” Tanya Julia memecah keheningan.


“Pisau memang hanya sebuah alat, dapat digunakan untuk melakukan banyak hal tergantung siapa yang menggunakan. Tapi kita harus ingat bahwa kita semua bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang kita miliki. With Great Power Comes Great Responsibility. Aku lebih baik tidak menguasai metode itu dibanding harus mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Aku juga yakin bangsa Jinn dahulunya tidak dapat melakukan metode Rasuk, tapi saat mereka menguasainya, kekacauan pun terjadi. Aku menghindari hal-hal semacam itu.”


Dirga menghela napas panjang dan nampak sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Darma.


“Anak muda, apa untungnya memaksakan kehendakmu itu?” Sahut Darma dingin.


“Sudahlah, aku menghargai keputusanmu Pak Darma. Aku juga menghargai pendapatmu Dirga. Aku yakin masing-masing dari kalian memiliki alasan tersendiri untuk mempertahankan argumen yang kalian utarakan.” Julia berusaha melerai dan menengahi perdebatan.


“Kita akan kembali ke rencana semula. Yuna, Dirga, Galih dan Ayu akan melakukan metode Rasuk. Sedangkan aku dan Pak Darma membantu mengamankan situasi jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Para pandawa sendiri akan bertanggung jawab dalam pembangkitan energi negatif masing-masing anggota.”


“Baik Julia.” Jawab seluruh anggota tim Project Wanara secara serempak.


Setelah itu semua, orang kembali ke tempatnya masing-masing untuk beristirahat tapi tidak dengan Dirga. Dia memutuskan untuk berkeliling mansion dan mencari udara segar. Hatinya masih kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Darma.


Selain itu, Dirga juga merasa kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan Darma. Tapi dia tidak ambil pusing dengan hal tersebut karena bisa jadi keputusan yang diambil Darma didasarkan pada cerita masa lalu yang pernah dia alami.


Hari pun semakin larut dan Dirga masih belum kembali untuk beristirahat. Disaat orang-orang sedang tidur terlelap, Dirga masih terjaga dan menikmati dinginnya malam.


Saat sedang berkeliling, tanpa sengaja Dirga melihat Darma sedang berdiri di tengah hutan yang gelap. Karena jarak yang terlampau jauh, Dirga pun tidak dapat melihat wajah Darma dengan baik. Tapi Dirga sangat yakin kalau itu adalah Darma karena dia dapat mengenali karakteristik energi yang dimilikinya.


Dirga terbelalak saat sesuatu muncul di hadapan Darma. Sesuatu dengan badan tinggi besar dipenuhi bulu dan mata merah yang terlihat sangat terang diantara gelapnya hutan. Energi yang dipancarkan sangatlah besar hingga membuat dadanya terasa sedikit sesak.

__ADS_1


Dirga menyadari kalau makhluk itu adalah salah satu golongan bangsa Jinn. Tapi Dirga tidak habis pikir bagaimana bisa Pak Darma berinteraksi langsung dengan mereka. Diantara kebingungannya itu, Dirga memutuskan untuk


segera pergi dan tidak terlibat terlalu jauh. Terlebih lagi terdapat jurang kemampuan yang sangat besar diantara mereka.


Tapi sayangnya makhluk tadi merasakan kehadiran Dirga. Dengan sekejap mata, makhluk itu kini berdiri tegak di hadapannya. Dirga dapat dengan jelas melihat rupa makhluk itu. Badan tinggi besar dengan bulu-bulu hitam tumbuh lebat disekujur tubuhnya. Mata merah menyala seperti batu kristal yang dilumuri darah segar. Serta dua buah taring panjang yang terlihat semakin jelas saat makhluk itu menyeringai. Saking terkejutnya, Dirga pun jatuh tersungkur di tanah.


“Beraninya kamu menguntitku.” Ujar Darma yang berjalan mendekati Dirga.


“Siapa kamu sebenarnya?” Ucap Dirga terbata-bata.


“Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Maksudku, belum saatnya kamu mati.” Raut Wajah Darma berubah dan sontak membuat tubuh Dirga bergetar.


“Keluarlah.”


Dirga semakin terbelalak dengan munculnya ratusan Jinn di belakang Darma.


“Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan.”


Seketika semua Jinn menghilang dan dentuman terjadi dari arah mansion. Api berkobar sangat besar hingga langit yang semula gelap pun menjadi merah saga.


Tanpa berpikir panjang, Dirga berusaha mengatasi rasa takutnya dan menyerang Darma secara membabi buta. Tapi anehnya, secepat apapun Dirga bergerak, sebanyak apapun serangan yang dia lakukan, tidak satupun dapat menjangkau Darma. Darma mampu bergerak jauh lebih cepat untuk menghindari semua serangan yang Dirga lakukan.


“Aku yakin sebelumnya dia tidak dapat bergerak secepat ini.” Pikir Dirga panik.


Pikirannya carut marut, di belakang sana sedang terjadi pembantaian, dan di hadapannya ada seseorang yang dia kira rekan, tapi ternyata musuh yang sedang bersembunyi. Dia ingin membantu teman-temannya, tapi Dirga tahu kalau dia tidak mungkin pergi jika tidak bisa mengalahkan Darma.


“Siapa kamu sebenarnya?”


“Orang yang akan segera mati tidak perlu tahu hal semacam itu.”


Dirga tersentak, “Jangan-jangan, kamu adalah anteknya Azazil?”


“Antek Azazil?” Darma tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dirga.


“Dasar bodoh. Adik dan kakak sama bodohnya.” Sambung Darma.


“Jangan-jangan….” Dirga tersentak dan ucapannya terhenti.


“Aku adalah Azazil.”

__ADS_1


***


__ADS_2