Project Wanara

Project Wanara
Chapter 19. Kekuatan dan Kebebasan


__ADS_3

Pertarungan antara Galih dan Ayu akan segera dimulai. Mereka berjalan menuju lapangan bersalju akibat kekuatan yang dikeluarkan oleh Yuna sebelumnya.


“Kak Galih, apa kita harus bertarung mati-matian juga?” bisik Ayu kepada Galih saat berjalan memasuki area pertarungan.


“Inti dari pertarungan ini adalah agar kita dapat melakukan manipulasi energi sesuai dengan karakter energi yang kita miliki. Sebisa mungkin jangan ada yang terluka.” Jawab Galih.


“Setelah kita mampu melakukan manipulasi energi, kita akhiri saja pertarungan ini.” Tambahnya lagi.


“Aku setuju kak.” Ayu menyetujui pernyataan Galih.


Galih dan Ayu telah berada di tengah-tengah area pertarungan dan bersiap memulai serangan.


“Kalian siap?!” tanya Darma dari kejauhan diikuti dengan anggukan kepala Galih dan Ayu.


“Mulai….!” Teriak Darma mengawali pertarungan.


“Ayu, aku akan mulai dengan mengalirkan energi ke kaki dan ke tangan untuk meningkatkan kecepatan dan memperkuat serangan. Jangan lengah dan jangan kalah sebelum kita bahkan mampu melakukan manipulasi energi.” Ucap Galih.


“Baiklah, kak. Ayo kita mulai.” Ayu menanggapi perkataan Galih dan melakukan serangan pertama.


Ayu bergerak dengan cepat. Dia terlihat cukup lihai mengendalikan energi. Pergerakan Ayu sangat cepat, namun masih tidak sebanding dengan kecepatan yang ditunjukkan Dirga sebelumnya.


Buk.. buk.. buk.. buk… Pukulan beruntun dilakukan oleh Ayu, namun Galih dengan sigap menangkis semua pukulan itu. Ayu mencari celah dan melakukan tendangan bawah yang diarahkan ke bagian kaki Galih. Tendangan itu berhasil masuk namun Galih sama sekali tidak bergeming. Sepertinya tendangan Ayu tidak cukup kuat untuk dapat melukai Galih.


“Kuat sekali… Aku yang menendang tapi justru kaki ku yang terasa nyeri.” Pikir Ayu.


Ayu kembali melakukan pukulan dan tidak memberi Galih kesempatan untuk melakukan serangan balasan. Namun tanpa disadari oleh Ayu, Galih mencengkeram pundaknya dengan sangat keras dan memberi tekanan yang cukup besar sehingga Ayu jatuh berlutut di tanah.


“Aagghh….” Jerit Ayu kesakitan.


Galih menyadari bahwa diantara mereka berdua terdapat selisih kekuatan yang cukup besar. Galih mampu memanfaatkan hal tersebut dengan baik sehingga dia dapat menjatuhkan Ayu tanpa perlu bersusah payah.


Ayu dengan cepat mengatasi situasi tersebut agar dapat menghindar dan terlepas dari cengkeraman Galih. Dia meningkatkan intensitas energi di bagian tangan dan melakukan pukulan keras ke bagian tangan Galih sehingga akhirnya dia mampu melepaskan diri. Ayu melangkah mundur dan mempersiapkan strategi selanjutnya.


“Kecepatan ku dan Kak Galih memang terlihat setara. Namun dalam hal kekuatan, Kak Galih jelas lebih unggul.” Pikir Ayu saat itu.


“Serangan jarak dekat akan sangat sulit dilakukan. Melihat tinggi badannya, jangkauan serang Kak Galih sepertinya juga lebih baik. Aku harus menemukan cara untuk melakukan serangan jarak jauh yang efektif.” Ayu berusaha mencari strategi yang tepat untuk melakukan serangan selanjutnya.


Galih masih terlihat diam. Dia belum menunjukkan inisiatif untuk menyerang. Hal tersebut membuat Ayu memiliki banyak kesempatan untuk menyusun strategi serang yang baik. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Ayu pun penasaran dengan alasan Galih yang memilih untuk tetap bertahan dari pada memulai penyerangan. Padahal Galih memiliki keunggulan dalam hal kekuatan dan jangkauan serang.


Ayu berusaha menepis pikiran tersebut dan kembali mencoba melakukan serangan jarak dekat karena Ayu belum mendapatkan titik terang tentang bagaimana cara melakukan serangan jarak jauh yang efektif untuk mengalahkan Galih.


Syut.. Syut.. Syut.. Ayu bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri untuk mengelabui Galih. Galih masih tidak bergeming dan tetap berdiri di tempat seakan tidak mengindahkan kehadiran Ayu.


Buak….!!!!

__ADS_1


Dengan cepat pukulan keras Ayu mendarat di wajah Galih. Pukulan tersebut nampak sangat penuh dengan tenaga hingga menghasilkan suara yang keras. Ayu merasa bahwa pukulannya kali ini sudah cukup untuk membuat luka di wajah Galih. Ayu pun tersenyum.


Namun mata ayu terbelalak saat melihat Galih. Tidak disangka bahwa pukulan dengan tenaga besar yang baru saja dia lakukan sama sekali tidak memberikan dampak. Galih masih terdiam dan tidak bergeming.


Tangan Ayu bergetar dan seperti mati rasa. Mata Ayu kembali terbelalak saat melihat kondisi tangannya yang saat ini terluka parah. Kepalan tangan Ayu nampak memar. Sepertinya beberapa bagian tulang pada jarinya juga mengalami fraktur.


“Aaaaaargggghhhhhh…….” Seketika Ayu menjerit sangat kencang. Sepertinya Ayu merasakan sakit yang luar biasa.


“Apa yang terjadi?” Rama yang melihat dari jauh tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Hal tersebut membuatnya penasaran.


“Tangan Nona Ayu terluka cukup parah.” Ujar Julia menanggapi pertanyaan Rama.


“Bukankah baru saja Ayu yang melakukan serangan. Kenapa justru dia yang terluka?” Rama kembali melontarkan pertanyaan.


“Tuan Galih berhasil melakukan manipulasi energi. Gunakan energi tuan untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ucap Julia.


Rama yang merasa penasaran, segera mengalirkan energi ke bagian mata untuk melihat kondisi sebenarnya.


“Sebuah baju zirah..?!!” Rama pun tercengang.


“Betul sekali. Tuan Galih berhasil memanipulasi energinya menjadi sebuah baju zirah. Hasil dari manipulasi tersebut membuat kemampuannya dalam bertahan dan menerima serangan menjadi sangat kuat. Pukulan energi biasa tidak akan mampu membuatnya goyah.” Julia memberi sedikit penjelasan kepada Rama.


“Ini adalah pengalaman berharga untuk kalian. Biasakan untuk selalu mengalirkan energi ke bagian mata agar kalian dapat melihat serangan energi lawan atau bagaimana lawan menggunakan energinya.” Darma memberi nasihat kepada Rama dan Yuna yang saat itu juga sedang menyaksikan pertarungan berlangsung.


“Dalam pertarungan ini Galih nampak sangat tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh serangan-serangan yang dilakukan Ayu. Sebaliknya, ketenangan yang ditunjukkan oleh Galih justru membuat Ayu nampak sedikit frustrasi dan membuatnya gegabah.” Darma kembali memberi penjelasan.


Pertarungan antara Galih dan Ayu masih berlangsung. Ayu masih terduduk dan meringis kesakitan. Galih melihat Ayu tidak berdaya namun masih saja terdiam. Tidak ada tanda-tanda bahwa Galih akan melakukan serangan untuk


mengalahkan Ayu saat itu juga.


“Ayu, apa kamu baik-baik saja?” Akhirnya Galih membuka suara. Ternyata Galih merasa khawatir dengan kondisi Ayu saat ini.


“Aku minta maaf.” Galih berlutut dan melihat kondisi tangan Ayu.


“Jangan begitu Kak Galih. Aku jadi merasa sangat lemah. Aku yang melakukan serangan, tapi aku yang terluka.” Ujar Ayu dengan tetap menunjukkan raut wajah kesakitan.


“Sudahlah, apa Ayu masih bisa berdiri?” tanya Galih.


“Tentu saja, yang terluka itu tangan bukan kaki loh..!” Ayu menanggapi pertanyaan Galih dengan sedikit gurauan. Galih pun tersenyum mendengar tanggapan Ayu.


“Kenapa Kak Galih bisa sangat kuat seperti ini?” tanya Ayu.


“Apa Ayu tidak mengalirkan energi ke mata?” Galih malah memberi pertanyaan kepada Ayu.


Ayu tersentak. Dengan cepat Ayu mengalirkan sebagian energinya ke bagian mata. Hal tersebut membuatnya tercengang. Ayu melihat Galih menggunakan baju zirah yang nampak sangat kuat. Pada bagian tangan zirah itu juga terdapat beberapa pisau kecil yang sangat tajam. Ayu tersadar bahwa ternyata sedari tadi Galih telah mampu memanipulasi energinya. Ternyata hal itu pula lah yang menyebabkan Galih tidak melakukan serangan. Jika Galih melakukan sedikit saja serangan, maka Ayu akan segera kalah dan tidak dapat melanjutkan pertarungan.

__ADS_1


“Dasar Ceroboh….” Ujar Galih sambil mengusap kepala Ayu. Sedangkan Ayu mematung karena diperlakukan seperti itu.


“Ayo kita mulai lagi. Aku tidak akan melakukan serangan apapun sebelum Ayu dapat melakukan manipulasi energi.” Ucap Galih dan diikuti dengan anggukan kepala Ayu.


Ayu tidak menyangka kalau Galih akan begitu peduli dengan perkembangannya. Dia menjadi sangat bersemangat.


Ayu mengambil beberapa langkah ke belakang untuk memperlebar jarak. Dan kembali membuat strategi penyerangan. Serangan jarak dekat akan sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan mustahil untuk saat ini. Perbedaan kekuatan antara mereka berdua sudah sangat jauh, ditambah lagi dengan adanya zirah energi yang digunakan Galih.


Sekilas terlintas dipikiran Ayu tentang dandelion yang dimiliki oleh Julia. Jika dia bisa membuat energi melayang bebas dan membuat ledakan dari energi tersebut, maka dia masih memiliki kemungkinan untuk menang di pertarungan ini. Terlebih lagi jika dia bisa membuat energi dengan bentuk duri. Maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih besar.


“Baiklah, akan ku coba.” Pikir Ayu.


Ayu adalah orang yang pandai bergaul dan penuh dengan getaran positif di hatinya. Melihat sesuatu dari sudut pandang positif dan berusaha memberikan energi positifnya itu ke lingkungan sekitarnya. Dia juga orang yang senang bergerak bebas dan tidak mudah terkekang dengan kondisi buruk yang menimpanya. Walaupun begitu, Ayu juga memiliki hati yang lembut. Mudah menangis dan mengeluarkan air mata untuk sesuatu yang membuatnya tersentuh.


Ayu memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk melakukan manipulasi energi. Dia telah memiliki gambaran tentang energi seperti apa yang akan dibuatnya. Bentuk energi yang paling tepat untuknya. Untuk orang-orang yang penuh dengan keceriaan dan kebebasan.  Tidak lama kemudian, bulu beterbangan di sekitarnya.


Akhirnya Ayu berhasil melakukan manipulasi energi. Semua orang tertegun dengan apa yang mereka lihat.


“Menakjubkan….” Pikir Galih saat melihat hasil dari manipulasi energi yang dilakukan oleh Ayu.


Ayu berhasil membuat sepasang sayap yang melekat dipunggungnya. Tidak hanya itu, Ayu pun melayang-layang di udara melawan hukum gravitasi yang ada.


Ayu membuka mata. Saat ini dia yang terkejut karena baru menyadari bahwa ia sedang melayang di udara.


“Aaaahhhhh….” Keterkejutannya itu membuat Ayu gagal mengendalikan energi sehingga kedua sayapnya menghilang seketika dan membuatnya jatuh ke tanah.


Untung saja Ayu tidak melayang terlalu tinggi dan untung saja Ayu pun berhasil melindungi tangannya yang terluka tadi saat terjatuh. Ayu dengan cepat berdiri dan tersenyum malu.


“Huft… Dasar Bodoh.” Pikir Galih yang terkejut saat melihat Ayu terjatuh. Galih pun merasa lega karena Ayu terlihat baik-baik saja.


“Itu luar biasa Ayu…. Kamu hebat…!” Teriak Rama dari kejauhan.


“Hey, apa kamu pikir zirahku ini tidak hebat..!!” Galih membalas teriakan Rama.


“Tidak sama sekali….!” Rama kembali menjawab teriakan Galih.


“Kurang ajar kamu ya…!” Galih tidak mau kalah dan berteriak lebih kencang.


“Jangan cuma bicara saja. Tunjukkan kehebatan zirah mu itu…!” Rama memberi tantangan kepada Galih dengan tersenyum.


“Tentu saja…!” ujar Galih juga dengan tersenyum.


Tanpa disadari percakapan sederhana antara Rama dan Galih memberi semangat kepada semua orang.


Pertarungan antara Galih dan Ayu belum berakhir. Bahkan pertarungan sebenarnya baru saja akan dimulai. Galih dengan kekuatan zirahnya dan Ayu dengan kepakan sayapnya.

__ADS_1


***


__ADS_2