Project Wanara

Project Wanara
Chapter 81. Tak Tertandingi


__ADS_3

“Aku adalah Azazil.”


Dirga amat sangat terkejut dengan pernyataan yang Darma utarakan. Sebenarnya Dirga tidak ingin mempercayai hal tersebut, hanya saja  fakta-fakta yang hadir di depan matanya berkata lain.


Pikirannya kembali carut marut, Dirga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi, Dirga tidak bisa mengabaikan pembantaian yang sedang terjadi di mansion Project Dasamuka. Di sisi lain, kondisinya bahkan jauh lebih buruk karena harus berhadapan dengan pemimpin Para Iblis, Azazil.


Dirga mulai memutar otak untuk menyikapi kondisi tersebut. Ada beberapa hal yang dapat dia lakukan. Pertama, melarikan diri sejauh mungkin. Kedua, pergi menuju mansion untuk membantu rekan-rekannya dan mengabaikan keberadaan Azazil. Terakhir, bertarung melawan Azazil dengan seluruh kemampuan yang dia miliki.


Jika pilihan pertama yang dia ambil, maka mungkin saja Dirga masih bisa menyelamatkan diri. Tapi jika mengingat kecepatan yang ditunjukkan oleh Azazil sebelumnya, besar kemungkinan dia akan terbunuh bahkan sebelum sempat pergi terlalu jauh. Jika pilihan kedua yang dia ambil, maka besar kemungkinan Azazil akan menghampiri mansion dan membawa malapetaka yang jauh lebih besar. Jika pilihan ketiga yang dia ambil, kematian telah jelas ada di depan matanya.


“Sial….” Pikir Dirga.


“Pak Darma, kenapa kamu harus melakukan semua ini?” Dirga memberanikan diri untuk membuka suara.


Buuuk…!


Tiba-tiba saja Azazil berdiri di hadapan Dirga dan melayangkan pukulan keras ke arah perutnya hingga membuat Dirga terhempas dan menghantam pepohonan. Satu pukulan yang dilakukan Azazil membuat Dirga hampir kehilangan kesadaran. Pandangan matanya kabur dan berkunang-kunang. Tulangnya terasa hancur dan tubuhnya seakan terkoyak.


Samar-samar Dirga melihat Azazil berjalan mendekatinya dengan tekanan energi yang begitu besar. Seiring dengan gerakan langkah kakinya, wujud Azazil pun perlahan berubah. Wajah Darma yang sangat Dirga kenal pun hilang, digantikan dengan sosok bertanduk panjang dengan wajah mengerikan. Pada bagian dahinya terdapat sebuah tanda aneh seperti tato berwarna hitam kemerahan. Sepasang sayap hitam pun muncul dari punggungnya dan membentang sangat lebar.


Sontak Dirga pun terkejut dan ketakutan. Dirga berusaha melarikan diri, tapi apa daya, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.


Di tengah rasa takutnya, Dirga berusaha menggunakan teknik fusi untuk melindungi tubuhnya dari tekanan energi milik Azazil yang terasa semakin besar karena jarak antara mereka berdua menjadi semakin dekat. Biasanya mudah saja bagi Dirga untuk menggunakan teknik fusi, tapi dalam kondisinya kini, bahkan hanya untuk mengeluarkan energi CORE saja terasa sangat menyakitkan.


Hal itu dia sadari saat berusaha menyembuhkan diri menggunakan teknik regenerasi sel. Tiap kali energi CORE mengalir ke bagian tubuh yang terluka, rasa sakit yang tak tertahankan pun muncul dan membuat Dirga harus menghentikan proses itu.


Dengan bersusah payah, akhirnya energi fusi terbentuk dan menyelimuti tubuh Dirga seakan menjadi benteng pelindung yang sangat kokoh. Hanya itu yang bisa Dirga lakukan dengan kondisi tubuhnya saat ini.


Sosok Sang Raja Iblis pun kini berdiri tepat dihadapan Dirga. Azazil sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dirga. Senyum seringainya membuat Dirga terbelalak ketakutan.


Dirga berusaha untuk tetap tenang karena dia tahu ada energi pelindung yang dapat menjaganya dari serangan Azazil. Tapi setelah itu Azazil terlihat menyentuh energi pelindung milik Dirga menggunakan jari telunjuknya dan seketika itu juga energi pelindung hancur tak bersisa. Azazil kembali menatap mata Dirga dengan senyum seringai yang lebih mengerikan.


“Tunduklah padaku dan kamu akan selamat. Jadilah budakku dan kamu akan bahagia.” Ucap Azazil masih dengan senyum seringainya.


“Lebih baik aku mati.” Ucap Dirga dingin dengan tatapan mata tajam dan wajah penuh darah.


“Kamu manusia yang sangat berbakat. Sayang rasanya membunuh manusia seperti mu. Sujudlah padaku dan kamu akan mendapat kehormatan untuk menjadi pelayanku.”


“Bunuh saja aku.”

__ADS_1


“Tundukkan kepalamu dan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau. Kekayaan kekuatan, dan kekuasaan, semuanya akan kamu dapatkan.”


“Enyahlah kau. Semua yang kamu sebutkan tadi tidak dapat mengembalikan Raka yang telah kamu bunuh.”


Tiba-tiba Azazil tertawa terbahak-bahak dan membuat Dirga kebingungan.


“Maksudmu orang ini?” Ujar Azazil sembari menunjuk seseorang yang berjalan mendekati mereka berdua.


“Raka….” Dirga terbelalak.


“Sujudlah padaku dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.”


Dirga terdiam cukup lama. Kedatangan Raka sedikit mengoyahkan hatinya. Meskipun begitu, Dirga masih berusaha menjaga kesadaran nalarnya dan menolak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Azazil adalah pemimpin para Iblis, jika Jinn biasa saja dapat membuat ilusi, tentu Azazil dapat melakukan itu dengan jauh lebih baik.” Pikir Dirga.


“Jangan Ragu Dirga, sambutlah tangan Sang Raja, kamu tidak akan pernah menyesalinya. Bersyukurlah karena Sang Raja memberimu kesempatan yang begitu besar seperti ini.” Kata-kata yang keluar dari mulut Raka membuat Dirga sangat terkejut.


“Kurang ajar, berani sekali kamu berpura-pura menjadi Raka.”


“Aku tidak berpura-pura, aku adalah Raka, kakakmu.”


Arrrghhhh…. Dirga berteriak kesakitan.


“Berani sekali kamu menunjukkan taringmu dihadapanku.” Ternyata apa yang baru saja terjadi adalah ulah Azazil.


Tidak lama kemudian Azazil memadamkan api itu dan mengobati luka bakar yang Dirga derita hanya dengan sedikit hembusan napas.


“Jika kamu memang Raka, tidak mungkin kamu membiarkan adikmu ini terbakar seperti tadi. Sudah jelas kamu bukanlah dia.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Dirga pun kehilangan kesadaran.


Tapi Azazil tidak membiarkan Dirga pingsan begitu saja. Dia menyentuh dahi Dirga menggunakan jari telunjukknya dan tiba-tiba saja tubuh Dirga kejang-kejang seperti sedang tersengat listrik. Seketika itu juga mata Dirga terbelalak dan kesadarannya pun kembali.


“Jangan bodoh Dirga, ini benar-benar aku, Raka. Orang yang selalu bersamamu sejak kecil.”


“Jika kamu benar Raka, apa kamu ingat janji yang pernah kamu ucapkan? Janji yang tidak pernah bisa kamu tepati.”


“Aku minta maaf Dirga, sambutlah tangan Sang Raja, dan akan ku tepati janjiku. Akan ku ajarkan semua kemampuan dan teknik bertarung yang ku ketahui.”


Kata-kata itu tanpa sengaja membuat Dirga meneteskan air matanya. Tepat sebelum hari kematian Raka, Dirga yang mengetahui kalau Raka sedang mempelajari sesuatu pun meminta Raka untuk mengajarkan apapun yang Raka ketahui kepada Dirga. Termasuk kemampuan-kemampuan luar biasa yang pada saat itu baru pertama kali Dirga lihat.

__ADS_1


Tapi belum sempat Raka mengajarkan hal itu kepada Dirga, terjadi sebuah bencana yang merenggut nyawa Raka. Bencana yang disebabkan oleh serangan bangsa Jinn.


“Tidak perlu, aku sudah mempelajari semuanya. Bahkan mungkin kini aku jauh lebih hebat dari mu.” Jawab Dirga dengan senyum kecil diwajahnya.


“Tidak mungkin, kamu berlatih dari orang-orang lemah itu, sedangkan aku dilatih langsung oleh Sang Raja. Sekarang sambutlah tangan Sang Raja dan kita akan berlatih bersama-sama.”


“Tentu saja kamu sangat hebat. Asoka, Para Pandawa dan kini Azazil pun ikut melatihmu.”


“Benar, dan aku akan menurunkan ilmu yang ku dapat dari mereka bertiga kepadamu.”


“Para Pandawa itu ada lima orang, dan bahkan kamu belum pernah bertemu dengan mereka semasa kamu hidup.”


“Bangsat.” Ucap Raka yang tiba-tiba berubah menjadi kepulan asap dan menghilang.


“Kamu memang sangat cerdik, atau mungkin Jinn bodoh itu yang terlalu bodoh. Padahal sebagian kecil ingatan Raka telah keberikan pada Jinn bodoh itu, tapi sekali bodoh tetap saja bodoh.” Ujar Azazil masih dengan seringai mengerikannya.


“Enyahlah kau Iblis terkutuk.”


Ucapan Dirga membuat Azazil naik pitam. Azazil kembali berdiri tegak, membentangkan kedua sayapnya dan mengalirkan energi hitam pekat yang berubah menjadi kobaran api hitam. Azazil membakar Dirga menggunakan api hitam itu. Api hitam adalah salah satu jenis api yang jauh lebih panas dibandingkan dengan api merah dan sangat sulit untuk dipadamkan. Hanya pengguna kekuatan dan pemilik api hitam lain yang dapat memadamkan api tersebut. Sedangkan makhluk yang memiliki kekuatan itu hanyalah Azazil dan Asoka saja.


Argghh…. Dirga berteriak dengan sangat kencang karena panas api dan rasa sakit yang luar biasa hebat. Tapi Dirga tidak ingin mengalah begitu saja, dia tetap mempertahankan energi fusi untuk membantu mengurangi rasa sakit dan dampak yang diakibatkan oleh api hitam itu. Meskipun begitu, energi fusi tidak dapat bertahan lama dan perlahan terkikis oleh kobaran api hitam.


Argghh…. Dirga kembali berteriak sambil mengeluarkan sisa-sisa energi yang dia miliki untuk mempertahankan keberadaan energi fusi, hingga akhirnya energi itu benar-benar habis terkikis dan kobaran api hitam membakar kulit Dirga.


Baaam…!


Tiba-tiba saja muncul kekuatan besar yang menyerang Azazil. Kekuatan itu cukup besar untuk membuat ledakan dahsyat yang menciptakan kehancuran besar di area tersebut. Namun serangan sekuat itu pun masih tidak dapat menyentuh Azazil. Azazil berhasil menghindar tepat sebelum serangan itu meledak dan menghancurkan segala sesuatu yang ada disana.


Wush… Wush…!


Hembusan angin yang cukup kencang berhasil memadamkan api hitam yang membakar Dirga. Berkat upaya Dirga dalam mempertahankan energi fusi, dia berhasil meminimalisir dampak buruk yang diakibatkan oleh kobaran api hitam itu.


Dirga pun membuka matanya secara perlahan, dia melihat seseorang sedang berdiri tegak di hadapannya. Sayap hitam membentang lebar dari punggung orang itu. Sayap hitam yang mirip sekali dengan sayap milik Azazil. Tapi Dirga sadar kalau itu bukanlah Azazil, orang itu nampak seperti manusia biasa. Sayap hitamnya sajalah yang membedakannya dengan manusia pada umumnya.


Kemudian Dirga melihat area disekitarnya. Dirga sangat terkejut karena semua yang dia lihat hanyalah kehancuran. Hanya titik dimana mereka berada saja yang terlihat tidak terkena dampak serangan.


Dari kejauhan, Azazil nampak kesal dengan apa yang dia saksikan. Azazil tahu kalau hanya ada segelintir makhluk yang dapat membuat serangan kuat dengan skala besar seperti itu. Kemudian Azazil pun kembali bergerak mendekati Dirga dan kini dia berhadapan langsung dengan orang yang bertanggung jawab dengan serangan tadi.


“Selamat datang, Rama, pewaris darah Sang Raja Jinn.” Ujar Azazil masih dengan seringainya yang mengerikan.

__ADS_1


***


__ADS_2