Project Wanara

Project Wanara
Chapter 38. Dirga Prayuda (Last Part)


__ADS_3

“Jangan Cuma diam saja. Di pertarungan sesungguhnya, kamu tidak akan punya waktu untuk diam seperti ini.” Ujar Dirga yang kembali muncul di samping Galih.


“Dirga, aku tidak menyangka perbedaan kekuatan kita sejauh ini. Bagaimana aku bisa menang kalau untuk melihat pergerakan mu saja aku tidak bisa.” Ucap Galih.


“Kamu salah. Perbedaan kekuatan kita sebetulnya tidak terlalu jauh.” Jawab Dirga.


“Hal yang membuat kita berbeda hanya satu. Aku yakin menang dengan kemampuan yang ku miliki. Sedangkan kamu malah terintimidasi. Kamu terbiasa membuat rencana untuk mengantisipasi segala hal, sehingga kamu kurang taktis untuk beradaptasi di dalam sebuah pertarungan. Padahal kemampuan yang kamu miliki juga tidak kalah mengagumkan.” Tambahnya.


“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Galih.


“Kamu termasuk orang yang cerdas dan berhati-hati, temukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri.” Jawab Dirga.


Galih terdiam sambil memikirkan rencana untuk menghadapi lawan yang bahkan tidak dapat dia sentuh.


“Begini saja, kecepatan akan ku kurangi sampai batas kamu bisa melihat pergerakan yang ku lakukan. Dengan begitu intuisimu akan terlatih dan mulai terbiasa dengan pertarungan bertempo cepat. Aku juga tidak akan menggunakan kerambit. Aku akan bertarung dengan tangan kosong.” Ucap Dirga yang melihat Galih kebingungan.


“Apa harus sampai sejauh itu?” Tanya Galih.


“Kita sedang berlatih, bukan bertarung. Jangan harap aku akan melakukan itu dalam pertarungan sesungguhnya.” Jawab Dirga sambil tersenyum untuk menjaga harga diri Galih.


“Ayo kita mulai lagi.” Sahut Galih dengan semangat.


Latih tanding kembali mereka lakukan. Galih mengambil inisiatif serangan pertama dan menebaskan Pedang Rapier untuk menyerang Dirga. Dirga hanya membuat langkah kecil untuk menghindari serangan itu.


Melihat serangannya gagal, Galih kembali menebaskan pedangnya. Dia membuat banyak tebasan sekaligus dengan tempo yang lebih cepat. Dirga masih belum memberi perlawanan. Dirga hanya membuat langkah-langkah kecil untuk menghindari semua serangan itu.


Galih terkejut saat melihat Dirga dapat menghindari semua serangannya dengan sangat mudah.


“Sekarang giliranku.” Ucap Dirga sambil berlari cepat menuju arah Galih.


Kini Galih bisa melihat pergerakan yang dilakukan Dirga. Dia terus menerus membuat tebasan cepat untuk menjatuhkan Dirga yang sedang berlari. Tapi sayangnya, Dirga dapat menghindari semua serangan itu bahkan saat sedang berlari dengan kecepatan tinggi.


“Coba tahan pukulan ini.” Teriak Dirga yang melayangkan pukulan ke arah bahu kiri Galih. Galih berusaha untuk bertahan menggunakan tameng yang dia pegang, hanya saja pukulan yang dilakukan Dirga lebih cepat dari reaksi yang dibuat Galih. Sehingga pukulannya itu menghantam tepat di bahu kiri Galih.


Pukulan itu sangat kuat. Galih yang memiliki daya tahan luar biasa pun sampai jatuh tersungkur saat menerima pukulan itu. Baju zirahnya memang tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan, tapi Galih merasakan sakit yang luar biasa.


Dirga kembali melakukan serangan. Kali ini tendangan kakinya tepat mengarah ke bagian perut Galih. Lagi-lagi Dirga menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Tendangan itu membuat Galih terpental jauh ke belakang hingga berguling-guling di tanah.


Galih mengerang kesakitan akibat dua serangan yang dilakukan Dirga.


“Apa yang terjadi? Zirah ini sama sekali tidak rusak, tapi kenapa masih terasa sangat sakit?” Pikir Galih yang merasa kebingungan.


“Kamu tahu apa itu resonansi energi?” Tanya Dirga.


“Resonansi?” Galih tersentak.


“Tadi aku tidak asal menyerang saja. Aku melakukan manipulasi energi yang dapat merubah getaran energi lawan. Pukulan dan tendangan tadi hanyalah pemicu. Serangan sesungguhnya berasal dari energi milik mu sendiri. Aku memberi sedikit getaran pada energi baju zirah itu sehingga energi yang seharusnya melindungi mu justru berbalik melukai mu. Itu adalah efek resonansi yang ditimbulkan. Teknik ini sangat berguna untuk menghadapi lawan dengan gaya bertahan seperti mu.”  Jelas Dirga.


“Gila, orang ini ada di level yang berbeda.” Pikir Galih.


“Ayo kita lanjutkan.” Ucap Dirga sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Galih berdiri.


“Aku tidak bermaksud menyombongkan diri. Aku hanya ingin kamu mengerti bahwa pertahanan yang kamu banggakan itu tidak akan banyak berguna jika menghadapi lawan yang memiliki berbagai macam trik untuk melemahkan pertahanan mu itu. Kamu harus memiliki beberapa variasi serangan dan pertahanan untuk dapat unggul di dalam sebuah pertarungan.” Ujar Dirga.


“Terima kasih Dirga. Tapi aku penasaran akan satu hal, apa manfaat latih tanding ini untuk kamu? Kamu telah unggul hampir di semua aspek. Aku mendapat banyak ilmu dan pengalaman baru, sedangkan kamu tidak mendapatkan apapun.” Tanya Galih.


“Pertama, aku memiliki stamina dan daya tahan yang buruk. Pertarungan adalah latihan terbaik untuk meningkatkan stamina dan daya tahan fisik yang kumiliki. Kedua, semakin banyak pertarungan yang kita lakukan, semakin banyak pengalaman yang akan kita dapatkan. Ketiga, aku teringat dengan kata-kata Rama saat pertama kali kita tiba di mansion ini.” Jawab Dirga.


“Apa itu?” Tanya Galih penasaran.


“Bukankah kita ini satu tim?” Ucap Dirga dengan senyum bangga di wajahnya.

__ADS_1


Galih tersentak dan terharu dengan perkataan Dirga. Hal itu kembali membangkitkan semangatnya dan memberi motivasi untuk menjadi lebih kuat.


“Orang ini terlihat sangat dingin. Tapi ternyata penuh kehangatan dan sangat peduli dengan rekan tim nya.” Pikir Galih.


“Kamu betul sekali. Ayo kita lanjutkan.” Ucap Galih dengan antusias.


“Kali ini pola latih tanding akan kita ubah. Dua hari lagi kamu akan melakukan latihan di area pertama, kan? Sekarang kita akan melatih kemampuan tempur jarak dekat dan meningkatkan kecepatan serangmu.” Ujar Dirga.


“Pertama, kita latih kecepatan serangmu dulu. Aku akan berlari secara acak, berusahalah untuk setidaknya mengikuti pergerakan yang ku lakukan. Tenang saja, aku akan menyesuaikan kecepatanku sendiri agar kamu tetap bisa mengikuti. Sambil berlari mengikuti ku, cobalah untuk menebaskan pedangmu itu. Jangan gunakan serangan jarak jauh seperti tadi, tapi cukup tebaskan saja. Bayangkan aku adalah musuhmu. Kita akan lakukan ini sampai kamu mulai terbiasa menggunakan pedang saat sedang bergerak dengan cepat.” Jelas Dirga.


Kemudian Dirga berlari secara acak dengan kecepatan rendah. Galih segera mengikuti kemana pun Dirga bergerak sambil terus mengayunkan pedangnya.


Tidak lama berselang, Dirga menambah kecepatan. Galih masih dapat mengikutinya. Dirga kembali mempercepat larinya dan Galih masih terus mengekor Dirga. Tapi kali ini, Galih merasa kesulitan. Jarak antara mereka berdua perlahan menjauh.


“Apa sebatas ini saja kemampuan mu?” Tanya Dirga sambil terus berlari.


Kata-kata itu memicu semangat Galih. Dia mengalirkan lebih banyak energi ke bagian kaki dan mempercepat lajunya. Dirga tersenyum saat melihat Galih mampu mengikutinya, walaupun dengan susah payah.


“Sekarang apa kamu masih bisa mengikuti?” Tanya Dirga sambil mempercepat larinya.


Galih kembali berupaya melewati batas kemampuannya. Dia tidak ingin mengecewakan Dirga yang telah bersedia membantunya berlatih. Hingga akhirnya Galih mampu mengikuti kecepatan Dirga. Mereka terus berlari hingga tiba-tiba saja Dirga hilang dari pandangan dan muncul di belakang Galih.


“Berhenti.” Ucap Dirga singkat.


“Sekarang kamu perlu melatih kemampuan tempur jarak dekat. Aku akan melemparkan kerambit ini ke arah mu. Jangan menghindar, dan jangan menggunakan tameng untuk bertahan. Kamu harus membalas serangan kerambit ini menggunakan pedang mu itu.” Ujar Dirga.


“Latihan ini akan meningkatkan insting bertarung mu.” Sambungnya.


“Aku mengerti.” Jawab Galih singkat.


Dirga berjalan menjauh dan bersiap untuk melemparkan kerambitnya. Dia mencoba melempar satu kerambit ke arah Galih.


“Sial, lemparan kerambitnya saja sudah sekuat ini. Pantas saja baju zirah ku sampai retak.” Pikir Galih.


Kemudian beberapa kerambit datang dari berbagai arah. Galih tidak pernah menyangka bahwa Dirga mampu melempar kerambit dengan jumlah yang tidak sedikit secara bersamaan.


Dirga membuat ritme yang sama dalam lemparan kerambitnya. Mulanya kecepatan kerambit itu rendah, dan bertambah cepat secara bertahap setelah Galih mulai terbiasa dengan kecepatan sebelumnya. Pelatihan itu terus mereka lakukan sampai batas kecepatan yang dapat di terima oleh Galih.


Sesaat setelah kerambit terakhir dilemparkan. Dirga bergerak dengan kecepatan yang sama sambil menggenggam dua buah kerambit di tangannya. Dia menyerang Galih dengan tiba-tiba. Tapi kali ini Galih mampu mengantisipasi serangan yang Dirga lakukan, bahkan sempat melakukan serangan balik menggunakan pedangnya. Setelah itu, lagi-lagi Dirga menghilang dari pandangan.


“Aku lelah, kita istirahat dulu.” Ucap Dirga yang sedang bersandar di bawah pohon.


Galih masih tidak habis pikir, bagaimana cara Dirga melakukan itu. Walaupun Galih berhasil menghindari serangan Dirga, tapi dia masih belum bisa mengikuti gerakan Dirga yang tiba-tiba saja terlihat menghilang.


“Sebetulnya teknik apa itu? Kamu tiba-tiba menghilang dan muncul di tempat yang tidak terduga.” Tanya Galih sambil berjalan menghampiri Dirga.


“Aku hanya berlari, tapi dengan kecepatan yang sangat tinggi.” Jawab Dirga.


“Kamu memang gila.” Ucap Galih.


“Sepertinya latihan hari ini kita cukupkan saja. Kamu sudah memiliki dasar yang sangat baik untuk melakukan pertarungan jarak dekat. Latihan di area pertama tidak akan lagi menjadi masalah.” Ujar Dirga.


“Terima kasih Dirga. Aku sangat bersyukur bisa satu tim dengan mu.” Ucap Galih sambil menundukkan kepala sebagai ungkapan terima kasihnya.


“Sudahlah, jangan dipikirkan. Mari kita istirahat.” Jawab Dirga sambil melangkah pergi.


Hari pun berganti….


Hari ini Dirga akan melakukan latihan di area pertama untuk meningkatkan kemampuan serang jarak dekatnya.


Dirga telah sangat siap menghadapi latihan ini. Tugas Dirga adalah untuk menghindari semua serangan mesin lontar dan menghancurkan tiga buah boneka kayu yang berdiri di ujung ruangan.

__ADS_1


Teeeet…. Pelatihan dimulai.


Dirga tiba-tiba menghilang dan muncul dihadapan ketiga boneka kayu itu. Boneka kayu tidak dapat bereaksi dengan baik dan Dirga mampu memotong seluruh boneka kayu menjadi dua bagian.


Boneka kayu yang telah terpotong itu masih dapat bergerak dan kini telah bergabung menjadi sebuah boneka besar dengan pedang panjang di tangannya. Boneka itu bergerak cepat menghampiri Dirga dan mengayunkan pedangnya. Dirga kembali menghilang dan muncul di belakang boneka itu. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, Dirga memotong boneka kayu itu menjadi beberapa bagian. Serangan yang Dirga lakukan membuat boneka kayu tidak lagi dapat bergerak. Pelatihan pun berakhir dengan sangat cepat.


Darma terperangah dengan apa yang dia lihat.


“Teknik yang hebat.” Teriak Darma.


“Dirga hanya berlari dan melakukan serangan sederhana. Tapi kecepatan yang dia tunjukkan membuat serangannya menjadi sangat mematikan.” Jelas Julia.


“Tapi sayangnya Dirga tidak menunjukkan seluruh kemampuannya.” Sambung Julia.


“Apa maksud mu?” Tanya Darma.


“Dia bisa saja memotong ketiga boneka kayu tadi menjadi beberapa bagian kecil dan mengakhiri pelatihan. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia berharap mendapatkan tantangan yang lebih besar. Tapi sepertinya dia sedikit kecewa.” Ucap Julia.


Kata-kata Julia membuat Darma terdiam seribu bahasa.


“Apa pelatihan sudah berakhir?” Tanya Dirga kepada Darma dan Julia. Pertanyaan itu menyadarkan Darma dari diamnya.


“Kamu berhasil menyelesaikan latihan ini hanya dalam waktu beberapa detik saja. Hebat, selamat Dirga.” Puji Darma dengan sangat semangat.


Pelatihan di area pertama berakhir dengan cepat. Begitu juga pelatihan di area kedua. Dirga berhasil menyelesaikan latihan itu tanpa kendala sedikit pun.


Darma kembali dibuat terkejut dengan kemampuan Dirga. Darma tidak menyangka bahwa Dirga mampu melempar kerambit dengan jumlah yang sangat banyak sekaligus. Terlebih lagi, semua serangan yang Dirga lakukan sangatlah akurat. Tidak ada satu target lontar pun yang lolos dari serangannya.


Kemudian Darma melihat Julia pergi meninggalkan ruang pengawasan dengan sedikit tergesa-gesa tanpa sepatah kata pun.


Mengetahui pelatihan telah berakhir, Dirga pergi keluar ruangan. Saat membuka pintu ruang pelatihan, Dirga sedikit terkejut karena Julia telah berdiri di depan pintu. Rupanya Julia pergi menuju ruang pelatihan area kedua untuk menemui Dirga.


“Sebenarnya siapa kamu?” Tanya Julia dengan dingin.


“Sudah kuduga, ternyata kamu memang masih mencurigai ku.” Jawab Dirga juga dengan tatapan dingin.


“Jawab saja pertanyaan tadi.” Ucap Julia.


“Apa alasan dari kecurigaan mu itu? Kenapa kamu mencurigai ku dan tidak kepada Rama yang justru dipenuhi dengan energi iblis yang mengerikan?” Tanya Dirga.


“Kamu harus tahu satu hal. Aku tidak akan pernah mengkhianati dan melukai orang-orang yang seharusnya ku lindungi, walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri.”


Julia tidak menanggapi perkataan Dirga sedikitpun. Melihat reaksi yang ditunjukkan Julia, Dirga merasa sedikit kecewa.


“Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, aku pergi dulu.” Sambung Dirga sambil berjalan pergi meninggalkan Julia.


Baru beberapa langkah Dirga berjalan, dia berhenti, membalikkan badan, dan menatap Julia yang juga sedang memperhatikannya.


“Raka…” Ucap Dirga singkat.


Nama yang terucap dari mulut Dirga membuat Julia tersentak dan terbelalak. Julia sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Sudah kuduga, ternyata kamu mengenal dia. Walaupun kamu mencurigai ku, tapi mata mu itu justru menunjukkan tatapan kerinduan. Sepertinya hubungan mu dengan Raka cukup dekat.”


“Aku memang terlihat seperti Raka. Tapi aku bukan dia. Aku adalah orang yang akan membalas kematiannya.” Ucap Dirga dengan tatapan tajam.


Kemudian Dirga melangkah pergi meninggalkan Julia yang nampak masih tercengang dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.


Julia masih berdiri mematung, bahkan saat Dirga telah hilang dari pandangan. Tubuhnya bergetar, air mata jatuh membasahi pipi merahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2