Project Wanara

Project Wanara
Chapter 47. Yuna Angela (Part 2) - Rencana


__ADS_3

Yuna sangat yakin kalau Viper adalah penyebab utama kematian Alia. Hanya saja dia tidak memiliki cukup bukti.


Keesokan harinya, dua orang polisi datang ke sekolah untuk mendalami kasus kematian Alia. Polisi-polisi itu bertemu dengan kepala sekolah dan pemilik sekolah itu sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua dari pemimpin geng Viper. Saat itu sekolah sudah sangat sepi karena aktivitas belajar mengajar telah berakhir. Hanya tersisa beberapa siswa saja yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Yuna merasa penasaran dan sedikit curiga sehingga dia berusaha mencuri dengar percakapan mereka dengan sangat berhati-hati. Kebetulan sekali jendela di ruangan itu terbuka, sehingga dia dapat mendengarkan dengan lebih jelas. Yuna juga menghidupkan kamera ponselnya untuk merekam apa yang sedang mereka bicarakan secara diam-diam.


“Kami telah mendapatkan hasil visum siswi yang mati bunuh diri tempo hari. Hasil ini belum kami tunjukkan kepada keluarga korban karena kami melihat ada keterlibatan keluarga anda di dalam kasus ini, Pak Burhan.” Ujar salah satu polisi kepada pemilik sekolah.


“Apa maksud mu?” Tanya Burhan.


“Kami menemukan bahwa korban telah mengalami pemerkosaan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”


“Lantas apa hubungannya dengan keluargaku?”


“Korban tidak hanya diperkosa oleh satu orang. Kami menemukan empat jejak yang berbeda. Salah satu jejak adalah milik Roni, anak anda.”


Mata Yuna terbelalak. Wajahnya merah padam menahan amarah yang memuncak.


“Bangsat… bangsat….!” Teriak Yuna dalam hatinya.


“Anak itu menyusahkan saja.” Ucap Burhan yang kemudian berdiri dan membuka brankas besi yang tersembunyi di dalam salah satu lemari. Lalu dia mengambil sebuah amplop tebal yang didalamnya terdapat beberapa ikat tumpukan uang berwarna merah.


“Kamu tahu yang harus diperbuat, kan? Selesaikan dengan bersih seperti biasa.” Sambungnya sambil memberikan amplop tadi kepada kedua polisi itu.


“Tentu saja. Percayakan pada kami.” Balas salah satu polisi dengan senyum piciknya.


Kedua polisi itu pun beranjak pergi. Yuna yang masih sangat amarah pun bergegas pergi dari tempat itu. Tapi sialnya Yuna terjatuh karena tergesa-gesa. Kedua petugas itu membuka pintu dan melihat Yuna.


“Apa yang kamu lakukan?!” Teriak salah satu petugas.


“Aku sedang menunggu teman, pak” Jawab Yuna gelagapan sambil berusaha berdiri.


“Jangan bohong kamu!”


“Hey Yuna, maaf lama ya. Tadi perutku sakit sekali.” Ucap Siska yang tiba-tiba muncul.


Yuna tahu kalau Siska sedang berusaha membantunya. Dia pun menanggapi perkataan Siska, “Santai saja, yuk pulang.”.


“Ya sudah, pulang sana.” Hardik salah satu petugas.


Siska dan Yuna pun bergegas pergi meninggal kedua polisi itu.


Ternyata Siska adalah salah satu anggota geng Black Rose sekaligus tangan kanan Yuna. Siska adalah orang yang sangat bisa dipercaya.


“Yuna, sesuai perintahmu, aku telah menyelidiki kematian Alia dan mendapatkan informasi yang sangat penting.” Ujar Siska.


“Viper….” Sahut Yuna.


“Kamu sudah tahu?” Ucap Siska terkejut.


“Coba ceritakan apa yang kamu dapat.” Pinta Yuna.


“Tadi pagi aku tidak sengaja mendengar Roni dan ketiga penggawa Viper sedang berbincang-bincang. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.” Jawab Siska.


“Aku juga sempat merekam pembicaraan mereka. Kamu harus dengar sendiri.” Sambung siska sambil memutar rekaman suara di ponselnya.


“Sialan, tidak ku sangka gadis busuk itu bunuh diri.” Ujar Albert.


“Bagaimana ini Roni. Habislah kita sekarang?” Rengek Galuh.


“Brengsek, jangan merengek!” Teriak Roni.


“Apa kalian tidak tahu siapa aku ini?” Sambungnya.


“Aku yakin lambat laun pihak berwajib akan tahu semua perbuatan kita. Sial, ini gara-gara kamu, Ron.” Ucap Galuh


Buaaak…. Terdengar suara pukulan.


“Kurang ajar, cari mati kamu ya….!” Teriak Roni.


“Tenang Ron.. Dia hanya sedang panik.” Damar berusaha menenangkan Roni.


“Kalian tidak perlu khawatir. Tidak akan terjadi sesuatu. Tanpa kita sadari, orang tuaku pasti sudah menyelesaikan masalah ini.” Ujar Roni.


Rekaman suara berakhir. Yuna sama sekali tidak memberikan respon.


“Aku kira kamu akan marah besar. Ternyata kamu masih bisa setenang ini.” Ujar Siska.


“Tenang?!” Ucap Yuna dengan mata berapi-api penuh emosi dan wajah merah padam penuh amarah.

__ADS_1


Siska terkejut sekaligus takut saat melihat Yuna. Dia seperti sedang melihat singa lapar yang siap untuk menerkamnya kapan saja.


“Kita bawa saja bukti ini ke kantor polisi.” Ujar Siska berusaha menenangkan Yuna.


“Tidak, kita permainkan dulu mereka. Aku akan buat mereka tersiksa hingga mereka berpikir bahwa kematian akan lebih baik dibandingkan hidup mereka saat ini.” Ujar Yuna.


“Bagaimana caranya? Viper lebih kuat dibandingkan kita. Jumlah mereka juga lebih banyak.” Sahut Siska.


“Kata siapa?” Ucap Yuna.


“Black Rose akan berkoalisi dibalik tangan dengan orang-orang yang dulu mendukung Alia.” Sambungnya.


Kemudian Yuna menjelaskan strategi yang telah dia rencanakan dalam waktu singkat. Siska pun mendukung penuh rencana tersebut.


*


“Tahap pertama, kita sebarkan isu pelecehan dan pemerkosaan ini ke seluruh siswa di sekolah. Tidak hanya sekolah kita, tapi juga sekolah-sekolah tetangga kita. Biarkan berita ini menyebar dari mulut ke mulut.”


*


Bendera hitam telah berkibar, genderang perang telah ditabuh. Siska mengumpulkan seluruh anggota Black Rose untuk menjalankan rencana pertama. Penyebaran isu dimulai dari obrolan ringan di kantin sekolah. Dari satu orang


ke orang yang lain. Dari kelompok yang lebih kecil ke kelompok yang lebih besar. Hingga tanpa disadari isu itu sudah menyebar luas dan menjadi rahasia umum di sekolah Yuna. Bahkan berita itu juga tersebar di kalangan anggota Viper sendiri.


Mulanya Roni dan ketiga penggawa Viper lain tidak ambil pusing dengan berita yang tersebar. Setiap kali ada yang membicarakan hal tersebut, mereka langsung bertindak anarkis dan menyerang si penyebar berita. Tapi lambat laun mereka mulai gusar seiring dengan semakin cepat berita itu tersebar. Mereka juga belum menyadari keterlibatan Black Rose dalam penyebaran berita ini.


“Yuna, apa kamu sudah dengar kabar burung yang sekarang sedang menyebar. Bisa-bisanya mereka menuduhku melecehkan Alia.” Ucap Roni kepada Yuna.


“Aku sudah dengar.” Jawab Yuna singkat.


“Kamu tahu kan kalau aku tidak mungkin melakukan itu?”


“Tentu saja, aku sangat mengenal kamu.”


“Terima kasih Yuna. Kalau begitu aku minta bantuan mu untuk mencari tahu siapa orang yang bertanggung jawab menyebarkan berita palsu ini. Aku tahu kalau Black Rose lebih hebat dalam menyelesaikan hal-hal semacam ini.” Pinta Roni.


“Tentu saja. Akan ku pastikan orang itu mendapatkan balasan. Tidak ada yang boleh mengusik Viper dan Black Rose.” Ujar Yuna.


“Aku mengandalkan mu Yuna.” Ucap Roni dengan wajah gembira sambil melenggang pergi.


“Bangsat….” Pikir Yuna.


[Lanjutkan tahap kedua]. Pesan singkat dikirimkan Yuna kepada Siska.


*


*


Keesokan harinya, saat Yuna, Siska, Roni dan ketiga penggawa Viper sedang berdiskusi untuk menyelesaikan isu yang tersebar. Rencana kedua pun dimulai.


Siska mendapatkan panggilan telepon dari anggota Black Rose.


“Apa…?! Kurang ajar. Seret dia kesini.” Teriak Siska.


“Ada apa?” Tanya Yuna dingin.


“Apa kalian tahu siapa biang keladi penyebaran isu ini?” Tanya Siska.


“Siapa yang berani bermain api dengan Viper?” Teriak Roni menanggapi pertanyaan Siska.


“Apa kamu tidak bisa mengurus anggota mu sendiri? Dasar bodoh…!” Ujar Siska.


“Jangan kurang ajar…!” Ujar Yuna dingin.


“Maaf Yuna. Aku hanya kesal dengan kebodohan orang ini. Dia meminta kita untuk mencari penyebab masalah yang terjadi. Padahal masalah itu disebabkan oleh anggotanya sendiri.” Siska memberi penjelasan.


“Apa maksudmu?” Tanya Roni.


“Tunggu saja. Sebentar lagi kamu akan tahu kebenarannya.” Siska memberi tanggapan.


Tidak lama kemudian sekelompok wanita datang dengan menyeret seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah anggota geng Viper itu sendiri. Roni mulai mengerti apa yang sedang terjadi.


“Maafkan aku Roni. Aku tidak bermaksud menyebarkan isu ini. Tapi sungguh, aku juga hanya mendengar cerita ini dari anggota Viper lain.” Teriak pria itu sambil berlutut di kaki Roni.


Tanpa basa basi, Roni langsung menendang dan memukuli pria tadi. Tidak hanya Roni, ketiga penggawa Viper lainnya pun mulai ikut memukuli pria itu. Hingga tidak sadarkan diri. Mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada pria itu untuk memberi penjelasan lebih lanjut.


“Damar, kumpulkan seluruh anggota Viper di atas gedung sekolah. Kita akan cari tahu, siapa saja yang terlibat dalam kasus ini.” Ucap Roni.


Tidak lama kemudian seluruh anggota Viper telah berbaris rapi di atas gedung sekolah.

__ADS_1


“Hari ini aku menemukan seorang pengkhianat dan baru saja menghabisinya. Sekarang aku akan membersihkan seluruh parasit yang ada di tubuh Viper.” Ujar Roni membuka pembicaraan.


“Sebelum aku menemukannya sendiri, aku akan meringankan hukuman orang-orang yang mau mengakui kesalahannya.”


“Ada yang ingin berbicara?” Tanya Roni dingin dengan wajah menakutkan. Tapi tidak ada satu orang pun yang berani membuka suara.


Roni melirik Albert. Albert memahami apa maksud lirikan tersebut dan berjalan ke tengah-tengah barisan para Viper.


Buaaakkk….


Albert memukul perut salah satu anggota Viper secara acak dengan sangat keras sampai membuatnya terjatuh.


“Masih tidak ada yang mau mengaku?” Tanya Roni. Semua anggota masih terdiam ketakutan. Belum ada satupun yang berani membuka suara.


Kemudian Roni melirik Damar. Sama seperti yang Albert lakukan. Damar melangkah ke tengah-tengah barisan para Viper dan memukul perut anggota secara acak dengan sangat keras. Pukulan Damar jauh lebih kuat sampai-sampai membuat orang yang menjadi target pukulannya terjatuh dan muntah.


“Aku masih memberi kalian kesempatan.” Ujar Roni.


“Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apapun.” Salah satu anggota mulai membuka suara. Naasnya, Damar datang menghampiri dan melayangkan pukulan tepat diwajahnya hingga jatuh tak sadarkan diri.


“Aku butuh pengakuan, bukan pembelaan diri.” Ujar Roni.


Suasana menjadi gaduh. Beberapa anggota berteriak-teriak untuk mencari orang yang menjadi sumber permasalahan ini.


“Woy, kemarin aku mendengar kamu sedang menjelek-jelekkan Roni. Pasti kamu impostor nya!”


“Bangsat, jangan asal bicara.”


Buaak… Pukulan keras dilayangkan salah satu anggota dan dibalas oleh anggota lain. Teman dekat anggota yang berseteru itu pun memberikan bantuan, begitu juga dengan teman dekat anggota lainnya. Hingga akhirnya seluruh anggota saling mencurigai dan melayangkan pukulan.


Suasana di sana benar-benar kacau dan tidak terkendali. Roni, Albert, Galuh dan Damar mulai geram dan menghabisi seluruh anggotanya. Kini Viper telah hancur. Tidak lagi memiliki taring dan bisa.


Di sisi lain….


“Bagaimana akting ku tadi?” Tanya Siska.


“Kamu layak dapat piala Oscar.” Jawab Yuna sambil tersenyum.


“Kapan kita mulai tahap ketiga?”


“Tahap ketiga sedang berlangsung. Besok kita akan dapatkan kabarnya.” Jawab Yuna.


*


“Tahap ketiga, kita hancurkan kehidupan ketiga penggawa Viper. Orang tua Albert, Galuh dan Damar adalah rekan bisnis dan membangun usaha bersama-sama. Mereka memiliki sebuah proyek besar. Kehidupan keluarga mereka bergantung pada keberhasilan proyek ini. Hal yang menarik dari cerita ini ada pada investor proyek tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua ku sendiri.”


*


Setelah mendapatkan bukti video petugas berwajib dan rekaman suara dari Siska. Yuna menceritakan seluruh kejadian yang terjadi kepada kedua orang tuanya sambil berlinangan air mata.


Plak… Sang ibu menampar pipi Yuna sedangkan Sang Ayah berusaha menenangkan emosi ibu yang tidak stabil.


“Dasar anak tidak tahu diuntung. Karena ulah mu, kini Alia pergi untuk selama-lamanya.” Sentak ibu dengan air mata yang mengalir deras..


“Tenanglah, kita bicarakan baik-baik.” Ujar Ayah yang juga nampak sedih dan sangat kecewa.


“Hati ini sangat sakit. Luka ini sangat dalam. Aku masih tidak bisa menerima kematian Alia.” Ujar ibu terisak-isak.


“Kenapa aku harus melahirkan anak seperti kamu?!” Teriak Ibu kepada Yuna.


“Aku menyesal bu. Aku sangat menyesal. Alia sangat peduli kepadaku tapi aku malah berlaku buruk kepadanya.” Ujar Yuna yang juga berlinangan air mata.


“Aku mengerti kekecewaan ibu dan ayah. Aku sangat menyesal.” Sambungnya.


“Diam…! Jangan panggil aku ibu. Mulai saat ini aku bukan ibu mu lagi. Pergi kamu dari sini…!” Ibu berteriak dan mengusir Yuna.


“Jangan begitu bu, walau bagaimana pun Yuna juga anak kita.” Ujar Ayah dengan hati-hati.


“Aku tidak sudi…! Kalau Yuna tidak pergi, aku yang akan pergi dari rumah ini…!” Teriak ibu. Sang ayah tidak memiliki pilihan lain selain menurut permintaan istrinya itu.


“Ayah minta maaf Yuna.” Ujar Ayah.


“Tidak mengapa ayah. Aku pantas mendapatkan semua ini. Aku akan segera pergi dari rumah ini, tapi dengan satu syarat.” Ujar Yuna masih dengan air mata yang tidak dapat dibendungnya.


“Tidak ada syarat-syarat. Pergi kamu sekarang juga…!” Teriak ibu.


“Tenanglah dulu bu.” Ujar Ayah sambil memeluk istrinya.


“Apa syarat yang kamu maksud itu?” Tanya Ayah kepada Yuna.

__ADS_1


“Aku akan pergi setelah berhasil membalas kematian Alia. Orang-orang biadab itu harus mendapatkan karma yang setimpal.” Ujar Yuna yang kemudian menceritakan rencananya.


***


__ADS_2