
Saat sedang menyantap makan siang, Galih terus memikirkan latihan pernapasan yang baru saja dia lakukan.
“Teknik pernapasan yang ku lakukan dapat membuat tubuh beradaptasi dengan suhu panas ruangan. Itu artinya teknik pernapasan saat itu secara alami mengeluarkan energi dingin yang perlahan membuat kondisi tubuh menjadi lebih stabil.”
“Tubuh yang semula mengalirkan energi dingin untuk membuatnya stabil, pasti akan mendapatkan tekanan yang luar biasa saat suhu ruangan turun drastis secara tiba-tiba. Hal itu karena tubuh terpapar energi dingin secara berlebihan.”
“Jika benar begitu, maka yang harus ku lakukan hanyalah fokus untuk menghasilkan jenis energi yang sesuai, yaitu energi yang berlawanan dengan suhu ruangan agar terjadi keseimbangan. Tapi bagaimana cara melakukannya? Sedari tadi aku hanya melakukan teknik pernapasan biasa, dan tubuh ini perlahan dapat beradaptasi dengan sendirinya.”
“Aku harus menemukan cara untuk dapat mempercepat proses itu, karena aku yakin tantangan berikutnya berkaitan dengan durasi waktu. Mungkin saja aku tidak akan memiliki banyak waktu untuk beradaptasi. Rentang waktu terjadinya perubahan suhu ekstrim pasti akan semakin sempit.”
Galih mampu menganalisa situasi dengan baik. Dia berhasil menemukan pola yang harus dilakukannya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Di dalam kehidupan ini, segala sesuatunya diciptakan berpasang-pasangan. Pria dan wanita. Baik dan buruk. Kuat dan lemah. Terang dan gelap. Dingin dan Panas. Yin dan Yang.
Dunia memang dibuat seperti itu untuk menciptakan ekosistem kehidupan yang menarik dan indah. Konsep itu juga berlaku dalam hal pengendalian energi. Agar energi didalam tubuh dapat dimanfaatkan dengan baik dan optimal, maka tubuh harus memiliki keseimbangan energi.
“Latihan kali ini sepertinya sedikit lebih mudah bagiku, Ayu dan Dirga karena kita bertiga memiliki energi yang cenderung seimbang. Lain halnya dengan Yuna dan Rama yang lebih condong ke salah satu jenis energi. Yuna memiliki kecenderungan energi dingin dan Rama memiliki kecenderungan energi panas.” Pikir Galih.
“Tapi kenapa Yuna dan Rama memiliki jenis energi yang lebih dominan ya? Apa itu hanya persepsi ku saja? Jangan-jangan sebetulnya mereka juga memiliki keseimbangan energi yang baik, tapi mereka bisa membuat salah satu jenis energinya lebih dominan.”
“Tapi tunggu, apa bentuk manipulasi yang dilakukan memang berkaitan dengan dominasi salah satu jenis energi? Sepertinya tidak. Manipulasi energi adalah visualisasi yang kita ciptakan untuk dapat mengendalikan energi yang kita miliki. Sedangkan energi panas dan dingin yang dihasilkan dari teknik pernapasan adalah manifestasi dari kebutuhan tubuh untuk mempertahankan diri.”
“Ah sudahlah… Aku terlalu banyak berspekulasi. Hal terpenting saat ini adalah bagaimana cara untuk mempercepat proses adaptasi tubuh.”
Belum sempat Galih menyelesaikan makan siang dan mendapatkan solusi untuk mengatasi tantangan area keempat, waktu istirahat selesai dan latihan akan kembali dimulai. Galih terkejut dan berusaha menghambiskan makanan yang tersisa dengan tegesa-gesa.
Tapi saat itu Galih menyadari sesuatu. Tubuhnya bereaksi secara otomatis saat mendengar tanda waktu istirahat selesai. Hal itu merupakan salah satu respon alaminya untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang dimiliki.
“Respon alami tubuh? Aku mengerti.” Ucap Galih dengan tersenyum.
Galih berjalan kembali menuju tengah ruangan untuk melanjutkan latihan. Dia duduk bersila dan melihat orang-orang sedang merapikan tempat dia makan. Galih tahu bahwa latihan tidak akan dimulai sebelum orang-orang itu pergi meninggalkan ruangan. Dia memanfaatkan jeda waktu itu untuk menarik napas panjang beberapa kali. Hal itu dia lakukan agar tubuh menjadi lebih siap saat dia melakukan teknik pernapasan sehingga meningkatkan respon alami tubuhnya.
Tidak lama kemudian orang-orang itu pergi. Saat itu juga Galih langsung memejamkan mata untuk melakukan teknik pernapasan.
Beberapa menit Galih melakukan latihan pernapasan, suhu ruangan masih terasa normal. Belum ada perubahan sama sekali. Namun 30 menit kemudian, perlahan suhu ruangan turun dan terasa dingin. Galih tahu tubuh akan berusaha membuat beberapa reaksi untuk menghangatkan diri. Dia menunggu reaksi seperti apa yang akan muncul.
“Menggigil? Tentu saja. Tubuh bereaksi dengan membuat otot berkontraksi agar suhu tubuh meningkat.” Pikirnya.
__ADS_1
Galih berusaha merasakan kehangatan yang muncul dari tubuhnya yang menggigil itu. Walaupun samar, sensasi hangat itu tetap terasa.
Dengan menggunakan teknik pernapasan, Galih memicu reaksi tersebut. Bukan untuk membuat tubuhnya menggigil lebih cepat, melainkan untuk membuat sensasi hangat itu tersalurkan dengan baik ke seluruh bagian tubuh. Galih berusaha memangkas waktu yang dibutuhkan tubuh untuk menghangatkan diri.
Tidak perlu waktu lama bagi tubuhnya untuk berhenti menggigil dan mulai menghangat. Galih berhasil melakukan itu sebelum suhu ruangan menyentuh titik terendah.
Secara bertahap suhu ruangan terus turun dan kini menjadi sangat dingin seperti sebelumnya. Dingin yang menusuk tulang. Tapi Galih yang telah berhasil menyebarkan energi panas ke seluruh tubuh pun mampu beradaptasi dengan cepat. Hal itu juga membuatnya terhindar dari dampak buruk seperti yang terjadi sebelumnya.
Suhu ruangan berada pada titik terdingin dalam rentang waktu sekitar 1 jam. Selama rentang waktu tersebut, Galih mempelajari beberapa hal. Dia mencoba meningkatkan lagi panas tubuhnya. Hasil dari percobaan itu adalah keringat mengalir deras bahkan didalam ruangan dengan suhu dingin yang sangat ekstrim sekalipun. Kemudian dia mencoba untuk menurunkan suhu tubuhnya, dan tubuhnya pun kembali menggigil.
Galih melakukan hal tersebut bukan hanya untuk coba-coba, melainkan agar dia mampu mengendalikan suhu tubuhnya dengan mudah saat suhu ruangan berubah drastis. Galih selalu membuat rencana untuk beberapa langkah kedepan sebagai bentuk antisipasi.
Tidak lama kemudian suhu ruangan meningkat secara drastis. Galih yang sedari tadi telah berlatih mengendalikan tinggi rendahnya suhu tubuh, berhasil beradaptasi dengan perubahan suhu ruangan dalam tempo yang sangat singkat. Dia mampu mengatasi perubahan suhu itu dengan sangat baik tanpa mengalami kendala sedikitpun.
Kemudian perubahan suhu terus terjadi setiap 30 menit. Dari dingin ke panas, dari panas kembali ke dingin. Galih mampu menjaga konsentrasinya dan bertahan dalam kondisi-kondisi tersebut hingga pelatihan dinyatakan berakhir.
Pada hari ketiga, di area keempat, Galih kembali berhasil menyelesaikan pelatihan dengan sangat baik.
Teeeet….
“Selamat Tuan Galih, anda berhasil menyelesaikan pelatihan kali ini. Selama tiga hari ini, anda menunjukkan performa yang sangat baik.” Puji Julia dari balik pengeras suara.
“Ada informasi penting yang perlu saya sampaikan kepada anda untuk pelatihan besok. Dengan sangat menyesal sepertinya besok anda tidak dapat melakukan latihan di area kelima sebab mesin kapsul virtual masih dalam perbaikan. Ada beberapa kendala teknis yang membuat kapsul itu tidak dapat digunakan untuk sementara waktu. Maka dari itu, besok Tuan Galih dapat melakukan latihan secara mandiri.” Ujar Julia memberi penjelasan.
“Kendala teknis? Maksudnya mesin itu rusak ya?” Tanya Galih.
“Kurang lebih seperti itu, tuan.” Ujar Julia.
“Aneh sekali. Aku yakin Julia pasti telah merancang semua area latihan dengan sangat baik. Dia termasuk orang yang perfeksionis. Dia bukan tipe orang yang akan membiarkan proses latihan terganggu hanya karena masalah teknis biasa. Sepertinya ada sesuatu.” Pikir Galih penasaran.
“Baiklah, aku mengerti Julia. Terima kasih informasinya.” Galih memberi tanggapan tanpa bertanya lebih jauh.
Setelah itu, Galih berjalan pergi meninggalkan ruang latihan. Dia menuju ke ruang medis untuk mengetahui perkembangan kondisi tangan kanannya yang masih dililit perban. Galih berharap tangannya dapat kembali pulih sebelum latihan hari kelima dimulai. Dia akan sangat membutuhkan kedua tangannya untuk menyelesaikan latihan tersebut. Pertarungan jarak dekat akan sangat sulit dilakukan jika tangan kanannya belum dapat digunakan.
Ternyata Dirga juga berada di ruang medis. Dirga sedang melakukan perawatan ringan di ruangan tersebut. Sekujur tubuh Dirga dipenuhi dengan luka kecil.
“Dirga, apa yang terjadi?” Tanya Galih yang terkejut melihat kondisi Dirga.
__ADS_1
“Oh hei Galih. Tidak terjadi apapun. Aku hanya memeriksakan kondisi tubuh saja.” Ujar Dirga.
“Kenapa kamu bisa terluka seperti itu?” Galih kembali melontarkan pertanyaan.
“Ini karena latihan pertahanan. Sulit sekali menghalau semua senjata yang dilontarkan.” Jawab Dirga.
“Sudah tiga hari berlalu. Jadi kondisiku sudah jauh lebih baik. Terlebih lagi latihan pernapasan dihari berikutnya membantu mempercepat pemulihan luka-luka ini.” Dirga menambahkan jawabannya.
“Latihan pernapasan membantu memulihkan luka?” Pikir Galih keheranan sebab baru saja dia menyelesaikan latihan pernapasan dan teringat dengan rasa sakit yang dia alami di awal pelatihan.
“Kamu sendiri kenapa?” Dirga melontarkan pertanyaan.
“Ini karena aku terlalu memaksakan diri di latihan area kedua.” Jawab Galih.
“Oh ya, bagaimana dengan latihan hari ini? Apa pelatihan virtual cukup sulit?” Galih berusaha mencari jawaban untuk menghilangkan rasa penasarannya terkait kapsul virtual yang rusak.
“Hei, apa Julia tidak bilang kalau kita dilarang bertukar informasi?” Jawab Dirga dengan dingin.
Galih terkejut dan tersentak dengan jawaban yang diberikan oleh temannya itu.
“Iya benar juga.” Ucap Galih.
“Tidak perlu terlalu serius. Ha ha ha.” Dirga memberi tanggapan sambil tertawa saat melihat raut wajah yang ditunjukkan oleh Galih.
“Hari ini aku melakukan latihan secara mandiri. Kapsul virtual sedang rusak.” Ucap Dirga menjawab pertanyaan Galih tadi.
“Ternyata benar rusak ya? Apa kamu tahu apa sebabnya?” Tanya Galih.
“Entahlah, mungkin memang mesin itu masih dalam tahap uji coba.” Jawab Dirga.
“Mungkin saja.” Ucap Galih yang masih penasaran dengan penyebab kerusakan kapsul virtual itu.
“Jika Dirga juga tidak sempat menggunakan kapsul virtual, apa mungkin Rama? Apa lagi yang terjadi dengan orang itu?” Pikir Galih yang sedang berspekulasi.
“Apa ku tanya langsung saja? Kurasa itu tidak perlu.” Pikirnya lagi.
Galih memang orang yang sangat antisipatif. Dia akan lebih nyaman jika telah memperhitungkan setiap langkah yang akan diambilnya. Penyebab kerusakan mesin virtual yang tidak dia ketahui, membuatnya merasa sedikit kurang nyaman. Karena dengan begitu, terdapat variabel yang tidak dapat dia perhitungkan.
__ADS_1
***