Project Wanara

Project Wanara
Chapter 7. Mandalawangi


__ADS_3

Informasi yang baru saja didapatkan oleh anggota tim Project Wanara tentang siapa sebenarnya Darma dan Julia membuat mereka terkejut kagum. Selain itu, mereka seperti terbakar api semangat yang membara untuk dapat menjadi lebih baik. Begitu juga dengan Rama. Dibalik keterpurukannya, Rama sangat termotivasi dan membuatnya kembali semangat. Rama yakin bahwa suatu saat nanti dia pasti dapat mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi dari Darma dan Julia.


Kemudian Darma menjelaskan secara singkat tentang pelatihan peningkatan potensi yang akan dilakukan didalam Project Wanara.


“Baiklah, sekarang saya akan jelaskan tentang tempat pelatihan.” Darma mulai memberi penjelasan.


“Setiap project memiliki tempat pelatihan yang berbeda-beda dan tersebar diberbagai macam wilayah pegunungan Pasundan. Dasamuka di Puncak Cikuray, Anantareja di  Puncak Kendang, Dewabrata di Puncak Patuha, Punakawan di Puncak Burangrang, Brahma di Puncak Manglayang dan Wanara di Puncak Mandalawangi.” Darma menjelaskan secara perlahan.


“Hari ini kita akan berangkat menuju Puncak Mandalawangi. Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Darma kepada seluruh anggota tim.


“Apa saja yang perlu kami persiapkan Pak Darma?” tanya Ayu.


“Kalian tidak perlu membawa apapun, segala kebutuhan dan perlengkapan kalian telah kami persiapkan di Puncak Mandalawangi.” Jawab Darma.


“Maaf Pak Darma, berapa lama kita akan berlatih di puncak Mandalawangi?” tanya Yuna.


“Kalian akan berada di tempat itu selama kurang lebih 1 tahun” jawab Darma.


“Yang benar saja Pak Darma, itu waktu yang tidak sebentar” ujar Galih


menanggapi.


“Yaaa betul itu… saya ikut bergabung karena iming-iming uang 10 juta sebulan. Tapi uang itu tidak berguna diatas gunung pak…!!!” ujar Rama menambahkan.


“……..” Suasana menjadi hening.


“Apa dia benar-benar bergabung hanya karena uang?” pikir Dirga bertanya-tanya.


“Baik apa ada pertanyaan lain?” Darma tidak menanggapi perkataan Rama.


“Apa ada yang salah? Sepertinya aku diabaikan..” pikir Rama.


“Jika semua sudah mengerti, saya akan bagikan sebuah jam tangan dan emblem untuk kalian.” Ujar Darma.


Darma menghubungi seseorang melalui alat komunikasi yang terpasang ditelinganya. Tidak lama berselang, seseorang masuk membawa sebuah kotak dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Kotak itu berisi jam tangan dan emblem untuk seluruh anggota tim.


Darma membuka kotak dan mulai kembali menjelaskan…


“Ini adalah emblem khusus Project Wanara. Emblem ini merupakan identitas kalian sebagai anggota tim Project Wanara. Masing-masing project memiliki emblem dengan simbol yang berbeda. Simbol untuk Project Wanara adalah Kera Putih.” Ujar Darma.


“Dasamuka memiliki simbol Naga Emas, simbol untuk Anantareja adalah Elang Perak, sedangkan Dewabrata adalah Macan Putih, lalu Punakawan memiliki simbol Serigala Abu, dan Brahma adalah Beruang Hitam. Emblem ini adalah jati diri kalian, selalu gunakan emblem di bagian dada kiri kalian saat pelatihan sedang berlangsung.” tambahnya.


“Selanjutnya adalah sebuah jam tangan. Jam tangan ini terbuat dari bahan yang sangat kuat dan kokoh, sangat sulit untuk menghancurkan jam tangan ini. Fungsi dari jam tangan ini hampir mirip dengan kapsul Saktih. Jam tangan ini dapat menampilkan nilai potensi yang kalian miliki secara real time. Selain itu, jam tangan ini dapat mendeteksi detak jantung kalian. Apabila terjadi hal-hal yang dapat membahayakan nyawa kalian, jam tangan ini akan segera mengirim sinyal kepada kami. Itu adalah salah satu bentuk antisipasi yang kami siapkan agar kalian tidak kehilangan nyawa saat pelatihan berlangsung. Silahkan kalian ambil jam tangan dan emblem ini satu per satu.”


“Pak Darma, jika memang jam tangan ini dapat memprediksi potensi, kenapa kita masih memerlukan Kapsul Saktih?” tanya Yuna.


“Tingkat akurasi Kapsul Saktih adalah 100%, sedangkan jam tangan ini hanya mencapai 75%. Walaupun tidak seakurat Kapsul Saktih, jam tangan ini tetap dapat digunakan sebagai indikator. Kami memilih jam tangan ini karena alasan kepraktisannya.” Jawab Darma.


“Baik saya mengerti Pak darma.” Yuna menanggapi penjelasan Darma.


“Seperti yang diharapkan dari Yuna….” Puji Darma secara tersirat.


Seluruh anggota tim berjalan kedepan satu per satu untuk mengambil emblem dan jam tangan yang telah disiapkan. Diawali dengan Galih yang pertama kali maju. Galih mengambil emblem, memasangnya di dada bagian kiri. Lalu mengambil jam tangan dan memasangnya di tangan kiri. Tidak lama berselang setelah Galih memakai jam tangan, terasa ada yang aneh.


“Ahh…” tiba-tiba Galih berteriak.


“…….” Anggota tim lain merasa bingung.


“Apa itu terasa sakit?” tanya Darma.

__ADS_1


“Tidak terlalu sakit sebetulnya… Aku hanya terkejut tadi.” Jawab Galih.


“Bagus….” Ujar Darma.


“Sebetulnya dibalik jam tangan ini terdapat jarum kecil yang berfungsi untuk mengambil sedikit sampel darah kalian. Sampel itu digunakan untuk melihat dan mengidentifikasi DNA. Setelah proses identifikasi DNA berhasil, jam tangan ini hanya akan menjadi milik kalian. Tidak akan ada orang lain yang bisa menggunakannya. Hal itu perlu dilakukan agar kami bisa memantau perkembangan kalian dengan lebih mudah dan tepat, sebab masing-masing jam tangan memiliki kodefikasi yang berbeda-beda. Pastikan kalian tidak menghilangkan atau merusak emblem dan jam tangan kalian” Darma melanjutkan penjelasannya.


“Baiklah terima kasih Pak Darma.” Ujar Galih.


Setelah itu, anggota tim lain secara bergantian mengambil emblem dan jam tangan milik mereka masing-masing, hingga tiba giliran Rama. Darma memperhatikan Rama dengan seksama karena khawatir kejadian sebelumnya akan terulang kembali.


“Argh….” Rama menjerit kencang.


“Apa yang terjadi..??!!” tanya Darma terkejut dengan teriakan Rama yang sangat kencang.


“Eh…” Rama bingung melihat Darma nampak sangat khawatir.


“Tidak terjadi apapun Pak Darma, saya hanya merasa sangat bersemangat karena menerima emblem dan jam tangan ini.” Jawab Rama.


“Kalau begitu jangan teriak-teriak sembarangan.. Mengagetkan saja…” ujar Darma.


“Maaf… Maaf… Pak” Rama menanggapi sambil tersenyum malu.


Tidak lama setelah Rama menggunakan jam tangan itu, Tiiing… Jam tangan berbunyi dan menampilkan angka 8.


“Kenapa jadi angka 8 Pak Darma..???” teriak Rama setelah melihat nilai potensi yang ditampilkan oleh jam tangan tersebut. Angka 10 saja telah membuat Rama terkejut, angka yang ditampilkan oleh jam tangan justru mumbuat Rama semakin syok dan terpuruk.


“Terima saja…” jawab Darma seadanya.


“Aku harus berjuang lebih keras….” Ujar Rama lirih.


Julia dan Yuna tersenyum kecil melihat tingkah laku Rama dan Darma. Berbeda dengan Ayu yang tertawa lebar.


“Heh Ayu… Lebih baik Ayu berkaca dulu sebelum bicara seperti itu. Disini Ayu lah yang paling polos loh… Ha ha ha…” Rama menanggapi perkataan ayu dengan kelakar dan melupakan nilai potensinya.


“Semua anggota telah menerima emblem dan jam tangan. Setiap kali nilai potensi tuan dan nona meningkat, jam tangan akan langsung memberi informasi. Kemudian jam tangan itu akan terus menampilkan angka nilai potensi yang tuan dan nona miliki. Jika tuan dan nona tidak ingin nilai potensi diketahui orang lain, maka fitur itu bisa di non aktifkan. Jangan khawatir, walaupun fitur tersebut tidak diaktifkan, tuan dan nona tetap akan mendapatkan informasi jika nilai potensi meningkat. Sekarang tuan dan nona bisa ikuti saya untuk menuju kendaraan yang akan kita gunakan menuju Puncak Mandalawangi.” Julia memberi tambahan penjelasan dengan ramah.


“Julia adalah wanita yang hebat dengan nilai potensi yang sangat tinggi dan berada ditingkatan yang jauh diatas kami, tapi dia masih saja begitu ramah dan rendah hati….” Pikir Rama dengan kagum. Tanpa sadar tatapan mata Rama terus memperhatikan Julia.


“Apa ada masalah Tuan Rama?” tanya Julia karena merasa aneh dengan Rama yang terlihat tidak fokus.


“Eh… tidak Julia…” Rama dikejutkan dengan pertanyaan Julia dan tersipu malu.


“Jika begitu mari kita bergegas…” ucap Julia.


“Siaapp….” Jawab Rama dengan semangat.


Yuna, Dirga, Ayu, Galih dan Rama berjalan mengikuti Julia dan Darma menuju ke kendaraan yang akan membawa mereka ke tempat pelatihan. Mereka pun menaiki lift dan melangkah ke puncak gedung Pandawa Group.


“Bukankah kita akan berangkat ke tempat pelatihan, kenapa kita malah naik ke atas?” pikir Rama.


Setibanya di puncak gedung Pandawa, Julia membuka pintu dan….


Wusssh…. Wussshh…. Wussshhh….. Angin yang sangat kencang menyambut mereka. Rama terkejut, ternyata kendaraan yang dimaksud adalah helikopter yang sangat besar bertuliskan Pandawa.


“Silahkan naik…” ucap Julia.


Seluruh anggota tim menaiki helikopter tersebut diikuti olah Darma dan Julia. Setelah itu, helikopter segera lepas landas dan meninggalkan gedung Pandawa.


“Kita akan menempuh perjalanan sekitar 1 Jam. Nikmati waktu perjalanan kalian, karena setibanya ditempat tujuan, kalian tidak akan bisa merasa senyaman ini.” Ucap Darma dengan senyum yang terlihat mengerikan. Tiba-tiba suasana terasa dingin. Nampak sekali seluruh anggota menunjukkan wajah khawatir.

__ADS_1


“Tidak perlu terlalu dipikirkan. Silahkan nikmati perjalanan ini.” Ucap Julia berusaha menghilangkan rasa khawatir anggota timnya.


Selama perjalanan, Yuna dan Ayu tertidur cukup pulas. Galih tidak henti-hentinya melihat keluar untuk menikmati pemandangan. Dirga ternyata memiliki hobi membaca dan dia selalu membawa novel favoritnya. Sepanjang perjalanan Dirga disibukkan membaca novel tersebut. Sedangkan Rama terlihat sangat pucat, keringat dingin terus mengalir dari keningnya, dan tangannya mencengkram kursi dengan sangat erat.


“Ada apa tuan Rama? Tanya Julia.


“Helikopter ini tidak akan jatuh kan Julia….?” Tanya Rama terbata-bata.


“Tentu saja tidak tuan….” Jawab Julia dengan tersenyum lebar kepada Rama.


“Syukurlah….” Jawaban dan senyuman Julia seperti sebuah sihir. Seketika Rama merasa lebih tenang.


Tidak terasa sudah 1 jam mereka berada di Helikopter dan akan segera tiba ditempat tujuan. Helikopter perlahan mulai mendarat. Serempak seluruh anggota tim pun segera turun tepat setelah helikopter mendarat dan pintu terbuka. Namun apa yang mereka lihat membuat mereka bingung. Mereka berada disebuah padang rumput luas yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang sangat rimbun.


“Selamat datang di Gunung Mandalawangi dan disinilah titik awal pelatihan kalian.” Ucap Darma.


“……..” Seluruh anggota memperhatikan dengan seksama.


“Kalian akan berjalan dari sini menuju Puncak Mandalawangi yang memiliki jarak sekitar 50 kilo meter. Orang normal bisa menempuh jarak sejauh itu dalam rentang waktu sekitar 5 jam, yang artinya kecepatan yang diperlukan adalah sekitar 10 kilo meter per jam nya.”


“Apaaa….” Semua anggota tim terkejut.


“Kenapa jaraknya sejauh itu Pak Darma? Kami bahkan belum makan siang loh….” Tanya Rama.


“Kita tidak sedang piknik?” Jawab Darma dengan tegas.


“Kita akan mulai pelatihan untuk meningkatkan potensi kalian. Masing-masing sudah kami siapkan 1 buah tas berisi roti, minuman dan beberapa perlengkapan lainnya untuk membantu kalian. Pastikan roti dan minuman itu cukup sampai kalian tiba di Puncak” Darma melanjutkan penjelasannya.


“Disini kalian akan berkompetisi untuk menjadi yang tercepat untuk mencapai puncak. Tentu saja ada reward yang akan kami berikan untuk siapapun yang berada ditempat pertama.” Ujar Darma.


“Apa itu Pak?” tanya Ayu penasaran.


“Tentu kalian akan sangat haus dan lapar selama perjalanan menuju puncak. Di puncak terdapat sebuah gedung pelatihan dimana didalamnya telah kami siapkan banyak sekali makanan enak untuk siapapun yang berada di tempat pertama. Sebetulnya jumlah makanan yang kami siapkan sangat cukup untuk kalian semua, hanya saja orang yang berada di tempat pertama memiliki hak penuh atas makanan tersebut. Dia bisa menghabiskannya sendiri tanpa perlu memberikannya kepada yang lain. Itu adalah hak istimewa yang didapatkan.” Darma menjelaskan.


“Bagi yang lain, kami sudah siapkan roti kering sebagai pengganti makan malam. Jadi siapapun yang ingin makan enak malam ini, jadilah yang terdepan.” Tambahnya.


“Waaaah…. Makanan…. Akan ku habiskan semua…” Rama sudah membayangkan banyak sekali makanan yang bisa dia santap.


“Jangan bermimpi…! Aku, Yuna, Ayu dan Galih sudah dipersiapkan sejak lama untuk Project ini. Kami selalu melatih fisik kami di Gym khusus milik perusahaan kami masing-masing. Gelandangan seperti kamu tidak punya kesempatan menang.” Ujar Dirga dengan dingin setelah tidak sengaja mendengar perkataan Rama.


“Apa kau bilang…??!!” teriak Rama menanggapi Dirga.


“Sudahlah Dirga… bagaimanapun kita adalah satu tim, tidak perlu sampai membahas background masing-masing” ucap Galih berusaha menengahi.


“Akan saya lanjutkan….” Ujar Darma yang juga berusaha menengahi.


“Selama perjalanan, kalian akan melewati jalan setapak dengan medan yang cukup terjal. Tapi kalian tidak perlu khawatir tersesat, Julia akan berjalan paling depan untuk memandu kalian dan saya akan berada dibelakang untuk memastikan kalian baik-baik saja. Disepanjang jalan juga telah kami siapkan beberapa petunjuk arah karena mungkin saja jarak antar orang akan sangat jauh dan akan membuat kalian kehilangan jejak Julia serta diluar jangkauan perhatian saya. Jika itu belum cukup dan masih membuat kalian tersesat, kami akan tetap mengetahui posisi kalian melalui jam tangan yang kalian pakai.” Darma melanjutkan penjelasan.


“Julia memang berada di depan untuk memandu kalian, tapi jangan harap Julia akan menunggu kalian. Jadi upayakan untuk terus dapat mengikuti Julia” Tambahnya.


“Baiklah… Sekarang sudah pukul 1 siang dan jika tidak ada kendala kita akan tiba di puncak sekitar pukul 6 sore. Bawa tas kalian masing-masing, kita akan mulai dengan hitung mundur dari hitungan ke 10. Pastikan kalian sampai di puncak dengan selamat.” Teriak Darma.


“Apa kalian siap…?” tanya Darma


“Siaaap….!!!!” seluruh anggota tim menjawab serempak.


[10… 9… 8… 7… 6… 5… 4… 3… 2… 1….]


“Mulai…..!”

__ADS_1


***


__ADS_2