
Hari yang dinantikan pun tiba. Seluruh project telah siap untuk mengikuti kompetisi. Pertandingan utama tahap pertama akan mempertemukan Project Dasamuka dan Brahma, dilanjutkan dengan pertandingan antara Anantareja dan Dewabrata yang kemudian diakhiri dengan pertandingan antara Punakawan dan Wanara.
Seluruh anggota beserta para penanggung jawab Project telah berdiri diatas arena pertandingan untuk mendapatkan arahan singkat dari penanggung jawab kompetisi yang tidak lain dan tidak bukan adalah sekretaris para pandawa itu sendiri.
“Pertandingan pertama antara Project Dasamuka dan Brahma akan kita laksanakan. Aku harap kalian semua telah siap.”
“Tentu saja kami siap, Nona Sekretaris.” Sahut Caraka.
“Di sini tidak ada sekretaris, aku bertugas sebagai penanggung jawab kompetisi. Panggil aku Anggun.”
“Baiklah, Nona Anggun.”
“Akan ku jelaskan aturan pada pertandingan ini. Pada prinsipnya ini adalah pertandingan sederhana satu lawan satu yang tidak memiliki batas waktu. Pertandingan berakhir jika salah satu anggota tidak lagi dapat melanjutkan pertandingan atau menyerah. Apabila salah satu anggota keluar dari arena, maka pertandingan akan dihentikan sementara hingga dia kembali naik keatas arena. Jika hingga 10 detik dia tidak kembali, maka pertandingan berakhir dan anggota yang ada di luar arena dinyatakan kalah. Project yang mendapatkan tiga kemenangan pertama akan lanjut ke tahap berikutnya, sedangkan project yang kalah dapat mengajukan pertandingan tantangan kepada project yang berhasil memenangkan pertandingan berikutnya. Apa sudah cukup jelas?”
“Jelas…” Teriak seluruh anggota project secara serempak.
“Jika begitu, pertandingan akan kita mulai. Project Dasamuka dan Brahma tetap di sini sedangkan project lain dapat turun dan menyaksikan jalannya pertandingan dari tempat yang telah disiapkan.”
Sesuai instruksi Anggun, seluruh project turun dari arena kecuali Dasamuka dan Brahma.
“Dasamuka dan Brahma, kalian memiliki waktu 5 menit untuk menyusun strategi dan menentukan urutan anggota yang akan bertanding. Dasamuka dapat berunding di sisi kanan arena dan Brahma di sisi yang berlawanan.”
Masing-masing project berunding untuk menentukan urutan pertandingan dan menyusun strategi yang tepat untuk mendapatkan kemenangan. Seluruh anggota Project Dasamuka nampak sangat percaya diri. Mereka sangat yakin dapat memenangkan pertandingan dengan mudah. Di lain sisi, Project Brahma terlihat sedikit gugup karena akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki nilai potensi paling tinggi diantara seluruh project.
“Waktu habis, sebutkan urutan anggota yang akan bertanding.”
“Dasamuka akan menurunkan Davin, Indra, Lisa, Yuda dan terakhir Rita.”
“Pertandingan pertama Brahma akan dilakukan oleh Dewi selanjutnya Yudis, Aira, Prabu dan teakhir Vega.”
“Davin dan Dewi tetap di arena sedangkan anggota lain silakan menunggu ditempat yang telah disiapkan. Pertandingan akan segera kita mulai.”
Anggun dan anggota tim lain pun pergi meninggalkan arena. Tersisa Davin dan Dewi yang telah siap untuk memulai pertandingan pertama.
“Kalian siap?” Teriak Anggun diikuti dengan anggukan kepala Davin dan Dewi.
“Mulai…!!!”
“Arghhhh….” Davin berteriak keras sambil menutup kedua matanya.
Dewi memanfaatkan hal itu dengan baik. Dia berlari cepat dan melakukan serangan bertubi-tubi. Pukulan demi pukulan dilayangkan dengan kekuatan penuh. Pada akhirnya Davin terhempas keluar arena oleh pukulan keras yang dilakukan oleh Dewi. Seluruh anggota Project Brahma bersorak sorai. Sedangkan anggota Project Dasamuka tercengang dengan apa yang mereka saksikan.
[10]
“Bodoh! Dasar sampah!” Umpat Indra.
[9]
“Jangan sembarangan. Dia itu teman kita!” Balas Rita.
“Dia memang sampah tidak berguna.” Sahut Lisa.
[8]
“Jaga mulutmu itu!” Teriak Yuda.
“Kalian berdua berani melawan kami?” Ucap Indra menantang Rita dan Yuda
yang merupakan rekan setimnya.
“Bangsat. Jika kalian bukan penerus Kertarajasa Group, sudah ku habisi kalian sejak dulu.” Ujar Yuda.
__ADS_1
[7]
“Kamu kira kami akan kalah melawan orang lemah seperti kalian?” Ucap Lisa menyambut perkataan Yuda sambil mengeluarkan energi CORE yang sangat besar.
“Sudahlah Yuda, tidak ada gunanya menanggapi mereka. Bersabarlah, suatu saat nanti mereka akan menerima balasannya.” Bisik Rita menenangkan Yuda sambil berbalik pergi menjauhi Indra dan Lisa.
[6]
“Dasar pengecut!” Umpat Lisa.
“Nampaknya hubungan para anggota tim Project Dasamuka tidaklah begitu baik.” Ujar Yuna.
“Sepertinya begitu.” Jawab Rama.
[5]
“Ayo berdiri Davin. Kami percaya padamu.” Teriak Rita.
“Berjuanglah Davin.” Sambung Yuda.
[4]
Davin berusaha untuk berdiri dan berhasil bangkit. Dia berjalan perlahan menuju arena pertandingan. Pada akhirnya Davin berhasil kembali ke arena.
“Arghhhh….” Lagi-lagi Davin berteriak kesakitan sambil menutupi kedua matanya. Tapi kali ini Dewi tidak langsung menyerang. Sepertinya dia tidak ingin menghabiskan terlalu banyak energi pada pertandingan pertamanya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Galih.
“Cahaya.” Jawab Julia singkat.
“Maksudnya?”
“Dewi mampu mengendalikan cahaya menggunakan energi CORE nya.”
“Aku belum pernah mencobanya. Tapi secara teori itu sangat mungkin untuk dilakukan. Cahaya memiliki partikel dan Dewi berhasil menciptakan partikel cahaya memanfaatkan kemampuan manipulasi energi yang dia miliki. Intensitas cahaya yang diciptakan pun ku rasa sangatlah tinggi dan dilakukan tepat di depan mata Davin sehingga mata akan terasa terbakar serta memberikan rasa sakit yang luar biasa. Hal itu juga dapat mengakibatkan kebutaan permanen. Kemampuan itu sangat berbahaya.”
“Gila. Ku kira Project Dasamuka akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah. Ternyata sebaliknya, justru mereka sedang terpojok. Pemenang pertandingan ini telah ditentukan.” Ujar Rama.
“Aku tidak yakin.” Sahut Yuna.
“Kenapa?” Tanya Rama
“Aku kenal dengan Davin. Dia adalah orang yang kuat dan tidak mudah menyerah. Aku yakin dia akan menemukan cara untuk membalik keadaan.”
“Sepertinya kamu cukup dekat dengannya.” Ujar Julia dengan tatapan tajam. Serempak Galih, Dirga, Ayu dan Rama pun memalingkan pandangannya kepada Yuna.
“Bukan begitu, aku hanya tahu tapi tidak terlalu dekat.” Jawab Yuna kikuk.
“Sudahlah Yuna. Kami tidak berpikiran yang aneh-aneh kok. Betul kan Rama?” Ujar Galih dengan senyum tengilnya.
“Eh, tentu saja.” Jawab Rama bingung.
Di sisi lain, Davin masih mengerang kesakitan sambil memegang kedua matanya. Dewi mendekati Davin secara perlahan untuk memastikan keadaannya.
“Apa kamu baik-baik saja? Menyerahlah. Kamu tidak akan bisa bertarung dengan mata tertutup.”
“Mata tertutup? Itu ide yang bagus.” Jawab Davin sambil tersenyum.
Dengan mata yang masih tertutup, Davin menciptakan bayangan hitam yang perlahan meluas dan memenuhi lantai arena pertandingan. Dewi sedikit terkejut dan segera mundur untuk mengambil jarak.
“Kemampuan kita sedikit bertolak belakang. Dengan kekuatan cahaya, kamu mengambil indera penglihatanku. Jika begitu, aku juga akan menghilangkan cahaya dari pandanganmu.”
__ADS_1
Dari bayangan tadi, tiba-tiba saja muncul asap hitam yang sangat pekat dan memenuhi arena pertandingan.
“Sekarang kita berdua sama-sama tidak bisa melihat. Tapi bedanya, aku dapat merasakan sekecil apapun pergerakan yang terjadi di dalam asap hitam ini.”
Dewi sedikit panik karena tidak bisa melihat apapun. Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan yang mencekam.
Dewi berusaha keluar dari situasi tersebut. Dia berlari kesana kemari untuk mencari area yang tidak tertutup asap hitam. Tapi apa yang dia lakukan sia-sia. Tidak ada satu area pun yang terbebas dari asap hitam milik Davin.
“Apa kamu menyerah?” Suara Davin terdengar dari arah belakang Dewi.
Dewi semakin terkejut dan menyerang sumber suara itu. Tapi tidak ada siapapun di sana.
Kemudian Dewi berusaha menciptakan partikel cahaya untuk menghilangkan asap hitam itu. Tapi lagi-lagi upayanya gagal. Asap hitam sama sekali tidak memudar. Cahaya yang dia ciptakan pun hanya dapat menerangi area kecil disekitar tubuhnya yang justru semakin memudahkan Davin dalam melancarkan serangan.
“Arghhhh….”
“Arghhhh….”
“Arghhhh….”
“Arghhhh….”
Teriakan demi teriakan keluar dari mulut Dewi. Teriakan itu membuat orang-orang diluar arena merinding ketakutan. Di dalam asap hitam yang begitu pekat, Dewi seperti sedang disiksa dengan begitu mengerikan.
Tidak lama kemudian teriakan pun berhenti. Asap hitam perlahan menghilang. Davin dan Dewi pun kembali terlihat di arena pertandingan. Hanya saja kondisi mereka sangat bertolak belakang. Davin berdiri tegak dengan cambuk hitam di kedua tangannya. Sedangkan Dewi terbaring tidak berdaya dengan tubuh penuh dengan luka.
“Dewi….!!!” Teriak seluruh anggota Project Dasamuka yang dengan cekatan berlari ke atas arena untuk memberi pertolongan.
“Pertandingan pertama Project Dasamuka dan Brahma berakhir dengan kemenangan Davin dari Project Dasamuka.” Ujar Anggun mengumumkan hasil pertandingan.
“Kurang ajar, tega sekali kamu membuat Dewi menjadi seperti ini!” teriak Yudis kepada Davin.
“Aku sungguh minta maaf. Dia wanita yang hebat.” Ujar Davin yang penglihatannya telah pulih sambil menundukkan kepala.
“Sudahlah Yudis, dia menang dengan adil.” Sahut Prabu.
“Ayo kita bawa Dewi ke petugas medis.” Ujar Aira.
“Biar Aku yang menggendong Dewi.” Pinta Vega.
Prabu, Aira dan Vega membawa Dewi ke luar arena pertandingan dimana pera petugas medis telah bersiap untuk memberi pertolongan. Sedangkan Yudis masih berdiri tegak di atas arena untuk melanjutkan pertandingan berikutnya.
“Kamu hebat Davin. Tapi pertandingan berikutnya akan aku menangkan.” Ujar Yudis.
“Terima kasih dan berjuanglah. Jangan sampai kalah. Kamu akan melawan Indra. Dia adalah seorang bajingan berhati dingin. Meskipun dia rekan setimku, aku akan mendukungmu.” Ujar Davin dengan suara pelan.
“Aku tidak akan kalah.”
“Aku tahu itu. Tapi pertandingan ini akan sulit. Dia orang yang sangat kuat. Aku sendiri tidak pernah bisa mengalahkannya. Aku punya sebuah pesan untukmu. Gunakan sebagian besar energimu untuk memperkuat pertahanan. Jangan sampai dia berhasil melakukan serangan yang dapat menembus pertahananmu dan memberi luka sekecil apapun itu. Jika kamu gagal, pertandingan berakhir.”
“Apa maksudmu?”
“Lakukan saja apa yang aku katakan. Tidak ada waktu untuk menjelaskan lebih jauh.”
“Terima kasih.”
Davin pergi meninggalkan Yudis dan menuruni arena pertandingan. Sedangkan Indra melangkah naik ke arena.
“Apa yang kamu katakan kepadanya, bangsat?!” Umpat Indra.
“Itu bukan urusanmu.” Jawab Davin dingin sambil terus melangkahkan kakinya.
__ADS_1
***