Project Wanara

Project Wanara
Chapter 66. Darah Sang Raja Jinn


__ADS_3

“Asoka adalah guruku.”


“Dia adalah pemimpin bangsa Jinn. Dia dijuluki King of Jinn.”


“Apa…?!” Lagi-lagi informasi ini membuat semua orang terkejut.


Darma menunjukkan raut wajah yang berbeda. Dia nampak sangat kesal dan marah.


“Aku tidak mengerti. Bangsa Jinn berusaha menghancurkan dunia kita, tapi justru kemampuan yang kita miliki bersumber dari mereka. Apa kamu bercanda Julia?!” Teriak Darma meluapkan emosinya.


Kemudian Julia menceritakan asal muasal penciptaan bangsa Jinn dan manusia. Cerita yang berawal dari kehidupan bangsa Jinn yang dulu pernah menjadi penguasa bumi hingga akhirnya digantikan oleh manusia. Julia juga menceritakan kebenaran tentang Asoka, Sang Raja Jinn dan Azazil, Sang Raja Iblis.


Darma yang mendengar semua cerita Julia pun mulai tenang. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata tidak semua bangsa bangsa Jinn itu jahat. Mereka sama seperti manusia. Banyak orang jahat dan rakus akan kekuasaan, tapi juga tidak sedikit orang yang baik dan peduli pada sesamanya.


“Jadi maksudmu, Azazil lah yang bertanggung jawab atas kematian Raka?” Tanya Dirga.


“Benar.” Jawab Julia singkat.


“Kalau begitu, biar aku yang melawan Indra. Akan ku habisi dia.”


“Tidak…! Dia adalah bagianku.” Sahut Rama yang terlihat begitu tenang. Tapi Dirga dapat merasakan gelombang amarah yang luar biasa terpancar dari wajah tenangnya itu.


“Baiklah. Jangan sampai kalah.” Ucap Dirga.


Setelah mendengar fakta-fakta yang diungkap oleh Julia, mereka berdiskusi dan menyusun strategi untuk mengantisipasi kemampuan yang dimiliki oleh Indra. Terlebih lagi mereka belum tahu kemampuan seperti apa yang dimiliki Lisa. Besar kemungkinan kalau Lisa juga mendapatkan bantuan dari bangsa Jinn.


Diskusi itu berlangsung cukup lama. Julia bahkan mengajarkan sebuah teknik baru agar dapat meningkatkan kemampuan yang mereka miliki. Teknik yang belum pernah dia ajarkan sebelumnya karena terlalu beresiko. Teknik ini sangat kuat tapi juga memiliki dampak yang buruk bagi tubuh penggunanya.


“Tuan dan Nona harus ingat, jangan sembarangan menggunakan teknik ini. Gunakanlah hanya saat kalian benar-benar terdesak.”


Seluruh anggota tim memahami dengan baik penjelasan yang diberikan oleh Julia dan menganggukkan kepala. Saat diskusi berakhir, mereka kembali ke kamar masing-masing agar dapat beristirahat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi Project Dasamuka di pertandingan final.


Hari pun berganti, seluruh Project telah kembali hadir di tempat pertandingan. Dasamuka dan Wanara telah sangat siap. Mereka naik ke arena pertandingan yang ternyata telah diperbaiki. Entah bagaimana caranya, arena yang semula hancur kini telah kembali siap digunakan. Proses perbaikan dilakukan kurang dari 24 jam. Tidak hanya itu, kini arena pertandingan juga dilengkapi dengan pelindung energi transparan yang sangat kuat agar serangan-serangan yang dilakukan di dalam arena tidak berdampak kepada siapapun di luar arena.


Para Pandawa pun hadir untuk menyaksikan pertandingan final dari tempat khusus yang telah disiapkan. Tempat itu layaknya singgasana para raja dengan desain yang sangat mewah.


Anggun telah menjelaskan jalannya pertandingan di hari sebelumnya hingga akhirnya mempertemukan Dasamuka dan Wanara di pertandingan final. Cerita yang disampaikan oleh Anggun cukup menarik perhatian Para Pandawa. Mereka juga menyadari keterlibatan bangsa Jinn pada peningkatan kemampuan yang didapatkan oleh Project Dasamuka. Atas dasar itu pula mereka memutuskan untuk membuat pelindung energi di arena pertandingan dengan memanfaatkan kekuatan Black Onyx Stone.


Yasa berdiri dari singgasananya dan berbicara kepada semua orang yang hadir untuk memberi sambutan dan membuka pertandingan final.


“Pertama-tama, kami meminta maaf kepada kalian semua karena ketidakhadiran kami kemarin. Kami telah mendengar bahwa kemarin terjadi banyak sekali insiden yang mengharuskan beberapa Project di diskualifikasi. Sungguh sangat disayangkan.”

__ADS_1


“Tapi kompetisi tetap harus dilanjutkan. Pertandingan final akan mempertemukan Project Dasamuka dan Wanara. Tunjukkan seluruh kemampuan kalian. Hanya project terbaiklah yang dapat memenangkan kompetisi ini.”


Setelah itu, Yasa kembali duduk di singgasananya dan menyerahkan jalannya pertandingan kepada Anggun.


Dasamuka yang sangat percaya diri pun menyampaikan urutan pemain tanpa diminta. Indra akan mengawali pertandingan, dilanjutkan dengan Lisa dan Davin setelahnya. Project Dasamuka kembali menempatkan Yuda dan Rita diurutan terakhir. Raut sedih dan kecewa terlihat sangat jelas di wajah Yuda dan Rita, sepertinya Dasamuka berniat untuk menyelesaikan kompetisi dengan kemenangan mutlak.


“Siapa yang berani melawan Indra?” Tanya Caraka angkuh.


“Baguslah. Karena kalian telah menetapkan urutan pemain, kami jadi lebih mudah menentukan siapa yang akan bertanding.” Jawab Darma sambil membusungkan dada untuk melawan keangkuhan Caraka.


“Rama akan melawan Indra, Yuna akan menghadapi Lisa dan Galih yang akan mengalahkan Davin. Dirga dan Ayu tidak perlu turun tangan hanya untuk menghadapi kalian. Galih akan menutup pertandingan hari ini.” Kata-kata Darma membuat Caraka geram. Darma berhasil memprovokasi Caraka.


“Bermimpilah sesukamu.” Ujar Caraka yang kemudian turun dari arena pertandingan bersama seluruh anggota timnya selain Indra.


“Aku percaya padamu.” Bisik Julia kepada Rama yang kemudian juga turun dari arena pertandingan bersama dengan Darma, Yuna, Galih, Dirga dan Ayu.


Anggun bersiap-siap. Tak lama kemudian pertandingan final kompetisi antar project pun dimulai.


“Sial, ku pikir aku akan bertemu dengan si cantik Yuna, tapi malah harus melawan sampah lemah sepertimu.”


Rama hanya diam dan tidak menanggapi kata-kata Indra.


Tawa Indra tiba-tiba berhenti saat dia melihat Rama menghilang.


“Bodoh.” Bisik Rama.


Indra kembali terkejut. Intuisinya merasakan adanya bahaya. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Dia berlari menjauhi Rama dengan sangat tergesa-gesa.


“Pergerakannya sangat mirip dengan orang yang bernama Dirga. Aku harus lebih berhati-hati.”


“Kenapa begitu panik? Apa kamu takut?” Sindir Rama.


“Bangsat, mati kau…!”


Indra mengeluarkan tembakan energi dari jari-jari tangannya. Jika pada pertandingan sebelumnya Indra hanya melakukan beberapa tembakan kecil dengan tempo dan intensitas rendah, kini dia seperti sedang memegang sebuah senapan mesin besar yang dapat menembakkan puluhan peluru secara bersamaan dengan sangat cepat.


Wajah Rama masih terlihat tenang. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, Rama berhasil menghindari semua peluru yang ditembakkan.


“Apa yang terjadi?”


Indra terkejut sekaligus kesal. Kemudian dia menggunakan kedua tangannya untuk menciptakan tembakan energi lebih hebat. Daya hancur, kecepatan dan jumlah serangan pun meningkat dua kali lipat. Indra kembali tertawa terbahak-bahak karena merasa sedang berada di atas angin.

__ADS_1


Menghadapi serangan seperti itu, ekspresi Rama sama sekali tidak berubah. Dia benar-benar terlihat sangat tenang. Dengan kecepatan yang sama, Rama kembali berhasil menghindari semua serangan yang dilakukan oleh Indra.


Lagi-lagi Indra dibuat terkejut. Tapi keterkejutannya itu tidak lantas membuatnya berhenti menyerang, tapi justru meningkatkan intensitas serangannya. Kecepatan masing-masing peluru meningkat beberapa kali lipat. Peluru-peluru itu terlihat seperti hujan deras yang turun dari langit dengan sangat cepat. Tapi sangat disayangkan, Rama masih bisa menghindarinya.


“Aku tidak menyangka kalau ternyata Indra sekuat ini. Tapi aku lebih tidak menyangka kalau ternyata Rama bisa menghindari semua serangan semacam itu. Mereka berdua sangat hebat.” Ujar Darma. Seluruh anggota tim Project Wanara sependapat dengan pernyataan itu.


“Mereka masih bermain-main.” Sahut Julia yang membuat semua orang tercengang.


Hujan peluru masih terus dilancarkan oleh Indra. Rama pun masih dapat menghindari semua serangan itu. Hingga kemudian Indra menunjukkan sesuatu yang lebih mengerikan.


Kini setiap peluru yang dia keluarkan akan menciptakan ledakan besar. Saking besarnya ledakan yang tercipta dari semua peluru itu, arena pertandingan tertutupi asap dan debu tebal sehingga tidak satupun orang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya.


Perlahan asap dan debu mulai pudar. Indra terlihat berdiri seorang diri di arena yang besar itu. Sedangkan Rama menghilang entah ke mana.


“Ha ha ha… Dia benar-benar hancur seperti debu.” Teriak Lisa sambil tertawa terbahak-bahak.


Tak lama kemudian tawa itu pun berhenti. Raut wajahnya berubah dan matanya terbelalak saat melihat Rama sedang terbang dengan sepasang sayap hitam yang keluar dari punggungnya.


Tidak hanya Lisa dan Indra, bahkan seluruh anggota Project Wanara pun terkejut dengan kemampuan baru yang Rama perlihatkan.


“Apa kamu sudah selesai?” Tanya Rama dingin. Indra nampak gemetar ketakutan dengan pancaran energi yang dikeluarkan oleh Rama.


“Bangsat…!” Teriak Indra sambil menembakkan peluru-peluru energinya.


Tapi belum sempat serangan-serangan itu menjangkau Rama, semua peluru yang dilontarkan tiba-tiba terkikis oleh pancaran energi yang dikeluarkan Rama dan hilang begitu saja. Semua orang kembali dibuat terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat. Bahkan Para Pandawa sampai berdiri dari singgasananya dengan mata terbelalak.


“Kekuatan itu….” Ujar Julia lirih.


“Apa kamu tahu sesuatu?” Tanya Darma.


“Tuan Asoka.” Tiba-tiba Julia meneteskan air mata.


“Asoka?”


“Itu adalah kekuatan Tuan Asoka. Sayap hitam yang berkilau dan kemampuannya dalam mendestruksi energi. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh Tuan Asoka.”


“Aku tidak mengerti.”


“Aku sangat yakin kalau Rama adalah anak keturunan Tuan Asoka. Dia mewarisi darah Sang Raja Jinn.”


***

__ADS_1


__ADS_2