
----------
Disclimer:
Novel ini hanya fiktif dan bersifat hiburan. Pengembangan cerita tidak berkaitan dan tidak memiliki tendensi apapun kepada agama manapun.
----------
Pada zaman dahulu kala, sebelum umat manusia diciptakan, bangsa Jinn telah terlebih dahulu menguasai bumi. Mereka memiliki peradaban yang sangat maju, bahkan jauh lebih maju dibandingkan dengan peradaban manusia saat ini. Bangsa Jinn hidup seperti halnya manusia, mereka makan, minum, belajar, menikah bahkan beribadah kepada Sang Maha Pencipta.
Jinn adalah makhluk yang diberi kehendak bebas, sehingga Jinn dapat memilih untuk mengikuti jalan yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta, atau bahkan mengingkarinya. Beberapa Jinn taat dan patuh, tapi jauh lebih banyak dari golongan mereka yang ingkar. Sehingga lambat laun, semakin pesat perkembangan peradaban, kehidupan mereka bukannya menjadi lebih baik tapi justru semakin buruk.
Kesenjangan sosial terjadi, Jinn yang kaya menjadi semakin kaya. Jinn yang miskin menjadi semakin miskin. Kebencian dan keserakahan menguasai mereka. Peperangan pun terjadi dimana-mana. Pertumpahan darah tak terelakkan. Tapi diantara mereka terdapat sekelompok kecil Jinn yang masih sangat taat beribadah kepada Sang Maha Pencipta.
Pada saat itu, terdapat dua jenis makhluk berintelektual tinggi dan sangat perkasa, dua jenis makhluk paling hebat yang pernah diciptakan. Jinn adalah salah satunya, sedangkan makhluk lainnya adalah Malaikat. Jika Jinn diciptakan dari api yang menyala, maka Malaikat diciptakan dari Cahaya.
Pada mulanya, Jinn adalah makhluk yang lebih baik dan sempurna dibandingkan Malaikat. Jinn memiliki kehendak bebas sedangkan malaikat tidak. Jinn dapat memilih untuk patuh atau ingkar, sedangkan Malaikat di desain untuk selalu patuh terhadap setiap perintah yang diberikan. Jika Jinn, dengan kehendak bebasnya, berpegang teguh pada jalan yang telah ditetapkan, maka kedudukannya menjadi lebih tinggi dibanding Malaikat. Tapi jika sebaliknya, maka Jinn menjadi makhluk yang paling hina.
Diantara para Jinn yang taat, ada satu Jinn yang paling istimewa. Dia tidak hanya patuh dan taat, tapi juga baik, dermawan serta tak pernah berhenti beribadah. Setiap waktu dia habiskan untuk memuji kebesaran Sang Maha Pencipta. Dia dikenal dengan nama Azazil. Karena ketaatannya itu, Azazil diangkat dan beri keistimewaan untuk tinggal di tanah cahaya. Azazil sangat bersyukur. Apa yang dia dapatkan menambah ketaatan dalam hatinya. Azazil menjadi makhluk yang paling istimewa diantara seluruh makhluk yang pernah diciptakan dan tinggal di tanah cahaya.
Berkat kedekatannya dengan Sang Maha Pencipta, Azazil meminta izin untuk mengajak Jinn lain yang juga sangat taat agar dapat tinggal di tanah cahaya. Permintaan Azazil disetujui dan dia pun membawa adiknya untuk tinggal bersamanya. Jinn itu bernama Asoka.
Azazil dan Asoka yang melihat kehidupan Jinn di bumi pun semakin merasa prihatin. Peperangan terjadi, mereka saling menumpahkan darah hanya karena memperebutkan kekuasaan. Peradaban Jinn yang dulu begitu hebat, perlahan mulai hilang dan hancur oleh hawa ***** mereka sendiri.
Saat kehidupan bangsa Jinn semakin tidak terkendali, Sang Maha Pencipta pun memutuskan untuk memberi hukuman kepada mereka dan mengembalikan kedamaian di bumi. Azazil dan Asoka sudah menduga hal ini karena perilaku bangsa Jinn kala itu sudah sangat keterlaluan dan melampaui batas. Tapi Azazil membuat permohonan untuk dapat menyelamatkan Para Jinn yang patuh, taat serta meminta perlindungan kepada Sang Maha Pencipta. Permohonan Azazil pun dikabulkan dan dia sangat bersyukur atas hal tersebut.
Pada akhirnya, hari yang dijanjikan pun tiba. Sang Maha Pencipta mengutus Para Malaikat untuk turun ke bumi dan memberi hukuman kepada bangsa Jinn yang ingkar. Tapi siapa sangka, Sang Maha Pencipta memilih Azazil sebagai komandan pasukan dan menjadi pemimpin bagi Para Malaikat. Azazil menerimanya dengan senang hati dan berusaha mengemban tugas dengan baik.
Azazil pun berpikir dan membuat strategi. Karena jumlah pasukan Malaikat yang diturunkan sangatlah banyak, maka dia memutuskan untuk membagi pasukan menjadi dua bagian. Azazil akan memimpin pasukan pertama. Sedangkan tongkat komando pasukan kedua dia serahkan kepada adiknya, Asoka. Masing-masing pasukan memiliki 5 ketua regu. Masing-masing ketua regu membawahi 10.000 malaikat. Pasukan pertama bertanggung jawab di wilayah utara sedangkan pasukan kedua bertanggung jawab di wilayah selatan bumi.
Perang besar pertama pun terjadi. Tapi agak sedikit berlebihan jika harus disebut perang. Perang kala itu lebih tepat jika disebut dengan ‘kiamat’ bagi bangsa Jinn. Meskipun bangsa Jinn memiliki kemampuan tempur yang sangat luar biasa, tapi meraka sama sekali tidak berdaya di hadapan pasukan Malaikat.
Jinn-Jinn yang ingkar pada perintah Sang Maha Pencipta pun diberi hukuman yang setimpal. Sedangkan Para Jinn yang masih taat, dibebaskan dan dibiarkan tetap hidup. Perang itu tidak berlangsung lama. Pasukan kedua berhasil
menyelesaikan tugas hanya dalam waktu tiga jam saja. Sedangkan pasukan pertama bahkan jauh lebih cepat, tidak sampai satu jam tugas mereka telah selesai. Bumi yang dulu indah, sekarang sangat tandus dan tidak layak huni. Tapi setidaknya masih ada kesempatan bagi Para Jinn yang tersisa untuk berbenah diri dan memperbaiki keadaan.
__ADS_1
Azazil bersama pasukan pertama dan Asoka bersama pasukan kedua kembali ke tanah cahaya dan menghadap Sang Maha Pencipta untuk memberi laporan. Sebenarnya Azazil tahu Sang Maha Pencipta pasti melihat semua tindakan yang mereka lakukan. Tapi Azazil tetap menghadap sebagai bentuk penghormatan.
Sang Maha Pencipta memuji kesetiaan dan kemampuan Azazil dalam memimpin pasukan. Tapi pada kesempatan itu, Sang Maha Pencipta juga mengumumkan hal lain kepada Azazil, Asoka dan seluruh malaikat.
Sang Maha Pencipta memperlihatkan satu jenis makhluk baru. Sama halnya dengan Bangsa Jinn, makhluk ini memiliki kehendak bebas. Makhluk sempurna yang diberi kebebasan dan keleluasaan untuk bertindak menggunakan akalnya. Makhluk ini disebut dengan Manusia.
Manusia yang diciptakan dari sari pati tanah akan menjadi pengganti Bangsa Jinn dalam mengelola bumi. Bangsa yang tersisa memang akan tetap ada di bumi, hanya saja berada pada dimensi yang berbeda. Bangsa Jinn akan tinggal di bumi yang saat ini telah hancur, sedangkan manusia akan tinggal di bumi yang baru dan jauh lebih indah.
Azazil sangat terkejut dan terpukul. Baru saja dia memberi hukuman kepada makhluk dari golongannya, tapi ternyata ada makhluk baru yang telah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Bangsa Jinn.
Tidak hanya Azazil, tapi para malaikat pun merasa terkejut. Salah satu malaikat berani membuka suara dan bertanya kepada Sang Maha Pencipta.
“Tuanku, makhluk yang engkau ciptakan itu memiliki kehendak bebas seperti halnya Bangsa Jinn. Mereka juga akan merusak dan menumpahkan darah di bumi. Cukuplah kami sebagai ciptaanmu. Kami akan selalu taat kepada mu.”
Sang Maha Pencipta memahami kekhawatiran para malaikat. Tapi mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang diketahui oleh Sang Maha Pencipta.
“Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Para malaikat yang mendengar perkataan tersebut pun segera tunduk dan patuh pada apa yang telah ditetapkan.
“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Sang Maha Pencipta tentu tahu apa yang dipikirkan oleh Azazil, lalu kemudian memberi ujian ketaatan kepadanya dan seluruh malaikat. Sang Maha Pencipta meminta mereka untuk sujud kepada manusia. Sujud itu bukanlah suatu bentuk penyembahan, melainkan penghormatan. Semua malaikat serentak sujud begitu pula Asoka. Hanya Azazil yang saat itu masih berdiri tegak dengan angkuhnya sambil membusungkan dada.
“Azazil, apa yang kamu lakukan?” Tanya Asoka.
“Aku tidak sudi sujud dan menyembah makhluk itu.” Ujar Azazil angkuh.
“Bodoh! Ini sama sekali berbeda dengan menyebah. Ini adalah bentuk ketaatan kita kepada Sang Maha Pencipta.”
“Aku tidak peduli, aku tidak akan menundukkan kepalaku di bawah kakinya.”
“Bodoh…!”
Sang Maha Pencipta tidak lantas marah atas arogansi yang ditunjukkan oleh Azazil, tapi justru mempertanyakan dan memberi Azazil kesempatan untuk taat pada perintahnya. Hanya saja Azazil masih menolak untuk sujud dan semakin menyombongkan diri.
__ADS_1
“Aku telah Engkau ciptakan dari api yang menyala, sedangkan makhluk itu hanya tercipta dari sari pati tanah. Aku jelas lebih baik dan lebih hebat. Kenapa aku harus bersujud dihadapannya?” Tanya Azazil angkuh.
Sang Maha Pencipta pun murka atas tingkah laku yang diperlihatkan Azazil dan kemudian mengusirnya dari tanah cahaya. Sejak saat itu Azazil menjadi makhluk hina yang terkutuk dan mendapat gelar Iblis.
Azazil sama sekali tidak merasa bersalah dan takut atas murkanya Sang Maha Pencipta, tapi justru membuat permintaan yang mengukuhkan keangkuhan dan kesombongan dalam jiwanya.
“Aku akan pergi, tapi izinkan aku meminta satu hal kepadamu. Ini adalah permintaan terakhirku. Biarkan aku hidup hingga hari penghakiman tiba. Aku bersumpah akan menyesatkan mereka hingga benar-benar tersesat dan jauh dari ketentuan yang engkau tetapkan. Akan ku tunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan hina.”
Sang Maha Pencipta memenuhi permintaan Azazil untuk membuktikan bahwa sumpahnya itu palsu. Sang Maha Pencipta juga mengatakan bahwa Azazil tidak akan pernah menyesatkan manusia yang berpegang teguh pada jalan yang telah ditetapkan.
Setelah itu Azazil pergi meninggalkan Asoka yang menjadi satu-satunya bangsa Jinn di tempat itu.
Asoka pun bersujud dan meminta sebuah permintaan kepada Sang Maha Pencipta. Asoka meminta permintaan yang sama dengan Azazil untuk dapat hidup hingga hari penghakiman tiba. Asoka juga menyampaikan bahwa dia hendak meninggalkan tanah cahaya dan berusaha menghentikan perbuatan Azazil dalam menyesatkan manusia.
Sang Maha Pencipta mempertanyakan keputusan yang Asoka buat untuk menguji kebesaran hatinya. Namun Asoka masih teguh dengan pendiriannya. Dengan begitu, Asoka pun diizinkan untuk meninggalkan tanah cahaya untuk menghentikan perbuatan Azazil.
Hari berikutnya, Azazil yang sangat marah pun diam-diam kembali ke tanah cahaya. Dia tahu bahwa manusia dilarang mendekati sebuah pohon yang tumbuh di sana. Secara diam-diam dia menghasut manusia untuk memakan buah yang tumbuh dari pohon itu. Asoka yang mengetahui hal tersebut pun berusaha menghentikan perbuatan yang Azazil lakukan.
“Hentikan Azazil. Kamu sudah sangat keterlaluan. Tidak hanya membangkang, kamu juga begitu sombong hingga berani menantang Sang Maha Pencipta.”
“Aku dengar kamu meninggalkan tanah cahaya hanya untuk menghentikanku? Dasar bodoh. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah berhasil.”
Setelah itu Azazil menyerang Asoka dengan kekuatan penuhnya. Asoka yang memang tidak sekuat Azazil pun kalah dan jatuh ke bumi tempat Bangsa Jinn tinggal.
Kemudian Azazil yang telah menyingkirkan gangguan pun kembali berusaha menghasut manusia. Dengan segala tipu daya yang dia buat, akhirnya dia berhasil menghasut manusia hingga akhirnya manusia itu dikeluarkan dari tanah cahaya dan turun ke bumi.
Azazil merasa sangat bangga karena mendapatkan kemenangan pertamanya. Sejak saat itu dia semakin yakin bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang lebih rendah darinya. Tanpa dia sadari bahwa semua itu adalah bagian dari rencana yang telah disiapkan oleh Sang Maha Pencipta untuk menurunkan manusia ke bumi dan mengelolanya hingga menjadi tempat yang jauh lebih baik.
Dengan kehendak bebasnya, dia selalu memiliki dua pilihan, taat atau ingkar. Tapi sayangnya Azazil memilih jalan yang salah.
Azazil yang telah berhasil mengeluarkan manusia dari tanah cahaya pun tetap berusaha mendekati manusia di bumi untuk terus menghasutnya. Tapi dia mengalami kendala. Manusia dan Jinn berada pada dimensi yang berbeda. Dia tidak bisa masuk ke dimensi manusia dengan leluasa. Dengan kekuatannya saat ini, dia hanya bisa bertahan tidak lebih dari satu jam di dimensi manusia. Itu pun hanya energinya saja. Tubuh fisiknya sama sekali tidak dapat melewati batas antar dimensi.
Tapi Azazil tidak menyerah dia berusaha mengumpulkan kekuatan dan mencari cara agar dapat menembus batas dimensi. Dia pun menceritakan kisah tentang manusia kepada Para Jinn yang tersisa dan berusaha menghasut mereka untuk berpaling dari perintah Sang Maha Pencipta serta membantunya menyesatkan manusia. Sebagian besar dari mereka mengikuti jalan yang Azazil tempuh, dan sebagian kecil dari mereka tetap berusaha taat kepada Sang Maha Pencipta. Jinn-Jinn yang tidak sejalan dengan Azazil langsung dimusnahkan saat itu juga. Sebagian dari mereka berhasil melarikan diri untuk berlindung ke bagian selatan bumi karena mereka mendengar bahwa di sana ada Jinn yang sangat kuat. Jinn yang dimaksud itu adalah Asoka.
Tidak lama kemudian Azazil, dengan kekuatan yang dia miliki, berhasil membuat kerajaan Jinn yang sangat besar dan kuat di bagian utara bumi. Sedangkan Asoka, dengan kebijaksanaan dan kebaikan hatinya, berhasil membuat kerajaan yang memakmurkan warganya di bagian selatan bumi. Asoka mendapat julukan King of Jinn, sedangkan Azazil dijuluki King of Demon.
__ADS_1
Dua kekuatan besar itu sering bertempur dan berperang. Pusat dari pertempuran itu adalah umat manusia. King of Demon beserta pasukannya berambisi untuk menghancurkan manusia dan mengambil alih bumi tempat mereka tinggal. Sedangkan King of Jinn beserta pasukannya yang selalu taat kepada Sang Maha Pencipta, berupaya untuk menjaga umat manusia dari kekejian Sang Iblis. Perselisihan itu pun masih berlangsung hingga saat ini.
***