Project Wanara

Project Wanara
Chapter 29. Galih Ananda (Part 1) - Pedang Rapier


__ADS_3

Galih sangat antusias dalam mengikuti pelatihan khusus yang telah disiapkan oleh Julia dan Darma untuk meningkatkan kemampuan para anggota tim Project Wanara. Sejak awal dia telah memahami pola latihan yang disiapkan. Hari pertama adalah latihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan terlemah para anggota tim. Galih memang sangat ahli dalam hal bertahan, kemampuan tempur jarak dekatnya juga cukup baik. Tapi dia sangat lemah dalam melakukan serangan jarak jauh. Maka dari itu dia ditempatkan di area kedua agar dia dapat


mengatasi kekurangannya itu.


Galih telah berada di ruang pelatihan area kedua. Pelatihan hari pertama bagi Galih pun akan segera dimulai.


Ruangan tersebut didesain layaknya sebuah lapangan tembak. Di sana terdapat dua area. Area pertama adalah tempat dimana anggota tim berdiri. Area kedua adalah tempat dimana mesin lontar melemparkan beberapa senjata yang akan menjadi target serang bagi anggota tim. Antara area pertama dan kedua dibatasi dengan sebuah garis panjang yang membentang secara horizontal dari ujung tembok kiri ke ujung tembok kanan. Saat anggota tim melewati garis tersebut, sebuah alarm akan berbunyi dan mesin lontar menjadi tidak aktif sehingga pelatihan tidak dapat dilanjutkan sebelum anggota tim kembali ke tempat semestinya.


Pelatihan dimulai. Sebuah belati tajam dilontarkan dari sisi sebelah kanan menuju sisi sebelah kiri. Belati itu tidak terlalu cepat dan memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dengan posisi Galih berdiri. Sebuah awal yang sangat mudah. Tapi sayangnya Galih melewatkan kesempatan itu. Dia hanya berdiam diri menyaksikan belati itu terbang melewatinya.


“Ternyata begitu cara kerjanya. Baiklah, akan ku coba hasil latihan ku tadi malam.” Pikir Galih.


Galih tidak ingin datang dengan gelas kosong. Ternyata di hari sebelumnya Galih telah melatih kemampuannya dalam melakukan manipulasi energi untuk menciptakan sebuah serangan yang dapat dilakukan dari jarak jauh. Galih memang selalu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Salah satunya adalah persiapan diri dalam menghadapi pelatihan khusus kali ini. Walaupun dia mungkin masih akan mengalami kesulitan, tapi setidaknya dia telah memiliki bekal kemampuan untuk dia asah pada pelatihan ini.


Tidak lama kemudian mesin lontar kembali melemparkan sebuah belati tajam dari arah sebaliknya, dari sisi sebelah kiri menuju sisi sebelah kanan. Kecepatan dan jarak belati masih sama dengan lemparan sebelumnya.


Galih membuat kuda-kuda serang, mengeluarkan energi dan memusatkan energi tersebut di tangan kanannya. Dari tangan kanannya itu keluar sebuah pedang panjang dengan bilah bermata dua yang ramping dan runcing berjenis Rapier. Dia menebaskan pedang itu sehingga menghasilkan kumparan energi yang melesat tajam menyerang belati yang tadi dilontarkan.


Wush…


Serangan yang dilakukan Galih sudah sangat baik tapi tidak cukup akurat untuk mengenai belati tersebut. Tapi Galih tidak menyerah. Sebelum belati jatuh ke tanah, Galih kembali menebaskan pedangnya untuk melakukan serangan. Kali ini dia berhasil. Serangan yang dia lakukan tepat mengenai belati itu dan membuatnya hancur berkeping-keping.


“Yesss….” Teriak Galih kegirangan.


Hal tersebut merupakan awal yang sangat baik bagi Galih.


Mesin lontar kembali melakukan tugasnya. Kini sebuah panah dilontarkan dari sisi sebelah kanan menuju sisi sebelah kiri. Penampang panah lebih besar dibandingkan pisau belati. Seharusnya Galih dapat dengan mudah menghancurkan panah tersebut. Tapi lagi-lagi Galih gagal di kesempatan pertamanya dan berhasil pada percobaan kedua.


“Tidak masalah, benda berikutnya akan ku hancurkan pada serangan pertama.” Pikir Galih dengan antusias menantikan kedatangan benda berikutnya.


Sebuah panah kembali dilontarkan dari arah sebaliknya. Galih memperhatikan lintasan gerak panah tersebut untuk memprediksi titik serang.


Wush….


Galih kembali menebaskan pedangnya. Kali ini serangan yang dia lakukan sangat akurat dan berhasil menghancurkan panah itu hanya dengan satu serangan saja.

__ADS_1


“Berhasil….” Galih kembali berteriak kegirangan. Tapi Galih tidak terlena dengan keberhasilan kecil itu. Dia dengan sangat sigap dan kembali bersiap diri untuk kedatangan benda berikutnya.


Sejak saat itu semua benda yang dilontarkan dapat dihancurkan dengan sangat mudah olehnya. Karena tingkat kesulitan yang sangat rendah itu, Galih sedikit merasa bosan. Tapi dia segera menepis perasaan itu. Dia tidak ingin menjadi lengah dan kalah hanya karena rasa bosan yang melandanya. Dia kembali mengambil posisi menyerang dan berusaha untuk tetap fokus kepada target yang akan datang.


Syut….


Sebuah belati tajam melintas dengan sangat cepat. Walaupun jarak antara Galih dan belati masih sama dengan sebelumnya, kecepatan belati itu meningkat pesat. Galih yang tidak menduganya hanya dapat diam terkesima.


Tidak lama kemudian belati tajam kembali dilontarkan dari arah sebaliknya dengan kecepatan yang sama dengan sebelumnya. Galih menebaskan pedangnya dengan sedikit panik dan hasilnya dia pun gagal menghancurkan benda yang menjadi target serangnya itu.


Sekali lagi belati tajam dilontarkan dari arah berlawanan dengan kecepatan yang sama, dan lagi-lagi Galih gagal menghancurkan benda yang datang. Jangankan untuk menghancurkan, serangan yang Galih lakukan sama sekali tidak dapat mengenai belati itu.


“Sial….” Umpat Galih di dalam hatinya.


Berbeda dengan lontaran pada awal pelatihan dimana belati dan panah datang dengan kecepatan yang melambat sehingga membuat lintasan gerak berupa kurva melengkung, lontaran kali ini memiliki kecepatan yang tinggi dan konsisten serta bergerak lurus secara horizontal.


Belati dan panah tajam terus menerus dilontakan dengan kecepatan tinggi dari arah yang berbeda secara bergantian. Galih masih terus mencoba melakukan beberapa serangan dan berusaha untuk setidaknya mengenai target yang datang. Tapi hingga jam makan siang tiba, tidak satu pun serangannya berhasil.


Sambil menyantap makan siang, Galih mencoba menganalisa hasil latihannya tadi. Saat awal pelatihan dia gagal menghancurkan target pada kesempatan pertama, itu terjadi karena target masih memiliki kecepatan yang cukup tinggi saat pertama kali dilontarkan. Kemudian perlahan kecepatannya melambat dan saat itulah dia berhasil menghancurkan benda tersebut.


“Itu artinya aku harus meningkatkan refleks dan kecepatan serangan serta memperhatikan lintasan gerak semua target. Andai saja aku memiliki kemampuan seperti Dirga.” Pikirnya saat itu.


“Seperti Dirga?” Galih pun tersentak karena menyadari sesuatu.


“Dirga memiliki kemampuan khusus di matanya. Kemampuan itu dia dapatkan karena kebiasaannya membaca. Tapi sepertinya tidak hanya itu. Bagaimana jika ku alirkan lebih banyak energi untuk memperkuat kemampuan mata ku? Itu layak dicoba. Dan lagi kenapa aku harus mengeluarkan baju zirah? Bodohnya.” Ucap Galih dengan sangat antusias dan tertawa kecil karena kebodohannya. Sedari awal Galih memang telah mengeluarkan baju zirahnya. Dia baru saja menyadari bahwa hal itu tidak berguna dan hanya menghabiskan energinya saja.


Satu jam berlalu dan waktu istirahat pun berakhir. Galih kembali mempersiapkan diri untuk kedatangan benda-benda yang akan menjadi target serangnya. Dia mengeluarkan Pedang Repier tanpa menggunakan zirah pelindung. Kini dia juga mengalirkan energi ke bagian mata dengan intensitas lebih tinggi. Persiapannya selesai dan target pun datang.


Syut….


Sebuah anak panah meluncur deras dari sisi sebelah kiri ke sisi sebelah kanan. Galih dengan sangat sigap menebaskan pedangnya untuk menciptakan kumparan energi yang digunakannya untuk menyerang.


Pletak…


Serangan yang Galih lakukan berhasil mengenai bagian ekor anak panah dan membuatnya hancur. Memang hanya ekornya saja, tapi hal itu menunjukkan bahwa kemampuan Galih telah mengalami peningkatan.

__ADS_1


“Pilihan untuk meningkatkan intensitas energi ke bagian mata memang sangat tepat. Hal ini membuat ku lebih fokus sehingga refleks ku juga menjadi jauh lebih baik. Hanya saja aku tidak bisa melihat lintasan gerak dan memprediksi arah pergerakan panah itu seperti apa yang dilakukan oleh Dirga. Nampaknya itu memang hanya dapat dilakukan olehnya.” Pikir Galih.


Seluruh benda yang berikutnya dilontarkan kini berhasil dihancurkan dengan sangat mudah oleh Galih. Tidak satu pun target terlepas dari serangannya. Galih berhasil menyelesaikan tahap kedua pelatihan ini dengan sangat baik.


Galih tahu bahwa setelah dia berhasil mengatasi tantangan kecepatan, maka akan ada tantangan yang berkaitan dengan jumlah dan jarak. Dugaannya sangat tepat. Tahap berikutnya, mesin lontar tidak hanya melemparkan satu benda saja, melainkan dua benda sekaligus dalam waktu bersamaan.


Hal tersebut tidak terlalu menyulitkannya. Selama Galih mampu mengikuti kecepatan gerak target, maka akan sangat mudah baginya untuk menghancurkan target tersebut, terlebih lagi target itu datang dari arah yang sama. Galih membuat dua tebasan pedang sekaligus dan menghancurkan semua target yang datang.


Sekali lagi pola lontaran serupa dilemparkan oleh mesin lontar dari sisi berlawanan. Galih kembali berhasil menghancurkan semua target yang ada di depan matanya.


Kali ini pola lontaran kembali berubah. Mesin lontar melemparkan sebuah belati tajam dari sisi sebelah kanan, dilanjutkan dengan mesin lontar yang melemparkan sebuah panah dari sisi sebelah kiri, selang beberapa detik kemudian mesin lontar di sisi sebelah kanan kembali melontarkan sebuah belati diikuti dengan lontaran sebuah panah dari mesin lontar yang ada di sisi sebelah kiri.


Pola lontaran kali ini membuat Galih merasa sangat kesulitan karena dia harus fokus pada banyak target sekaligus yang berasal dari beberapa sisi dengan tempo waktu yang berbeda-beda. Galih mengayunkan beberapa tebasan pedang untuk menghancurkan semua target, tapi sayangnya hanya satu benda yang dapat dia hancurkan yakni sebuah belati tajam. Sedangkan serangan lainnya sama sekali tidak menyentuh target.


Galih tidak ambil pusing dengan kegagalan yang dialaminya. Dia kembali bersiap diri untuk menghadapi lontaran berikutnya.


Pola lontaran serupa kembali dikeluarkan. Kali ini Galih tidak langsung mengayunkan pedangnya, melainkan menunggu masing-masing benda dari tiap sisi bertemu pada satu titik. Saat benda pertama dari tiap sisi berada pada titik temunya, Galih dengan sigap kembali menebaskan pedangnya tepat di titik tersebut. Tapi sayangnya hanya benda yang berada paling dekat dengannya yang dapat dia hancurkan. Galih kembali mengayunkan pedangnya saat benda kedua berada di titik temu. Lagi-lagi hanya benda yang berada paling dekat dengannya yang dapat dia hancurkan.


Tidak lama berselang, mesin lontar kembali membuat pola lontaran serupa. Tapi Galih nampak tidak bergeming. Dia hanya memperhatikan benda-benda tersebut melewatinya begitu saja.


“Kuncinya ada di kekuatan dan kecepatan serang yang ku lakukan. Kumparan energi yang ku buat hilang seketika saat menghantam benda pertama sehingga benda lainnya sama sekali tidak terjangkau. Saat masalah itu dapat diatasi dan katakanlah masih ada energi tersisa untuk menghancurkan benda lainnya, aku harus memperhitungkan durasi waktu energi tersebut agar tidak kehilangan momentum serang pada titik temu masing-masing benda. Ternyata ini lebih merepotkan dari yang kubayangkan.” Pikir Galih yang ternyata sedang melakukan analisa dan menyusun strategi.


“Ada dua cara untuk mengatasi masalah ini, pertama adalah dengan meningkatkan kekuatan dan kecepatan serang atau menciptakan manipulasi energi baru untuk dapat menjangkau semua benda sekaligus tanpa harus menunggu benda-benda tersebut bertemu pada satu titik.”


Huft… Galih menghela napas panjang.


“Kalau begitu akan ku coba dulu cara yang paling mudah.” Ujarnya.


Galih kembali bersiap diri dan menunggu mesin lontar melakukan tugasnya. Dia meningkatkan energi pada pedangnya agar dapat menghasilkan kekuatan yang lebih besar dan kecepatan yang lebih tinggi.


Mesin lontar kembali membuat pola lontaran yang sama. Galih menunggu masing-masing benda berada pada titik temunya dan dengan sigap mengayunkan tebasan pedang. Benda dengan jarak terdekat berhasil dihancurkan, masih tersisa energi yang melesat cepat menuju benda berikutnya. Tapi sayangnya energi tersebut kehilangan momentum. Benda berikutnya telah meninggalkan titik temu. Hal itu juga terjadi pada lontaran selanjutnya.


“Sial…!” Umpat Galih yang terlihat sedikit kesal.


***

__ADS_1


__ADS_2