Project Wanara

Project Wanara
Chapter 58. Keyakinan


__ADS_3

Pertarungan antara Yuna dan Rama berakhir imbang. Keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa hebat.


Dirga, Galih dan Ayu masih terpukau dengan apa yang Rama dan Yuna perlihatkan. Mereka merasa sedikit rendah diri dengan perbedaan kemampuan yang ada, namun tidak sedikitpun mereka tunjukkan itu. Satu-satunya ekspresi yang mereka perlihatkan hanyalah rasa kagum. Mereka juga yakin bahwa suatu saat nanti mereka dapat sekuat Rama dan Yuna.


Dirga, Galih dan Ayu memasuki arena pertandingan. Sekarang adalah giliran mereka untuk unjuk gigi. Dirga telah mengeluarkan kerambitnya, Galih telah menggunakan baju zirah dan memegang sebilah pedang sedangkan Ayu telah memperlihatkan keindahan sayapnya.


Seperti biasa, Dirga melakukan inisiatif serangan. Dia menghilang dari pandangan dan dengan cepat muncul di belakang Galih untuk kemudian melakukan serangan. Meskipun Galih tahu pola serangan yang akan dilakukan Dirga, dia tetap saja gagal mengantisipasinya. Serangan Dirga tepat mengenai punggung Galih dan membuat kerusakan yang cukup besar pada baju zirahnya.


Ayu tidak dapat berbuat banyak karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa Dirga akan melakukan serangan seperti itu.


Setelah menyerang Galih, Dirga kembali menghilang dan muncul tepat dibelakang Ayu yang sedang terbang. Tanpa berbasa-basi, Dirga menebas kedua sayap Ayu yang belum menyadari kehadirannya. Tebasan kerambit Galih membuat kerusakan yang cukup parah pada sayap-sayap milik Ayu hingga membuatnya terjatuh. Syukurlah Ayu masih sempat mengendalikan sayapnya yang hancur sesaat sebelum menghantam tanah dan terhindar dari luka fatal. Galih dan Ayu sama sekali tidak berkutik dihadapan Dirga.


“Ayu, apa kamu baik-baik saja?”


“Sekali tebas saja Kak Dirga berhasil menghancurkan sayap-sayapku. Meskipun sayap itu hanyalah manifestasi energi, tetap saja serangannya memberikan rasa sakit yang luar biasa. Tapi kenapa Kak Dirga bisa menjangkau ku?”


“Entahlah, Dirga memang hebat. Tapi jika kita berdua tidak bisa mengalahkannya, bagaimana mungkin kita bisa mengejar Rama dan Yuna.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan, Kak? Kita tidak bisa membuat jebakan seperti Kak Yuna. Pergerakan Kak Dirga sama sekali tidak bisa kita hentikan. Baik serangan jarak jauh maupun jarak dekat, Kak Dirga pasti bisa mengindarinya dengan sangat mudah. Apa kita coba bertahan saja?”


“Itu akan sia-sia, dia bisa membuat pukulan yang meresonansikan energinya dengan energi yang kita miliki. Alih-alih bertahan, pukulannya akan membuat energi yang kita miliki justru berdampak buruk bagi diri kita sendiri.”


“Jadi sama sekali tidak ada kesempatan?”


“Sampai sejauh mana kamu bisa mengendalikan angin?”


“Aku bisa membuat pusaran angin besar dan mengkombinasikannya dengan bulu-bulu energi sehingga menghasilkan serangan fatal yang mematikan.”


“Selain itu?”


“Aku juga bisa membuat kubah angin untuk bertahan. Tapi tidak hanya untuk bertahan, kubah angin itu juga bisa menghancurkan benda apapun yang menyentuhnya.”


“Hebat. Apa kamu bisa mengepakkan sayap untuk menghasilkan serangan angin dengan jangkauan yang luas?”


“Aku belum pernah mencobanya.”


“Baiklah, itu layak dicoba.”

__ADS_1


Kemudian Galih menjelaskan rencana yang telah dia buat untuk menghadapi kemampuan yang Dirga miliki. Ayu memahami rencana itu dengan baik dan mereka pun bersiap melakukan serangan balasan.


“Sudah selesai diskusinya?” Tanya Dirga.


“Terima kasih telah memberi kami sedikit waktu. Bersiaplah.”


Ayu mengeluarkan sayapnya yang telah kembali terbentang indah. Terbang cukup tinggi dan mengepakkan kedua sayapnya itu dengan cukup kuat. Angin yang sangat besar tercipta dari kepakan-kepakan sayap itu.


Dirga merasa sedikit kesulitan untuk bertahan dari aliran angin yang begitu kuat. Namun dengan kecepatannya, dia menghilang dan menerjang aliran angin itu. Dirga muncul tepat di samping kanan Galih dan menebaskan kedua kerambit yang dia pegang. Tapi Galih menyadari itu dan berhasil menghentikan serangan Dirga menggunakan pedangnya.


Kali ini Galih mencoba mengambil alih serangan. Dia menebaskan pedangnya dengan sangat brutal namun tepat sasaran. Setiap ayunan pedang yang Galih lakukan tepat mengarah ke titik yang sangat sulit untuk dihindari oleh Dirga. Dirga pun kembali menghilang untuk menghindari luka fatal. Ayu menghentikan kepakan sayapnya saat Dirga melangkah mundur.


“Kombinasi kekuatan kalian memang hebat. Ayu menciptakan aliran angin yang sangat kuat sehingga memaksa ku untuk bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi dan tentunya menghabiskan lebih banyak energi. Sialnya lagi, meskipun aku sudah bergerak dengan sangat cepat, aliran angin itu menunjukkan arah pergerakanku sehingga Galih bisa mengantisipasi serangan yang ku lakukan. Kalian sangat cerdik. Tapi pertarungan akan segera berakhir.”


“Kamu memang selalu percaya diri.” Ujar Galih.


Belum sempat Ayu kembali mengepakkan sayapnya. Dirga lagi-lagi menghilang dari pandangan dan melakukan pukulan keras ke ulu hati Ayu. Tidak berhenti disitu, Dirga kembali menebaskan kerambitnya dengan sangat cepat hingga sayap Ayu hancur berantakan dan tidak lagi dapat digunakan. Ayu terjatuh ke tanah dengan begitu cepat. Galih sangat terkejut dengan serangan Dirga yang begitu mendadak dan berlari secepat mungkin untuk menolong Ayu. Hanya saja jarak antara Galih dan Ayu cukup jauh. Tapi untungnya Dirga dapat bergerak dengan lebih cepat. Dirga berhasil menolong Ayu yang hampir saja menghantam tanah.


Setelah Dirga menolong Ayu, dia kembali menghilang dan melakukan serangan bertubi-tubi kepada Galih. Galih tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan tamengnya dan hanya bertahan menggunakan baju zirah saja. Baju zirahnya memang sangat kuat, tapi sekuat apapun baju zirah itu, jika mendapatkan serangan yang begitu intens dan kuat seperti ini, tentu akan hancur juga. Benar saja, tidak perlu waktu lama bagi Dirga untuk menghancurkan baju zirah itu dan melayangkan pukulan keras untuk menyelesaikan pertandingan. Kepalan tangan Dirga berhenti tepat di depan wajah Galih yang terperanga dan tak berkutik sama sekali.


“Tidak perlu kecewa. Kalian sangat hebat.” Ujar Dirga.


“Apanya yang hebat?! Kamu bahkan tidak terlihat kesulitan sama sekali.” Jawab Galih dingin dan melangkah pergi meninggalkan Dirga dan Ayu yang masih di arena pertandingan. Dirga sedikit terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh temannya itu. Tapi Dirga tetap yakin kalau Galih akan kembali bangkit dan menjadi orang yang dia kenal sebelumnya.


“Ayu, maaf kalau aku terlalu berlebihan. Apa lukamu cukup parah?”


“Tidak perlu minta maaf, kak. Kakak tidak salah, tapi memang kami lah yang terlalu lemah.” Jawab Ayu yang juga pergi meninggalkan Dirga dan menyusul Galih menuruni arena pertandingan.


Dirga merasa kecewa kepada kedua temannya. Terutama kepada Galih yang terlihat paling dewasa dibandingkan


anggota tim lain. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kekalahan itu akan berdampak buruk kepada kondisi mental mereka berdua. Dirga menuruni arena pertandingan dengan wajah murung.


“Apa-apan kalian berdua?! Sikap macam apa itu?!” Teriak Rama.


Dirga, Galih dan Ayu terkejut dengan teriakan itu.


“Kalian menjadi cengeng seperti bayi hanya karena dikalahkan oleh satu orang. Aku kecewa.” Sambungnya.

__ADS_1


“Jangan kurang ajar. Kamu yang sedari awal memang sudah sangat kuat tidak akan pernah tahu apa yang saat ini kami rasakan!” Galih membalas teriakan Rama.


“Bangsat…! Omong kosong apa itu…?!” Teriakan Rama menjadi semakin keras.


“Apa kamu pernah hidup di jalanan? Apa kamu pernah merasa khawatir ditangkap petugas keamanan dan membusuk di penjara? Apa kamu pernah takut mati kelaparan? Bisa-bisanya kamu berbicara seperti tadi.”


Galih dan Ayu terdiam.


“Kalau kalian merasa lemah, salahkan diri kalian sendiri yang tidak berusaha menjadi kuat. Kamu pikir Dirga mendapatkan kekuatan itu secara instan? Apa kalian merasa telah berusaha lebih keras dibandingkan Dirga sehingga kalian berhak menuntut hasil yang lebih besar? Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika saat ini kalian kalah, itu artinya usaha kalian tidak lebih besar dibandingkan Dirga. Jangan hanya mengeluh dan merengek seperti bayi. Tapi teruslah berjuang untuk mencapai puncak. Aku tahu perjalanan ke puncak tidaklah mudah, itulah gunanya teman. Meskipun kita melalui jalan yang terjal dan berliku, akan selalu ada teman yang membantu. Tapi kalian malah bersikap seperti itu kepada teman kalian sendiri. Menyedihkan…!”


“Sudahlah Rama, tidak perlu terlalu keras. Sepertinya mereka sudah mengerti.” Ujar Darma.


“Aku minta maaf.” Ujar Galih.


“Izinkan aku untuk melakukan pertandingan ulang melawan Dirga.” Sambungnya.


“Tentu saja. Aku siapa kapan pun.” Sahut Dirga sambil tersenyum.


“Apa kamu yakin bisa mengalahkan Dirga?” Tanya Rama yang tiba-tiba saja muncul tepat dihadapan Galih.


“Aku tidak yakin, tapi aku ingin mencobanya lagi.” Jawab Galih.


“Hal pertama yang harus kamu ubah adalah pola pikir itu. Sekuat apapun lawanmu, keyakinan untuk menang harus tetap ada. Karena keyakinan itu akan berubah menjadi motivasi yang dapat menjadi pemicu untuk melampaui batas kemampuanmu sendiri.” Ujar Rama.


“Selama keyakinan itu belum terpatri di hatimu, berapa kalipun kamu menantang Dirga, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkannya.” Sambungnya.


“Aku mengerti. Terima kasih Rama. Aku berjanji akan berlatih lebih keras dan menjadi lebih kuat.”


“Aku juga.” Sahut Ayu.


Galih dan Ayu kembali mendapatkan kepercayaan diri. Dirga dan Darma tersenyum bangga dengan apa yang baru saja Rama utarakan. Sedangkan Julia dan Yuna nampak semakin kagum dengan sosok Rama.


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2