
Hari berikutnya, Rama dan Yuna berlatih dibawah bimbingan Julia untuk mempelajari kemampuan lain dari pengendalian CORE. Sedangkan Dirga, Galih dan Ayu lanjut mengidentifikasi energi pada benda yang tersisa.
Tidak butuh waktu lama bagi Dirga, Galih dan Ayu untuk dapat mengidentifikasi semua benda. Sepertinya setelah sesi latihan berakhir, mereka masih terus berlatih di kamar masing-masing sehingga kali ini mereka dapat mengidentifikasi semua benda dengan lebih cepat. Pada siang harinya, mereka telah bergabung bersama Yuna dan Rama untuk melanjutkan pelatihan berikutnya.
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sesi latihan hari tersebut akan segera berakhir. Seluruh anggota tim telah mampu mengalirkan energi CORE ke beberapa bagian tubuh dengan sangat baik.
Hari Ke Enam Pelatihan CORE di lapangan belakang mansion….
“Hanya dalam waktu 5 hari saja kalian telah berhasil mengendalikan CORE dengan baik. Pencapaian yang luar biasa.” Ujar Darma pagi itu.
“Namun apa yang kalian pelajari itu barulah dasar-dasarnya saja. Kita akan mulai masuk ke pelatihan yang lebih advance” tambah Darma.
“Untuk mengawalinya, alirkan energi kalian ke seluruh tubuh dan fokuskan ke bagian mata. Coba kalian perhatikan energi milik kalian sendiri dan bandingkan dengan energi anggota tim lainnya?” ucap Darma.
“Yuna, coba jelasakan apa yang kamu lihat.” pintanya kepada Yuna.
“Pada dasarnya energi yang mengalir pada tubuh kami seperti halnya energi yang mengalir pada vas bunga kemarin. Seperti gumpalan asap yang menyelimuti seluruh bagian tubuh.” Yuna mulai menjelaskan.
“Namun warna energi kami berbeda dengan warna energi milik Julia kemarin. Dirga memiliki energi berwarna Merah, Galih Biru dan Ayu Kuning. Aku sendiri memiliki energi berwarna perak.” Tambahnya.
“Bagaimana dengan Rama?” tanya Darma.
“Aku tidak mengerti. Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat adanya energi yang mengalir di tubuh Rama.” jawab Yuna.
“Sekarang coba lihat energi milik ku dan Julia.” pinta Darma.
“Energi Pak Darma berwarna hijau dan Julia berwarna merah muda” jawab Yuna.
“Apa ada yang berbeda?” Darma kembali bertanya.
“Ya itu sangat berbeda pak. Energi milik kami seperti gumpalan asap, sedangkan energi kalian terlihat begitu halus menyelimuti setiap inci tubuh kalian.” Jawab Yuna.
“Bagus…” puji Darma.
“Kalian saat ini telah berhasil mengendalikan energi CORE dengan baik, tapi energi kalian masih kasar. Pengendalian belum optimal dan banyak energi terbuang sia-sia.” Ujar Darma.
“Namun tidak perlu khawatir, seiring berjalannya waktu pengendalian kalian akan semakin baik dan energi yang kalian pakai menjadi lebih optimal.” Tambahnya.
“Maaf Pak Darma, kenapa warna energi kami berbeda-beda?” tanya Ayu.
“Setiap individu memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Begitu juga warna energi yang merupakan bawaan alami seseorang. Namun perbedaan warna tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kekuatan kalian. Jadi tidak perlu terlalu memikirkan perbedaan warna energi yang kalian miliki.” Ucap Darma.
“Yang ingin kami sampaikan kepada kalian adalah bahwasanya energi CORE dapat kalian latih sehingga menghasilkan karakter fisik yang paling sesuai dengan diri kalian masing-masing. Hal yang pertama yang dapat kalian lakukan adalah memperbaiki bentuk energi kalian yang seperti gumpalan asap itu menjadi lebih halus seperti milik ku dan Julia.” Darma kembali memberi penjelasan.
“Namun tugas kalian tidak hanya itu. Sekarang Dirga, coba kamu jelaskan apa yang kamu lihat.” pinta Darma.
“Apa itu…!???” Dirga terkejut.
“Energi milik Pak Darma berubah menjadi sebuah rantai yang sangat panjang. Rantai tersebut keluar dari tangan kanan dan bergerak melayang di udara.” Ucap Dirga.
“Itu keren sekali Pak Darma….” Ucap Ayu terkesima.
“Ehm… itu tidak seberapa.” ucap Darma dengan sedikit malu.
“Sekarang coba kamu lihat energi milik Julia.” Ujar Darma kepada Dirga.
“Itu indah sekali….”
“Energi milik Julia terbang di sekitarnya seperti bunga dandelion merah muda yang tertiup angin. Itu mengagumkan.” puji Dirga.
__ADS_1
Rama, Yuna dan Ayu juga terpukau menyaksikan energi indah yang dikeluarkan oleh Julia.
“Julia, kamu mengagumkan…” Puji Rama lirih.
“Ehm…” Darma mendeham dan mengejutkan Rama. Semua mata tertuju padanya.
“Maaf Pak Darma, aku mau tanya, kenapa tadi Yuna tidak bisa melihat energi yang ku keluarkan ya?” tanya Rama berusaha mengalihkan pusat perhatian.
“Julia yang akan menjelaskan hal tersebut.” ujar Darma. Perkataannya itu justru membuat suasana semakin canggung.
“Tuan Rama memiliki sesuatu yang unik. Bahkan saya dan Pak Darma sendiri masih kesulitan memahami apa yang terjadi pada Tuan Rama.” Julia memberi penjelasan.
“Tidak hanya Nona Yuna saja, saya dan Pak Darma juga mengalami kesulitan untuk melihat energi milik Tuan Rama. Saat Tuan Rama berada di ruang medis, Saya sudah mencoba metode khusus untuk mengidentifikasi energi miliknya. Namun hasilnya diluar perkiraan, energi milik Tuan Rama benar-benar tidak terkendali dan hampir saja membahayakan nyawa saya sendiri.”
“Sepertinya secara alami energi milik Tuan Rama menyembunyikan dirinya sehingga orang lain tidak dapat dengan mudah untuk mengidentifikasinya. Ada satu cara yang belum dilakukan, namun layak untuk dicoba.” Ujar Julia.
“Apa itu Julia?” tanya Rama penasaran.
“Sekarang keluarkan energi yang tuan Rama miliki. Gunakan dengan niat untuk membunuh. Lalu serang saya dengan sekuat tenaga. Tapi ingat, kendalikan jumlah energi yang Tuan Rama gunakan.” Julia kembali memberi
penjelasan.
“Tidak mungkin aku melakukan itu Julia….!” Teriak Rama.
“Anda harus mencobanya tuan. Sekali anda berhasil melakukannya, anda akan dengan mudah mengidentifikasi energi milik anda sendiri. Anda dapat menyembunyikan dan menampakkan energi tersebut sesuka hati anda tuan.” ujar Julia.
“Tidak akan per……” kata-kata Rama terhenti.
Dandelion merah mudah milik Julia tiba-tiba saja berada disekitar Rama. Rama terkejut melihat hal tersebut.
“Berusahalah menghindari dendalion itu tuan, jika tidak anda akan mati oleh ledakannya.” ucap Julia memperingati Rama.
“Apa maksudnya ini?” teriak Rama.
“Dirga, Galih, Ayu….. Pergi menjauh..!” pinta Darma.
“Julia, kamu sudah berlebihan….!” Teriak Darma kepada Julia.
Tiba-tiba saja dendalion menyerang Darma dan membuat ledakan besar. Semua anggota mengkhawatirkan keadaan Darma. Namun Darma berhasil selamat sebab dia merubah rantainya menjadi sebuah tameng pelindung yang sangat kuat.
Kresek…. Kresek…. Krak…! Wush…! Dari bawah tanah muncul sesuatu seperti akar pohon berwarna merah muda yang tiba-tiba mengikat kaki dan tangan Darma dengan sangat kencang. Darma sama sekali tidak bisa bergerak dan mengeluarkan energi CORE nya.
“Kurang ajar kau Julia….!!!” Teriak Darma dengan mengumpat.
“Jangan ikut campur Pak Darma. Tidak hanya anda yang memiliki rantai pengendali.” pinta Julia dengan aura yang sangat dingin.
Darma berusaha untuk melepaskan diri dari apa yang membelenggunya saat ini. Tapi Julia sangatlah kuat, bahkan Darma bukanlah lawan yang sebanding untuk Julia.
“Julia… Kenapa tiba-tiba kamu jadi begini??!!” tanya Rama.
“Tuan Rama, anda sangatlah kuat. Saya selalu ingin melawan orang yang kuat. Tunjukkan apa yang anda punya…!!!” teriak Julia dengan raut wajah yang sangat mengerikan layaknya seorang psikopat.
Julia menggerakkan tangannya dan mengendalikan dandelion miliknya untuk menyerang Rama.
Booom….! Booommm….! Duaaaar….!
Energi yang menyerupai dandelion itu beterbangan dan meledak disana sini. Rama berlarian sekuat tenaga untuk menghindari ledakan yang terjadi.
Grasak….! Rama kembali terhempas dan tersungkur di tanah.
__ADS_1
Kaki dan tangan Rama mengalami luka gores yang tidak sedikit jumlahnya. Luka yang didapatkan saat dia berusaha menghindari ledakan Dandelion milik
Julia.
“Apa anda hanya bisa berlari tuan?” tanya Julia.
“Jangan lengah dan perhatikan sekeliling anda.” ucap Julia masih dengan menampakkan wajah psikopat.
Rama menoleh ke belakang dan Duaaaar…..!!!!
Dandelion tepat meledak didepan wajahnya. Hal tersebut membuat Rama kembali terlempar dan terluka parah.
“Ramaaaa….” Teriak Yuna.
Tanpa berfikir panjang Yuna menerjang Julia dan menyerangnya dengan kekuatan penuh. Energi CORE Yuna meluap dan membuatnya menjadi sangat kuat. Yuna tanpa henti menyerang Julia. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan dilayangkan oleh Yuna. Namun Julia dengan mudah dapat menghindari semua serangan Yuna.
“Nona Yuna memang hebat, tapi sangat bodoh. Sebelum anda menyerang, anda harus dapat menilai kekuatan orang yang anda lawan.” ucap Julia.
Buak….! Julia melayangkan satu pukulan kebagian perut Yuna. Cukup satu pukulan saja untuk membuat Yuna jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
Kresek… Kresek… Wush…! Kembali muncul sesuatu menyerupai akar pohon berwarna merah muda yang membelenggu Yuna. Berbeda dengan akar yang mengikat tangan dan kaki Darma. Belenggu yang diberikan kepada Yuna menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga Yuna saat ini sepenuhnya berada didalam benda tersebut. Jika disaksikan dari luar, Yuna seperti berada didalam sebuah kepompong besar.
“Kurang ajar kau Julia…!” Teriak Darma.
Rama masih tergeletak dan menyaksikan Yuna yang berusaha sekuat tenaga menolong dirinya dan mengakibatkan Yuna terluka hingga tidak sadarkan diri. Hal tersebut membuat Rama meradang. Tanpa disadari energi nya meluap. Muncul keinginan untuk membela diri dan mengalahkan Julia yang telah membuat temannya terluka.
Energi yang dikeluarkan oleh Rama berwarna hitam pekat disertai dengan sebuah aliran energi layaknya petir berwarna ungu yang terlihat sangat menakutkan. Energi gelap yang mengerikan.
“Ha Ha Ha…. Itu kekuatan yang luar biasa Rama…” Ujar Julia dengan tawa yang mengerikan.
Booommm…. Booommm… Booommm….! Ledakan demi ledakan dilayangkan untuk menjatuhkan Rama.
Semua ledakan yang terjadi membuat pandangan tertutupi oleh asap dan debu yang beterbangan. Dirga, Galih dan Ayu nampak sangat khawatir dengan kondisi Rama saat ini. Mereka sangat ingin membantu, namun apa yang telah mereka saksikan membuat mereka tidak mampu berbuat banyak. Bahkan hanya untuk sekedar melangkah maju saja mereka merasa sangat takut.
Tanpa disangka Rama masih berdiri tegak. Ledakan-ledakan yang baru saja terjadi sepertinya tidak memberikan dampak apapun kepada Rama.
“Anda Jauh lebih kuat dibandingkan yang saya kira… Itu Hebat….!!!” Teriak Julia semakin menggila.
“Bagaimana dengan ini?”
Dandelion merah muda berubah menjadi duri-duri tajam yang beterbangan dan siap menyerang Rama.
Syut…. Syuuut…. Swing….!!! Seluruh duri menyerang Rama secara bersamaan. Rama berusaha sekuat tenaga menghindari duri-duri tersebut. Hal yang mengejutkan terjadi. Ternyata duri tersebut tidak hanya bisa menusuk namun juga membuat ledakan. Sesaat setelah duri menusuk targetnya, duri tersebut langsung membuat ledakan besar. Bahkan lebih besar dari yang sebelumnya.
“Sekali saja aku tertusuk duri itu. Mati lah aku..” pikir Rama.
“Kamu sudah gila Julia…!” teriak Darma sambil sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. Tapi apa daya. Belenggu Julia sangatlah kuat.
“Julia… selama ini aku salah menilaimu….” Ujar Rama kepada Julia.
“Anda pikir saya orang seperti apa?” tanya Julia.
“Jangan-jangan anda benar menyukai saya? Dasar Bodoh…! Ha Ha Ha…..” Julia kembali bertanya dengan tawa mengerikan di wajahnya seakan-akan sedang menertawai kebodohan Rama.
Emosi Rama semakin bergejolak. Energi miliknya meluap dan membentuk sebuah siluet cakar di jari-jari tangannya. Dia pun menyerang Julia dari jauh menggunakan cakar-cakar tersebut hingga membuat energi gelap keluar dan membentuk kumpulan sabit dengan ketajaman yang luar biasa. Tidak hanya sangat tajam, sabit itu juga mengeluarkan energi lain seperti petir yang berwarna ungu.
“Mati kau….!” Teriak Rama.
__ADS_1
***