Project Wanara

Project Wanara
Chapter 13. Hey, Aku Berhasil!


__ADS_3

Rama yang masih terkejut dengan kehadiran Julia, bergegas turun dari kasur dan segera kembali ke kamarnya sendiri. Rama sama sekali tidak ingat dengan kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Hal terakhir yang Rama ingat adalah saat dia berhasil mengendalikan bola energi.


Setibanya Rama di kamar, dia melihat anggota tim lain sedang berlatih di lapangan belakang mansion melalui jendela kamarnya. Tanpa disadari ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Rama tidak ingin nilai potensinya tertinggal semakin jauh. Dia pun segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ikut berlatih. Namun saat dia melihat ke cermin kamar, dia terkejut karena pakaian yang ia kenakan terlihat


berantakan dengan banyak sobekan.


“Kenapa baju ku sobek-sobek begini?” pikir Rama dengan heran.


Seketika terlintas bayangan wajah Julia yang sedang tertidur pulas di pikirannya.


“Arrrgghhh…. Apa yang telah kau lakukan Julia…” teriak Rama dengan wajah memerah.


“Plaaak….” Rama menampar pipinya sendiri.


“Bodoh, apa yang kamu pikirkan” ucap Rama pada dirinya sendiri.


Rama segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian baru yang tersedia di lemari kamarnya. Tidak lupa Rama menggunakan Emblem Project Wanara. Beberapa menit kemudian Rama pun telah siap untuk bergabung bersama anggota tim lainnya.


“Selamat pagi….” teriak Rama kepada seluruh anggota tim yang sedang berlari mengitari lapangan.


“Kak Ramaaaaaa…!” sahut Ayu dengan sangat senang saat melihat Rama datang.


Seluruh anggota tim menghentikan larinya dan menghampiri Rama.


“Bagaimana kondisi tubuh mu Rama?” tanya Yuna dengan wajah khawatir.


“Hey apa-apaan dengan wajah itu Yuna? Tidak perlu khawatir, aku merasa sangat sehat dan segar hari ini.” Jawab Rama dengan senyum lebar di wajahnya.


“Ku kira kamu sudah mati.” ucap Galih.


“Kurang ajar kau Galih….!!” Teriak Rama.


“Ha ha ha…” semua orang tertawa. Dirga tidak mengatakan apapun. Namun raut wajahnya nampak senang saat melihat kehadiran Rama.


“Rama, apa benar kamu baik-baik saja?” tanya Darma.


“Tentu saja Pak Darma. Memangnya apa yang sudah terjadi?” Rama pun bertanya kepada Darma.


“Sepertinya dia tidak ingat apapun.” pikir Darma.


Darma menceritakan kejadian saat bola energi Rama meledak hingga membuat tubuhnya terlempar jauh dan membentur tembok aula. Darma pun menceritakan kondisi Rama saat itu yang mengalami luka bakar dan pendarahan.


Rama tercengang dengan cerita Darma. Dia melihat kondisi tangannya yang disebut mengalami luka bakar serius, namun tidak terlihat sama sekali tanda-tanda dia mengalami luka. Rama juga melihat raut wajah anggota tim


lainnya hanya untuk memastikan bahwa cerita Darma adalah nyata dan bukanlah sebuah cerita yang dibuat-buat.


“Tapi aku merasa sangat baik, bahkan tidak ada luka sedikit pun yang aku rasakan.” ucap Rama.


“Aku juga tidak mengerti.” Jawab Darma.


“Ya sudah, jangan dipikirkan.” Ucap Darma.


“Mulai berlari 10 putaran…!!!” tambahnya.


“Siaaaap..!!!”


Rama berlari dengan semangat diikuti anggota tim lainnya. Hari itu Rama kembali memulai aktivitas rutin. Melakukan latihan peningkatan fisik di pagi dan siang hari. Dilanjutkan dengan latihan pengendalian CORE di malam hari.


Malam hari pun tiba, seluruh anggota tim telah bersiap untuk melakukan latihan pengendalian CORE.


“Ini adalah latihan pengendalian CORE hari kedua. Kemarin kalian telah berhasil membangkitkan energi CORE dan membuat sebuah bola energi walapun ada sedikit insiden yang tidak diharapkan.” Darma membuka pembicaraan.


“Hari ini hingga 7 hari kedepan kalian akan fokus untuk melatih pengendalian CORE saja. Saat ini kalian masih perlu memusatkan konsentrasi untuk dapat mengendalikan CORE. Target kalian 7 hari kedepan adalah harus bisa menggunakan energi CORE seperti hal nya kalian sedang bernapas.” Jelas Darma.


“Maksudnya bagaimana pak?” tanya Ayu.


“Apa kalian perlu berkonsentrasi untuk bisa bernapas dan menghirup udara segar?” tanya Darma.


“Jawabannya tentu tidak.” tambahnya.


“Kami ingin kalian bisa mengendalikan CORE dengan bebas.” Ujar Darma.


“Maaf Pak Darma, sedari tadi aku tidak melihat Julia. Dimana dia?” tanya Galih.

__ADS_1


“Mungkin Rama yang semalam tidur bersama Julia bisa menjawab pertanyaan tersebut.” ujar Darma.


Semua orang tersentak dan langsung melihat ke arah Rama.


“Woy Rama… ternyata kamu orang yang seperti itu ya?” ujar Dirga.


“Iiihhhh Kak Rama….” ucap Ayu sambil menunjukkan ekspresi jijik.


“Apa? Tidak… Tidak….”


“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan” ucap Rama dengan panik.


“Rama… tidak ku sangka…” Yuna menanggapi perkataan Rama dengan rasa kesal dan wajah yang memerah.


“Tidak Yuna...!” Rama berusaha memberi penjelasan kepada Yuna. Sedangkan Yuna hanya melipat tangan dan memalingkan pandangannya.


“Hey Rama, memang semalam apa yang kamu dan Julia lakukan?” bisik Galih kepada Rama.


“Aaaaaaaaa…….!!!!” Rama berteriak.


“Hey Pak Darma… Jangan membuat pernyataan yang ambigu dong..!!!” teriak Rama kepada Darma.


“Memangnya ada yang salah? Tadi malam kalian memang tidur di kasur ruang medis kan? Julia kehilangan kesadaran saat berusaha menyembuhkan kamu. Jadi aku baringkan Julia di kasur ruang medis yang kosong.” Ucap Darma dengan rasa bingung.


“Kalian dengar sendiri kan…!!!” ucap Rama kepada semua anggota tim nya.


“Maaf Rama….” Ucap Yuna dengan wajah memerah.


“Kami juga minta maaf sudah salah sangka.” Ujar anggota tim lainnya dengan malu-malu.


“Hey, tapi apa benar kalian tidak melakukan apapun?” tanya Galih penasaran.


“Tidak!!!” teriak Rama diikuti tawa anggota tim lainnya.


Klek…. Pintu aula terbuka. Terlihat sosok orang yang sedari tadi dibicarakan. Itu adalah Julia.


“Selamat malam….” Sapa Julia kepada semua orang dengan senyum indah di wajahnya. Hal tersebut membuat Rama merasa malu dan menundukkan pandangannya. Yuna yang melihat tingkah laku Rama nampak terlihat sedikit kesal.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Darma.


“Tentu saja.” Jawab Julia.


“Syukurlah….” sahut Darma.


“Baiklah jika begitu kita akan mulai latihan malam ini. Posisikan tubuh kalian seperti yang kemarin diajarkan dan mulailah berlatih mengendalikan energi CORE kalian.” Ucap Darma.


“Rasakan dan nikmati setiap aliran energi yang kalian buat. Kemudian ciptakan sebuah bola energi. Lakukan hal tersebut secara terus menerus hingga kalian menjadi lebih mahir.” tambahnya.


“Rama, kamu ikut dengan ku.” ujar Darma.


Darma membawa Rama ke sudut Aula yang cukup jauh dari anggota tim lain. Julia juga mengikuti mereka.


“Ada apa pak Darma?” tanya Rama.


“Kami tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.” jawab Darma.


“Sekarang kami akan mengawasi latihan mu secara langsung.” tambahnya.


Darma mengeluarkan energi CORE nya dan kembali mengubah energi tersebut menjadi sebuah rantai. Rantai tersebut terpusat di tangan kanan Darma.


“……..” Rama terpukau dengan apa yang dia lihat.


Kemudian rantai pengendali dililitkan ke kedua tangan Rama.


“Apa-apaan ini Pak Darma?” Rama terkejut.


“Tenanglah, ini adalah rantai pengendali. Efek rantai pengendali sebetulnya adalah untuk membuat orang yang terlilit tidak dapat menggunakan energi CORE miliknya, namun rantai ini telah ku modifikasi sehingga kamu tetap bisa mengendalikan CORE. Aku menggunakan ini agar kamu tidak lagi mengalami ledakan energi ” Darma memberi penjelasan.


“Julia, bisa kamu beri Rama instruksi. Aku akan fokus mengendalikan luapan energinya” pinta Darma.


“Tentu, aku mengerti.” Jawab Julia.


“Tapi sebelum itu….”


Wush…. Shhhh Shhhh Shhhh…..

__ADS_1


Julia membuat sebuah dinding pembatas kedap suara berbentuk kubah yang membuat apapun yang terjadi di dalamnya tidak akan terdengar dari luar. Hal itu dilakukan agar tidak mengganggu latihan anggota lainnya.


“Keren sekali…” pikir Rama.


“Tuan Rama, mohon ikuti instruksi saya. Jangan lakukan sesuatu yang tidak saya pinta.” Ucap Julia.


“Baiklah Julia….” jawab Rama.


“Silahkan tuan rama duduk bersila. Letakkan punggung tangan kanan dan kiri diatas lutut. Tarik napas panjang dan konsentrasikan fokus tuan ke bagian ulu hati. Rasakan energi CORE milik anda tuan.” Julia memberikan instruksi.


“Saya tidak bisa merasakan energi tuan Rama. Apa anda telah berhasil merasakannya?” tanya Julia.


“Ya Julia.” jawab Rama singkat.


“Baik, jika begitu alirkan energi tersebut ke area tangan tepat dimana rantai pengendali terikat.” Pinta Julia.


“Lakukan secara perlahan….” lanjutnya.


“Arghhhhh…….” Darma berteriak kencang


“Kekuatan ku seperti tertarik… Gila…!!” tambahnya.


“Itulah yang kemarin aku rasakan.” ucap Julia dengan mengedipkan mata.


“Jangan bercanda Julia, lakukan sesuatu..!!” pinta Darma.


“Tuan Rama, perlahan hentikan aliran energi anda dan kembalikan ke ulu hati” Ucap Julia kepada Rama.


“Gila… Anak ini benar-benar gila.” pikir Darma


“Alirkan kembali energi CORE anda ke area tangan yang terlilit rantai pengendali. Tapi kali ini alirkan hanya 10% energi saja.” Julia kembali membeli instruksi. Perlahan energi CORE dialirkan menuju tangan.


Rama merasakan seluruh energi CORE miliknya dan membuat perkiraan tentang sebanyak apa jumlah energi yang harus dialirkannya. Setelah mendapat perkiraan, Rama pun mengalirkan energi tersebut.


“Bagaimana Darma?” tanya Julia.


“Ini jauh lebih baik.” jawab Darma.


“Bagus.” ucap Julia.


“Anda melakukannya dengan sangat baik tuan. Alirkan energi ke area tangan sebanyak 10% dan sebarkan energi tersebut ke seluruh tubuh. Pertahankan aliran energi tersebut dengan baik selama 10 menit.” ujar Julia.


Selama kurang lebih 10 menit, Rama menjalankan instruksi yang diberikan oleh Julia dengan sangat baik. Sejauh ini aliran energi CORE milik Rama masih terkendali.


“Bagus sekali Tuan Rama. Sekarang buka mata anda dan buat bola energi dari kedua tangan. Perhatikan jumlah energi yang tuan alirkan. Ingat, jangan lebih dari 10% saja.” ujar Julia.


Rama mengalirkan 10 % energinya ke area tangan untuk membentuk sebuah bola energi. Tidak perlu waktu lama baginya untuk dapat membuat bola energi. Itu adalah bola energi yang sempurna. Terkendali dengan baik dan tidak terdapat indikasi adanya luapan energi.


“Anda berhasil Tuan Rama.” ujar Julia dengan senyuman.


“Ini terasa sangat hebat Julia.” Rama senang atas keberhasilannya membuat sebuah bola energi yang terkendali.


“Hey teman-teman lihat aku berhasil…..!” teriak Rama kepada anggota tim lainnya.


“Arrgggghhhh……..” Darma berteriak kencang.


“Bodoh….! Kendalikan energi mu.” ucap Darma kepada Rama.


“Tuan Rama, jangan hilang kendali. Saat ini anda hanya boleh menggunakan energi 10% saja.” ucap Julia.


Rama berusaha mengendalikan dan menekan aliran energinya agar hanya tersalurkan 10% saja.


“Syukurlah….” Ujar Rama setelah berhasil mengendalikan energi.


“Bagus, sekarang hentikan pengendalian dan kembalikan energi ke ulu hati.” Ucap Julia dan diikuti dengan Rama yang menghentikan pengendalian CORE nya.


Darma menghampiri Rama dengan perlahan dan….


Pletak…..!


“Lain kali kendalikan energi mu dengan baik! Jangan menyusahkan!” teriak Darma sambil menjitak kepala Rama dengan cukup keras.


“Maaf Pak Darma, tadi aku terlalu bersemangat ingin menunjukkan ke anggota lain pak” jawab Rama sedikit menyesali apa yang terjadi.


“Dasar Bodoh… Mereka tidak akan bisa mendengar kita” ucap Darma.

__ADS_1


“Eh.…” Rama melihat sekeliling dan sadar bahwa mereka masih ada didalam kubah pelindung.


***


__ADS_2