Project Wanara

Project Wanara
Chapter 56. Curahan Hati


__ADS_3

Setelah menjelaskan teknis pelaksanaan kompetisi, Para Pandawa pun pergi meninggalkan aula mansion. Beberapa pemandu telah disiapkan untuk membantu seluruh anggota project agar dapat mengenal area mansion dengan lebih baik. Masing-masing project mendapatkan area dan fasilitas yang berbeda-beda tergantung tingkat prioritasnya. Hanya saja, Yuna yang mewakili Project Wanara, berhasil mendapatkan fasilitas kelas atas yang selama ini digunakan oleh Project Dasamuka. Maka dari itu, urutan prioritas project selama kompetisi berlangsung pun berubah. Project Wanara ditempat pertama, Dasamuka ditempat kedua, Anantareja ditempat ketiga, Dewabrata ditempat keempat, Punakawan ditempat kelima dan Brahma menjadi prioritas terakhir.


Project Dasamuka yang selama ini dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas terbaik pun merasa kesal dengan keputusan Para Pandawa dan tentunya kepada Project Wanara yang telah mengambil posisi mereka.


Tepat setelah Para Pandawa pergi meninggalkan aula dan belum sempat para pemandu membuka suara, Project Dasamuka menunjukkan kekesalannya dengan sangat agresif dan memprovokasi Project Wanara.


“Julia, trik apa yang kamu lakukan hingga Yuna bisa bertahan dari pancaran energi tadi?” Tanya Caraka dengan nada tinggi.


“Bicara yang sopan.” Sahut Rama yang terlihat kesal.


“Kurang ajar, jangan ikut campur!” Teriak Caraka.


“Sudahlah Rama, biarkan saja dia.” Ujar Julia.


“Ternyata gelandangan seperti kamu bisa ikut di project ini juga ya? Level Project Wanara memang sangat rendah.” Ujar Lisa dengan wajah sinisnya.


“Kamu kenal dia?” Tanya Caraka.


“Tentu saja, dia itu suamiku yang bodoh.” Jawab Lisa.


“Suami?” Pikir Yuna yang nampak terkejut saat mengetahui fakta tentang status Rama. Tidak hanya Yuna, Galih Dirga dan Ayu pun sama terkejutnya.


“Lebih tepatnya mantan suami. Dia hanya sampah tidak berguna.” Sahut Indra melengkapi jawaban Lisa.


“Jangan begitu kak, meskipun dia sampah, dia pernah menjadi adik iparmu loh.” Ucap Lisa dengan tawa kecil yang menjengkelkan, diikuti dengan senyum sinis Indra.


“Bangsat….!” Teriak Rama yang hendak mendekat ke arah Lisa. Namun Julia berhasil menghentikan Rama.


“Apa kamu ingat apa yang dikatakan oleh Para Pandawa, tidak boleh ada perkelahian diluar arena pertandingan.”


Rama tidak memberi tanggapan. Wajahnya masih terlihat sangat kesal.


“Biar aku yang urus masalah ini.” Ucap Julia pelan.


“Rama, kamu belum sempat menjawab pertanyaanku dulu.” Ujar Julia yang mengeraskan suaranya.


“Apa maksudmu?” Tanya Rama kebingungan.


“Siapa yang lebih cantik antara aku dan Lisa, mantan istrimu itu?” Tanya Julia dengan senyum manisnya.


“Hey, kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?” Sahut Rama kikuk.


Yuna mulai mengerti situasi yang terjadi dan berusaha membantu.


“Tentu saja aku yang lebih cantik.” Ujar Yuna dengan senyum lebarnya.


“Ada apa dengan kalian?” Rama semakin terlihat salah tingkah.

__ADS_1


“Tadinya aku sempat kecewa, Rama. Tapi syukurlah ternyata dia cuma mantan saja. Dan lagi, apa kamu buta ya? Bisa-bisanya kamu menikahi wanita jelek seperti dia.” Sambung Yuna.


“Kurang ajar, jangan asal bicara…!” Teriak Lisa.


“Kenapa kamu marah? Bukankah memang begitu adanya?” Balas Yuna masih dengan senyum lebarnya.


Indra terlihat mendekati Yuna dan hendak menyerangnya. Tapi tiba-tiba saja Dirga muncul di depan Indra sambil menghunuskan kerambit tepat di lehernya.


“Apa kamu tidak malu ikut campur urusan wanita?” Tanya Dirga dingin.


“Brengsek, kenapa dia tiba-tiba muncul?” Pikir Indra.


“Apa kemampuan project terbaik hanya sebatas ini saja?” Ucap Yuna yang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.


“Kalian keterlaluan.” Teriak Caraka.


“Kenapa kamu bertingkah seakan menjadi korban?” Sahut Julia yang membuat Caraka terdiam.


“Sudahlah Dirga, ayo kita pergi. Ternyata mereka hanya bermulut besar saja.” Pinta Yuna. Dirga kembali menghilang dari pandangan dan muncul diantara rekan se-timnya.


“Rama, apa benar kamu dan wanita jelek itu sudah tidak memiliki hubungan apapun?” Tanya Yuna.


“Tentu saja.” Jawab Rama tegas.


“Baguslah, aku tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan seseorang.”


“Nona Yuna, tolong jangan menggoda Rama.” Sahut Julia sambil tersenyum. Tapi senyumannya kali ini memiliki arti yang berbeda.


“Ehm…” Darma yang sedari tadi diam pun tiba-tiba mendeham.


“Ayo kita pergi.” Ucap Darma.


Setelah itu seluruh anggota Project Wanara pergi keluar aula bersama para pemandu. Diikuti dengan anggota project-project lain yang sama sekali tidak peduli dengan konflik yang terjadi antara Project Wanara dan Dasamuka.


“Kurang ajar, berani sekali mereka mempermalukanku.” Ucap Lisa lirih.


“Tenang saja, akan kita habisi mereka di arena pertandingan.” Sahut Indra.


Setelah mengelilingi mansion, Rama, Galih, Dirga, Yuna dan Ayu sangat terkejut dengan kamar dan seluruh fasilitas yang mereka dapatkan. Project Wanara mendapat tempat di bagian timur mansion. Selain kamar yang luas dan nyaman, mereka mendapatkan tempat latihan pribadi, area spa, gym, tempat karaoke, taman kecil yang cantik, dan beberapa fasilitas lain yang sangat mewah. Semua fasilitas itu hanya dapat digunakan oleh mereka saja.


Hari pertama mereka habiskan untuk bersenang-senang menikmati fasilitas yang ada. Yuna dan Ayu mencoba tempat spa, Galih, Dirga dan Darma bersenang-senang di tempat karaoke, sedangkan Rama dan Julia duduk santai dan berbincang-bincang sambil menikmati keindahan taman.


“Apa kamu masih merasa kesal?” Tanya Julia.


“Apa yang telah mereka perbuat selama ini benar-benar tidak bisa ku maafkan.”


“Apa kamu tahu bagaimana cara terbaik untuk membalas mereka?”

__ADS_1


Rama menggelengkan kepalanya.


“Perlihatkan kemampuamu dan tunjukkan kalau kamu jauh lebih hebat dibandingkan mereka. Mungkin luka di hatimu tidak akan bisa hilang, tapi setidaknya kamu bisa membuat mereka merasa malu atas arogansi dan kesombongan yang mereka perlihatkan.”


“Kamu benar, Julia. Sekarang aku memang miskin dan sebatang kara, tapi akan ku buktikan bahwa aku jauh lebih hebat dibandingkan mereka yang memiliki keluarga dan bergelimangan harta.”


“Sebatang kara?”


Rama tersentak dengan pertanyaan yang Julia lontarkan. Sekilas bayang wajah Galih, Dirga, Yuna, Darma dan Julia muncul dibenaknya. Rama teringat dengan hari-hari yang telah mereka lewati bersama. Baik saat suka maupun duka. Rama baru saja menyadari bahwa kini dia tidak lagi sebatang kara. Dia memiliki beberapa teman yang sangat baik. Tidak hanya sebatas teman, mereka lebih seperti keluarga yang sangat berharga.


“Sekali lagi terima kasih, Julia.”


“Tidak perlu sungkan.”


“Oh ya, apa sekarang kita sedang berkencan?” Tanya Rama. Seketika wajah Julia berubah merah dan tertunduk malu. Tapi senyum manis Julia terlihat merekah indah.


Di sisi lain….


“Kak Yuna, apa kakak menyukai Kak Rama?” Tanya Ayu.


“Aku tidak ingin bersaing dengan guruku sendiri.” Jawab Yuna.


“Lagi pula Rama terlihat lebih nyaman saat bersama Julia.” Sambungnya.


“Apa yang membuat Kak Yuna menyukai Kak Rama?”


“Sebelum bertemu dengan Rama, aku berpikir kalau semua pria itu sama saja. Mereka berpura-pura baik hanya untuk mendekatiku. Tapi Rama berbeda, dia rela berkorban untuk orang-orang disekitarnya. Dia juga tidak pernah menyerah dengan keadaan yang dia terima. Pria yang baik adalah pria yang akan selalu berjuang untuk bangkit saat dia terjatuh dan tidak tinggi hati saat dia berada di puncak. Selain itu, entah kenapa setiap tingkah konyol yang dia tunjukkan selalu bisa membuatku tersenyum. Aku benar-benar merasa nyaman saat berada di dekatnya.”


“Benar, Kak Rama memang seperti itu.” Ayu memberi tanggapan.


“Lalu kenapa kamu bisa menyukai Galih?” Tanya Yuna.


“Eh?” Ayu terkejut dengan pertanyaan itu.


“Sudahlah tidak perlu malu. Kita hanya berdua saja. Cerita ini tidak akan kita bawa keluar, kan?.” Ujar Yuna


“Apa aku terlihat menyukai Kak Galih?” Tanya Ayu malu-malu.


“Jadi tidak ya?”


“Aku tidak bilang begitu.” Ayu tanpa sengaja terpancing oleh pertanyaan Yuna. Yuna pun tersenyum.


“Sama seperti cerita Kak Yuna, aku menyukai Kak Galih karena dia adalah pria yang terlihat sangat dewasa dan memiliki kepedulian tinggi. Baru pertama kali aku bertemu dengan pria seperti itu. Jika karakter dan tingkah konyol Kak Rama dapat membuat Kak Yuna tersenyum, maka kedewasaan dan kepeduliaan Kak Galih padakulah yang membuatku merasa nyaman. Aku selalu merasa tenang saat bersama Kak Galih.”


Curahaan hati Yuna dan Ayu dapat keluar begitu saja dan membuat mereka menjadi semakin dekat.


Di ruang karaoke, Darma dan Galih sedang bernyanyi bersama dengan riang gembira. Sedangkan Dirga masih serius dengan novel yang dia baca. Dirga terlihat sedang memendam sesuatu. Tapi karena Dirga kurang mampu mengekspresikan isi hatinya, tidak ada seorang pun yang mengerti dan menyadari apa yang sebenarnya sedang Dirga pikirkan.

__ADS_1


***


__ADS_2