Project Wanara

Project Wanara
Chapter 74. Teknik Fusi


__ADS_3


Halo... Saya Kang Han, Author novel keren ini. Uhuuuy...(^.^)


Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena 2 minggu ini telat update. Itu karena Alhamdulillah minggu kemarin saya baru saja dianugrahi anak kedua. Jadi kalau misalnya chapter-chapter berikutnya telat lagi, harap maklum ya. Hehe...


Tapi tenang aja, novel ini akan selalu update kok. Jadi nantikan keseruan cerita selanjutnya ya.


Oh ya, dikesempatan kali ini saya juga mau ucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat kalian semua para pembaca Project Wanara karena masih setia dan terus mendukung keberlangsungan novel ini. Hatur Nuhun. \(^o^)/


Yuk, kita lanjutin ceritanya.


Selamat membaca...


---------


Julia telah menjelaskan informasi dasar yang perlu diketahui oleh anggota timnya sebelum memasuki dunia Jinn. Tapi tidak berapa lama kemudian, Anggun datang dengan napas tersengal dan sangat tergesa-gesa.


“Julia, Para Pandawa meminta kalian semua untuk segera berkumpul di aula mansion.”


“Ada masalah apa?”


“Kalian akan segera tahu. Ayo lekas pergi.”


Anggun bersama Project Wanara bergegas menuju aula mansion untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Setibanya mereka di aula, Para Pandawa bersama seluruh project sedang berbincang dengan sangat serius.


“Apa yang terjadi?” Tanya Julia.


“Puncak Mandalawangi luluh lantak, Nona.” Jawab Sarwa.


“Apa maksudmu?”


“Coba nona lihat ini.”


Sarwa memperlihatkan video kondisi Puncak Mandalawangi saat ini yang diambil dari satelit pribadi milik Pandawa Group. Mansion Project Wanara telah rata dengan tanah. Area sekitar mansion hangus terbakar dan tidak tersisa satu kehidupan pun di sana.


“Apa ini ulah mereka?”


“Sepertinya begitu. Kami telah mengutus beberapa pasukan untuk melihat kondisi di sana. Coba nona lihat bagian ini.”


“Cairan Magma? Apa Puncak Mandalawangi kembali aktif?”


“Berdasarkan parameter deformasi dan geokimia, sama sekali tidak terdeteksi adanya aktivitas vulkanis di Puncak Mandalawangi.”


“Bisa-bisanya mereka menyerang Puncak Cikuray dan Mandalawangi secara bersamaan.”


“Tidak hanya Cikuray dan Mandalawangi, tapi juga Puncak Kendang, Patuha, Burangrang dan Manglayang.”


“Apa?” Julia begitu terkejut saat Sarwa memperlihatkan foto seluruh mansion hancur luluh lantak.


“Bagaimana mungkin semua tempat dihancurkan begitu saja? Bukankah kita telah menempatkan beberapa penjaga tingkat Laksa di setiap area pelatihan?”


“Kita kehilangan komunikasi dengan semua penjaga.”


“Ifrit…” Ujar Julia lirih.

__ADS_1


“Kemungkinan besar ini ulah Ifrit. Tapi detektor energi pada satelit tidak menunjukkan tanda-tanda kemunculan portal dimensi. Bahkan distorsi ruang yang menjadi ciri khas kedatangan bang Jinn pun tidak terlihat.”


“Apa maksudmu?” Tanya Julia.


“Semua kekacauan ini adalah ulah manusia yang telah membuat perjanjian dengan Ifrit.” Jawab Sarwa.


“Jika kehancuran yang dihasilkan sebesar ini, artinya mereka tidak membuat perjanjian biasa.” Sambung Julia.


“Anda benar, Nona. Mereka telah membuat perjanjian darah.” Sahut Sarwa.


“Tutup rapat informasi ini. Jangan sampai ada media yang meliput.”


“Maaf Nona, sepertinya kita terlambat. Meskipun kami telah mengendalikan media-media mainstream. Tapi penyebaran informasi telah terjadi begitu cepat melalui media sosial dan menimbulkan kericuhan.”


“Sial…. Jika begitu, manfaatkan seluruh jenis media dan putar balik informasi yang muncul. Buat seakan-akan informasi yang saat ini tersebar adalah berita palsu atau hoaks. Kita harus menghindari kericuhan yang lebih parah.”


“Laksanakan.” Sahut Sarwa.


“Maaf, tapi apa artinya perjanjian darah.” Tanya Dirga.


Julia menjawab pertanyaan Dirga dengan menjelaskan secara singkat eksistensi bangsa Jinn. Julia melakukan itu karena dia yakin anggota project lain belum mengetahui cerita ini.


“Seperti yang kalian tahu, bangsa Jinn terbagi menjadi dua kubu. Bangsa Jinn yang ingin menghancurkan manusia di bawah kekuasaan Azazil, dan bangsa Jinn yang ingin melindungi manusia di bawah kekuasaan Asoka.”


“Agar tidak terjadi kebingungan, aku akan memanggil mereka dengan sebutan yang berbeda. Kita bisa menggunakan kata ‘iblis’ untuk mengidentifikasi keberadaan Bangsa Jinn di bawah kekuasaan Azazil. Itulah kenapa dia dijuluki King of Demon, Sang Raja Iblis. Sedangkan untuk bangsa Jinn di bawah kekuasaan Asoka, kita bisa sebut mereka ‘Jinn’, itulah kenapa Asoka dijuluki King of Jinn, Sang Raja Jinn.”


“Sejak jaman dulu para iblis selalu berupaya untuk membinasakan peradaban manusia. Banyak cara telah mereka lakukan. Dari sekedar memberi hasutan, hingga melakukan kerusakan seperti yang terjadi beberapa tahun silam. Iblis merupakan makhluk yang sangat jahat dan berbahaya. Tapi sebenarnya ada makhluk yang jauh lebih berbahaya dan perlu kita waspadai, yakni manusia yang membuat perjanjian dengan para iblis.”


“Manusia memiliki banyak motif dalam membuat perjanjian dengan iblis. Sebagian besar dilakukan hanya demi mendapatkan kekuasaan dan harta yang melimpah ruah. Tapi mereka tidak menyadari konsekuensi yang akan mereka terima. Kehidupan mewah yang mereka dapatkan hanyalah semu dan akhir yang menyengsarakan telah menanti mereka.”


“Perjanjian biasa membutuhkan beberapa tumbal, tapi tidak dengan perjanjian darah. Mereka hanya perlu menjalankan misi yang diberikan oleh para iblis, yaitu menghancurkan peradaban manusia.”


Darma mengerutkan dahi dan menginterupsi penjelasan Julia, “Itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ada manusia yang ingin menghancurkan kaumnya sendiri?”.


“Keberadaan Indra dan Lisa adalah contoh terbaik untuk menjawab pertanyaanmu itu.” Jawab Julia. Darma pun terdiam.


Kemudian Julia kembali melanjutkan penjelasannya.


“Hal yang paling mengerikan dari adanya perjanjian darah adalah asimilasi energi.”


“Apa maksudnya itu?” Celetuk Ayu.


“Manusia dapat menggunakan kekuatan iblis yang melakukan perjanjian darah dengannya.” Ujar Dirga lirih.


“Tepat sekali. Perjanjian darah merupakan strategi yang hebat untuk menutupi kelemahan para iblis yang tidak dapat masuk ke dunia manusia dengan bebas.” Sahut Julia.


“Seberapa jauh manusia dapat menggunakan kekuatan iblis?” Tanya Dirga.


“Tergantung seberapa kuat iblis dan kecocokan energi dengan agitatornya.”


“Agitator?” Tanya Dirga.


“Agitator adalah sebutan bagi manusia yang telah melakukan perjanjian darah dengan iblis.”


“Bagaimana dengan Jinn di bawah kekuasaan Asoka? Apa mereka juga bisa membuat perjanjian darah dengan manusia?”

__ADS_1


“Pada dasarnya semua bangsa Jinn dapat melakukan itu, hanya saja Jinn di bawah kekuasaan Asoka telah mendapat stigma khusus yang membuat mereka tidak dapat melakukan perjanjian dengan manusia. Perjanjian antara Jinn dan manusia dapat membuat manusia tersesat dan menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.”


“Lalu bagaimana caranya Yuna bisa mendapatkan kekuatan Kanjeng Ratu Kidul?” Tanya Dirga.


“Kamu sangat cermat. Stigma itu memang membatasi mereka agar tidak dapat membuat perjanjian apapun, tapi mereka tetap bisa membantu manusia atas dasar keinginan mereka sendiri. Sehingga mereka tidak membutuhkan timbal balik apapun. Tapi Asoka memiliki prinsip yang lebih menarik, dari pada membantu manusia dengan meminjamkan kekuatan bangsa Jinn, akan lebih baik jika membantu manusia untuk mengembangkan kekuatan mereka sendiri.”


“Aku mengerti.”


Setelah diskusi singkat itu, Julia meminta salah satu Pandawa untuk menunjukkan Teknik Fusi. Teknik itu digunakan untuk menggabungkan dua energi yang saling berlawanan.


Pada dasarnya setiap manusia memiliki dua jenis energi yang saling bertolak belakang. Pertama adalah energi positif yang saat ini digunakan dan energi negatif yang belum dibangkitkan. Energi negatif sangat sulit dikendalikan, terutama jika berbenturan dengan energi positif.


Jika seseorang yang telah membangkitkan energi negatif gagal menyelaraskannya dengan energi positif, maka akan mengakibatkan kebocoran CORE dan menyebabkan kematian. Tapi jika penyelarasan berhasil dilakukan, maka kekuatan yang saat ini dimiliki akan berlipat ganda.


Lalu Bara mendemonstrasikan proses fusi antara kedua energi tersebut. Proses itu nampak sederhana, Bara hanya duduk bersila dan melakukan teknik pernapasan dasar. Melalui teknik pernapasan itu, energi CORE menyelimuti sekujur tubuhnya. Itu adalah energi positif. Tidak lama kemudian, energi lain muncul secara perlahan dan mengacaukan aliran energi sebelumnya. Itu adalah energi negatif.


Aliran energi negatif terlihat sangat kasar. Warna energinya pun jauh lebih gelap. Perlahan kekuatan energi negatif melahap energi positif dan kini sekujur tubuh Bara dipenuhi dengan aliran energi negatif. Tapi tidak lama kemudian energi positif kembali muncul dan berusaha mendominasi. Kedua energi tersebut saling berbenturan dan semakin meluap. Benturan energi itu menghasilkan tekanan yang luar biasa hebat hingga menyebabkan beberapa orang jatuh terkapar karena tidak kuasa menahan besarnya tekanan yang dia rasakan.


“Fusion.” Ucap Bara lirih. Seketika kedua energi itu bergabung dan membentuk aliran energi baru yang jauh lebih kuat. Energi positif menyelimuti tubuh bara dan energi negatif berputar di sekitar aliran energi positif.


“Lindungi tubuh kalian dengan energi CORE.” Ucap Bara. Mendengar kalimat itu, semua orang segera mengalirkan energi CORE untuk memperkuat dan melindungi tubuh mereka masing-masing.


Setelah semua orang melakukan perintah Bara, dia pun memancarkan sedikit energinya ke seluruh penjuru aula. Pancaran energi itu menghempaskan semua orang kecuali Julia dan Para Pandawa. Beberapa orang bahkan sampai memuntahkan darah segar akibat mengalami luka dalam.


“Gila, pancaran energinya saja dapat menghempaskan kami dengan begitu mudahnya.” Pikir Dirga.


“Itu adalah Teknik Fusi. Kalian semua, termasuk para penanggung jawab project harus menguasai teknik ini dalam kurun waktu satu minggu saja. Aku dan Para Pandawa akan memandu langsung pelatihan kali ini.”


“Maaf Nona Julia, bagaimana dengan rencana kita sebelumnya?” Tanya Ayu.


“Aku minta maaf, Ayu. Rencana itu akan kita tunda dulu.” Jawab Julia.


“Julia, aku pernah melihat teknik yang mirip dengan apa yang baru saja Tuan Bara tunjukkan.” Ucap Dirga.


“Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu Dirga.” Julia menanggapi perkataan Dirga dengan senyuman di wajahnya. Dirga pun membalas senyuman Julia.


“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.” Tanya Galih.


“Galih, coba kamu ingat-ingat bagaimana aliran energi yang dimiliki Rama.” Pinta Dirga.


Seketika Galih, Yuna, Ayu bahkan Darma terkejut mendengar perkataan Dirga. Mereka baru menyadari kalau sejak awal aliran energi milik Rama memang sedikit berbeda.


“Energi hitam pekat yang melimpah diselimuti dengan energi petir yang menyambar.” Ucap Darma lirih.


“Tepat sekali. Sejak awal Rama telah membangkitkan kedua jenis energi di dalam tubuhnya. Tidak hanya itu, kedua energi tersebut telah menyatu sepenuhnya. Lalu coba kalian bandingkan energi Rama dengan energi Bara saat ini.” Ujar Julia.


“Energi milik Tuan Bara tidak memvisualisasikan kemampuan yang dia miliki. Sedangkan energi milik Rama justru menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan petir.” Jawab Dirga.


“Luar biasa.” Puji Julia.


“Apa yang saat ini Bara tunjukkan adalah bagaimana cara untuk melakukan Teknik Fusi. Sedangkan apa yang dilakukan Rama adalah bagaimana cara memanfaatkan Teknik Fusi dalam pertarungan sesungguhnya. Untuk dapat melakukan apa yang Rama lakukan, kalian harus sudah sangat mahir dalam mengendalikan Teknik Fusi.”


Kali ini perkataan Julia tidak membuat anggota project wanara terkejut. Mereka telah sangat menyadari tentang seberapa hebat kemampuan yang Rama miliki.


***

__ADS_1


__ADS_2