
“Pandawa Pertama, Yasa Dameswara siap menghadap.”
“Pandawa Kedua, Barata Sujiwa siap menghadap.”
“Pandawa Ketiga, Arya Jayagiri siap menghadap.”
“Pandawa Keempat, Nara Winayasa siap menghadap.”
“Pandawa Kelima, Sarwa Palaka siap menghadap.”
Para Pandawa berlutut dengan penuh rasa hormat di hadapan Julia.
“Terima kasih atas sambutan kalian. Berdirilah, ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan.” Ucap Julia.
Julia berjalan menuju area diskusi di ruangan tersebut diikuti dengan Para Pandawa di belakangnya. Ternyata enam buah kursi di tempat itu diperuntukkan bagi Julia dan Lima Pandawa.
“Sarwa, teruskan penjelasan mu tadi yang sempat tertunda.” Ucap Julia kepada Sarwa. Ternyata petugas kebersihan yang membantu Julia mencarikan informasi tadi adalah salah satu dari Lima Pandawa. Kini dia nampak rapi dengan pakaian formal berwarna hitam.
“Orang ke 30 yang seharusnya menerima undangan kita adalah anak Direktur Perusahaan Bintang Jaya. Tapi karena masalah kejiwaan, dia tidak dapat mengikuti project ini.”
“Orang itu mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan sekitar satu minggu sebelum batas akhir penerimaan anggota project.”
“Menurut data deskripsi yang kami ambil dari Rumah Sakit Jiwa tempat orang itu dirawat, gangguan yang dialaminya berupa halusinasi dan delusi. Seringkali orang ini berteriak-teriak dalam tidurnya. Sepertinya dia juga mengalami mimpi buruk yang mengerikan sehingga dia pernah tidak tidur selama beberapa hari dan tanpa sengaja tertidur karena terlalu lelah. Saat dia tertidur, teriakan kembali dia keluarkan.”
“Secara fisiologi, orang ini terlihat mudah cemas. Tingkat paranoidnya sangat tinggi. Tidak pernah sekalipun dia terlihat berbicara dengan pasien gangguan kejiwaan lain. Pada umumnya, setiap pasien akan berusaha mencari teman untuk bercerita, walaupun memang topik pembicaraan yang dilakukan sangat abstrak. Tapi orang ini lebih memilih untuk mengurung diri.” Ujar Sarwa mengakhiri penjelasannya.
“Tolong ceritakan lebih jauh tentang halusinasi dan delusi yang dia alami.” Pinta Julia.
“Bagian ini memang yang paling menarik, nona.”
“Orang ini mendengar teriakan orang-orang yang sedang disiksa di neraka. Tidak hanya satu atau dua orang saja, tapi dia mendengar suara jutaan orang menjerit kesakitan. Dia juga bercerita tentang Raja Iblis. Dia mengatakan bahwa salah satu utusan Raja Iblis menghampiri dan memintanya membuang undangan keikutsertaan project. Anehnya, utusan Raja Iblis juga memerintahnya untuk membuang undangan itu di tempat dan waktu yang telah ditentukan.”
“Mulanya orang ini tidak peduli dan beranggapan bahwa halusinasi itu muncul karena kondisinya yang sedang sangat lelah. Terlebih lagi dia memang sangat menantikan undangan keikutsertaan project ini. Tapi semakin dia mengabaikan hal tersebut, semakin intens gangguan yang dia terima. Kini tidak hanya suara jeritan dan suara utusan raja iblis saja yang dia dengar, melainkan penampakan beberapa makhluk mengerikan juga tiba-tiba muncul mengganggunya.”
“Gangguan yang diterimanya semakin intens, tidak hanya saat dia terjaga, tapi juga di dalam mimpinya. Makhluk-makhluk mengerikan datang di mimpinya secara bergantian setiap malam. Bersama dengan gangguan-gangguan itu, suara utusan Raja Iblis juga selalu dia dengar. ‘Kamu akan terus tersiksa jika tidak patuh. Kami akan mengganggu mu bahkan hingga kerak neraka sekalipun’. Seperti itulah kira-kira kalimat yang disampaikan utusan Raja Iblis.”
“Orang ini masih berusaha untuk bertahan. Dia mencari bantuan beberapa pemuka agama. Dia telah menemui pemuka agama dari seluruh agama yang dia ketahui, tapi gangguan yang dia alami tidak kunjung menghilang.”
“Tepat di malam Rama menemukan undangan keikutsertaan project, orang tadi ditemukan hanyut di sungai kota. Untungnya ada orang yang melihat dan segera menolongnya. Syukurlah nyawa orang ini masih dapat diselamatkan. Saat terbangun, orang ini langsung gemetar ketakutan dan meringkuk di sudut ruangan. Dia terus meracau kata-kata yang sama.”
“Apa yang dia katakan?” Tanya Nara penasaran.
“ ’Aku patuh pada Ifrit dan Sang Raja Iblis.’ Itu yang dia katakan.”
Julia dan Pandawa lain terlihat sangat terkejut dengan kalimat tersebut.
“Kurang ajar…. Berani-beraninya makhluk rendahan itu mencampuri urusan kita.” Teriak Yasa dengan wajah merah karena kesal.
“Tenanglah Yasa.” Ucap Julia.
__ADS_1
“Saya minta maaf, Nona. Saya sangat benci mendengar nama makhluk itu.” Jawab Yasa.
“Apa kamu punya informasi tentang Rama?” Tanya Julia kepada Sarwa.
“Izinkan saya menjelaskan informasi yang anda tanyakan, Nona. Tadi Sarwa meminta bantuan saya untuk mencari informasi tersebut.” Ucap Nara.
“Terima kasih. Coba ceritakan….” Pinta Julia.
“Baiklah Nona….” Sahut Nara.
“Rama Ghuntara adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan di Panti Asuhan Bintang Fajar. Suatu pagi, petugas panti asuhan menemukannya sedang tertidur didalam ranjang kecil tepat di depan pintu panti asuhan. Didalam ranjang itu terdapat secarik kertas bertuliskan namanya saat ini.”
“Di panti asuhan itu Rama tidak memiliki satupun teman karena anak-anak disana merasa takut kepada Rama. Hal itu bermula saat Rama dan salah satu anak sedang berkelahi memperebutkan mainan, dan tanpa sengaja Rama mendorong anak itu. Tenaga yang dimiliki Rama tidak seperti anak seusianya. Dorongan yang dilakukan Rama membuat anak tadi terpental dan membentur tembok dengan cukup keras. Anak itu mengalami luka serius hingga harus segera dilarikan ke rumah sakit. Untungnya nyawa anak itu masih tertolong. Sejak saat itu, anak-anak lain melihat Rama dengan tatapan tajam yang dipenuhi dengan ketakutan bercampur amarah. Tidak satu anak pun bersedia menjadi temannya.”
“Meskipun dikucilkan, Rama kecil tidak lantas menjadi anak yang murung dan pendiam. Dia tetap ceria dan selalu bersemangat. Bahkan dia memiliki nilai prestasi yang sangat baik dibandingkan dengan anak-anak lain. Karena karakter dan kemampuan kognitifnya itu, salah satu pemilik perusahaan ternama yang memang belum memiliki anak satupun berkeinginan mengadopsi Rama. Sejak saat itu dia menjadi putra dan pewaris tunggal orang itu.”
“Perusahaan apa?” Tanya Julia.
“Pemilik perusahaan yang merupakan mitra utama kita dan menjadi investor tunggal project yang sedang kita jalankan saat ini, nona.” Jawab Nara.
“Kertarajasa Group?” Tanya Julia.
“Tepat sekali, nona. Rama adalah anak angkat Kertarajasa.” Jawab Nara.
“Lanjutkan ceritamu.” Pinta Julia dengan sangat serius.
“Beberapa tahun yang lalu, Kertarajasa Group mengalami konflik internal dan membuat peta kepemimpinan berubah. Kertarajasa tidak lagi menjadi pemilik perusahaan. Sejak saat itu kehidupan keluarga Kertarajasa hancur. Tidak lama kemudian Kertarajasa sendiri meninggal karena serangan jantung.”
“Apa ada cerita lain yang berkaitan dengan kemampuan Rama?” Tanya Julia.
“Tidak, nona. Rama menjalani kehidupan layaknya orang-orang pada umumnya.” Jawab Nara.
“Terima kasih informasinya.” Ucap Julia.
“Alasan aku mencari informasi tadi adalah karena adanya kekuatan aneh di dalam tubuh Rama. Hal itu berkaitan dengan energi CORE yang dimilikinya.”
“Apa kalian tahu sesuatu tentang energi yang sangat besar dan dapat menyerap kekuatan Black Onyx Stone?” Tanya Julia.
“Black Onyx Stone adalah batu berharga yang hanya bisa kita dapatkan dari dunia sana. Tidak mungkin ada manusia yang dapat menyerap energi Black Onyx Stone, nona.” Jawab Arya.
“Betul sekali, manusia biasa tidak akan mampu menyerap kekuatan energi Black Onyx Stone. Tapi bagaimana jika orang itu bukan manusia biasa?” Ucap Bara yang membuat seluruh Pandawa tersentak.
“Jika bukan manusia, lalu apa? Kita saja hanya bisa memanfaatkan kekuatan batu itu untuk meningkatkan kemampuan CORE yang kita miliki.” Jawab Arya atas pertanyaan Bara.
Bara tidak menanggapi pertanyaan Arya. Dia hanya menatap tajam mata Arya. Tatapan yang menyiratkan sesuatu. Tatapan Bara membuat Arya tersadar akan sesuatu hal yang sangat sulit untuk di percaya.
“Tidak mungkin.” Ucap Arya lirih.
Sepertinya seluruh Pandawa juga mengetahui maksud dari pembicaraan yang dilakukan oleh Bara dan Arya. Para Pandawa menundukkan kepala dan terlihat sangat cemas.
__ADS_1
“Situasi macam apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti?” Tanya Julia.
“Kami mungkin tahu apa yang sedang terjadi, nona. Tapi kami tidak dapat memberi tahu anda sekarang. Kami perlu melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan hal ini. Kami harap anda mengerti, nona.” Ucap Yasa dengan sangat sopan.
“Baiklah jika begitu. Aku percayakan hal ini kepada kalian.” Ucap Julia dengan sedikit rasa kecewa.
“Pertemuan kita akhiri. Aku harus segera kembali ke Puncak Mandalawangi. Jika ada informasi terbaru atau sesuatu yang bersifat mendesak, jangan sungkan hubungi aku. Terima kasih untuk bantuan kalian hari ini. Aku pergi dulu.” Ucap Julia sambil berdiri, menundukkan kepala dan pergi meninggalkan ruangan Para Pandawa.
“Selamat jalan, nona.” Ucap Para Pandawa sambil memberi penghormatan.
Saat Julia keluar pintu, sekretaris telah menunggunya dengan cemas.
“Kenapa lama sekali Julia? Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?” Tanya sekretaris dengan cemas.
“Tenanglah, nona. Syukurlah aku baik-baik saja.” Jawab Julia sambil tersenyum.
“Syukurlah, lain kali kamu harus lebih hati-hati Julia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Para Pandawa memarahi mu tadi.”
“Terima kasih telah mengkhawatirkan ku. Aku pergi dulu ya.” Jawab Julia.
Setelah itu Julia kembali ke Puncak Mandalawangi. Darma sangat senang melihat Julia kembali dengan selamat. Sadari tadi Darma sangat khawatir dengan keadaan Julia. Julia telah dia anggap adiknya sendiri.
“Bagaimana keadaan mu?” Tanya Darma.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih.” Jawab Julia.
“Apa kamu mendapatkan sesuatu?”
“Aku menemukan informasi yang menarik, tapi Para Pandawa perlu melakukan investigasi lebih lanjut. Jadi kita hanya perlu menunggu.” Ujar Julia.
“Kamu benar-benar menemui Para Pandawa? Melihat mereka saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding, aku tidak menyangka kalau kamu benar-benar berani menemui mereka.” Ucap Darma.
“Tentu saja, level kita kan memang berbeda.” Ucap Julia dengan sedikit bergurau.
“Tidak sopan!” Gerutu Darma diikuti dengan tawa kecil Julia.
“Bagaimana latihan siang ini?” Tanya Julia.
“Apa kamu meragukan ku?”
“Tidak. Kamu orang terbaik yang pernah ku temui.” Jawab Julia.
“Tentu saja.” Ujar Darma dengan bangga.
“Persiapkan diri mu untuk latihan malam ini.” Sambung Darma.
“Baiklah. Terima kasih Darma.” Ujar Julia.
Julia pergi meninggalkan Darma untuk bersiap-siap melanjutkan latihan pengendalian CORE di malam hari.
__ADS_1
Darma tahu bahwa telah terjadi sesuatu di kantor Pandawa Group. Ekspresi wajah Julia menyiratkan banyak sekali kebingungan. Jarang sekali Darma melihat Julia seperti ini. Nampaknya masalah yang berkaitan dengan Rama lebih rumit dari yang dibayangkan.
***