Project Wanara

Project Wanara
Chapter 18. Pertarungan Sengit


__ADS_3

“Mulai….!”


Buaaaaak!


.


.


.


.


Yuna tergelatak di tanah.


Sesaat setelah pertarungan dimulai, Dirga memperkuat tangan dan kakinya serta memanfaatkan ketangkasan tubuhnya untuk memberikan serangan kejutan kepada Yuna.


Yuna yang tidak menyangka hal tersebut, gagal untuk mempertahankan dirinya di waktu yang tepat sehingga pukulan telak melayang ke perut Yuna dan membuatnya terdorong cukup jauh kebelakang.


Julia yang melihat hal tersebut dengan sigap menghampiri Yuna untuk melihat kondisinya.


“Apa nona baik-baik saja?” tanya Julia yang melihat Yuna sedang memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Syukurlah pukulan itu tidak membuat Yuna kehilangan kesadaran.


“Apa anda masih dapat melanjutkan pertarungan?” Julia kembali memberi pertanyaan.


“Iya Julia, aku masih bisa bertarung” jawab Yuna dengan sedikit terbata-bata sambil berusaha kembali berdiri untuk melanjutkan pertarungan.


Julia kembali ke luar area agar Yuna dan Dirga dapat melanjutkan pertarungan mereka.


“Apa kamu yakin Yuna?” tanya Dirga yang juga khawatir dengan kondisi Yuna.


“Jangan sungkan-sungkan.” jawab Yuna dengan tegas.


“Baiklah jika itu mau mu.” ucap Dirga sambil kembali bergerak melancarkan serangan.


Syut… Syut… Pukulan Dirga mengarah ke wajah Yuna. Dengan sigap Yuna mengantisipasi dan menghindari pukulan-pukulan tersebut. Sepertinya Yuna sudah mulai terbiasa dengan kecepatan Dirga.


Tas… Tendangan keras dilakukan oleh Dirga namun berhasil ditangkis oleh Yuna. Dirga bergerak mundur sejenak untuk mencari celah serangan.


Hal tersebut dimanfaatkan oleh Yuna untuk memberikan serangan balik. Tidak pikir panjang, Yuna mengunakan energinya untuk menyerang Dirga. Kecepatannya sungguh diluar perkiraan Dirga.


Buk… Buk… Buk… Beberapa pukulan keras berhasil dilayangkan tepat di wajah Dirga. Tidak hanya pukulan, beberapa tendangan keras berhasil masuk dan menghantam tubuh Dirga. Serangan bertubi-tubi terus dilancarkan. Dirga berusaha keras untuk menghindari serangan tersebut namun itu bukan hanya serangan yang kuat, namun juga sangat cepat.


Berkali-kali Dirga berusaha melepaskan diri dan memberikan serangan balik tapi sia-sia. Semua serangan Dirga berhasil dihindari bahkan dihentikan. Tidak ada satupun serangannya yang berhasil melukai Yuna. Sedangkan disisi lain, semua serangan Yuna dilancarkan dengan sangat efektif.


Itu adalah kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Dirga. Dia mulai kebingungan. Disela-sela kebingungannya itu, Dirga merasa ada sesuatu yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, serangan yang diberikan Yuna terlihat melambat dan tidak secepat sebelumnya.


“Apa dia sudah mulai lelah?” pikir Dirga sambil terus berusaha menghindari pukulan dan tendangan Yuna.


“Tidak, sepertinya bukan karena itu. Intensitas serangan yang dia lakukan masih sama dan pergerakan tubuhku juga sama sekali tidak melambat” pikirnya lagi.


“Apa ini?” Dirga terkejut.


Dirga dapat melihat semua arah serangan yang dia terima. Pukulan dan tendangan yang diberikan oleh Yuna membentuk sebuah lintasan serang yang dapat dengan jelas dilihat oleh Dirga. Tidak hanya lintasan gerak, namun juga lintasan arah serang. Karena adanya lintasan tersebut, Dirga dapat membuat prediksi arah serangan Yuna bahkan sebelum Yuna melancarkan serangannya.


Kali ini, satu per satu serangan Yuna dapat dihindari dengan sangat mudah. Yuna agak sedikit terkejut karena Dirga yang sedari tadi berhasil dia serang kini berhasil menghindari semua serangannya. Keterkejutan Yuna membuat dirinya kehilangan fokus dan momentum serangan.


Yuna mempercepat serangan dan mengalirkan energi lebih besar pada pukulannya.


Syut… Dirga berhasil menghindar dan mencengkeram tangan Yuna. Pukulan keras dilancarkan Dirga ke arah tulang rusuk Yuna yang terbuka lebar.


Arggh…. Yuna berteriak kesakitan namun menolak untuk menyerah. Pukulan telak juga berhasil Yuna berikan ke wajah Dirga hingga terjatuh dan melepaskan cengkeraman tangannya.


Yuna bergerak mundur untuk mengambil nafas panjang.

__ADS_1


Huh… Huh…. Huh…. Nafas Yuna dan Dirga tersengal-sengal. Hal itu menandakan kondisi fisik mereka sudah mulai menurun.


Dirga kembali berdiri. Mereka berusaha menenangkan diri dan bersiap untuk serangan berikutnya.


Terlihat Dirga mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya. Dirga menyadari bahwa dia telah berhasil mendapatkan sebuah kemampuan khusus yang berkaitan dengan matanya. Selain dari pergerakan lawan nampak lambat di matanya, dia juga mampu melihat lintasan gerak lawan dan memprediksi arah serang selanjutnya.


Kemampuan lain yang dia sadar telah didapatkannya adalah kemampuan berfikir analitik. Dirga mampu melihat opsi-opsi serangan yang dapat dia lakukan serta persentase keberhasilannya sehingga dia dapat meminimalisir energi yang digunakan dan mengoptimalkan efektivitas serangan. Kemampuan-kemampuan yang Dirga dapatkan


berkaitan dengan kebiasaannya membaca Novel. Seseorang yang senang membaca biasanya memiliki fokus yang lebih tinggi. Selain itu, kebiasaan membaca akan membuat seseorang mampu memahami konteks bacaannya dengan sangat cepat tanpa harus membaca teks secara keseluruhan. Kemampuan itu disebut Skim Reading.


Wush… Wush….


Yuna bergerak cepat menuju arah kiri Dirga dan melompat untuk memberikan tendangan keras dengan memanfaatkan daya dorong dan gaya gravitasi sehingga dapat meningkatkan daya hancur yang diberikan.


Dirga hanya membuat langkah kecil dan dengan tenang menghindari serangan tersebut.


Bruaaaak…. Duammm…. Tendangan Yuna menghantam tanah dengan keras sehingga membuat tanah disekitar tendangannya hancur. Tendangan tersebut juga menghasilkan suara dentuman yang kencang.


“Gila…. Apa dia benar-benar seorang wanita?” Pikir Galih yang melihat Yuna melakukan serangan seperti itu.


Mengetahui serangannya gagal, Yuna membuat langkah antisipatif dengan memperlebar jarak karena khawatir Dirga membuat serangan balasan. Yuna melihat kearah Dirga tadi berdiri namun dia terkejut saat melihat Dirga telah menghilang.


Yuna merasakan energi menakutkan datang dari arah belakangnya. Dia pun menoleh dan terkejut melihat aura besar yang terpancar dari tubuh Dirga. Dirga memegang sebuah benda di masing-masing tangannya. Itu adalah kerambit.


Dirga menatap Yuna dengan tajam sambil tersenyum dingin. Mata Yuna terbelalak karena tiba-tiba Dirga kembali menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul tepat di depan wajahnya. Kedua kerambit yang dipegang Dirga saat ini mengarah tepat ke mata Yuna. Yuna mematung dan tidak dapat menghindari serangan tersebut.


Arrrrrgggghhhhh……. Yuna memejamkan mata dan berteriak sekencang-kencangnya karena rasa takut yang teramat sangat.


Braaaak…… Dirga mendapatkan serangan telak yang membuatnya terpental jauh dan jatuh terguling-guling di tanah. Dirga masih terus meluncur dan terhenti tepat di pohon besar dimana anggota lainnya berdiri. Dirga mengalami luka dalam yang sangat parah. Hal itu ditunjukkan dari darah hitam yang keluar dari mulutnya. Namun hal itu tidak membuat Dirga kehilangan kesadarannya. Tepat sebelum Dirga menerima serangan, dia berhasil melindungi tubuhnya dengan energi CORE. Jika saja hal tersebut tidak dia lakukan, nyawanya akan terancam.


“Dirga….!” Teriak Darma diikuti dengan tatapan mata penuh kekhawatiran dari anggota tim lain.


Dirga berusaha keras untuk melihat ke arah Yuna. Baru saja Dirga dapat memastikan kemenangannya, tapi tiba-tiba sesuatu dengan kekuatan yang luar biasa menghantam tubuhnya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang menyerangnya tadi.


Tidak hanya Dirga, semua orang ditempat itu sangat terkejut dengan apa yang sedang mereka saksikan.


Saat itu adalah tengah hari, matahari bersinar sangat terik. Walaupun di puncak gunung, suhu di area itu cukup hangat. Tapi sesuatu yang diluar nalar sedang mereka saksikan. Lapangan tempat mereka bertarung berubah menjadi sebuah kutub es. Butiran-butiran salju bertebaran di area tersebut sehingga membuat pepohonan dengan daun hijau berubah menjadi putih.


Hal yang lebih mengejutkan adalah terdapat banyak stalagmit tepat didepan tubuh Yuna. Stalagmit tersebut memiliki ujung yang sangat runcing dan kokoh. Seperti sebuah benteng tangguh yang melindungi tubuh Yuna.


“Gila… aku diserang menggunakan stalagmit seperti itu secara tiba-tiba? Syukurlah aku sempat memperkuat pertahanan tubuh. Jika tidak, aku pasti sudah mati” pikir Dirga.


Yuna sendiri tidak menyadari hal tersebut. Saat Yuna membuka mata, dia sama terkejutnya dengan anggota tim lain. Dia berpikir kalau dia akan kalah dan mati oleh serangan yang dilancarkan Dirga tadi. Namun ternyata rasa takut akan kematian itu mendorong kekuatan besar keluar dari tubuhnya dan menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa.


Yuna melihat kearah Dirga yang tergeletak di bawah pohon bersama anggota tim lain. Dia kembali dikejutkan dengan kondisi Dirga saat ini.


“Apa itu ulahku?” pikir Yuna dengan perasaan khawatir.


Dirga masih memiliki semangat juang. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri.


“Hentikan Dirga… Ini sudah cukup” teriak Darma.


“Betul tuan, hentikan! Ini bukan pertarungan hidup dan mati..!” Julia juga ikut berteriak karena merasa khawatir melihat Dirga.


“Berhenti bodoh…!” Rama juga berusaha menghentikan Dirga. Sedangkan Galih dan Ayu tidak dapat banyak berkomentar. Mereka sangat terkejut hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


Rama, Darma dan Julia melihat Dirga masih ingin terus berjuang sehingga tidak satupun dari mereka yang berani menghentikan Dirga secara paksa. Mereka menyadari bahwa itu adalah harga diri seorang pejuang.


Tap… Tap… Tap… Dirga kembali mendekati Yuna secara perlahan dan tertatih-tatih. Secara kasat


mata, sangat jelas terlihat bahwa Dirga tidak akan lagi mampu melanjutkan pertarungan. Semangat juangnya itulah yang mampu membuat dia bertahan. Dirga mengeluarkan sisa energi yang dia miliki untuk membentuk dua buah kerambit dan dengan penuh usaha membuat kuda-kuda menyerang.


Yuna meneteskan air mata saat melihat kondisi Dirga. Dia juga sangat tersentuh dengan semangat juang yang diperlihatkan oleh Dirga.

__ADS_1


“Aku menyerah….” Ucap Yuna dengan air mata yang masih mengalir.


“Apa katamu..!??” tanya Dirga dengan tatapan dingin.


“Aku menyerah….” Yuna mengulangi kata-katanya sambil menyeka air matanya.


“Jangan remehkan aku Yuna…!”  Teriak Dirga.


Uhuk… Uhuk… Huaek… Dirga terbatuk dan mengeluarkan darah hitam.


“Aku tidak meremehkan mu Dirga. Justru kamu membuatku kagum. Aku bahkan tidak tahu


bagaimana kamu bisa terluka seperti ini. Aku kalah.” Ucap Yuna sambil tersenyum dengan tetap mengalirkan air mata.


Perkataan Yuna menyentuh hati Dirga dan membuatnya sedikit tersanjung.


Bruaaaak…. Dirga kehilangan kesadaran dan seketika tubuhnya terjatuh di tanah yang berselimut salju.


Julia kembali bergerak dengan sangat cekatan. Dia mengeluarkan akar merah muda yang melilit tubuh Dirga dengan lembut untuk membawanya kebawah pohon. Kemudian Julia juga membuat kepompong pelindung untuk mengobati luka-luka yang diderita oleh Dirga.


“Dirga mengalami luka dalam yang sangat parah. Sangat luar biasa baginya untuk tetap bisa berdiri dan mengeluarkan energi dengan luka seperti ini” ucap Julia saat berusaha mengobati Dirga menggunakan kepompongnya.


“Apa Dirga bisa disembuhkan Julia…?!” tanya Yuna.


“Tenanglah, Kamu sedang berbicara dengan orang terkuat disini” ucap Darma kepada Yuna.


“Nona Yuna tidak perlu khawatir, saya akan mengerahkan semua kemampuan yang saya miliki untuk membuat tuan Dirga sembuh seperti semula” ucap Julia berusaha menenangkan Yuna. Julia sangat mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh Yuna.


“Ini semua salahku” ujar Yuna dengan kembali meneteskan air mata.


“Saya tahu apa yang Nona Yuna pikirkan. Tenanglah…..” Julia memeluk Yuna untuk membuatnya merasa lebih baik. Pelukan Julia terasa sangat hangat. Hatinya yang gusar perlahan mulai tenang.


Ternyata Julia juga menggunakan energinya kepada Yuna. Energi yang dimiliki oleh Julia tidak hanya dapat menyembuhkan luka-luka fisik, namun juga luka mental.


“Nona Yuna duduklah terlebih dahulu. Saya sudah menyiapkan air hangat dan kudapan ringan untuk membantu menenangkan diri anda” ucap Julia.


“……….” Rama, Galih dan Ayu terkejut.


“Julia… Kapan kamu menyiapkan semua ini?” tanya Rama dengan wajah terkejut. Pertanyaan Rama hanya dijawab dengan senyuman oleh Julia.


“Hey Yuna…. Tolong keluarkan es batu dong.” Ucap Rama kepada Yuna sambil menyodorkan segelas air kepadanya.


Pletak…. Darma kembali menjitak kepala Rama.


Apa yang dilakukan oleh Rama tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghibur Yuna. Benar saja, Yuna tersenyum dengan tingkah laku Rama.


“Kita akan istirahat sejenak dan memulai pertarungan antara Galih dan Ayu sesaat lagi.” ucap Darma.


“Maaf Pak Darma, apa kita akan bertarung ditengah salju seperti ini?” tanya Galih sambil menunjuk lapangan yang masih diselimuti salju.


“Eh…” Darma tersentak karena lupa bahwa lapangan masih diselimuti salju.


“Ehmmmm…. Itu adalah tantangan untuk kalian” ujar Darma dengan tetap berusaha terlihat berwibawa.


***


-----------------------------------------------


Kerambit adalah pisau genggam kecil berbentuk melengkung yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia.


Kerambit seringkali digunakan pada seni bela diri Silat. Bentuk kerambit sendiri terinspirasi dari cakar Harimau yang memang banyak berkeliaran di hutan Sumatera kala itu. Selain di Indonesia, kerambit juga merupakan alat bela diri yang cukup terkenal di Malaysia dan Filipina serta beberapa negara Asia tenggara lainnya.


-----------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2