
Fakta baru tentang Rama yang mewarisi darah Asoka, King of Jinn, membuat Darma dan seluruh anggota timnya tercengang. Mereka tidak habis pikir, bagaimana bangsa Jinn dapat memiliki anak keturunan dari bangsa manusia. Tapi mereka semua memilih untuk diam dan tidak mempertanyakan apapun.
Di arena pertandingan, Indra terus menerus menembakkan peluru energinya. Tapi tidak satu serangan pun berhasil menjangkau Rama. Indra mulai kehabisan energi dan memutuskan mengubah pola serangan. Hujan peluru berhenti dan bola energi yang sangat besar dan padat mulai terbentuk di telapak tangannya. Indra mencoba melakukan serangan tunggal. Energi yang semula tersebar ke seluruh peluru, kini berkumpul di satu titik sehingga daya hancur yang diciptakan menjadi sangat dahsyat.
Besarnya energi yang dikeluarkan membuat arena pertandingan bergetar dan menciptakan hembusan angin yang cukup kencang. Serpihan-serpihan batu dari arena yang hancur pun ikut beterbangan.
“Coba terima ini…!” Teriak Indra sambil menembakkan bola energi itu.
Meskipun besar, bola energi dapat melesat dengan sangat cepat. Tapi Rama melakukan hal yang cukup gila. Alih-alih memperkuat pancaran energinya agar dapat mendestruksi serangan yang dilakukan Indra, Rama justru menghilangkan pancaran energi tersebut dan menghentikan bola energi besar itu hanya dengan satu tangan.
Akibat benturan yang terjadi, bola energi itu berputar dengan sangat cepat dan menciptakan daya hancur yang lebih besar. Bukannya panik, Rama justru terlihat sangat tenang. Bahkan senyum kecil menghiasi wajahnya. Tidak lama kemudian bola energi itu berhenti berputar, berubah menjadi partikel-partikel kecil dan perlahan menghilang.
Indra diam terpaku dan tercengang. Kekuatan yang ditunjukkan oleh Rama benar-benar mengintimidasinya. Keringat dingin mulai mengalir di keningnya. Tubuhnya lemas dan kakinya bergetar hebat hingga akhirnya dia tak sanggup lagi untuk berdiri. Indra jatuh berlutut. Ketakutan telah sepenuhnya merasuki jiwanya.
“Aku bahkan belum melakukan serangan apapun.” Ujar Rama yang tiba-tiba saja telah berdiri di depan Indra.
Indra mendongak dan melihat wajah Rama. Mata hitam dan senyum kecil mengerikan yang diperlihatkan Rama menambah ketakutan Indra. Dia terjatuh dan berusaha menjauh seperti anak kecil yang baru saja melihat hantu.
“Bahkan setelah mendapat bantuan dari bangsa Jinn pun kamu masih sangat lemah. Mengecewakan.”
Mata Indra terbelalak, ketakutannya memuncak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Rama juga mengetahui informasi tentang bangsa Jinn. Bahkan kekuatan yang dia tunjukkan saat ini jauh lebih besar dibandingkan kekuatan yang ditunjukkan oleh Jinn yang membantunya.
“Siapa kamu sebenarnya?” Ucap Indra lirih dan terbata-bata. Rama tidak memberi jawaban dan malah melebarkan senyumnya.
Indra yang telah putus asa pun tanpa sadar menembakkan peluru energi pengendali jiwa dan tanpa sengaja menggores tangan Rama. Kedua sayap Rama menghilang dan dia berdiri dengan kepala tertunduk.
Indra yang melihat perubahan pada Rama pun akhirnya menyadari bahwa peluru pengendali jiwanya bekerja dengan baik. Dia tertawa terbahak-bahak dengan wajah berantakan.
“Bodoh… Bodoh…. Bodoh…!” Teriak Indra.
“Berikan perintah Anda, Tuan.” Ujar Rama.
Seluruh anggota Project Wanara terlihat sangat panik. Mereka bersiap-siap melindungi diri dari serangan yang mungkin akan Rama lakukan.
__ADS_1
“Tenanglah.” Ucap Julia sambil tersenyum.
“Apa kamu lupa bagaimana Brahma hancur?” Tanya Darma.
“Apa Pak Darma lupa kalau Rama dapat mendestruksi energi lawan?” Tanya Julia.
Darma tersentak. Dia merasa sangat bodoh karena panik. Pada akhirnya Darma dan anggota tim lain pun merasa tenang dan tidak perlu lagi waspada.
“Bunuh teman-temanmu dan bawa Yuna padaku.” Teriak Indra yang merasa sangat bangga dengan kemampuan yang dia miliki.
“Bangsat.” Ujar Yuna lirih.
“Dengan senang hati Tuan.” Jawab Rama diikuti tawa lebar Indra.
Rama mengeluarkan cakar tajamnya. Energi hitam menyelimuti tubuhnya. Aliran petir menyambar-nyambar di sekitar energi hitam yang dikeluarkannya. Lalu Rama bergerak dengan sangat cepat dan cakar-cakar tajamnya itu menebas tangan kiri Indra hingga terpisah dari badannya.
Argghhhh…. Indra berteriak kesakitan dan berguling-guling di arena.
“Apa yang kamu lakukan?!” Teriak Indra.
“Bangsat….! Apa yang kamu lakukan?!” Indra kembali berteriak-teriak.
“Berikan perintah Anda, Tuan.” Rama mengucapkan kalimat yang sama, tapi
kini pandangannya berbeda. Rama menatap Indra dengan sangat tajam. Senyum
mengerikan terlukis jelas di wajahnya.
Indra akhirnya menyadari kepura-puraan Rama. Rasa takut kembali memenuhi jiwanya. Indra menyerah. Dia berlutut dan merengek memohon pengampunan.
Tapi Rama tidak menghiraukan rengekan itu. Rama mendekati Indra dan berniat menghabisinya. Tapi gerakan Rama terhenti oleh teriakan Julia.
“Hentikan…! Dia sudah menyerah. Akan ada kesempatan lain untuk menghabisi orang itu. Di luar arena yang tidak memiliki aturan.”
__ADS_1
Rama mengerti dengan apa yang disampaikan Julia, tapi dia terus berjalan mendekati Indra.
“Hentikan Rama…!” Julia kembali berteriak.
Saat berada tepat di depan Indra, Rama mendekatkan wajahnya dan menatap Indra dengan tatapan yang jauh lebih tajam.
“Lain waktu kita bertanding lagi ya?” Ujar Rama lirih dengan senyum mengerikan.
Lalu Rama menghilang dari pandangan Indra dan muncul di tengah-tengah anggota tim Project Wanara.
“Pertandingan pertama dimenangkan oleh Rama dari Project Wanara.” Teriak Anggun mengakhiri pertandingan pertama.
Para Pandawa berdiri dari singgasananya dan memberi tepuk tangan yang meriah bagi Rama dan Project Wanara.
Yuna, Dirga, Galih dan Ayu masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Kekuatan yang baru saja mereka saksikan sungguh di luar dugaan. Mereka tidaklah takut, tapi agak sedikit sungkan untuk memulai pembicaraan.
Julia mengerti situasi yang sedang terjadi dan memulai percakapannya dengan Rama.
“Kamu hebat sekali.” Ujar Julia dengan senyum manisnya.
“Terima kasih. Tapi sepertinya aku terlalu berlebihan.”
“Orang itu memang layak diberi pelajaran.” Sahut Yuna menanggapi perkataan Rama.
“Yuna benar. Jika aku yang ada di posisi mu, orang itu pasti sudah tidak bernyawa.” Ujar Dirga dengan senyum bangganya.
“Kak Rama luar biasa….!” Teriak Ayu dengan sangat ceria.
“Aku ingat saat pertama kali kita bertemu. Kamu hanya orang biasa dengan nilai potensi yang sangat rendah. Tapi lihatlah kamu sekarang. Kamu menjadi orang yang paling kuat diantara kita semua. Kamu luar biasa Rama.” Ujar Galih tersenyum diikuti dengan senyum bangga seluruh anggota tim Project Wanara.
Di sisi lain, petugas medis naik ke atas arena dan melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada Indra. Karena kecekatan mereka, meskipun Indra kehilangan banyak darah, nyawanya masih dapat diselamatkan. Indra memang mengalami pendarahan dan kehilangan satu tangannya, tapi luka fisik itu tidak sebanding dengan luka mental yang dia alami. Indra di tandu keluar arena. Wajahnya pucat pasi. Seluruh tubuh gemetar ketakutan. Bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, mulutnya terus meracau dan memohon pengampunan.
Lisa naik pitam saat melihat keadaan Indra. Amarahnya meledak-ledak dan berlari menyerang Rama. Tapi Yuna dengan cepat mengeluarkan partikel salju untuk menghentikan Lisa.
__ADS_1
“Akulah lawanmu.”
***