
“Mana Rama…?!” Teriak Dirga memecah keheningan.
Mendengar teriakan itu, Julia, Darma, Galih, Ayu bahkan Yuna sangat terkejut dan berusaha mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru area untuk memastikan keberadaan Rama.
“Tadi dia masih bersama kami untuk menolong orang-orang yang terjerat.” Ujar Galih yang didukung oleh anggukan kepala Ayu.
“Sial, apa Rama juga ikut terjerat masuk ke dalam lubang itu?” Ucap Dirga kesal.
Yuna mencoba bertanya kepada Kanjeng Ratu Kidul, tapi sayangnya makhluk itu pun telah lenyap tanpa jejak.
“Sepertinya Rama juga ikut masuk ke portal dimensi.” Ujar Yasa.
“Portal dimensi?” Semua orang terkejut.
“Benar, lubang besar tadi adalah portal dimensi yang menghubungkan dunia manusia dan Jinn.”
“Lalu bagaimana nasib Rama dan orang-orang yang terjerat masuk ke lubang itu?” Tanya Dirga dengan nada suara tinggi.
“Kami akan mencari tahu lebih jauh tentang hal itu.” Sahut Bara, Pandawa kedua.
“Tapi sebelum itu, kita harus menenangkan diri. Tidak ada gunanya panik dalam kondisi seperti ini.” Bara meneruskan kata-katanya.
“Kalian semua mendekat dan berkumpullah. Ada perubahan rencana dan kalian harus tahu tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya.” Pinta Yasa.
Sesuai perintah yang diberikan Yasa, orang-orang yang tersisa pun mendekat dan berkumpul.
Setelah mereka berkumpul, Yasa mengeluarkan kekuatannya. Angin berhembus kencang bersamaan dengan kemunculan tombak emas di tangan kanannya. Lalu dia mengangkat tombak itu dan memukul pelan ke tanah. Siapa sangka gerakan sederhana itu menciptakan guncangan besar. Tiba-tiba tanah bergetar dan terbelah. Retakan tanah itu menjalar dari titik pukulan tombak hingga tepat ke arah di mana Caraka berdiri dan membuat sebagian tubuhnya tenggelam di dalam tanah. Semua orang refleks menjauhi Caraka agar terhindar dari dampak buruk yang mungkin saja terjadi.
Caraka berusaha mengeluarkan kekuatannya untuk membebaskan diri. Alangkah terkejutnya dia saat kekuatannya tiba-tiba hilang. Dia sama sekali tidak dapat merasakan energi CORE yang mengalir di dalam tubuhnya.
“Caraka, apa yang kamu ketahui tentang kejadian tadi?” Tanya Yasa dengan tatapan dingin.
Pertanyaan itu layaknya petir yang menyambar di siang hari yang cerah. Caraka begitu terkejut, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin mulai mengalir di keningnya.
“Apa maksud Anda, Tuan?” Tanya Caraka terbata-bata.
Arggghhh…. Teriak Caraka saat tanah yang menelannya tiba-tiba bergerak menekan tubuhnya. Bahkan dia dapat mendengar suara tulangnya yang patah.
“Tidak ada gunanya kamu bersandiwara.”
“Aku sungguh tidak menger…. Arggghhh….” Belum sempat Caraka menyelesaikan ucapannya, tanah itu kembali menekan tubuhnya. Lagi-lagi beberapa tulang patah bahkan dia sampai memuntahkan gumpalan darah.
“Kurang ajar….!” Teriak Caraka.
“Akhirnya watak aslimu keluar.”
“Apa ini? Panaaasss…!” Caraka berteriak sambil meronta-ronta untuk dapat membebaskan diri. Tapi usahanya kembali gagal. Caraka tidak berdaya, bahkan kini beberapa bagian tubuhnya melepuh seperti terbakar api.
“Jawab pertanyaanku.”
Caraka terlihat sangat kelelahan. Napasnya tersengal dan wajahnya sangat berantakan. Beberapa bagian kulit melepuh, beberapa bagian tulang patah, dan darah segar yang mengalir dari mulutnya menandakan adanya luka dalam yang begitu parah.
__ADS_1
Dalam kondisi seperti itu, Caraka masih belum membuka mulutnya. Dia masih terdiam dengan tatapan mata penuh kebencian.
“Bodoh…!” Teriak Yasa yang nampak mulai kehabisan kesabaran. Dia berniat membunuh Caraka saat itu juga.
Julia yang mengerti niatan Yasa pun segera menghentikannya.
“Jangan diteruskan…!” Teriak Julia.
Darma sangat terkejut saat Julia tiba-tiba berteriak seperti itu. Darma khawatir kalau Julia akan mendapatkan masalah karena tingkah lakunya saat ini.
“Apa kamu gila?!” Ucap Darma lirih.
Yasa menatap Julia tajam dan dingin, “Kenapa harus dihentikan?”
“Jika dia mati, kita tidak akan mendapatkan apapun.” Jawab Julia dengan sangat tenang.
Ha ha ha…. Tiba-tiba saja Caraka tertawa lebar.
“Sudah kuduga kalau kalian tidak punya nyali untuk membunuhku.” Ujar Caraka menyambung tawanya.
“Jangan salah sangka. Saat informasi telah ku dapatkan, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Jawab Julia dingin dan membuat bulu kuduk Caraka berdiri.
“Yuna, apa kamu bisa berkomunikasi dengan Ratu Kidul?” Tanya Julia.
“Tidak. Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan yang dia berikan.” Jawab Yuna.
“Kekuatan kalian berdua telah terikat bahkan dapat menyatu dengan sangat baik. Coba pejamkan matamu dan panggil dia dari dalam hatimu.”
“Aku mengerti. Kamu ingin memanfaatkan kemampuan Ratu Kidul. Itu ide yang bagus.” Puji Bara.
Benar saja, tidak lama kemudian pancaran energi yang sangat besar pun muncul. Tubuh Yuna dipenuhi dengan pancaran energi itu. Siluet Ratu Kidul mulai terlihat dan akhirnya Kanjeng Ratu kidul kembali hadir di hadapan semua orang.
“Salam hormat kepada Para Pandawa.” Itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulut Kanjeng Ratu Kidul.
Kalimat itu membuat semua orang tercengang. Mereka tidak menyangka kalau Ratu Kidul mengenal Para Pandawa, bahkan sangat menghormati mereka.
“Terima kasih karena kalian telah memberitahuku tentang Blorong yang membuat perjanjian dengan manusia, sehingga aku bisa menghentikannya tepat waktu.” Ratu Kidul kembali menunjukkan rasa hormatnya.
“Omong kosong apa ini? Bukankah penglihatan kalian terhalang energi dan bahkan tidak tahu kalau Blorong dan Ratu Kidul ikut bertarung di pertandingan tadi?” Julia dibuat kesal karena merasa dibohongi oleh Para Pandawa.
“Siapa kamu? Berani sekali kamu bersikap tidak hormat kepada Para Pandawa.” Ujar Ratu Kidul dingin dan hendak menyerang Julia.
“Tenanglah Kanjeng Ratu, dia itu Julia.” Ucap Sarwa.
Ratu Kidul nampak terkejut dan mengurungkan niatan untuk menyerang Julia. Dirga nampak bingung dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Ratu Kidul. Reaksi itu seperti rasa bersalah karena telah mengganggu orang yang ternyata memiliki status lebih tinggi dan lebih hebat.
“Julia, siapa kamu sebenarnya?” Pikir Dirga.
“Kami tidak berniat membohongi kalian semua. Hanya saja kalian sedang dalam kondisi yang sulit sehingga kami bereaksi seakan tidak tahu tentang kedatangan Blorong dan Ratu Kidul. Bahkan kami lah yang memanggil Ratu Kidul untuk membantu Yuna. Siapa sangka kekuatan mereka berdua sangat cocok.” Sarwa berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
Lagi-lagi semua orang terkejut oleh pernyataan Sarwa dan membuat suasana gaduh. Ternyata pilihan Para Pandawa untuk tidak menyampaikan hal ini cukup tepat. Jika mereka menyampaikan informasi ini saat orang-orang dalam kondisi panik, maka situasi saat itu akan menjadi lebih kacau dari sebelumnya.
__ADS_1
“Tapi kami tidak menyangka kalau situasi akan menjadi serumit ini dan Ratu Kidul harus kembali datang kesini. Kami harap kalian mengerti.” Sambung Sarwa.
“Bagaimana dengan pandangan yang terhalang energi?” Tanya Julia dingin.
“Itu yang kami sesalkan. Kejadian itu memang benar terjadi. Kami sama sekali tidak menyadari kemunculan portal dimensi.” Jawab Sarwa.
“Aku mengerti.” Ujar Julia dingin.
“Apa yang bisa ku bantu?” Tanya Ratu Kidul.
“Siksa dia di dalam ilusi sampai dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Buat dia tetap hidup agar dapat merasakan sakitnya siksaan yang dia alami. Siksa dia hingga akhirnya tersadar bahwa kematian jauh lebih baik dibanding hidupnya saat ini.” Ucap Julia dingin.
“Dasar bodoh…! Ilusi katamu? Dia bukan Blorong. Ha ha ha…” Teriak Caraka sambil tertawa terbahak-bahak.
“Manusia bodoh. Menurutmu dari mana Blorong mendapatkan kemampuan itu. Blorong adalah panglima perang dari kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Kidul.”
Kata-kata Julia kembali membuat Caraka terdiam dan ketakutan. Di sisi lain, Dirga semakin penasaran tentang kebenaran sosok Julia dan Para Pandawa.
“Ratu Kidul adalah penguasa salah satu kerajaan tapi dia begitu hormat kepada Para Pandawa. Sedangkan Para Pandawa sendiri seperti tidak berani menentang ucapan Julia. Itu artinya kedudukan Para Pandawa ada di atas Ratu Kidul. Sedangkan kedudukan Julia ada di atas Para Pandawa. Sial, kenapa begitu rumit. Siapa kamu sebenarnya.” Pikir Dirga.
Ratu Kidul terbang mendekati Caraka secara perlahan. Caraka begitu panik dan ketakutan. Dia berusaha menghentikan Ratu Kidul.
“Hey makhluk bodoh! Kamu begitu hebat tapi kenapa harus mengikuti kata-kata Julia dan Para Pandawa!” Teriak Caraka.
Ratu Kidul tidak peduli dan semakin mendekati Caraka.
“Berhenti…! Aku tahu kamu bahkan tidak sehebat Julia dan Para Pandawa. Itu sebabnya kamu begitu patuh kepada mereka.” Caraka masih berusaha memprovokasi.
Ekspresi Ratu Kidul tidak berubah sedikitpun seakan sama sekali tidak peduli dengan provokasi yang dilontarkan Caraka.
“Sial…! Apa kamu tidak takut dengan murka Tuan Azazil…!”
Kata-kata Caraka itu justru membuat Julia murka. Julia menghilang dan tiba-tiba muncul dihadapan Caraka dengan mata tajam dan wajah merah padam.
“Nikmati siksaan ini.”
Disaat yang bersamaan, Ratu Kidul mengeluarkan energinya. Dia menggunakan energi itu untuk membawa Caraka ke alam bawah sadarnya dan menciptakan ilusi.
Di dalam ilusi yang diciptakan Ratu Kidul, Caraka disiksa dengan begitu sadis. Dia dimasukkan ke dalam sebuah kuali besar berisi cairan nanah busuk yang mendidih. Bau busuk cairan nanah itu begitu menyengat hingga membuat Caraka muntah. Disaat yang bersamaan, di dunia nyata, Caraka pun tiba-tiba muntah tanpa sebab yang jelas.
Panasnya cairan nanah itu membakar seluruh kulit tubuhnya. Perlahan kulit dan seluruh organ tubuhnya meleleh hingga hanya tersisa tulang belulang. Hal itu pun terjadi di dunia nyata. Tubuh Caraka tiba-tiba melepuh dan terbakar hebat hingga seluruh kulitnya meleleh dan hanya tersisa tulang belulang saja.
Orang-orang yang melihat kejadian itu seketika muntah dan menatap dengan penuh ketakutan.
Di dalam Ilusi, Caraka berteriak dengan sangat kencang dan meminta pertolongan. Tapi teriakan itu tidak terdengar di dunia nyata.
Sesuatu yang menakjubkan terjadi, tulang belulang Caraka tiba-tiba menyatu kembali. Otot dan jaringan-jaringan tubuh kembali tumbuh dan akhirnya Caraka kembali utuh seperti sedia kala. Tapi tidak lama kemudian Caraka kembali muntah, tubuhnya kembali terbakar dan meleleh. Tersisa tulang belulangnya saja.
Caraka disiksa dengan cara yang sama berulang kali. Saat sudah hancur, tiba-tiba saja tubuhnya kembali utuh seperti sedia kala agar dapat merasakan siksaan yang sama secara terus menerus.
Semua orang ketakutan. Suasana begitu mencekam. Mulut mereka kaku dan tidak satupun yang dapat mengeluarkan suara.
__ADS_1
Dalam siksaan yang tiada henti. Caraka akhirnya membuka suara dan menceritakan semua hal yang dia ketahui. Caraka memohon dan bersujud agar dapat dibebaskan dari siksaan yang sedang dia alami. Dia lebih memilih untuk mati dari pada terus disiksa seperti ini. Tapi dia tidak menyadari, bahwa setelah kematian, siksaan yang lebih berat telah menanti.
***