
Penerbangan dari Bronxvile telah mendarat di Kota Brashington dan terlihat sosok pemuda tampan dengan pakaian casual dan berkacamata hitam sedang berjalan santai menyusuri lorong kedatangan di bandara menuju terminal kedatangan, sambil menenteng travel bag berukuran sedang Ray menatap lurus kearah terminal kedatangan. Kedatangannya hanya diketahui oleh Tomy ayahnya dan dia juga sudah memberitahukan agar tidak usah dijemput karena waktu kedatangannya pasti sang ayah sedang sibuk dikantornya, sementara dia juga tidak memberitahukan kedatangan kepada Lily sebab dia tahu Lily sedang sibuk dengan skripsinya.
Dia segera memanggil taxi dan memberikan alamat tujuannya di kediaman Lily, Ray sengaja menuju kediaman tersebut karena ingin bertemu Jeff sekalian memberikan beberapa laporan tentang proses magangnya di perusahaan serta menyerahkan sebuah dokumen penting titipan dari Jonathan yang harus ditanda tangani oleh Jeff sendiri, Ray juga sekaligus ingin bertemu dengan sang kekasih Lily yang saat ini diyakininya sedang sibuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya atau saat ini sedang istirahat dan berada di kamarnya.
Perjalanan dengan taxi membutuhkan waktu selama 30 menit dari bandara untuk sampai di rumah kediaman Lily, setelah membayar ongkos taxi Ray segera memasuki kediaman tersebut.
Ning..., Nong...
Ceklek...
"Ehh..., Ray?, masuk!"
"Selamat sore Mell..., apa kabarmu?"
"Baik...!, kamu baru tiba ya!"
"Kok tahu?"
"Lha itu..., Travel Bag yang kamu tenteng!, jangan bilang bahwa barusan kamu dari bandara!"
"Hehehe..., bisa aja kamu Mell!, ayah ada?, aku mau bertemu!"
"Lagi tidur siang sama ibu!, bangunin aja sendiri sana kalau berani!"
"Hmm..., aku mana berani!, Lily sudah pulang belum!"
"Belum!, mungkin sebentar lagi!, ya sudah sana istirahat saja dulu sambil menunggu mereka, aku mau pergi keluar sebentar, ada urusan!" kata Mellisa yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Mmm..., aku temani ya!, karena sudah kewajibanku menemani calon adik iparku apalagi keluarnya hanya sebentar kan? " kata Ray dengan tulus.
"Mmm..., boleh saja kalau mau ikut asal nurut!, jangan cerewet kayak anak gadis karena aku lagi tidak ingin banyak bicara saat ini"
"Siap nona komandan yang cantik!, ehh..., kamu sudah punya pacar nggak disini?, pasti sudah dong, masa cantik-cantik begini nggak punya gebetan!" kata Ray sambil kembali menenteng Travel Bag nya dan mengikuti Mellisa dari belakang menuju garasi.
"Aku sudah punya pacar dari dulu!, hanya saja orangnya yang nggak peka dan sok jual mahal!" kata Mellisa degan senyum kecut.
"Wah..., siapa orangnya? kenalin dong sama aku, biar aku bantu nanti, agar kamu bisa lebih dekat dengannya, bagaimana?"
Buukkk...
Suara bantingan pintu mobil sport yang keras terdengar didalam garasi, Ray sampai terkejut karena bagian pintu yang dibanting berada di pintu bagian samping penumpang bukan di bagian kemudi, artinya Ray yang harus menyetir bukannya Mellisa. Setelah meletakkan Travel Bag di bagasi mobil dia langsung menuju kearah pintu sopir untuk mengantar sang calon adik ipar dengan tujuannya, dan sekaligus akan menuju ke rumah kedua orangtuanya untuk bertemu dengan sang ibu dan meletakkan Travel Bag yang dibawanya.
"Oke..., kita akan kemana adikku yang cantik?"
"Ke rumah Ibu Bella, aku ada urusan perasaan dengan beliau!" kata Mellisa yang masih terlihat ketus.
"Aku sudah bilang jangan cerewet kayak anak gadis, mengerti!, jalan yang lebih cepat lagi!"
"Woah..., tenang Mell...!, yang sabar ya?, jangan cemberut seperti itu nanti cantiknya memudar!"
"Ya sudah diam dan kemudikan mobil dengan baik dan cepat...!"
Ray mulai paham bahwa gadis disampingnya saat ini sedang gundah dan tidak ingin banyak bicara, diapun diam dan fokus menjalankan mobil sport tersebut mengarah kekediaman kedua orangtuanya. Dalam waktu 30 menit sedan Porsche Sport berwarna merah muda itu memasuki halaman rumah Tomy dan Bella dan Mellisa segera turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah, sementara itu Ray melihatnya dengan bingung tapi ikut turun juga dan membuka bagasi untuk mengambil Travel Bag miliknya kemudian ikut masuk kedalam rumah.
"Aku pulang...!" teriak Ray dari pintu masuk yang sedikit terbuka karena sudah dimasuki lebih dulu oleh Mellisa.
__ADS_1
"Ehh..., ternyata kamu datang bareng dengan anak ibu yang nakal ini ya Mell!, apa kabarmu anak ibu?" kata Bella menyambut kedatangan Ray sambil mendapat pelukan dari Mellisa.
"Bu..., itu Mellisa kenapa?, sejak dari rumahnya dan di sepanjang perjalanan terlihat sedang punya masalah perasaan?"
"Sudah nanti ibu yang bereskan, kamu masuk ke kamar dan letakkan bawaanmu itu kedalam, kemudian temui ibu di kebun bunga" kata Bella kemudian menarik tangan Mellisa dan mengajaknya kekebun bunga yang berada di bagian belakang kediaman mereka itu.
"Baik ibu...!" kata Ray yang masih terlihat bingung dengan perilaku Melisa sejak dirumahnya dan disepanjang perjalanan menuju kediaman kedua orangtuanya.
Didalam kamarnya Ray mencoba menghubungi Lily untuk memberitahu kedatangannya, dan sementara ini berada di rumah kedua orang tuanya sambil mengantar Mellisa yang ada keperluan dengan ibunya. 2 kali sambungan teleponnya tidak diangkat oleh sang kekasih, akhirnya dia keluar dari kamar dan menuju ke kebun bunga milik ibunya untuk mendapati sang pemilik kebun bunga tersebut. Memasuki area kebun bunga tersebut sayup sayup dia mendengar pembicaraan kedua perempuan yang sedang duduk dibangku yang berada di bagian tengah kebun, pembicaraan tersebut sepertinya sang calon adik ipar sedang curhat kepada Bella tentang perasaannya yang lagi-lagi kecewa.
"Ibu Bell..., mungkin dia belum mengetahuinya!, sebab kalau dia sudah tahu tentu sikapnya akan berbeda saat kami bertemu tadi!"
"Ya sudah kamu yang sabar, nanti juga semuanya akan beres, ibu yakin dia pasti akan menuruti semua perkataan ibu dan ayah apalagi kita sudah membicarakannya secara matang bersama kedua keluarga kita!, eennmm...?"
"Hanya saja hatiku sakit bu..., dicuekin seperti itu, apalagi kalau mendapati perasaanku selama ini hanya bertepuk sebelah tangan bagaimana?, uuhhh...!"
"Hihihi..., anak ibu yang cantik!, dengar nasihat ibumu ini! , kamu harus lebih agresif lagi, contohnya kakakmu dia langsung menembak Ray ketika ada kesempatan berdua, dengan kecantikan kalian seperti ini mana ada cowok yang tidak akan meleleh klepek klepek melihat kalian?, heuumm...?"
"Ish ibu..., nanti aku dikira murahan, aku malu kalau lebih dulu, kan juga biasanya harus cowok yang lebih dulu nembak!"
"Aisshh..., anak jaman sekarang masih pake peradatan seperti itu?, kalau sudah ada rasa langung dor aja dulu, urusan lainnya belakangan, apalagi sekarang urusan belakang itu malahan sudah lebih dulu diberesin sama keluarga, nah tunggu apalagi kamu!"
Ray yang mencuri dengar percakapan kedua wanita itu, semakin bingung dengan curhatan Mellisa kepada ibunya, begitu juga dengan tanggapan sang ibu yang sepertinya mengerti betul permasalahan yang sedang dihadapi Mellisa. Kemudian Ray berpikir untuk tidak mengganggu kesibukkan kedua wania itu dan akan segera meninggalkannya, tapi kemudian dia mendengar suara panggilan dari sang ibu.
"Hei, anak nakal jangan berdiri disitu saja, kesini kamu!"
"Ehh..., i...iya bu!" kata Ray yang terkejut kemudian berjalan menghampiri bangku yang sedang diduduki oleh sang ibu dan calon adik iparnya itu.
__ADS_1
"Mmm..., duduk disitu dan dengar baik-baik perkataan ibu...!" kata Bella sambil menunjuk sisi bangku yang kosong disebelah Mellisa.
Ray mengikuti apa yang dikatakan ibunya dan duduk disamping Mellisa dan karena panjang bangku kayu tersebut hanya cukup untuk 2 orang, maka mereka bertiga duduk berhimpitan dan saling menempelkan tubuh mereka antara satu dan lainnya. Posisi Ray yang berada dipinggir menempel lekat dengan tubuh putih mulus dan padat milik Mellisa membuat bulu-bulu halus di kulitnya merinding, apalagi posisinya yang agak condong ke depan sehingga sebagian tubuh Mellisa berada di bagian punggungnya. Dengan sedikit gugup dalam diam Ray merasakan tempelan sebuah benda kenyal dari tubuh Mellisa yang ukurannya hampir sama dengan yang dimiliki kekasihnya Lily, dia merasakan gejolak hasratnya naik karena sudah selama 2 minggu ini dia tidur sendiri membayangkan tubuh Lily apalagi setelah penyatuan mereka sebelum Lily meninggalkannya di Kota Bronxvile.