
Sambil melihat pertunjukkan tarian dari para penari mereka juga sekalian mendapat suguhan makan siang di lokasi tersebut, Ray melihat antusias dari Lily dan Mellisa dengan pertunjukkan yang mereka saksikan karena baru kali ini mereka melihat atraksi tarian tradisional secara langsung didepan mata.
Diakhir acara mereka mendapat suguhan minuman air kelapa muda langsung dari buah kelapanya yang baru dipetik dari pohon, karena segarnya daging kelapa muda itu bahkan Ray sampai menyantapnya sampai 2 buah. Setelah makan siang bersama di lokasi tepi pantai itu mereka kembali ke suite mereka masing-masing, dan Ray menuntun Mellisa yang masih kesulitan berjalan kemudian diikuti Lily yang menggandeng lengan Ray disisi lainnya.
"Perlahan saja jalannya Beb...!, nanti sebentar lagi kamu tidak akan merasakan rasa perih itu lagi, tapi harus diusahakan kakimu digerakkan dengan berjalan pelan seperti ini" kata Ray sambil menahan bahu Mellisa.
"Terimakasih Beb...!, hanya saja dibawah sana aku masih merasakan seperti terisi sesuatu yang memenuhi seluruh ruang didalamnya?" kata Mellisa.
"Hmm..., kalau untuk menghilangkan rasa penuh itu gampang, nanti malam akan aku obati agar supaya tidak akan terasa lagi, eennmm?"
"Ehh..., memangnya kamu bisa mengobatinya Beb...?" kata Mellisa sambil menatap tajam kearah sang suami.
"Lihat saja sendiri nanti malam, aku akan menunjukkan keahlianku sebagai seorang ahli pengobatan kuno, hehehe..."
"Jangan percaya Mell...!, yang ada bagian itu kembali akan dikoyak-koyaknya sampai tak berbentuk seperti punyaku dulu dan kata-katanya ya..., sama persis seperti yang dia ucapkan barusan! tapi ennmm..., nanti saja kamu rasakan sendiri, hihihi..." kata Mellisa yang membocorkan teknik pengobatan yang dimaksudkan Ray karena dia juga sudah mengalaminya saat pertama melakukannya dengan Ray yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Mellisa mulai membayangkan hal-hal indah karena setelah melewati rasa perih yang amat sangat itu, maka sekaranglah saatnya dia mulai menikmati permainan itu dengan penuh kesenangan seperti yang ditunjukkan kakaknya saat sedang bercinta dengan suami mereka itu.
Tanpa kedua wanita itu sadari bahwa sampai hari ini Ray belum melakukan permainan sakral mereka itu dengan yang sebenarnya, karena dia masih menunggu sampai Mellisa terbiasa dan juga untuk menjaga perasaan kedua istrinya itu agar tidak ada rasa saling iri saat melakukan hal sakral tersebut.
Disisi Lily juga walau sebelumnya sudah sering merasakan pelayanan yang diberikan oleh Ray, tapi dia melihat bahwa perlakuan Ray sangat halus dan lembut berbeda dengannya yang menerima semua itu dengan liar dan terkesan memaksakan keinginannya sendiri.
Sesampainya mereka bertiga di suite mewah dan romantis yang akan menjadi tempat peraduan mereka selama seminggu, Ray masih memapah tubuh Mellisa dan memapahnya sampai keatas ranjang untuk berbaring dan sementara itu Lily masih berada diluar kamar tidur sambil duduk menikmati pemandangan pantai dan menyaksikan sang surya yang semakin condong kearah barat.
Ray keluar dari dalam kamar meninggalkan Mellisa yang sedang berbaring dan duduk disalah satu sofa empuk yang berada disamping tempat duduk Lily, dan tanpa meminta ijin Lily segera duduk di atas pangkuan sang suami dan bersandar di dada Ray yang bidang.
"Wah..., pemandangan yang tidak pernah kita lihat jika sedang berada di Bronxvile maupun di Brashington!, ayo ajak Mellisa untuk melihat suasana itu bersama!" kata Ray.
"Sstt..., sebentar Hon...!, ada sesuatu yang akan aku lakukan bersamamu sambil duduk seperti ini, kamu diam lah sebentar ya!" kata Lily yang semakin aktif bergerilya dengan hanya mengenakan kaos ketat tanpa lengan dipadu dengan dengan celana pendek sehingga menampilkan lekukan tubuhnya yang dapat membuat seseorang pria akan mimisan jika melihatnya.
"Hmm..., kamu semakin ahli di bidang ini Hon...!, tapi aku suka dan sangat menyukai perlakuanmu ini terhadapku, apakah kamu butuh dorongan? atau akan berusaha sendiri!" tanya Ray yang sesekali memberikan penetrasi ke tubuh bagian belakang sang istri.
__ADS_1
"Eemm..., ja... ngan..., ga...nggu aku Hon...!, Ahh..." terdengar suara aneh Lily yang mulai menggeliat seperti ikan kehabisan air, karena akibat perbuatannya itu telah membangkitkan gelora jiwa si Beruang Es.
Mereka mulai berlomba mendaki ke puncak gunung asmara sambil menikmati pemandangan sunset didepan mereka, suara-suara aneh dari mulut keduanya secara otomatis teredam oleh suara alam dan suara desiran angin laut yang memenuhi kawasan tersebut.
Belum juga matahari terbenam seluruhnya Lily telah menjerit tertahan sambil melengkungkan tubuhnya yang ramping itu di atas pangkuan dan pelukan Ray, terlihat senyum puas dari wajahnya kemudian merasakan bahwa permainan mereka barusan belum cukup untuk membuat si Ray kecil tenang dari kemarahannya. Akhirnya Ray memutuskan untuk menuntaskan pendakiannya dengan masuk kedalam kamar dimana didalamnya terdapat sang istri Mellisa sedang berbaring sambil berselancar dengan ponsel pintarnya, bersamaan dengan itu Lily juga ikut masuk kedalam kamar tidur mereka itu dan tanpa berkata Ray langsung melompat dan berbaring disamping tubuh Mellisa.
Mereka mulai melakukan tugas dan kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri, dan terlebih mengingat pesan dari kedua orang tua mereka yang sangat mengharapkan agar mereka segera memberikan cucu. Mellisa yang sudah tidak merasakan perih lagi mulai menikmati aktivitas sakralnya bersama sang suami, suara-suara aneh memenuhi ruangan kamar tidur mewah tersebut selama 30 menit selanjutnya kemudian diam dan sepi.
"Uhh..., cupphh..., Beb...!, ini rasanya sangat berbeda dengan yang biasa kita lakukan?, apakah hal itu karena sekarang si Ray kecil sendiri yang melakukannya?" tanya Mellisa yang masih dengan nafasnya yang memburu sedangkan disisi lainnya terlihat Lily sudah lemas dan tertidur.
"Hmm..., seperti itulah Beb...!, tapi kamu istirahatlah dulu sebentar, karena aku akan meminta Jonathan untuk mengirim makan malam kita!" kata Ray kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Jonathan sang asisten pribadinya itu.
Beberapa saat kemudian terdengar ada aktivitas diluar kamar tidur mereka, Ray mendengar ada percakapan dari beberapa pelayan hotel yang sedang menata hidangan makam malam untuk mereka di atas meja. Setelah membersihkan diri mereka bertiga keluar dari dalam kamar tidur dan menuju keruangan makan dimana di sana telah tersaji makan malam yang mengundang selera mereka bertiga, dibawah sinar rembulan ketiga sosok yang sedang dilanda asmara itu menikmati makan malam sambil sesekali saling memberikan suapan.
Sepanjang malam itu mereka bertiga tidak pernah meninggalkan suite, dan suasana romantis suite tersebut menambah hasrat asmara ketiganya selalu bergejolak hingga menjelang subuh, Ray bangun dari tidurnya pada pukul 05:00 subuh hari dan meninggalkan dua sosok tubuh istrinya yang terbaring lemas dan terlelap dalam mimpi indah mereka. Lily dan Mellisa akhirnya merasakan kebuasan yang sebenarnya dari sosok seorang Ray, yang sudah membuat mereka berdua menyerah dan bahkan sempat membuat Mellisa pingsan setelah mendapat serangan brutal dari artileri berat milik Ray.
__ADS_1
Kemudian mereka melihat kembali kilas balik keputusan mereka berdua untuk menerima dan berbagi dengan mengambil Ray sebagai suami mereka berdua adalah sebuah keputusan yang tepat, mereka berdua tidak bisa membayangkan jika saat ini hanya salah seorang diantara mereka berdua yang menghadapi keganasan Ray di atas ranjang maka sudah pasti akan kewalahan dan bahkan bisa membuat sang suami kecewa.